
Pagi buta di reruntuhan kota kerdil biasanya sunyi dan jarang orang lewat, tapi kali ini sedikit berbeda. Dua puluh orang suku kerdil berbaju lusuh lari tergesa-gesa memasuki reruntuhan, raut wajah mereka terlihat ketakutan.
“Kepala Suku! Apa kita tidak mencari tempat lain saja untuk bersembunyi? Tempat ini sangat mengerikan? Aku dengar banyak pendekar yang hilang dalam bangunan leluhur kuno ini,” tanya seorang pemuda berumur dua puluh lima tahun khawatir, pemuda kerdil ini juga menggendong seorang anak kurus dibelakang punggungnya.
“Bang Ade! Percayalah pada kunang-kunang emas, berapa kali kita telah selamat karena sarannya. Kini kunang-kunang emas meminta kita menyelamatkan diri ke bangunan leluhur kuno wilawah selatan, kita harus ketempat itu, tapi saya tidak tahu yang mana gedungnya” Anak kurus yang di gendong oleh ade menanggapi kegelisahan mereka.
“Ade! Kita tidak punya pilihan lain, Aliansi Hantu kegelapan akan segera menemukan kita, kita lebih baik mati disini dari pada mati disiksa oleh mereka, lagi pula ini permintaan kunang-kunang emas, dan inilah reruntuhan yang dimaksud”
Kakek tua pincang yang dikenal dengan Kepala Suku segera menarik tangan cucunya untuk bergegas masuk kedalam bangunan tua.
“Cepat! Semuanya masuk!”
Belasan orang kerdil yang terdiri dari wanita dan anak-anak segera memasuki reruntuhan, mereka tahu bahwa reruntuhan ini juga tidak menjamin keselamatan mereka, karena menurut rumor yang beredar banyak sekali para pendekar yang menghilang di reruntuhan ini. Akan tetapi, karena ini permintaan dari kunang-kunang emas maka mereka tidak bisa menolaknya.
Begitu mereka masuk ke reruntuhan, aura dingin mulai terasa, beberapa bayi bahkan langsung menangis karena aura negatif ini.
“Ade! Pimpinlah Jalan, jangan takut! Aku akan mengawasi mereka di pintu bangunan ini” suruh Kepala suku dengan wajah pucat ketakutan.
Pemuda kurus itu bergegas masuk memimpin yang lainnya keruang utama. Ruang ini sangat luas serta berbagai arca berdiri kokoh di tepi ruangan. Andai saja tempat ini tidak anker dan banyak menelan korban, maka banyak orang akan menempati reruntuhan ini dengan suka rela.
“Lihatlah! Sepertinya ada orang disana” seorang ibu paruh baya menunjuk ke arah sisa api unggun yang berada dibagian tengah ruangan.
“Iya! Itu sepertinya seoran anak laki-laki yang sedang duduk bersila, dan seorang gadis belia yang masih tertidur, mungkinkah mereka pengembara?”
“Tidak! Sepertinya itu penunggu gua ini, lihatlah anak itu, ia duduk seperti arca dan tidak bergerak sedikitpun!”
“Kurasa dia anak-anak rakyat biasa yang melarikan diri seperti kita, lihatlah itu ada sisa-sisa api unggun didepannya”
“Banar! Mungkin saja anak itu memiliki kunang-kunang emas, dan sampai lebih dulu dari kita”
Berbagai percakapan terdengar, namun anak kecil berusia delapan tahun itu masih duduk memejamkan mata.
Seorang anak yang digendong Ade sebelumnya, ia memberanikan diri berjalan kearah anak yang duduk bersila.
“Fani! Jangan kesana, aku takut kalau itu siluman,” Ade mencoba menegurnya, tapi anak yang dipangil Fani sudah sampai dihadapan bocah yang sebaya dengannya.
“Kawan! Apa kau baik-baik saja? Apakau juga dituntun oleh kunang-kunang emas ini?” sapa Fani lembut sembari menjulurkan tangan kurusnya memperlihatkan kunang-kunang emas, namun anak itu masih tidak bergeming.
“Awas! Mundurlah! dia itu anak siluman!”
__ADS_1
Tiba-tiba seorang gadis terjaga dari tidurnya, dan ia lansung berteriak lantang saat melihat anak kurus mencoba membangunkan anak yang duduk bersila.
“Ah! Benarkah!”
Fani ketakutan dan segera berlari balik ke keluarganya. Semua orang kini merasakan ketakutan yang sama. Mereka kebingungan, jika keluar mereka akan dibantai oleh Aliansi Hantu Kegelapan, jika tetap disini mungkin anak siluman itu juga akan memakannya.
“Saudari Yara! Kenapa kau menakuti mereka?” anak kecil itu perlahan membuka matanya, dan menoleh kearah belasan orang yang kini ketakutan padanya.
Putri Yara menghampiri Juli dan menunjuk kewajahnya, “Kau itu Jelas Si Bocah Iblis Barat! Apa yang salah dengan perkataan kutadi, aku hanya berusaha agar kau tidak mencelakai mereka, siapa tahu kalau kau terkejut, kau bisa saja membunuh mereka, bukan?” Putri Yara berkata lantang dan marah.
Juli senyum terkekeh, “Baiklah! baiklah! Tadi aku sedang memulihkan tenaga dalamku,”
Juli tidak ingin memperpanjang masalah, mungkin Putri Yara terlalu khawatir terhadap dirinya, dan itu hal yang biasa terjadi didunia persilatan. Sebenarnya Juli sedang dalam penyatuan jiwa kunang-kunang surgawi, dan dia tidak ingin memberitahu Yara tentang ini. Bahkan, suku kerdil yang ada dihadapannya, itu sebenarnya Juli sendiri yang menuntunnya kemari.
Kini pandangan Juli terarah pada belasan orang kerdil, yang berdiri merapat karena ketakutan padanya. Juli tahu, semua orang kerdil ini berasal dari kalangan fakir miskin yang tertindas. Kebanyakan yang memasuki gua adalah ibu-ibu, anak-anak sebayanya, dan beberapa bayi, serta beberapa pemuda dan gadis.
‘Mereka suku Bante Barat, Suku ini merupakan satu-satunya keturunan langsung dari bangsa Kerdil Batu yang tersisa, mereka dikenal hebat dalam menciptakan bangunan megah, dan bangunan ini juga hasil karya nenek moyang mereka. Aku yakin keterampilan nenek moyangnya tidak akan pernah luntur dalam darah mereka, tapi kenapa keturunan suku ini sekarang begitu terpuruk’ batin Juli merasa kasian.
Juli menghampiri mereka, ia tahu jika seorang tidak terpaksa maka mereka akan berpikir seribu kali untuk masuk bangunan tua ini, karena dalam gua ini banyak jiwa-jiwa gentayangan yang berasal dari masalalu dan akan meneror siapapun yang memasukinya.
“Bocah Iblis Barat! Kuharap kau tidak menyakiti mereka! Kalau kau berbuat semena-mena aku tidak akan membantumu” Teriak Putri Yara setengah mengancam.
Juli menghampiri seorang pemuda kerdil yang berusia 25 tahun yang di panggil Ade. Juli sebenarnya telah mengenali mereka dengan sangat baik melalui kunang-kunang emas yang dibawa oleh Fani.
‘Ah! Aku tidak boleh mengungkapkan indentitas kunang-kunang surgawi untuk saat ini, nanti aku malah dikira pembohong, atau bahkah lebih buruk dari itu, apalagi Yara pasti berkomentar yang tidak-tidak, hm.. biarlah waktu yang menjawab” batin Juli.
“Senior Ade! Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian memasuki tempat ini? Bukankah kalian tahu kalau tempat ini sangat berbahaya? Bahkan untuk suku kalian sekalipun”
Juli senyum hangat, ia tahu kalau mereka ketakutan padanya karena mendengar pembicaraan Putri Yara, akan tetapi bagi Juli “Tindakan” akan merubah pandangan.
Ade terlihat berpikir keras, ‘Gawat! Anak ini mengetahui namaku, Anak ini rupanya benar-benar Bocah Iblis Barat! Kami benar-benar tidak beruntung, dan sepengetahuanku Bocah Iblis Baratlah yang memimpin Aliansi Lembah Hantu, jika kukatakan Lembah Hantu mencariku maka kami akan langsung dibantai olehnya, Bangaimana caraku untuk bisa menyelamatkan keturunan raja sukuku yang tersisa, jika kukatakan ini permintaan kunang-kunang emas, maka pasti ia akan mengambilnya, atau lebih parah lagi jika dia membunuhnya’ pikir Ade berkeringat dingin, dan tak ingin melibatkan kunang-kunang emas milik mereka.
“Teman! Kami sebenarnya di buru oleh Aliansi Lembah Hantu, jadi kami datang kemari untuk berlindung, kami juga berharap arwah nenek moyang tidak menggangu” tiba-tiba Fani mencoba menjelaskan dengan baik tanpa melibatkan kunang-kunang emas.
Fani berpikir kalau Ade kesulitan berbicara, maka ia membantunya. Fani memang anak yang ceplas-ceplos. Disisi lain semua orang kerdil menjadi pucat, terutama Ade. Ade tahu kalau Fani masih anak-anak, dan tidak tahu kalau Aliansi Lembah Hantu sebenarnya milik Bocah Iblis barat.
Ade terlihat sangat kaget dan satu-satunya cara ialah menjatuhkan diri berlutut minta ampun.
“Ampun!”
__ADS_1
Melihat Ade menjatuhkan diri memohon ampun, semua orang mengikuti Ade berlutut dihadapan Juli dengan wajah pucat.
“Tuan Ampun! Kami sebenarnya memiliki peta keluarga, dan ini dia! Tapi tolong ampuni nyawa kami, kalau tuan membunuh kami maka tidak ada lagi keturunan asli suku Bante Barat di dunia ini” Ade memelas, dan ia segera mengambil peta dalam bingkisan baju yang dibawanya dan diserahkan pada Juli dengan tangan gemetar.
‘Begini pengecutkah keturunan Bangsa Kerdil Batu, kalau nenek moyangnya tahu dia akan dihajar habis-habisan. Seingatku dalam semua cacatan sejarah, nenek moyangnya seorang pejuang tangguh di bumi barat. Di kehidupanku sebelumnya, aku menemukan beberapa suku Bante Barat yang tersisa, mereka adalah pejuang-pejuang hebat, walaupun tidak sekuat kerdil dua bersaudara Gabu dan Gibli dari bumi timur. Namun suku mereka terampil dalam pencipta bangunan yang bahkan tiada tanding didunia ini.
Juli mengibaskan tangannya, “kalian bangunlah! Aku bukan bocah iblis barat, namaku Juli! aku anak desa biasa, dan Kalian simpan saja peta itu, aku tidak membutuhkannya”, Juli kembali duduk ketempat semula.
Juli tidak ingin membuat orang kerdil miskin itu jantungan karenanya. Putri Raya mendengar kata “Peta” menjadi tertarik, ia segera menghampiri Ade yang masih berlutut dan berwajah pucat,
“Mas Ade! Bisa kulihat peta yang kamu bawa?”
Putri Yara memintanya dengan lembut, Ade tanpa berpikir panjang langsung menyerahkannya begitu saja, bagi Ade keselamatan mereka adalah segalanya.
“Putri Yara! Itu harta keluarga mereka, jangan mengambilnya! Kembalikan!” Tegur Juli sembari memadamkan sisa api unggun karena cahaya matahari pagi telah menerangi ruangan.
“Eh! Aku tidak berencana mengambilnya, hanya ingin melihatnya saja setelah itu akan kukembalikan! Lagi pula aku tidak tahu daerah ini,” Putri Yara terus membaca peta.
Putri Yara terlihat cepat akrab dengan suku Bante, sehingga mereka tidak segan-segan mengeluarkan peta lainnya untuk diperlihatkan pada Putri Yara.
Putri Yara sendiri menjadi tertarik untuk memperhatikannya, sesekali terlihat matanya bersinar saat melihat harta karun yang ditawarkan oleh peta-peta itu.
Putri Yara ahli dalam membaca peta, dengan sekali lihat ia tahu letak bangunan yang akan dituju, saat itu matanya terbelalak.
“Bukankah menurut gambar peta ini kita seharusnya berada di kota besar bangsa kurcaci? Dan bangunan yang kita tuju berada tidak jauh dari sini? Bagaimana kalau kita kesana? Nanti kalau dapat harta karun kita bagi rata, 5 persen untuk suku kalian dan 95 persen untukku, bagaimana? Setuju ya!” Tawar Putri Yara bersemangat.
Semua orang Bante saling pandang, mereka tentunya tidak setuju, tapi mereka tidak memiliki pilihan lain, walaupun tawaran ini jauh dari kata “adil”.
“Tidak masalah nona, asalkan nona menjamin kami hidup, itu tidak masalah,” Ade mewakili sukunya.
Belum sempat mereka bernegosiasi lebih jauh, kepala suku berlari cepat memasuki ruangan dengan napasnya terengah-engah karena kelelahan.
“Gawat!” Terdengar teriakan ketakutan kepala Suku, eskpresi wajahnya buruk.
“Gawat! Aliansi Lembah Hantu telah mendekat, mereka membawa 100 pasukan elit!... ”,
Tiba-tiba, kepala suku berhenti berbicara saat menyadari ada seorang gadis berpostur tinggi berada ditengah tengah kerumunan sukunya.
“Siapa nona ini?”
__ADS_1
**