
Wham Wham
Juli orang terakhir keluar dari pintu portal bersama Husen dan beberapa orang lainnya, di luar pintu portal Juli sudah ditunggu oleh Bomo, Hana, Mija dan Risa dengan penuh kekhawatiran, tidak lama setelah Juli keluar Pintu Portal pun tertutup kembali dan hilang tak meninggalkan jejak.
Husen menarik nafas dalam-dalam, “Lega rasanya.. Petualangan kali ini paling berkesan dan paling menegangkan serta paling keren seumur hidupku.. aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan selamat setelah melewati rintangan maut yang nyaris kehilangan nyawa, ini benar-benar patut di syukuri.. apalagi setelah keluar dari sini aku telah memiliki pusaka tertinggi serta banyak emas permata yang kita dapatkan, ini sebuah mimpi” ucap Husen lega dengan segala pencapaiannya.
Bomo juga senyum senang, “Terus terang.. Kali ini aku sangat senang, sungguh petualangan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya, apalagi kita telah mendapatkan pedang pusaka sekarang, pasti sebentar lagi rimba Pemburu akan digemparkan dengan kemunculan Pemburu-Pemburu baru, hehehe” Bomo menambahkan.
“Ya.. Kurasa katamu ada benarnya Saudara Bomo..” Jawab Husen yang terlihat sangat kelelahan sambil memijat-mijat pinggangnya.
“Sudah lah.. Kakek! Sekarang mari kita pulang, aku mau istirahat dulu, aku sangat kelelahan” Ajak Risa pada kawan-kawannya yang juga terlihat sangat melelahkan.
“Baiklah ayo, aku juga telah rindu Lembah Seribu Warna”
Semuanya kini mulai bangkit bergerak ke Lembah Seribu Warna tapi Juli masih berdiri santai bersama Bomo yang terlihat bimbang,
Dolah heran saat melihat kearah Juli yang terlihat sedang memikirkan sesuatu,
“Dik! Ayo kita ke Lembah Seribu Warna, kita akan merancang langkah selanjutnya nanti” Ajak Dolah senyum.
Juli menghela napas, “Hm.. tugasku sangat banyak, Kekaisaran Purba sangat luas, kelaparan dan kemiskinan meraja lela.. Pembunuhan dan perbudakan rakyat miskin tiap hari terjadi diberbagai tempat, Kaisar sekarang bukanlah kaisar yang kuat tapi lebih tepatnya hanya kaisar tua berpikiran bocah, begitu juga dengan empat raja lainnya.. empat raja juga bocah.. hahaha” ucap Juli ketus yang membuat semua orang pucat.
“Apa kau bilang?”
Risa mendengar ucapan Juli jadi kaget, “Ju.. Juli hati-hati dengan ucapan mu, kau telah menyinggung Kaisar.. Hukuman mu itu hukuman mati, apalagi kau merendahkannya jelas-jelas itu melanggar hukum tertinggi kekaisaran” Risa cepat memperingatkan.
Juli menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membalikkan badan, “Baik lah! Selamat tinggal.. aku ingin mengembara lagi.. bila perlu aku akan mendatangi Kaisar dan menamparnya, hahaha”
Juli pergi meninggalkan tempat itu, semua orang terbelalak saat mendengar pembicaraan serta melihat sikap Juli yang benar-benar gila.
“Anak gila..! Nak tunggu! Kau itu anak-anak.. Tinggal lah di tempatku, kau bebas di rumahku karena kau sudah ku anggap cucuku sendiri..” Teriak Husen membujuk.
Juli menoleh kearah mereka sekilas, “Rumah mu terlalu kecil Kakek.. Sementara rumah ku sangat luas dan besar, hahaha..” ucap Juli kembali bergerak pergi.
Hana senyum melihat tingkah Juli, ‘Biar pun dia terlihat gila tapi hanya padanya dapat ku percayakan keselamatan ku yang bahkan kaisar pun tidak bisa menjaminnya’ Batin Hana,
Hana mengalihkan pandangan pada kakek husen dan lainnya, “Kakek.. Kakak.. Paman semuanya.. Aku juga ingin pergi mengembara bersamanya, aku rasa bersamanya akan jauh lebih aman, dan aku tidak mau lagi membawa malapetaka pada desa-desa damai seperti yang terjadi baru-baru ini” Ucap Hana segera berlari mengejar Juli yang terlihat telah semakin menjauh.
“Apa?! Eh! Jangan pergi Hana!”
“Hey Tunggu!! Kenapa dengan bocah-bocah ini..” Dolah Terkejut dengan keputusan Hana, padahal Hana terkenal cerdik pandai tapi sepertinya ia juga telah terlihat gila semenjak bergaul dengan Juli.
“Ck! Sejak kapan Hana ikutan gila..?! Lama-lama semua orang yang berkawan dengan Juli bisa jadi gila, parah anak itu!” Yuyun berdecak kesal.
“Cegah dia.. dia akan berada dalam bahaya jika mengikuti anak gila itu” perintah Husen pada Mija yang terlihat lumayan sehat dari yang lainnya.
__ADS_1
Mija menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kakek jangan.. Kurasa Juli itu anak gila yang benar-benar gila.. Kurasa orang waras akan berpikir ribuan kali jika harus berurusan dengannya.. Tidak kah kakek perhatikan bagaimana kita selamat di Portal tingkat perak? Apa kakek tahu seorang ahli tertinggi pun belum tentu bisa bertahan hidup di dalamnya, tapi nyatanya kami yang berpangkat putih pun bisa keluar hidup-hidup dengan selamat.. apakah kakek akan mengatakan itu kehebatan kita? Atau itu hanya kebetulan saja?” Tanya Mija pada kakek Husen dengan nada serius.
Husen mengerutkan keningnya, “Mija! Dengarkan, anak itu memang memiliki peranan penting dalam keselamatan kita kali ini, tapi ini semua berkat kerja sama team, dan juga tidak terlepas dari bantuan saudara Bomo, bukan begitu saudara Bomo?” Kakek Husen meminta persetujuan pada Bomo yang masih berdiri termenung.
Bomo terkejut ia terlihat berpikir-pikir untuk menanggapi pernyataan Husen, “Eh! Begini, terus terang.. Aku datang membantu kalian karena permintaannya, jika bukan karena dia yang memintaku, aku sendiri ragu untuk membantu kalian, sekarang aku bahkan mengubah jalan hidupku untuk menjadi Pemburu yang baik ini semua karena perintahnya, apa itu bisa menjadi suatu penjelasan?” jelas Bomo mulai merenungkan nasibnya kemana dia harus pergi sekarang, karena dirinya harus berubah menjadi orang baik dan itu tidak mungkin dia kembali ketempat asalnya.
‘Dewa Juli berpesan padaku.. Hiduplah menjadi orang baik, saat kau melanggarnya maka disitulah ajalmu’ Batin Bomo mengenang ucapan Juli penuh kengerian.
“Saudara Bomo.. kau ini sama gilanya dengan anak itu.. kalau begitu besok kita pikirkan lagi, hari ini kita akan beristirahat dulu di tempatku, ayolah!” Husen mengakhiri pembicaraan dan segera bergerak pulang.
Semua orang terlihat sangat kelelahan serta penuh luka cakaran disekujur tubuhnya sekarang mereka butuh perawatan dan istirahat dan tidak memperpanjang perdebatan, akhirnya semua memutuskan untuk beristirahat di Lembah Seribu Warna.
**
Hana terus berlari mengejar Juli yang berjalan lumayan jauh dari tempat sebelumnya walaupun pergerakan kaki Juli santai tapi seakan Juli sedang berlari saja.
“Senior! Tunggu aku.. aku akan pergi mengembara bersamamu” Hana mengejar Juli yang terlihat terus berjalan.
Juli berhenti sejenak saat mendengar panggilan Hana, “Hm.. Kau ikut aku boleh saja, tapi ingat ada syaratnya”.
“Eh! Ada syaratnya? Apa syaratnya senior?”
“Harus mematuhi ku, tidak boleh membantah, bagaimana?”
“Eh… itu sungguh kejam, bagaimana kalau kau menyuruhku melompat ke dalam jurang? Atau jika kau menyuruh ku bunuh diri? Apa yang harus kulakukan?”
“A..Apa?! Apa kau Akan setega itu? Baiklah, lalu kita kemana sekarang?”
“Ke Lembah Neraka”
“Apa.. ke Lembah Neraka? Ke tempat manusia terbuang? Itu sangat jauh dari sini”
"Hahaha!!"
**
Di sebuah jalan lintas wilayah Kota Lembah Sakti
Seorang gadis berusia 18 tahun berbadan kurus mengenakan pakaian compang-camping tidak beralas kaki berlari terengah-engah, wajahnya pucat sesekali ia menoleh kearah belakang memastikan tidak ada orang yang mengejarnya,
“Aku harus berlari sebentar lagi sampai ketempat adik-adikku, aku harus menyelamatkan mereka” ucapnya terus mengayuh kakinya yang mulai berdarah terkena kerikil-kerikil tajam di jalanan.
“Kejar! Itu dia.. cepat!”
Tiba-tiba sepuluh orang berseragam hitam mengejarnya, “Dasar! Gadis pencuri! Cepat tangkap dia.. jangan biarkan dia lolos!” Teriak seorang berbadan tegap dan memiliki bekas luka besar di pipinya.
__ADS_1
“Baik bos Burut! Apa aku harus memanahnya?” Tanya seorang pemanah yang berbadan kurus berkumis panjang.
“Jangan! Kejar saja dia.. itu gadis bodoh, dia pasti akan pulang ketempat tinggalnya, kejar saja” Perintah Burut dengan tatapan penuh kelicikan.
“Baik Bos!”
Semua orang terus mengejarnya pelan-pelan dan menjaga jarak dengan gadis kurus itu, mereka sengaja melakukan pengejaran seperti itu untuk menemukan lokasi persembunyian gadis gembel itu, dan benar saja tidak jauh dari sana gadis itu memasuki sebuah gorong gorong tua yang telah tak berfungsi.
“Cepat kejar! Rupanya kita bisa mendapatkan lokasi gadis bodoh ini dengan mudah, ikuti dia” Perintah Burut.
“Baik! Bos!”
Sesampai di dalam gorong-gorong gadis itu langsung disapa oleh delapan anak-anak kurus yang terbaring lemas, mulai dari umur tiga tahun hingga sembilan tahun dengan kondisi tubuh sangat menyedihkan.
“Ka.. kak..!” panggil mereka pelan
“Adik.. kakak pulang bertahanlah..” suara lemas terdengar dari anak-anak kurus itu memberi semangat pada adiknya yang lebih kecil yang hampir tidak sadarkan diri.
“Kakak pulang membawa kita Nyawa” ucap mereka senyum begitu melihat gadis kurus itu pulang dengan wajah senyum pahit.
“Kakak Zahra, apa kakak mendapatkan Nyawa?..” tanya seorang anak perempuan berumur 9 tahun yang masih bisa bergerak sementara yang lainnya dalam keadaan kritis.
“I.. Iya Hasnah! Ini cuma sedikit, hancurkan lah lalu bagi-bagikan, kurasa ini bisa untuk sehari buat kita semua” kata Zahra berwajah pucat ketakutan.
“Kak zahra! Adik-adik hanya memiliki waktu lima menit lagi, kurasa kristal satu ini tidak cukup untuk kita semua.. kakak, ini paling bisa kita pecahkan untuk 4 orang saja..” Hasnah meneteskan air matanya, pandangan matanya melihat adik-adiknya yang telah terbujur kehabisan Nyawa.
“Kakak Zahra.. Katakan padaku untuk siapa saja kuberikan empat bagian Nyawa ini, hik.. hik..” tangis Hasnah tidak berdaya dalam mengambil keputusan yang sangat berat baginya.
Zahra meneteskan air mata, tatapan matanya kosong ia tidak bisa berpikir jernih, “Kalian semua adik-adikku.. aku tidak tahu kepada siapa harus kuberikan Hasnah, aku tidak menyalahkan mu atas keputusan mu hari ini, kerena aku sangat menyayangi kalian semua, maafkan kakakmu yang terlalu bodoh, hik hik..” Zahra tidak mampu menahan air matanya.
Zahra melihat satu persatu wajah adik-adiknya yang terbujur lemas, “Ibu telah meninggal karena tidak memakai Nyawa.. karena ayah tidak cukup menyediakan Nyawa untuk kita, Ayah juga meninggal karena Kristal terkutuk ini, sekarang kita harus kehilangan saudara-saudara kecil kita lagi, tuhan! Kapan kutukan ini akan berakhir.. tiap detik rakyat tidak berguna seperti kami mati sia-sia” tangis Zahra tersedu-sedu.
“Kak! Katakan lah! Untuk siapa Nyawa ini ku berikan? Aku tidak bisa membiarkan terlalu lama.. kalau tidak mereka akan mati dengan sendirinya, Aaaaaaa” Tangis Hasnah tidak tahu harus berbuat apa.
“Hahahaha… Rupanya kalian disini bagus! Hahah.. Ambil kristal itu dan seret gadis kurus ini untuk tuan kita di Lembah Iblis, biarkan yang lain menerima nasibnya, bawa gadis ini saja!” Perintah Burut pada anak buahnya.
“Baik!”
“Jangan… lepaskan aku…!”
“Lepaskan kakak ku!”
“Rebut Kristal siluman itu…”
“Jangan… Lepaskan kakak ku…!!”
__ADS_1
**