
Dua orang bocah menunggang naga terbang di angkasa tatapan wajahnya terus mengarah ke bumi, raut wajah mereka terlihat serius ketika melihat pemandangan di bawahnya. Di atas pohon terlihat ribuan kepala orang mati yang terus mengeluarkan suara teriakan minta tolong memanggil-manggil. Mata mereka telah memutih namun kesadaran masih dimanfaatkan oleh tumbuhan parasit pemangsa.
“Senior, aku lihat tempat ini sungguh mengerikan, tumbuhan ini tidak bedanya dengan tumbuhan yang kita jumpai kemarin” Hana dapat memperjelas penglihatan dengan menggunakan mata Naga Kegelapan.
Juli menggelengkan kepala sedih, “Sungguh menyedihkan, Hana, bakar saja hutan ini semampu mu, mereka ini para pasukan yang dikirim kemari oleh Raja Darwan, Hm.. Dia pasti tidak menduga kali ini kan begitu banyak pasukannya mati di tempat ini” Juli menarik napas panjang saat melihat penyiksaan tiada akhir pasukan yang dikirim ke hutan kematian ini.
“Hm..” Hana mengangguk dan mengendalikan Naga Kegelapan untuk membakar hutan di bawahnya. Sementara Juli hanya berdiri tertekun di atas punggung Naga Kegelapan menyaksikan pembakaran tumbuhan parasit itu.
Wusssss…
Tiba-tiba dalam sekejap mata Naga Kegelapan di serang oleh tebasan angin hebat dari jarak dekat hingga Juli dan hana terpental dari atasnya.
Bruaaakk!
Aaakk!
“Awas ada serangan!”
Juli memperingatkan Hana yang juga terhempas dari punggung Naga bersamanya ke arah yang berbeda. Juli segera mengendalikan tubuhnya dan cepat menjungkirbalik di udara mempertahankan keseimbangan tubuhnya sembari bersiap mendarat ke tanah dari ketinggian dua 200 meter.
“Aaaakk!”
Terdengar teriakan kesakitan Hana di udara, Juli segera mengalihkan pandangan ke arah Hana yang berada di sekitar 40 meter darinya. Juli terkejut saat mendapati Hana sedang di cengkram tempurung kepalanya oleh seorang Manusia Siluman bertubuh tinggi besar dan di kawal oleh duapuluh siluman lainnya yang sudah berpangkat bintang hitam.
“Apa?”
Juli menjadi sangat pucat namun dia mencoba berpikir tanang dan mendarat ke bumi dengan sempurna. Kini pandangan matanya tidak terlepas dari 41 siluman yang melayang di langit, salah satunya mencengram kelapa Hana yang terlihat kesakitan.
“Lepaskan dia!” Teriak Juli marah, Juli bisa melihat hana di cengram dengan menggunakan artefak kuno yang membuat Juli tidak bisa menggunakan hukum ruang waktu terhadap dirinya,
‘Sial, Siluman-siluman ini telah mempersiapkan rencana yang matang untuk menghadapiku, tapi bangaimanapun aku tidak bisa membiarkan hana terlalu lama dalam posisi itu’ batin Juli mulai gelisah.
“Hahaha, Bocah bodoh dengarkan! Sedikit saja kau bergerak bocah perempuan ini akan mati dengan otak berurai” ancam Siluman bertubuh setinggi tiga meter berbadan kekar sebilah pedang besar terselip di punggungnya.
__ADS_1
Dalam sekilas pandangan Juli telah mengenal rombongan siluman di hadapannya, selain itu Juli juga sudah sempat bertemu dengan mereka kemarin. Pimpinan siluman itu di kenal dengan Ute-e salah satu jendral Siluman Barat paling licik.
Di kehidupan Juli sebelumnya, Ute-e ini berhasil menyusup ke dalam kerajaan manusia di Bumi Barat dengan kelicikannya dalam memperalat manusia serakah sehingga dia dengan mudah menghancurkan kubah pelindung dari dalam. setelah rencana berhasil semua manusia di Bumi Barat dibantai dan dijadikan sebangai alat uji coba pada laboratorium siluman, sebagian lainnya dijadikan makanan siluman, sungguh siluman ini penuh tipu muslihat.
Di sisi lain Juli juga tidak bisa berbuat banyak karena Hana berada dalam cengkraman tangannya, Juli tahu kelicikan demi kelicikan Ute-e akan segera terlihat jika Juli tidak memiliki perencanaan yang matang.
“Jendral Ute-e, itu namamu bukan? Lepaskan dia lalu katakan apa maumu?” Tanya Juli sedikit merendahkan suaranya karena nyawa Hana dalam keadaan terancam.
Hana terlihat meronta kesakitan, kedua tangannya memegang tangan Ute-e yang mencengkram kepalanya dengan erat,
“Aaakkhh! Senior! Pergilah dari sini, mereka bukan tandingan mu… aaakkkhh!” teriak kesakitan Hana saat Ute-e mencengkram erat tempurung kepalanya.
“Hentikan! Katakan apa mau mu, Hana diamlah” Juli menaikkan nada bicaranya semberi menegur Hana agar tidak memancing kemarahan Ute-e.
Hahaha
“Hahaha, Kalian lihat kan bocah itu, dia bahkan belum berpangkat tapi aura pembunuhnya sangat besar, bukan kah sudah kubilang kalau bocah laki-laki itu sangat aneh!” Ute-e justru tidak mengubris Juli namun dia justru tertawa bersenang-senang dengan pasukannya.
Juli sangat marah tapi ia membenamkan kemarahannya sampai genggaman tangannya berdarah, “Jendral Ute-e katakan pada ku apa yang kalian inginkan?” Juli kembali bertanya dengan nada marah.
“Benar Jendral! Bocah manusia ini terlalu sombong, kalau sampai dalam hitungan sepuluh tidak diberikan maka remas pula kepala menjijikkan itu”
“Hahaha, manusia buta, berani-beraninya dia mengancam kita kemaren”
Berbagai ucapan siluman terdengar, Juli langsung menjatuhkan diri berlutut sembari melepaskan cincin ruangnya,
“Ambillah! Jika ini yang kau inginkan, lepaskan dia, ingatlah! Kali ini aku benar-benar sangat marah jika kalian berlaku curang” ucap Juli melempar cincin ruang Dewa Mindril pada Jendral Ute-e.
HAHAHAHA
“Hahaha, Bocah cincin ruang ini sangat bangus dan layak di hargai, tapi karena kau berani mengancam ku maka…” Jendral Ute-e langsung mencabut lengan kanan hana dengan paksa.
“Aaakkkhh!” jeritan kesakitan Hana terdengar di iringi dengan tawa para siluman.
__ADS_1
Ute-e melempar tangan kanan hana ke depan Juli sembari berkata, “Ambillah tangan indah ini untukmu! Hahaha, Kau hanya bocah manusia sombong!” Ute-e tertawa terbahak-bahak dengan ratusan anak buahnya.
Juli melebarkan matanya seakan tidak bisa ditutup, Jantungnya berdetak kencang kedua tangannya di genggam erat aura bumi menjadi dingin, Juli menatap Ute-e dengan murka, “Lepaskan dia!” aura pembunuh Juli menjadi semakin meluap-luap hampir tidak bisa dikendalikan.
“Hahaha, Bocah! Di saat seperti itu kau masih memperlihatkan keegoisan mu?”
Ute-e kembali mencabut Lengan Kanan Hana dengan paksa hingga Hana menjerit histeris dan tidak sadarkan diri.
“Aaaakkkk!” Teriak Juli keras sambil menempatkan kedua tangannya di bumi, Tubuh Juli tiba-tiba mengeluarkan api kegelapan tubuhnya diselimuti api kegelapan, matanya mengeluarkan petir hebat.
“TEKNIK TERLARANG! SEGEL MAHA DEWA”
Dunia menjadi gelap ratusan pola kuno mengilingi tubuh Juli, empat hukum membentuk bola keluar dari tubuhnya, penampakan Juli terlihat sagat mengerikan tatapan matanya mengandung aura pembunuh yang sangat hebat.
Ute-e dan 40 pasukan berpangkat hitam tidak bisa bergerak dari tempatnya, mereka hanya bisa menelan ludah dan berusaha memalingkan wajahnya pada rekan-rekannya untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.
Ute-e mengertak gigi geram, “Apa yang telah dilakukan anak siluman itu pada kita, ini gawat aku bahkan tidak bisa mengerakkan jari-jariku” Ute-e mencoba melawan kutukan aneh terhadap dirinya namun benar-benar di luar kuasanya.
“Gawat! Kita telah salah memilih lawan, kita benar-benar tidak… tidak mampu malawannya”
“Kita terjebak dengan pola misterius ini?”
“Semuanya satukan kekuatan untuk melepaskan diri”
Semua siluman terlihat panik, mereka mencoba meronta melepaskan diri dengan mengeluarkan tenaga penuh sebelum terlambat, tapi semuanya menjadi sia-sia.
Juli memandang Hana dengan wajah sedih, seluruh tubuhnya telah menjadi bara api hitam yang terus terbakar, “Hana, maafkan aku! Aku, karena aku tidak bisa memberikan keselamatan bagimu” gumam Juli pelan kini tatapan matanya melihat 40 orang bintang hitam di depannya dengan wajah murka.
“Ute-e! aku sudah berusaha berdamai dengan kalian untuk keselamatan orang ku, tapi kalian justru menginginkan lebih, seharusnya untuk benar-benar memusnahkanku kau harus membawa Dewi Siluman Iblis kemari!” Tatapan Juli sangat murka sembari menciptakan pisau pusaka dari jiwa jantung abadinya.
“Ja.. Jangan mendekat!”
“Tenanglah Ute-e, ini akan membuat otakmu selalu mengingat kejadian hari ini!”
__ADS_1
**