
Di Kota Lembah Iblis
Pagi hari penduduk keluar dari rumah seperti biasa, mereka merasakan keganjilan yang terjadi di sepanjang jalan, tidak seperti biasanya jalanan terlihat begitu sunyi senyap darah berceceran dimana-mana namun tidak terlihat satu jasad pun di sana,
“Kemana para pemburu iblis yang biasanya selalu berteriak-teriak di pagi buta?”
“Aku Juga tidak tahu, tadi malam aku mendengar jeritan manusia di luar rumah, tapi aku tidak berani keluar”
“Iya akupun sama, sepanjang malam aku dan istriku menggigil ketakutan karena teriakan-teriakan aneh”
“Apa ini semua ulah hantu?”
“Hi.. serem, mudah-mudahan jangan itu sungguh menyeramkan”
“Apa kalian tidak mendengar pagi ini suara cerucuk surgawi berkicau indah? Apa kalian tahu maksudnya”
“Aku jadi merinding, bukankah itu ada sangkut pautnya dengan ramalan Yang Mulia Dewi Arway Barat?”
“Apa? Wa.. Wali telah datang?”
Berbagai pembicaraan terdengar dari warga yang kebingungan, mereka terus berspekulasi tentang kejadian yang terjadi semalam,
"Bapak Ibu!"
Tiba-tiba sekelompok gadis-gadis kurus dan anak-anak berjalan ke berbagai tempat, mereka memasuki lorong-lorong terus berteriak menyampaikan pemberitahuan.
“Bapak-bapak, ibu-ibu semuanya! Boris telah dikalahkan, sekarang semuanya disuruh berkumpul di depan istana wali kota”
“Bapak Ibu semuanya, 10 Pahlawan besar menginginkan kalian berkumpul di istana”
Teriakan-teriakan senada anak-anak dan gadis-gadis kurus terdengar di berbagai tempat,
Sebagian anak dan gadis pulang ke rumah mereka untuk memberitahukan kejadian demi kejadian pada orang tua mereka masing-masing, hingga aura kesedihan dan kebahagianya menyelimuti Kota Lembah Iblis.
Di kalangan suku Padri ramalan Dewi Arway Barat sangat populer, bisa dikatakan tidak ada suku Padri yang tidak tahu ramalan agung tersebut, karena dalam catatan sejarah suku Padri, Dewi Arway Barat ialah satu-satunya orang yang telah mampu menguasai Teknik Suara Takdir dalam masyarakat luas sering dikenal dengan “Suara Langit”.
“Cepatlah! Kita harus berkumpul sekarang, aku sangat percaya tadi malam adalah malam yang di ramalkan”
“Benar! Tidakkah kalian dengar tadi pagi Cerucuk Surgawi berbunyi nyaring?”
"Benar ini kan tahun Bakda"
“Benar mari kita bergegas!”
Semua suku Padri serentak bergerak menuju ke Istana Wali Kota dengan jantung berdebar-debar, sebangian terlihat senang dan antusias, sebagian lagi ketakutan karena trauma yang mendalam terhadap Istana Boris.
**
__ADS_1
Pagi hari di halaman luas Istana Wali Kota telah dipenuhi ribuan warga, Juli dan Hana didampingi Irawan serta 10 pahlawan Suku Padri berdiri di atas sebuah Pentas Podium setinggi satu meter.
Di halaman luas telah dihadiri oleh lima ribu orang suku Padri, dan sepuluh ribu orang mayarakat biasa lainnya.
Para warga Padri merasa heran saat menyadari yang menjadi pemimpin massa ialah dua bocah kecil ras manusia biasa, ukuran kedua anak itu sangatlah kecil bila dibandingkan dengan anak-anak suku Padril.
Hana telah membuka cadar penutup wajah tidak seperti hari biasanya, ia berdiri paling depan sebagai pembawa acara.
Hana terlihat sangat anggun dan segar karena sebelumnya dia telah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mandi di istana wali kota, wajah cantiknya terlihat berseri-seri sehingga siapa yang melihatnya pasti akan sangat takjub padanya.
Hana mengangkat tangannya diiringi sorak gemuruh seluruh penduduk, mereka menyangka Hana lah orang yang diramalkan selain cantik jelita dia juga telah memiliki pangkat kuning dilengannya.
“Hidup Wali! Hidup Wali!”
Teriak Suku Padri bersemangat dan histeris, Hana kembali mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tenang sehingga gemuruh warga pun reda. Hana mulai berpidato,
“Bapak ibu saudara ku semuanya, hari ini tirani Boris Si Iblis Barat telah dilenyapkan! Era baru akan bangkit! Era tirani telah di binasakan!” Teriak Hana mengelegar membakar semangat suku Padri dan rakyat biasa.
“Hancurkan Boris!”
“Hidup Wali!”
“Hancurkan Tirani Boris!”
“MERDEKA… MERDEKA…”
Teriakan menggelegar sambil memukul dada terdengar dahsyat mengisi ruang udara, Hana memang sangat pandai membakar semangat dan sangat bijak dalam melangkah, itulah salah satu ciri khas jiwa Ratu Dunia yang sebenarnya.
“Hidup Suku Padri!”
“Hidup Wali!”
“Sekarang! Akan aku persilahkan seseorang yang kita hormati untuk menyampaikan kata-kata bijaknya” Hana segera mundur satu langkah dan menoleh ke arah Juli yang terlihat lagi senyum bangga padanya.
Sebelum Juli maju ia melirik kearah Hana, “Hana, aku bangga padamu, ku harap kau akan menjadi pemimpin besar kelak” ucap Juli senyum seraya melangkah maju untuk mengambil alih berpidato.
Semua orang kini saling pandang, mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan pertukaran tempat itu, sehingga terdengar berbisik sesama warga,
“Apa! Siapa anak ini?”
“Mungkin dia kakaknya Wali”
“O..”
Berbagai bisikan terdengar oleh Juli namun ia hanya senyum seraya mengangkat tangannya yang membuat semua orang terdiam dalam kebingungan.
“Heheh, saya Juli, ya.. kebetulan lewat daerah ini, Jadi begini, kalian lihatlah ke langit!”
__ADS_1
Suara Juli pelan namun sungguh suara itu terdengar jelas oleh semua orang, seolah Juli berbicara santai di telinga mereka.
Semua warga tercengang melilihat kehebatan anak yang barusan berbicara, sontak bagai terhipnotis semua orang mendongak ke langit.
Di langit telah tercipta aray tranparan baru yang berbentuk tulisan kuno berpola indah, pola tulisan kuno itu terus bergerak aktif berputar keberbagai arah yang berlawanan sehinga terkesan sebuah teknologi hebat berada di atas kepala mereka.
“Uwaaaahhh….”
“Apa ini? Apa ini teknologi leluhur?”
“Bukan! Siapa yang menciptakannya?”
“Apa anak yang sedang berbicara itu? Apa dia asisten Wali?”
“Tapi pengetahuan ini tidak mungkin bisa dilakuan oleh tingkat rendah”
“Jangan-jangan anak itu seorang Ahli kitab? Apa? Bukan kah wali dalam ramalan juga seorang Ahli Kitab?”
“Jangan-jangan anak itulah Wali yang dimaksud Dewi Arway Barat”
Berbagai bisikan dan kekaguman terdengar diantara para warga, sehingga Juli kembali mengalihkan perhatian mereka kembali.
“Ehem! Sudah itu namanya aray pelindung, melindungi semua orang dari kutukan Batu Kristal, yang artinya kalian di dalam aray ini walaupun tidak memiliki batu kristal sama sekali kalian akan hidup, akan tetapi, disisi lain kalian tidak akan selamat kalau kalian tidak minum cairan kuning ini” Juli memperlihatkan sebotol cairan kuning pada seluruh warga.
Sehingga warga kembali bertanya-tanya tantang cairan yang diperlihatkan, Juli senyum langsung menjelaskannya,
“Ini namanya cairan Kutukan Jiwa, bagi siapa saja yang tinggal di bawah aray ini yang mencoba mengkhianati peraturan yang ku buat, maka ia akan mati di tempat dengan sangat mengerikan, tempat ini akan menjadi tempat yang damai bagi mereka yang menginginkan kedamaian, suku Padri tidak perlu merasa khawatir dengan kelangsungan hidupnya, untuk sekarang aku telah menyiapkan cairan Kutukan Jiwa untuk 20 ribu orang, dan itu lebih dari cukup bila dihitung total jumlah kalian semua baik yang hadir di sini maupun yang masih bersembunyi di rumah karena ketakutan” ucap Juli senyum.
“Sekarang aku ingin memberi pernyataan pada kalian! Aray ini akan mengambil tindakan eksekusi dalam 24 jam, untuk hari-hari biasa kedepannya seseorang hanya bisa bertahan dalam kurun waktu setengah jam saja di bawah Aray ini, ingat aku tidak memaksa kalian untuk minum cairan ini, namun bagi siapa saja yang keberatan maka kalian harus tinggalkan tempat ini selama 24 jam” Juli menjelaskan dengan detail.
Setelah mendengarkan pernyataan Juli seluruh suku Padri langsung bertekuk lutut termasuk 10 pahlawan yang berdiri diatas Pentas Podium.
Hanya 5 ribu rakyat yang enggan mematuhi peratuan Juli, seorang diantara mereka bertubuh gemuk mengajukan protes,
“Aku Si Rubah Hitam! Semua orang mengenalku dengan sebutan itu, aku seorang Hanter yang selalu menjunjung tinggi kebebasan, perlakuan mu ini sama halnya dengan watak Boris, aku sangat keberatan, kau bisa saja memanfaatkan kami untuk keinginan busuk mu, Anak kecil! Aku memang tidak tahu apa yang telah kalian lakukan pada Boris si Tirani, namun aku juga tidak bisa mempercayai begitu saja dengan perkataanmu, mengingat tindakanmu yang merugikan bagi kami, kau merampas hak rumah kami, sawah ladang kami, jadi kebanyakan dari kami disini terpaksa mengikuti perintah mu, sebenarnya ini semua bukanlah keinginan hakiki kami” protes si rubah hitam yang dibenarkan oleh sebagian yang lainnya.
“Benar! Seperti Si Rubah katakan”
“Iya! Ini pemaksaan, kalau kita tidak mematuhinya, maka kita tidak memiliki pilihan lainnya”
Semua orang terlihat saling pandang dan bertanya-tanya dengan keputusan Juli, bagi rakyat biasa Ramalan Dewi Arway Barat tidak begitu dipercayakan karena mereka ada kecemburuan antar suku di sini, apalagi suku Padri selalu dianggap suku yang sombong karena postur tubuhnya tinggi-tinggi serta memiliki kepintaran diatas rata-rata.
Juli senyum, “Baiklah bagaimana kalau begini saja, untuk satu orang aku akan membeli tanah kalian 5 keping emas? jika kalian ada yang masih merasa kurang aku akan mengganti ruginya, dan kalian bebas membawa semua peralatan kalian atau apapun yang bisa kalian bawa” tanya Juli santai.
Juli tahu harga satu keping emas saja cukup untuk membeli 10 rumah warga di sini apalagi 5 keping emas itu bahkan sangat menggiurkan bagi siapapun, Juli sangat tidak suka seseorang menganggapnya sebagai penindas membayar lebih bagi rakyat jelata bukanlah sesuatu yang harus disesalinya.
“A.. Apa? L..Lima keping emas?” Semua orang tercengang tidak percaya dengan telinga mereka, karena nilai itu nilai yang sangat fantastis.
__ADS_1
“Apa Bocah itu hanya membual?”
**