
“Baiklah!” Juli memeriksa cincin ruangnya, kebetulan ia mendapatkan beberapa buah periuk, kuali, piring-piring, gelas-gelas piala, semuanya terbuat dari emas permata, yang berasal dari Cincin Ruang Dewa Mindril.
“Hehe, barang-barang ini sungguh menyolok, periuk emas yang akan ku gunakan bahkan melampaui dapur Kekaisaran Purba, Heheh” Juli segera mengeluarkannya alat-alat yang dibutuhkan secukupnya.
Hasnah terbelalak melihat nya, “Apa ini sihir? Aku belum pernah melihat seseorang mengambil sesuatu yang besar di balik
bajunya” Hasnah terlihat penasaran.
“Ah tidak, ini hanya sedikit trik bodoh, Oya! Siapa nama mu kakak baik? Kau terlihat sangat bersedih hati, bukankah semua saudara mu telah selamat semua?” tanya Juli pada Hasnah yang masih murung dan sedih.
“Hasnah!” Jawabnya ringan, ia memeluk lutut dan menungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya
Hana senyum menepuk bahunya, “Hasna! Sudahlah jangan bersedih kami akan berusaha membantumu semampu kami, oya selama ini kau sungguh tegar ya? Kau berhasil membesarkan adik-adikmu seorang diri” Hana kagum melihat ketegaran hati Hasnah.
Hasna kembali berderai air matanya, “Bukan aku yang membesarkan adik-adikku, tapi kakakku Zahra, barusan kakakku itu diculik dan di bawa Ke Lembah Iblis untuk persembahan kepada Dewa Iblis, aku tidak tahu harus berbuat apa? Du..” Belum Habis Hasna bercerita Juli langsung memotong pembicaraannya.
“Kapan kakakmu di culik?” Tanya Juli dengan nada serius, Hasnah menghela napas panjang, “Tidak lama, barusan saja, kurasa mereka tidak akan kembali kemari karena kami tidak memiliki Nyawa dan mereka pasti berpikir kami telah mati semua sekarang” Jelas Hasnah yang mengira bahwa Juli takut terhadap Pasukan Lembah Iblis yang tiba-tiba kembali ke tempat itu.
Juli manggut-manggut, “Bagus lah! Jangan khawatir tenang saja, nanti kita akan ke sana untuk menyelamatkan kakak mu, tapi sebelumnya kita makan dulu, jangan khawatir kita masih memiliki waktu” Juli senyum ia menoleh arah pembaringan anak-anak lainnya yang terlihat bahkan tidak sanggup bicara karena lemas dan lapar.
“Baik lah! Aku akan memasak dulu untuk anak-anak” ucapnya dengan antusias.
Juli keluar dari dalam Gorong-gorong, ia segera menyiapkan tempat duduk, meja seadanya dan dapur darurat untuk pekerjaan kokinya, Hana datang membantu sebisanya tapi ia lebih cenderung berdiri sambil menyaksikan pekerjaan Juli yang dianggap sangat sempurna.
Tak tik tak tik
Juli memasak makanan dengan talenta tinggi sampai tidak dikenali bentuk dasarnya, Aroma harum tercium wangi sampai membuat anak-anak merangkak bangun dari tempat tidurnya, Ubi Liar Merah yang Juli masak bukan hanya dapat mengenyangkan tapi juga menjadi obat bagi mereka yang terkena penyakit lambung dan penyakit gula akut yang sekarang ini sering kita dengar.
Hana sangat senang melihat sikap dan watak Juli, walaupun ia dinggap gila oleh sebagian orang, tapi baginya Juli merupakan jenius nomor satu yang pernah ditemuinya, hal itu bukan tidak beralasan Juli bahkan bisa membalik keadaan dimana pun dia berada, seperti yang terlihat didepan matanya saat ini.
‘Siapa sebenarnya senior Juli ini? Dia memiliki pengalaman yang sangat luas, ia memiliki teknik memasak yang bahkan menyaingi koki ternama di Kekaisaran Langit, bahan biasa ditangannya bahkan mengalahkan koki ternama, aku sungguh ingin sekali mencicipi masakannya’ batin Hana terlihat kagum pada Juli.
Hasnah terlihat larut dengan kesedihannya walaupun Juli berjanji untuk membebaskan kakaknya itu bukanlah janji yang dapat dipercayainya, Hasnah Justru melihat harapan itu ada pada Hana yang telah memiliki pangkat satu kuning.
‘Juli ini sungguh pandai menghibur adik-adikku dengan canda tawanya serta janji-janji manisnya, akan tetapi aku sungguh tidak berharap ia menunaikannya, sejauh ini saja dia telah rela menolong kami dengan segala kemampuannya, saya sudah sangat bersyukur untuk itu, aku tidak berharap dia melakukan hal yang sama sekali tidak mungkin, karena anak baik seperti dirinya telah punah di kekaisaran ini’ batin Hasnah dengan perasaan tidak menentu.
“Bangun! Bangun!” Selesai Juli masak semua anak-anak dibangunkan untuk mencicipi hidangan,
__ADS_1
“Ayo.. makanan sudah siap! Mari makan.. makan yang kenyang ya.. oya siapa nama kalian.. nanti jawab ya, setelah kalian kenyang..”
Suara Juli terdengar gembira disusul senyuman anak-anak malang itu mereka dengan terhuyung huyung bergerak dengan antusias mendatangi tempat makan yang telah di sediakan.
“Baiklah bang!”
“Ayo dek kita makan dulu!”
“Kak Hasnah! Dimana kak Zahra!”
“Emm…?!”
“Kak Hana.. ayo kita makan sama-sama”
“Ah iya.. mari.. hm.. kelihatannya ini lezat”
“Seperti biasa, berdoa dulu sebelum makan.. kalau tidak tuhan tidak akan memberikan lagi makanan seenak ini untuk kita”
“Baik, Kak Hasnah!”
“Eh! Boleh! Simpan saja, siapa namamu dek?”
“Yogi!”
“Bagus Yogi kamu anak yang baik! Simpan saja, dan tenang lah, kak Zahra pergi mencari tempat baru buat kalian, hehe.. Setelah kita kenyang kita akan tinggal bersamanya di sana, kalian tahu tidak? Di Sana banyak sekali ayam-ayam yang harus aku sembelih malam ini..”
“Benarkah bang? Apa aku boleh makan ayam? Aku dengar ayam itu sangat enak”
“Tentu saja enak! Tapi bukan ayam yang ingin ku sembelih nanti malam, hehehe”
"HAHAHAH"
Berbagai candaan terdengar ditempat makan seadanya itu seolah mereka anak-anak normal seperti anak lainnya, Juli terus bergurau dan bercerita mengenai berbagai hal hingga anak itu semua terlihat ceria kembali.
Setelah semuanya selesai makan Hana menghampiri Juli yang lagi berdiri santai melihat anak-anak kurus bermain dengan riang gembira disekitarnya, anak itu terus bersembunyi di semak-semak, berlari, dan berbagai aktivitas permainan lainnya.
“Mereka terlihat bahagia ya?” Komentar Hana terdengar pelan.
__ADS_1
Juli senyum, “Dunia ini telah rusak tapi walaupun begitu.. Tuhan memberikan kita kesenangan dan kebahagiaan walaupun itu dalam himpitan dan kesengsaraan, disisi lain, dunia ini juga semakin rusak akibat ulah manusia serakah yang bahkan melebihi siluman, kalau kaisar tidak sanggup mengubahnya maka aku sendiri yang akan menyingkirkannya” Juli merasa kesal dengan sikap raja-raja dan kaisar saat ini.
“Eh..!” Hana terkejut, ‘Gilanya kambuh’ batinnya.
Tiba-tiba seorang anak berumur lima tahun bernama Yogi menghampiri Juli yang berdiri santai di sebelah Hana.
“Bang! Ayo kita bermain pedang pedangan” ajak anak itu, ia membawa dua buah ranting satu ranting diberikan pada Juli.
“Ah! Apa kita akan ber-pedang? Memangnya kamu ingin jadi Pemburu?” Juli senang melihat semangat Yogi, ia mengambil ranting yang diberikan oleh Yogi.
“Iya, Aku ingin menjadi pendekar pedang hebat!" Yogi mengalihkan pandangannya pada Hana, "Kakak Hana.. kami main pedang dulu ya?” ucap Yogi senyum ramah.
“Ah, iya..” Hana sedikit lucu melihat sikap Yogi, betapa tidak orang yang diajak main ialah master yang sesungguhnya.
Hana mengalihkan pandangannya pada Juli yang terlihat senang diajak main duel pedang oleh Yogi,
“Senior! Apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Hana ingin tahu.
Juli menggaru-garu kepalanya, “Hm.. kita akan berburu malam ini!” Jawab Juli singkat sambil terus berjalan kelapangan agak terbuka untuk bermain pedang-pedangan dengan Yogi.
“Yogi angkat pedang mu.. hehehe, awas jangan sampai kalah" Goda Juli mulai menyerang seadanya
"Aku, Yogi si pendekar pedang.. jangan harap aku akan kalah" Yogi membusungkan dada kurusnya dan segera maju dengan semangatnya.
"Hahahaha"
Juli bermain pedang dengan Yogi dengan senda gurau, namun Yogi memainkan ranting itu dengan seriusnya seolah pendekar besar sedang memerangi musuhnya.
“Alah! Payah kali bang Juli ini... kalah terus dengan jurusku, angkat pedangnya.. lawan aku lebih serius bang..!! Aku jadi tidak bersemangat kalau lawan lemah begini” ucap Yogi senyum penuh kemenangan, karena selama ini ia selalu kalah dengan anak sebayanya.
“Ah.. iya.. iya.. Ranting milikku terlalu kecil sulit bagiku untuk menyerang mu Yogi!”
“Ah! Orang besar selalu beralasan kalau sudah kalah! majulah dengan gagah berani bang”
“Hehehe! iya.. iya...”
**
__ADS_1