
Di depan pintu gerbang Istana Misterius.
Setelah kejadian demi kejadian Kakek Husen beserta rombongan akhirnya mulai bisa mempercayai Bomo serta menyetujui usulan Bomo agar mereka pindah dari reruntuhan bangunan yang didiami tadi malam ke bangunan Istana besar misterius yang tidak jauh dari tempat sebelumnya.
Istana Misterius ini sangat megah dan kokoh karena dibangun dari batu meteor hitam misterius langka, salah satu material terpadat yang ada di muka bumi.
Semenjak ribuan tahun silam istana misterius ini tidak bisa dimasuki oleh siapa pun termasuk penduduk kerajaan itu sendiri kala itu, berbagai percobaan pembobolan telah dilakukan dan tidak sedikit pula para ahli dari berbagai ras berdatangan ingin membuka paksa namun tidak seorang ahli pun berhasil melakukannya, sehingga sampai sekarang istana ini terbengkalai dalam waktu yang berkepanjangan.
Husen dan rombongannya terlihat kebingungan di depan pintu gerbang istana misterius yang sangat besar tinggi itu namun mereka hanya bisa mengetuk-ngetuk dari luar dan tidak bisa membukanya walaupun sudah di dorong dengan berbagai macam cara.
Selain itu ada semacam misteri di dalamnya pada daun pintu terpampang jelas berbagai pola tulisan kuno yang tidak mereka mengerti sama sekali.
“Bomo! Untuk apa kita disini? kalau sepanjang hari kita hanya bisa berdiam diri seperti kambing kurapan menunggu dimangsa Siluman Kera Bertanduk aku sama sekali tidak tertarik dengan itu, lagi pula ini tempat terbuka bisa saja kita diserang oleh siluman-siluman lain yang kebetulan lewat, kalau itu terjadi kita bahkan tidak tahu harus lari kemana, di belakang istana terkunci di depan halaman luas” Jelas Ruyu dengan sikap jengkel.
Bomo menoleh ke arah Husen yang dari tadi terus memperhatikan pola kuno pada daun pintu, “Husen! Menurut mu bagaimana cara kita membuka pintu ini, siapa tahu di dalamnya banyak barang berharga, kalau kita bisa masuk kita akan membagikannya secara adil nantinya” ucap Bomo yang telah menyerah setelah ia mencoba dengan berbagai macam cara sebelumnya.
Husen menggaruk-garukan kepalanya, “Aku tidak tahu, kurasa untuk membukanya butuh kata sandi dan disini jelas terlihat ada tanda-tanda seseorang telah mencoba memecahkan kata sandinya dengan menggunakan darahnya” Husen menunjukkan kearah pintu.
“Kakek! Lihat lah!” Yuyun menunjukkan kearah sekawanan Serigala Ghaib yang datang bergerombol ke arah mereka.
“Bomo! Coba kau lihat apa pangkat serigala-serigala itu aku tidak mampu melihat sejauh itu” Husen meminta Bomo untuk melihatnya.
Bomo menyipitkan matanya mencoba melihat serigala yang berjarak sekitar dua kilometer jauhnya, “Celaka! Mereka umumnya berpangkat perak! Jumlahnya ribuan cepat lari kita tidak akan selamat kalau kita terus di sini” Teriak bomo pucat ia sadar betul tingkat kemampuannya.
“Apa?! Tingkat perak?” Teriak Kaget Bomo
“Kakek! Kita harus bergegas pergi dari sini” ucap Dolah mulai kaget
__ADS_1
“Kalau serigala itu tingkat perak tidak ada jalan bagi kita untuk lari, sebaiknya kita bersembunyi saja di sekitar ini” Ruyu memberi masukan.
Tiba-tiba sebelum mereka mengambil keputusan untuk lari, Hana, Risa, Mija dan Juli terlihat tidak jauh dari sisi istana misterius itu.
“Kakek! Kawan kawan semua!” Teriak Risa cepat setelah melihat kakek dan yang lainnya berada di sana.
Betapa terkejut dan berbahagianya Kakek Husen begitu mengetahui cucunya masih selamat tanpa kurang satu apapun,
“Risa cucu ku, syukurlah kau selamat, semuanya cepat kemari lah! Lekas lah” teriak Husen pucat dan terburu-buru, walaupun hatinya senang karena cucunya masih hidup, disisi lain iapun lagi mendapatkan masalah serius karena ratusan serigala berdatangan ke tempat itu.
“Ada apa kek!” tanya Risa sambil berlari bergegas mendekati kakeknya
“Risa lihatlah ke sana!” Yuyun menunjukkan ke arah ratusan serigala yang berdatangan kearah mereka.
Risa dan Mija menjadi kaget bukan main saat melihat ke arah sisi depan istana, sejauh lima ratus meter dari mereka terlihat para serigala Ghaib terus berdatangan raut wajah serigala terlihat bringas dan haus darah.
Aaaaunnnggg…!!
Aaaaunnnggg…!!
Sementara itu Dolah berjalan ke sisi istana untuk memeriksa tempat-tempat yang layak untuk dijadikan tempat persembunyian sementara waktu.
“Semuanya kemari lah! Ayo kita naik ke atas atap! Kurasa kita akan lebih aman bila kita ada di atas sana” Teriak Dolah yang tiba-tiba menemukan sebuah tangga yang mengarah ke atas atap, tangga besi itu merupakan peninggalan para ahli yang mencoba membongkar atap istana agar dapat masuk ke dalamnya beberapa ratus tahun silam.
“Ayo..!?”
“Pas sekali.. kalau tidak kita akan di terkam serigala!”
__ADS_1
“Aku pun ikut!”
“Aku Juga!”
Akhirnya Dolah dan sebagian orang berdesakan berebut naik keatas atap istana, memang itulah satu-satunya jalan untuk selamat pikir mereka,
Sementara yang masih bertahan di bawah dan tetap pada posisinya, Juli, Hana, Bomo dan Husen, mereka terlihat masih pada posisinya, hanya Husen diantara tiga orang itu yang terlihat berkeringat dingin dan gemetar hebat,
Sementara Bomo dan Hana terus melirik kearah Juli yang terlihat senyum senang hal itulah yang membuat mereka semakin percaya diri berada di bawah.
“Hana! Juli! cepatlah kalian naik kemari, biarkan kakek yang tinggal bersama Bomo untuk melihat perkembangan situasi, mereka bisa menjaga diri, lagi pula mereka berdua bisa naik belakangan nantinya” Teriak Ruyu menyuruh Juli dan Hana naik keatas atap.
Di atas atap Risa dan Mija saling pandang, “Kenapa bisa Bomo bergabung dengan kita?” tanya Risa pada Mija terlihat bingung.
“Aku pun tidak tahu, namun sepertinya mereka sudah akur, mungkin karena situasi seperti ini membuat mereka harus akur dulu untuk bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini” Jelas Mija yang menebak.
Husen dan Bomo memiliki pendengaran tajam, mereka bisa mendengar pembicaraan itu, namun Bomo pura-pura tidak mendengarnya, Husen pun terasa berat mengomentari di saat situasi seperti ini.
Saat Husen melirik ke sisi belakangnya Hana dan Juli masih berdiri santai seolah tidak melihat ancaman besar yang datang di hadapannya.
“Hana! Juli! Naiklah ke atas” Perintah Husen saat melihat para serigala sudah mendekatinya.
Hana pandangan matanya terus tertuju pada wajah Juli, setelah beberapa kejadian hidup mati diselamatkan oleh Juli kini Hana semakin percaya pada anak kecil yang terlihat seperti gembel itu, ‘Sepertinya Senior Juli masih terlihat santai, jangan-jangan dia masih memiliki ide gila lainnya, aku bisa merasakan detak jantungnya normal itu artinya dia tidak dalam posisi terancam’ batin Hana yang mulai percaya pada kemampuan Juli sepenuhnya.
“Senior! Apa ada cara untuk mengatasi mereka?” tanya Hana ingin tahu.
Juli senyum, “Tanang lah.. jangan khawatir saya masih tau cara mengalahkan mereka dengan mudah, lihatlah wajah mereka bonyok-bonyok, itu karena mereka berurusan dengan ku semalam, kalau berani mengusik ku mereka akan ku adu dengan siluman kera bertanduk lagi, biar kapok mereka” ucap Juli senyum riang seolah itu hanya permainan anak-anak saja.
__ADS_1
Hana juga ikut senang mendengar penjelasan Juli, “Ide itu sungguh tidak bisa ku cerna mentah-mentah namun aku ingin melihat bagaimana cara Senior Juli menyelesaikan permasalahan ini, aku benar-benar ingin belajar cara-cara gila sepertimu” Hana terlihat bersemangat tidak seperti sebelumnya.
**