
Gelap Malam Di Halaman Luas Istana Rubi.
Ratusan pasukan terus memanah seekor Naga Raksasa yang terus menyemburkan api hitam membakar apapun di depannya.
“Panah! Bidik anak kecil Penunggang itu!”
Swus.. swuss.. swas.. swuuss
Semua pasukan terus memanah, tapi api hitam yang dikeluarkan tubuh Naga dengan cepat membakar setiap anak panah yang melesat ke arahnya.
Huuuu.. Huuuuu….
Naga Kegelapan terus membalas dengan menyemburkan api hitam ke arah kerumuman pasukan. Siapa saja yang terbakar bisa dipastikan akan berakhir dengan kematian.
Hana menyeringai tatapan matanya dingin, “Rulang! Kali ini aku akan membalaskan dendam ku padamu, karena kau berani membunuh teman-teman ku” terdengar ucapan kesal Hana sembari mengendalikan Naga Kegelapan untuk membakar siapa saya yang menghalanginya.
“Teknik Segel Kuno! Segel diaktifkan!”
Whom! Whom!
Tiba-tiba seorang penyihir tua menyegel pergerakan Naga Kegelapan, “Bocah! Tidak akan kubiarkan kau membuat onar di sini!” Teriak keras Penyihir Tua sambil menahan Naga Kegelapan dengan tenaga dalamnya.
"Apa yang terjadi?"
Hana kaget saat Naga Kegelapan tidak bisa digerakkan, “Gawat! Kakek tua ini sangat kuat, baiklah aku akan melawan kalian dengan pedang ku!” Hana mencabut sepasang pedang merah dan biru, melompat dari punggung Naga Kegelapan menyerang ke dalam kerumunan pasukan Kota Rubi yang mulai kocar-kacir.
“Semuanya! Serang bocah itu, jangan biarkan dia hidup! ingat jangan ada yang kabur!” terdengar teriakan Rulang memberi perintah pada pasukannya sembari menerjang maju untuk membantu.
Trang! Tring! Swuss! Swuss!
Aaakkkhh! Aaaakkhh!
"Baiklah! Maju kau Rulang!" Hana terus maju melesat cepat melompat tinggi dan mengelak diantara tebasan pedang yang mengarah padanya. Tebasan pedangnya sangat cepat tepat mengenai sasaran, dalam beberapa kali gebrakan saja Hana telah membunuh belasan pasukan dengan mudah.
Seorang petinggi dapat melihat Hana sangat cepat, pasukan berpangkat di bawah perunggu dengan mudah dibunuhnya.
“Jangan gegabah! Pasukan di bawah perunggu jangan maju, anak ini sungguh sangat sulit dihadapi, lebih baik kalian mundur! Biar para petinggi yang menyelesaikannya!” Teriak seorang petinggi bertubuh tinggi besar seraya menyerang Hana dengan kapak besarnya.
Wusss… Trang!
Hana segera mengangkat pedang untuk menangkis namun kekuatannya tidak sanggup menahan kekuatan yang sangat besar, sehingga ia terpental jauh melambung ke udara. Hana dengan cepat menguasai diri dan segera menjungkirbalik di udara dan mendarat dengan tubuh terhuyung huyung ke belakang.
“Ah sial! Monster ini sungguh kuat!”
Belum lagi Hana berdiri menegakkan tubuh, belasan serangan senjata petinggi telah mengarah kepadanya, “Sial! Tidak ada celah bagiku untuk menghindarinya, aku terpaksa harus menangkis semua serangan yang datang” Gumam Hana mulai memutar kedua pedang dengan kecepatan penuh.
“Teknik Kaisar Langit Bumi! – Tangkisan Seribu Dewa!”
DROOOMMM!
Putaran pedang Hana sangat cepat namun tenaganya jauh dari kata cukup untuk menghadapi belasan jenis senjata petinggi Rulang. Benturan tenaga dalam membuat Hana terpental jauh jatuh memuntahkan darah segar. ia kembali bangkit segera memegang dada untuk memeriksanya, ia dapat merasakan kalau sekarang benar-benar mengalami luka dalam serius.
__ADS_1
“Gawat! Tidak mungkin bagiku melawan mereka tanpa Naga ku! Dua Pedang pusaka ini masih jauh dari kata cukup jika aku harus melawan mereka sekaligus, lain ceritanya kalau satu lawan satu!” Hana mengerutkan keningnya, perlahan mencoba berdiri ber-tongkatkan pedang.
“Hahahaha! Bocah! Bukankah kau bocah yang sempat kucari dulu? Aku sungguh terkejut melihatmu memiliki Naga Raksasa ini, kau memang anak jenius dan aku berharap kau jadi istriku, sekarang aku akan mengampuni mu, namun kau harus menikah dengan ku” Rulang menjulurkan tangannya dengan wajah senyum.
Rulang sangat menyukai kecantikan Hana sehingga ia lupa umur. Hana menjadi sangat marah ia mengeluarkan kristal hijau dan menelannya, tatapan mata Hana menjadi serius ia kembali berdiri tegak, perlahan ia menyerap kristal hijau untuk menyembuhkan dirinya.
“Tuan Rulang! Jangan biarkan anak itu menyembuhkan diri, cepatlah habisi dia sebelum terlambat!” teriak Penyihir Tua memperingatkan, ia tahu betul kalau Hana sedang mengulurkan waktu.
Rulang kaget, ia tidak menyangka Hana secerdas itu. Rulang pada dasarnya sangat menyukai Hana walaupun dia sudah ditolak beberapa kali hal itulah yang membuatnya tidak begitu waspada,
“Baiklah! Kau tidak memberi pilihan kepadaku, cepat lumpuhkan anak cantik ini!” Rulang mengangkat kapaknya kembali menyerang Hana dalam keadaan luka parah.
“Serang bersama biar kita bisa melumpuhkannya dengan cepat!” teriak seorang petinggi bertubuh tinggi besar meminta bantuan pada rekan-rekan lainnya.
Belasan orang kembali melompat tinggi menyerang Hana dengan menggunakan energi senjata menyerang bersama ke arahnya.
Wusss… wuss... Wuusss..
Hana melebarkan matanya, ia benar-benar tidak menduga akan dikeroyok oleh belasan Petinggi, dan pula mereka menyerangnya secara bersamaan dengan energi senjata dahsyat.
"Energi senjata sebesar ini bukanlah sesuatu yang bisa dilawan, namun begitu Aku harus tatap bertahan” Hana kembali menciptakan teknik pelindung tubuhnya.
“Teknik Pertahanan Perisai Abadi!”
Hana menempatkan kedua tangannya ke bumi, sebuah Aray pelindung ruang tercipta dari tenaga dalamnya.
BROOOMM!
Wuuusss drooom! drooom!
Perisai abadi hancur lebur, Hana jatuh ke posisi berlutut, mulutnya terus mengeluarkan darah segar, belasan petinggi Rulang telah berhasil mengalahkannya. Hana kini bahkan tidak sanggup menegakkan badan untuk berdiri tegak.
Sementara belasan Petinggi Rulang juga terhempas jauh karena hempasan gelombang kejut, akan tetapi mereka tidak mengalami luka serius sebagaimana dialami oleh Hana.
“Kurang ajar! Anak ini benar-benar merepotkan, ayo kita serang lagi, aku yakin dia telah mencapai batasannya” Ajak Petinggi bertubuh tinggi besar.
“Tidak usah!” Rulang mengangkat tangan, perlahan ia mendekati Hana, “Anak cantik! kau ini telah kalah, aku sekarang bisa membunuh mu kapan pun yang ku mau, tapi sebelumnya aku memiliki tawaran terakhir padamu, maukah kau menjadi istriku? Aku berjanji tidak akan menikah lagi setelah dirimu” Rulang senyum lebar penuh harap hingga gigi emasnya terlihat jelas.
Hana tertawa, “Xixi, Aku hampir tidak pernah tertawa sebelumnya, kau ini tua Bangka yang tidak sadar umur, mau menikah dengan ku? Seharusnya kau menunggu sepuluh tahun lagi untuk menanyakannya, karena seandainya aku bisa menikah sudah pasti aku sudah bersuami.. tapi aku tidak yakin kau bisa melewati malam ini, apalagi menunggu 10 tahun lagi untuk melamar ku” Hana menyeringai berusaha bergerak, tapi ia benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Hahaha, kalau saja orang lain sudah ku bunuh dari tadi, tapi melihat kecantikan mu yang sangat luar biasa membuat ku terus menawarkan kebaikan hatiku, Tapi karena kau terus menolaknya jadi selamat tinggal” Rulang segera menebas leher Hana dengan kapak besarnya.
Wuusss….
Bruuk!
"Apa?!"
Rulang dan petinggi lainnya terbelalak saat melihat Hana menghilang di depan mereka, kapak Rulang hanya membacok tanah kosong.
“Kemana perginya anak itu?”
__ADS_1
“Kenapa dia menghilang!”
Semua orang mulai menoleh ke berbagai arah mencari keberadaan Hana yang hilang secara misterius. Tiba-tiba tidak jauh dari sana dalam kegelapan seorang anak kecil berpakaian gembel berjalan santai ke arah mereka.
“Siapa yang namanya Rulang! Aku akan mencabut kepalanya dengan tanganku sendiri! tapi sebelumnya aku akan bermain-main dengan kalian” terdengar suara anak kecil penuh dengan nada ancaman.
Semua mata kini teralihkan pada anak itu. Rulang senyum sinis saat mendengar ancaman, “Hahaha! Bocah siapa yang mengutus mu kemari? Apa mereka mengutus mu untuk berbicara kasar pada kami, Bocah! Asal kau tahu saja tadi anak cantik berpangkat perunggu baru saja mati di sini, kini kau yang bahkan tidak berpangkat berani mengancam kami, nak katakan siapa yang menyuruhmu?” tanya Rulang setengah membujuk.
Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tatapan matanya melihat Naga Kegelapan yang masih terjerat oleh segel kutukan Penyihir tua,
“Rulang! Rencananya aku akan mengatakan kalau Raja Embun yang menyuruhku, tapi jika kupikir kembali untuk apa aku berbohong, karena kau sebentar lagi akan menjadi mayat hidup” Anak itu mengalihkan pandangannya pada ratusan jasad pasukan yang telah terbakar oleh api hitam.
“Hahahaha, Bocah sombong! Coba kau tahan serangan kapak ku ini!” Teriak Petinggi bertubuh tinggi besar bersenjatakan kapak besar melompat tinggi menyerang bocah kecil itu dengan ganasnya.
“Bacokan Kapak Maut!”
Wuuusss...
Terdengar teriak Petinggi menyerang bocah itu dengan serius, sementara bocah itu bahkan tidak bergeming dari tempatnya sampai kapak besar menghantam kepalanya.
DROOOOOMMM!
Akibat hantaman itu gelombang kejut dahsyat menghempas Rulang dan para petingginya. Kapak yang menghantam kepala bocah itu hancur lebur, sementara bocah itu masih berdiri dengan santai, tempat pijakannya telah menjadi kawah kecil akibat gelombang kejut tenaga dalam.
“Apa?!”
Petinggi tinggi besar berkeringat dingin, kini tatapa tajam anak itu melihat kearahnya dengan wajah serius tanpa senyum sedikitpun. Petinggi besar langsung tahu perbedaan kekuatan diantara keduanya. Tanpa terasa ia terkencing-kencing dan jatuh tersungkur ke belakang dengan sendirinya. Wajahnya penuh keringat kini ia melihat sosok bocah itu sebagai mautnya.
“Aaampun…! Aku mengaku bersalah! Ampuni aku!” Petinggi itu langsung bersujud-sujud padanya dengan ketakutan yang mendalam.
Anak itu bahkan tidak memperdulikannya ia berjalan perlahan melewati petinggi yang bersujud-sujud. Anak ini perlahan mendekati Rulang yang baru bangkit berdiri dari terpaan gelombang kejut.
“Rulang! Aku tidak membunuh petinggi mu, kau tahu kenapa? Karena aku ingin mengajari Hana bagaimana menghadapi serangan amukan kalian, sekarang kalian bangunlah dan lawan aku dengan sungguh-sungguh seperti kalian menyerang Anak cantik tadi. Ingat! Siapa saja di antara kalian yang menyerangku setengah kekuatan aku akan menyerap kalian hingga tinggal tulang berulag!” suara anak itu cukup menekan mereka sampai terkencing-kencing.
Perlahan Anak itu melirik ke arah Penyihir Tua yang sedang menyegel Naga Kegelapan,
“Tua Bangka! Kau pun harus bekerja sama dengan mereka untuk menyerangku, gunakan segel itu sebaik baiknya untuk melawan ku” Tatapan anak itu cukup membuat penyihir tua itu bergidik.
Anak itu menjentikkan jarinya, dan seketika Naga Kegelapan yang tersegel hilang dari sana. Barulah penyihir tua itu mulai ikut terkencing-kencing begitu mengetahui perbedaan kekuatan.
“Ya.. Yang Mulia! Maaf kami telah lancang meyerang anda, kami mee… memang bersalah!” Penyihir Tua berkeringat mulai menjatuhkan diri bersujud padanya.
Anak itu menyeringai, “Tua bangka! Kumpulkan semua pasukan mu, dan perintahkan mereka menyerangku secara bersamaan sekaligus, siapa yang tidak bersungguh-sungguh akan kusiksa sampai kau ingin mati berkali-kali!” Anak itu tiba-tiba telah mencengkram kepala Penyihir Tua itu dengan menanam segel Naraka Para Dewa padanya.
Penyihir Tua sangat berpengalaman ia tahu betul segel kutukan abadi yang di tanam padanya, mata Penyihir Tua terbelalak ia menjadi syok berat.
“Kenapa Dewa Tidak membunuhku saja!”
“Aku membutuhkan kalian untuk boneka latihan Ratu Rihana, jadi berbahagialah!”
**
__ADS_1