
Setelah Juli memasuki ruangan istana reruntuhan suku kerdil, Juli dapat melihat ruangan ini masih sama seperti kehidupan sebelumnya, tidak ada yang berubah.
Istana Kerdil dimasa kejayaan merupakan istana yang sangat mewah serta dapat mengalahkan istana-istana lain di wilayah bumi Barat. Pondasinya saja sangat kokoh, pilar-pilar sangat gagah, dan belasan menara menjulang tinggi ke angkasa.
Di kehidupan Juli sebelumnya, ia pernah tinggal disini selama beberapa tahun, menelusuri setiap sudut reruntuhan, serta banyak menemukan benda-benda pusaka berkualitas tingkat tinggi. Pengalaman ini, tentu saja tidak diceritakan pada siapapun.
Ulyi mengikuti Juli dari belakang seolah Ulyilah tamu di dalam ruangan ini, padahal Ulyi telah mendiami reruntuhan ini selama ribuan tahun lamanya.
Melihat Juli jalan santai memimpin jalan, Ulyi menjadi penasaran, bagaimana Juli bisa mengetahui semua letak ruangan ini yang begitu luas dan berliku-liku.
“Buya! Ke mana kita akan pergi? Apa Buya pernah datang kemari sebelumnya,” Ulyi sangat penasaran karena Juli mendatangi suatu ruangan kotor di bawah tanah yang ia sendiri jarang mendatanginya.
“Ulyi, kenapa kau tidak membersihkan ruangan istana ini, kau bahkan tidak mengetahui ruang-ruang rahasia tempat ini, Ulyi, kau sudah tua, tapi kau masih saja malas mempelajari sesuatu”. Teguran Juli ini terdengar hangat ditelinga Ulyi si Ratu Wewe Gemut.
Ulyi hanya senyum dan tidak menjawab sepatah kata pun, ia justru sangat bingung kenapa Juli membawanya ke salah satu ruangan buntu di bawah kota reruntuhan.
Ruangan ini sengaja tidak dibersihkan, selain ruang ini tidak memiliki celah udara, ruangan ini juga sangat lembab dan pengap.
Apalagi di istana ini banyak ruang kosong, jelas ruangan pengap seperti ini tidak digunakan, bahkan untuk sekedar menyimpan barang rongsokan.
“Buya! Ada banyak ruangan lain yang jauh lebih bagus, kenapa Buya membawaku ke ruangan ini? Aku bahkan tidak melihat satu pun yang istimewa dalam ruangan ini”.
Juli hanya senyum, akan tetapi matanya terus mencari sesuatu di lantai ruangan.
“Ini dia!”
Setelah mencari selama dua menit, Juli menginjak dua ubin lantai sekaligus.
Gruk! Gruk!
Tiba-tiba ruangan itu gempa, sebuah pintu rahasia terbuka. Ulyi melongo ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Buya! Bagaimana Buya bisa mengetahui jalan ini, aku sendiri yang sudah ribuan tahun tinggal disini tidak mengetahuinya”, Ulyi kehabisan kata-kata untuk melukiskan keterkejutan terhadap kakeknya.
“Ulyi! Sudah kukatakan padamu sebelumnya, bukan? kamu terlalu malas berpikir, watakmu dari dulu belum juga berubah, masih keras kepala dan bodoh!”, Juli terus menasehati Ulyi layaknya seorang kakek menasehati cucu kecilnya.
Padahal, Ulyi sesosok Wewe Gemut yang sudah berusia ribuan tahun, dan memiliki pengetahuan tentang sihir yang sangat luas, bisa dikatakan sihirnya itu menyaingi petinggi-petinggi di Bumi Tengah sekalipun. Akan tetapi di hadapan Juli, ia bagaikan bocah yang belum lepas dari susuan ibunya.
“Buya! Sepertinya terowongan ini berbahaya, biarkan aku masuk duluan, aku takut banyak jebakan di pasang didalamnya, seperti beberapa kamar harta yang saya dapatkan sebelumnya”,
“Jangan! Jebakan di dalam bahkan bisa membuat kepalamu terbang, aku bisa memecahkan jebakan ini, kau tetaplah berada di belakangku”.
Ulyi tidak berani membantah Juli, ia hanya bisa menurut seperti masa kecilnya.
Benar saja, setelah memasuki beberapa langkah, ratusan anak panah tingkat langit melesat cepat ke arah mereka, Juli dengan mudah menghindari dan menarik Ulyi untuk mundur.
“Ulyi! Tetaplah di belakangku, anak panah ini tidak mengenal kutukan abadi tubuhmu, setidaknya racun dari anak panah ini akan membuatmu memilih mati daripada rasa sakit yang kau derita!”, Juli kembali memperingatkan.
“Baik, Buya!”
__ADS_1
Juli terus menelusuri lorong gelap, hanya diterangi cahaya batu kristal kecil yang dibawa oleh Ulyi. Jebakan demi jebakan dapat dengan mudah dipatahkan, Juli seolah telah membaca semua jebakan yang terpasang, sehingga ia mahir menghindarinya.
Ulyi selalu dibuat kagum dengan pengetahuan Juli, sekarang Ulyi hanya menurut dan mengikuti apapun yang diperintahkan.
Kekaguman demi kekaguman semakin tertanam di lubuk hatinya, terkadang sesekali terdengar kata-kata dari isi hatinya.
“Buyaku memang yang terbaik! Andaikan Buyaku tidak meninggalkan kami selama ini, mungkin suku Wewe Gemut tidak akan berakhir seperti sekarang”.
Setelah menelusuri terowongan sejauh satu kilometer, akhirnya Juli keluar dari gua sebuah gunung.
Ulyi sangat terkejut, ia tidak menduga bahwa terowongan ini terhubung ke dimensi lain. Suatu tempat yang sama sekali tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Di kejauhan, Ulyi dapat melihat sebuah istana emas yang begitu besar, semua bangunan itu terbuat dari emas serta intan permata. Mata Ulyi melongo untuk waktu yang lama.
“Buya! Apakah aku sedang bermimpi? Buya katakan yang sebenarnya, tempat apa ini? Kenapa bisa ada istana emas di sini, dan.. dan.. siapa yang membangunnya?”
Sejuta pertanyaan berada dalam pikiran Ulyi. Di sisi lain Juli bahkan terlihat biasa saja seakan itu hanya tumpukan sampah.
“Ulyi! Istana ini dulunya milik Bangsa Ringata, leluhur dari Bangsa Rajawali Emas dan Bangsa Garuda Larva, orang-orang berpikir, bahwa mereka telah punah ribuan tahun, akan tetapi di beberapa tempat mereka masih tersisa walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu”.
“Buya! Bagaimana kau bisa memiliki pengetahuan sedalam itu, Aku bahkan tidak memiliki informasi mendalam tentangnya”.
Juli terus menjelaskan, tentang sejarah segala bangsa di dunia dengan detil garis-garis keturunannya. Ulyi hanya bisa terkagum-kagum, dan sesekali terdengar pertanyaan dilontarkan dari mulutnya.
Ia terkadang takut terlalu banyak bertanya kepada kakeknya, karena Juli terkadang terlihat galak, dan memarahinya karena malas belajar untuk hal-hal yang kecil. Walaupun kemudian Juli tetap menjelaskannya dengan sabar.
Di sisi lain, Juli tidak pernah merendahkan Ulyi. Karena ia menyadari bahwa Ulyi telah lama terkurung di reruntuhan suku kerdil kuno, dan mustahil baginya untuk mendapatkan informasi baru.
Ulyi sangat berpengalaman dalam mengumpulkan harta karun, sehingga ia tidak sembarangan menyentuh apapun yang dilihatnya sebelum mempelajarinya terlebih dahulu. Karena bisa saja sebuah harta karun membawa kutukan.
“Ulyi! Awas! lihat di belakangmu!”
Teriak Juli saat melihat, sebuah boneka jiwa tingkat emas menyerang Ulyi dengan kapak besar, boneka jiwa ini sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya untuk menjaga peninggalan mereka.
“Boneka jiwa Bangsa Arga! Awas fisiknya sangat kuat, kau tidak bisa melawannya menggunakan fisik, mundurlah! Serahkan dia padaku!”
Juli langsung menerjang maju menendang boneka jiwa setinggi dua meter tapi justru Juli termundur dua langkah.
Sekilas boneka jiwa ini mirip dengan pria berumur belasan tahun, akan tetapi siapa sangka bahwa boneka jiwa ini sangat kokoh bahkan fisiknya setara dengan senjata pusaka.
“Buya! Biarkan aku membantu!”
Ulyi melemparkan tombaknya ke arah boneka jiwa untuk menghentikan pergerakannya, dengan tangkas boneka jiwa itu dapat menangkis tombak milik Ulyi dengan mudah.
“Sial! Kenapa jurus tombakku sangat mudah untuk dihindari, padahal kecepatan tombakku diluar logika”.Ulyi menggerutu kesal.
“Buya! Serahkan saja ini saja padaku, biar aku yang mengurusnya!”
“Apa kau yakin bisa mengalahkannya sendirian?”
__ADS_1
“Tentu Buya!”
Ulyi Selain itu, ia juga malu terhadap kakeknya karena tidak becus mengurusi hal kecil dan merasa seolah ia tidak berguna dalam perjalanan ini.
Ulyi bergerak cepat ke arah tombak yang dilempari sebelumnya, setelah memperoleh tombak, ia kembali menyerang secara membabi buta tanpa menghiraukan keselamatannya.
Pertempuran sengit antara Ulyi dan boneka jiwa tidak terelakkan.
Traaang!
Kapak dan mata tombak beradu beradu di udara, Ulyi dan boneka jiwa sama-sama termundur beberapa langkah.
Juli hanya menonton dari tempat yang agak jauh dari pertarungan, ia dapat menilai tingkat kekuatan mereka masing-masing.
Secara garis besar keduanya bertarung seimbang, namun ada beberapa hal yang membuat boneka jiwa lebih unggul daripada Ulyi, salah satunya tubuh boneka jiwa setara dengan pusaka, hal inilah yang membuat Ulyi kewalahan dalam melumpuhkannya, sementara Ulyi sendiri tidak bisa mati.
Satu jam berlalu, pertarungan keduanya belum juga mendapatkan hasil, nafas Ulyi telah terengah-engah, boneka jiwa masih bertarung prima seperti sebelumnya.
“Celaka! Kalau terus kubiarkan Ulyi akan berada dalam masalah, apalagi boneka jiwa ini bukan salah satunya”
Juli menggigit jari telunjuk dan mulai menggambar pola segel jiwa pada telapak tangan. Beberapa detik kemudian, Pola segel mulai mengeluarkan cahaya kuning keemasan.
“Bagus! Aku akan mulai berburu!”
Juli bergerak cepat bergabung dalam pertarungan, pertamanya Ulyi kaget dan merasa kecewa pada dirinya karena merasa tidak becus mengurus boneka jiwa.
Akan tetapi saat Juli menyegel boneka jiwa dengan telapak tangan. mengacungkan jempol terhadap kinerja Ulyi, saat itu juga ia menjadi bersemangat kembali.
“Ulyi! Kerja bagus! Tapi kau tidak harus menghancurkan boneka ini, karena kita dapat menaklukkan.”
Setelah boneka jiwa tersegel. Juli dengan mudah memasukkan kesadarannya ke dalam boneka jiwa. Ulyi melihat teknik yang digunakan Juli berbeda dengan yang biasa digunakan, teknik Juli lebih rumit bahkan sulit untuk dimengerti.
“Buya! Bisakah kau mengajariku teknik penyegelan ini? Ini jauh lebih baik dari milikku”.
“Teknik ini, disebut teknik segel Dewa Sukma! Kou bisa menyegel apapun dengan segel ini, tapi efek bagi tubuhmu juga berat, untuk aman kau gunakan segel ini setidaknya tubuhmu berada tingkat pusaka”
“Apa tingkat pusaka?”
Ulyi senyum pahit ia tidak menduga persyaratan segel kakeknya membutuhkan syarat setinggi ini.
Boneka jiwa bangkit bergerak dan berlutut di hadapan Juli dengan penuh hormat. Boneka jiwa bangsa Arga tingkat emas belum bisa berbicara sempurna tapi, mereka dapat berbicara melalui telepati langsung terhadap tuannya.
‘Tuan hamba menghadap!’ telepati boneka jiwa, dalam pikiran Juli.
“Baiklah! Karena kau buatan bangsa Arga, aku akan menamaimu Argalus,” Juli tertawa kikikan.
“Buya! Maukah kau memberikan boneka ini kepadaku, aku sangat menyukainya, aku berjanji tidak akan minta yang lainnya”. Pinta Ulyi penuh harap.
Juli senyum, “Tidak masalah! Boneka jiwa ini untukmu! Jika kau butuh sesuatu katakan saja, Sekarang mari kita masuk ke dalam istana,” Juli langsung menyerahkan Boneka Jiwa itu kepada Ulyi begitu saja.
__ADS_1
**