Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 68. Di Atas Tembok Gerbang Kota


__ADS_3

Beberapa menit lalu di Gerbang Kota Lembah Teratai Langit


Di atas tembok gerbang kota, para petinggi berdiri berjajar mengamati pergerakan penyerangan Aliansi Singa Hitam dari kejauhan, mereka dapat menduga bahwa penyerangan akan dilakukan pada malam hari, mengingat beberapa saat lalu banyaknya pasukan burung hantu dikirim di atas udara kota Teratai Langit oleh Aliansi Hitam.


Di dalam kota telah dipersiapkan sekitar 2 ribu pasukan yang siap untuk melakukan perlawanan kapan saja dibutuhkan.


Kini musuh pergerakan musuh telah terlihat, para petinggi menjadi ciut nyalinya saat melihat jumlah musuh yang menyerang kota Lembah Teratai Langit dalam skala besar yang bahkan tidak terbayangkan oleh mereka sebelumnya,


“Bagaimana ini? Jumlah mereka bahkan lebih banyak daripada seluruh warga kota ini” ucap Dolah menyipitkan matanya mencoba menghitung-hitung jumlah musuh yang terus berdatangan.


“Apa mereka sudah bergerak?” Risa mencoba melihat dalam remang-remang cahaya bulan dari kejauhan, banyak manusia terus bergerak ke arahnya dalam jumlah yang tak terhitung, “Gawat! Ini bukan jumlah puluhan ribu tapi ini ratusan ribu, kita tidak akan mampu menghadapi mereka” raut wajah Risa sontak berubah pucat.


Hal senada juga diungkapkan oleh, Irina Dewi Obat, “Aku bisa melihatnya dengan jelas, jumlah mereka lebih dari 400 ribu dan itu jumlah yang sangat besar untuk dapat kita hadapi, kukira hari ini akan menjadi hari terakhir kita” Irina menelan ludahnya.


Hana terlihat pucat begitu melihat lautan manusia terus bergerak dengan teriakan-teriakan menggema ke udara, ia menoleh ke arah Bahri si Pedang Pembelah Gunung yang berdiri di sebelahnya,


“Senior Bahri! Kurasa kali ini akan sulit bagi kita untuk bisa keluar hidup-hidup, namun aku bertekad akan menghabisi mereka sebayak yang aku bisa” Hana terlihat serius dengan ucapannya tubuhnya tanpa terasa mengeluarkan aura kuning keemasan yang membuatnya semakin terlihat berwibawa.


Bahri beserta pembesar lainnya terkejut melihat kemampuan Hana yang luar biasa itu,


“Hana! Bagaimana kau melakukannya? Maksud ku teknik apa yang kau gunakan hingga tubuh mu mengeluarkan cahaya keemasan ini” Bahri kaget melihat perubahan sikap anak kecil di dekatnya.


Mata Hana tiba-tiba bercahaya biru laut, “Aku tidak tahu, tapi kali ini aku ingin sekali untuk terjun ke sana dan bertarung dengan gagah berani” Jawab Hana mulai mencabut dua pedang dengan tatapan serius.


Bahri kembali tersenyum senang hari ini ia selalu menggoda Hana, “Ah Nona Hana! Suami mu kemana? Apa dia kabur takut peperangan ini? Huh! Hahaha sementara kau harus turun tangan seorang diri” ucap ceplos Bahri yang terlihat sangat gembira setiap kali ia menggoda anak kecil cantik di sampingnya itu,


Sementara Hana selalu cemberut saat harus menanggapinya, namun kali ini ia terlihat memilih diam karena masalah di depannya jauh lebih besar dari pada sebuah gurauan.


Husen wajahnya terlihat serius ia beberapa kali menelan ludahnya, ia berdiri di samping Aira yang terlihat tenang,


“Nona Wali kota, di antara kami semua hanya kamu yang terlihat tenang dan terkadang sedikit bersedih hati saja, apa kau tidak takut dengan penyerangan besar-besaran ini?” Husen benar-benar penasaran dengan sikap Aira, sampai Husen pernah terlintas dalam pikirannya bahwa anak perempuan kecil yang berdiri disampingnya tidak tahu kondisi situasi.


Aira tersenyum ia menatap Husen lembut, “Aku tidak cemas dengan semua ini, karena guruku ada di antara mereka, aku percaya guru pasti memiliki rencananya sendiri… jadi kita hanya perlu berperang jika mereka telah menerobos tembok ini” suara Aira terdengar lembut namun terkandung kepercayaan yang mendalam terhadap gurunya.


Husen terkejut, “Guru? Siapa gurumu? Apa pangkatnya? Aku tidak pernah mendengar ada suku Padri yang lebih kuat dari ayahmu Raden si Pemburu Legendaris” Husen penuh selidik.

__ADS_1


Aira tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, “Kakek senior telah menjumpai guru ku sebelumnya” jawab Aira singkat.


“Siapa?”


“Hm! Nama Guruku, Wali Juli”


Jawaban Aira membuat Kakek Husen melebarkan matanya sejenak, kemudian berubah menjadi raut wajah lucu,


“Hahaha, anak gila itu berhasil mengibul kalian.. hahaha… ah maaf maaf.. aku tidak bermaksud begitu… tapi aku tidak pernah menyangka anak itu berhasil menipu semua orang yang berada di sini… hahahaha”


Galak tawa Husen menarik perhatian semua pembesar yang berdiri di sana termasuk Hana yang tadinya terlihat sangat serius melihat ke arah pergerakan pasukan.


“Hahaha” Husen terus tertawa terbahak-bahak lalu tiba-tiba sebuah keanehan terlintas di pikirannya,


“Apa… apa dia yang kalian maksud Wali Agung?” tanya Husen semakin penasaran kini matanya terlihat serius.


Aira menghela napas panjang, andai saja Husen bukan teman gurunya sudah pasti Aira akan memberi pelajaran terhadap Husen, Aira masihlah anak-anak namun kontrol emosinya sangat cerdas bahkan melampaui orang dewasa sekalipun.


“Benar! Guruku Wali Agung dalam ramalan” jawabnya singkat ia kembali mengalihkan pandangannya pada pergerakan musuh.


Mata Husen kembali melebar, “Apa.. Apa.. Bangunan ini dia yang membangunnya? Atau dia menyuruh kalian yang membangunnya” Husen sepertinya lebih tertarik mengenai Juli dari pada pergerakan musuh yang kian mendekat.


“Beliau yang membangunkannya, dia penyihir pembanguan terhebat di dunia, Penyihir Rioh dari Bumi Barat, dia lah yang membangun semuanya dengan kekuatan sihir berdasarkan cetak biru milik guru dan di bantu oleh ribuan suku Padri lainnya” Jelas Aira dengan nada serius.


Husen mengaruk-garukkan keningnya, “Dia benar-benar gila, kalian yang mempercayainya jauh dari gila… dan aku bersama cucu-cucuku terjebak bersama orang gila… di situasi yang gila… lama-lama aku juga menjadi ikutan gila” Husen kembali berdiri sigap sambil mengeleng-gelengkan kepalanya yang tidak bisa menerima kegilaan ini.


Drooommm….


“Lihatlah ke langit!”


“Ada Apa?”


“Apa Yang terjadi!”


“Itu sebuah meteor besar menghantam Aray penyegel dan Aray Kutukan”

__ADS_1


“Celaka kalau itu jatuh ke kota kita”


Semua orang mendongak ke langit gelombang kejut menimbulkan angin besar serta membuat gelombang besar yang nampak terlihat mata di atas Aray Kutukan yang berbenturan, bahkan untuk sesaat sempat menimbulkan pembekuan es pada Aray Kutukan, meteor itu kemudian menembus Aray dan meluncur cepat ke arah ratusan ribu pasukan Aliansi Singa Hitam.


Syuuuiiii………..


DROOOOOOOM!


Benturan dahsyat itu menimbulkan ledakan dahsyat sehingga debu mengepul ke udara setinggi satu kilometer dan gelombang kejut dahsyat beriringan dengan petir hebat dan es yang membekukan.


“Semuanya Mundur! Gemuruh raksasa ini dapat membunuh kita! Teriak Jendral Zora memberi peringatan” saat melihat petir berkecamuk hebat dan aura dingin yang membekukan sampai terasa di kejauhan dua kilometer.


Whoooss!


Semua petinggi segera dilindungi oleh Rioh dengan artefak pelindung sihir miliknya,


“Semuanya mendekat lah pada ku! Ku rasa ini hukum yang sangat kuat, mudah mudahan amukan petir itu tidak menghantam kita” teriak Rioh berkeringat dingin, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat petir segenas ini yang bahkan dapat menghantam apapun tanpa meninggalkan sisa.


DROOOMM! DROOMM!


“Kenapa ada petir sedahsyat ini? ini tiba-tiba meteor apakah itu sebenarnya?”


“Jangkauan petir ini bahkan ratusan kilometer jauhnya ke berbagai arah kalau begini terus lembah ini akan tenggelam ke perut bumi?”


“Celaka! Kurasa ini Hukum Petir dan Hukum Es tingkat Dewa, maka berdoa lah agar kita tidak tersambar olehnya, karena sekali tersambar kita akan binasa dan tidak akan tersisa walaupun hanya debu”


“Celaka! Senior di sana, aku tidak bisa membiarkan dia di sana seorang diri, ini akan merengut nyawanya”


“Jangan! Guru pasti memiliki caranya sendiri? Kita harus berlindung untuk sementara waktu, dan jangan menyusahkannya”


“Gawat! Kini tidak ada jaminan seorang pun untuk selamat?”


Semua petinggi dan pasukan suku Padri menjadi panik dan gemetar hebat, mereka bisa melihat petir melewati langit mereka dengan ukuran raksasa yang dapat menelan gunung dalam sekali sambarnya, sambaran petir bahkan tidak berarah, ledakan demi ledakan di udara terdengar dahsyat memekakkan telinga, kilatan-kilatan dahsyat menerangi malam melebihi cahaya matahari siang yang saling sambung menyambung, banyak di antara warga dan anak anak jatuh pingsang karena suara dahsyat dan tidak sedikit dari pasukan yang megalami nasib serupa.


DROOOOMMM

__ADS_1


DROOOOMMM


**


__ADS_2