
“Oh kau mau berpihak kepada Dewi siluman iblis! Ya?” tanya Juli bergurau.
“Ti.. Tidak Dewa, saya salah Dewa! Sampai mati saya akan mengikuti Dewa!” Pertanyaan Juli itu langsung membuat rambut Ku-Ja memutih.
Drooom! Broom!
Tiba-tiba terdengar suara guntur aneh sambung-menyambung di langit, semua orang menatap ke langit dengan wajah khawatir dan penasaran, guntur ini berbeda dengan guntur hujan biasa, sebab Guntur ini hanya terjadi pada Kubah Pelindung saja.
Juli berdiri tegak menatap langit dengan perasaan gelisah, kegelisahannya bisa dilihat oleh siapa saja yang berada di sana. Juli terus menatap Kubah Pelindung yang mulai menipis dan menjadi remang-remang, pola tulisan kuno perlahan muncul dan lebih terang dari biasa, ini menandakan kubah pelindung mengalami guncangan hebat. bisa dipastikan seseorang sedang menghancurkan saat ini.
Dari semua orang yang ada di sini, hanya Juli yang mengetahui masalah yang sebenarnya, karena Juli sangat berpengalaman dalam pola susunan kubah pelindung, sedangkan yang lainnya hanya menduga-duga dengan berbagai kemungkinan.
“Celaka! mereka menghancurkan Kubah Pelindung, ini dirusak dari dalam, Putri Yara kemarilah!” Juli memanggil Putri Yara yang juga sedang menatap langit dengan wajah khawatir bersama ratusan orang lainnya.
Juli mengeluarkan sebuah buku yang ditulis dalam perjalanan beberapa hari ini, dan beberapa kristal hitam yang di dapatkan di istana bangsa Ringata, kristal hitam ini telah di ukir tulisan suku manusia angin purba.
“Ada apa tuan!” Putri Yara bisa melihat kekhawatiran di wajah Juli, walaupun Juli terus mencoba tersenyum untuk menutupinya.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi yang jelas kubah pelindung akan segera hancur, ini ulah dari empat raja dan kaisar, andai saja manusia tidak campur tangan, maka kubah pelindung tidak akan hancur seperti ini, karena artefak apa pun milik siluman itu tidak akan efektif bekerja di luar kubah pelindung, ini karena kalangan manusia yang membantu siluman dari dalam dan meletakkan beberapa pola sihir untuk mengganggu kestabilan dan akhirnya hancur.” Juli menyodorkan kitab dan beberapa kristal ke Putri Yara.
“Apa ini tuan?”
Yara menjadi lebih khawatir begitu mendengar penjelasan Juli. Yara curiga, kalau Juli pasti ingin melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri. Karena selama ini Yara mulai memahami jalan pikiran gurunya, watak gurunya yang tidak ingin membahayakan orang terdekatnya walaupun ia harus mempertaruhkan nyawa.
__ADS_1
'Pantas saja Putri Rihana sangat menghormatinya, Guru bukan saja perhatian dan baik hatinya, tapi guru justru ingin menyelamatkan orang-orang yang disayanginya, Ah, guru kecil, kemana lagi aku harus mencari guru sepertimu jika kamu sampai mati.' rintihan Batin Yara mulai sembab matanya.
Juli menghela napas panjang, ia memandang ke arah sungai tidak ingin melihat muridnya sampai meneteskan air matanya, “Ini, ada sebuah buku panduan dan tata cara menciptakan Kubah Pelindung. Tugasmu sekarang, bila kubah pelindung hancur, kitab inilah pedoman untuk menciptakan kubah pelindung baru. Ikuti langkah-langkahnya perlahan sesuai dengan petunjuk yang ku berikan, Kubah Pelindung Baru ini bukan hanya tidak bisa dimasuki oleh siluman, tapi juga tidak bisa dimasuki oleh manusia-manusia serakah dan tamak, misi yang kuberikan tidak bisa kau lakukan sendirian, walaupun kau seorang Dewi tingkat tiga, kali ini, Empat Dewa Siluman akan membantumu dalam menjalankan misi yang kuberikan, untuk sekarang kalian tinggalkan tempat ini. kalau tidak, kalian semua akan tertangkap, aku tahu siapa Dewi Siluman, di antara kita, tidak ada satu pun yang mampu menandinginya, jalan satu-satunya adalah kalian harus menyelamatkan diri dan aku akan menghadapinya seorang diri.” Juli senyum hangat, ia tahu kali ini tidak akan mudah menghadapi siluman tingkat Dewa Tertinggi, dan ini bukanlah kemampuannya untuk sekarang.
“Tuan! Biar aku bertempur bersamamu, aku Putri Yara tidak pernah takut dengan apa pun, bahkan jika itu akan membawa maut sekali pun, biarkan kita bertempur bersama, tuan!”. Mata Putri Yara mulai basah, ia telah menduga ini akan terjadi pada akhirnya. Gurunya pasti akan mengorbankan dirinya lagi.
'Dulu, Guru kecilku mengobarkan apapun untuk melindungi Putri Rihana, sekarang dia mencoba melindungi ku, dan yang lainnya, sekarang bagaimana cara ku untuk berbakti.' batin Putri Yara saat melihat wajah gurunya yang begitu gelisah, walaupun demikian gurunya terus tersenyum hangat untuk menghibur hatinya.
Juli bisa melihat kesedihan Putri Yara terhadap dirinya. Juli bisa merasakan, kalau Putri Yara pada dasarnya seorang gadis yang lembut dan berbakti, tapi untuk bertahan hidup di dunia ini, Yara dipaksa untuk keras dan tahan banting terhadap dunia.
“Putri Yara, kau itu seorang Dewi, janganlah cengeng begitu, jangan khawatir, Aku bisa berperang bahu membahu dengan Sariek Beude dalam menghadapi para Dewa Siluman," Juli meyakinkan Yara, walaupun ia menyadari, jika Dewi Siluman turun tangan, Juli tak yakin akan bertahan lama, bahkan Sariek Beude akan binasa.
"Guru!"
“Guru kecil! Kenapa bisa begini! Bukankah aku bisa membantu? Kalau kita bertarung bersama kemungkinan besar kita akan selamat! Guru! Aku ini salah satu dari Lima Pengawal Kekaisaran Bumi Tengah, Aku pasti bisa membantu.” Putri Yara tidak pernah merasakan dirinya tidak berdaya seperti ini sebelumnya, untuk berdebat dengan Juli jelas tidak mampu ia lakukan, sebab Juli selalu memiliki alasan kuat terhadap suatu keputusan.
"Bukan begitu muridku, Saya memiliki alasan lain!"
Putri Yara merenggangkan pelukannya dan menatap Juli dalam-dalam, “Apa guru mengorbankan nyawa hanya untuk menyelamatkan manusia di bawah Aray terkutuk ini? Manusia ini sangat serakah! Bahkan orang yang ingin kau lindungi sudah aman di bawah Aray Kota Singa dan Kota Lembah Teratai Langit, sementara lainnya tidak ada sangkut pautnya denganmu! Semua orang juga mati pada akhirnya, jadi kenapa kau harus menyelamatkan mereka yang tidak kau kenali? Dan belum tentu juga mereka menyukaimu, dan selebihnya adalah manusia busuk yang terus memerangimu setiap saat! Kenapa Guru!” air mata Putri Yara kembali berlinang membasahi wajah cantiknya.
Juli senyum hangat, “Putri Yara, Dunia ini banyak sekali yang ku ketahui dan tidak kamu ketahui, seluruh pelosok kekaisaran banyak anak-anak yang menangis kelaparan setiap harinya namun tetap bertahan hidup untuk sebuah harapan, bayi-bayi kurus yang disusui ibunya yang tak ber-Asi tujuannya untuk generasi akan datang, banyak anak-anak yang berjuang mati-matian untuk menghidupi adik-adiknya yang lain, agar adik-adiknya bisa menatap hari esok, dan masih banyak lagi kejadian menyedihkan yang senada, aku mendengar doa-doa yang mereka panjatkan kepada Tuhannya setiap hari, tuhan mungkin menjawabnya dengan memberikan sedikit kekuatan padaku untuk menyelesaikan masalah ini, dan aku harus berusaha semampuku. Kau tahu Yara? Kalau saja kubah ini runtuh, seluruh kekaisaran purba akan musnah dalam beberapa hari, para siluman akan membantai mereka semua tanpa pandang bulu, ke mana perginya anak-anak yatim piatu, bayi-bayi dan orang lemah lainnya? Sudah tidak ada lagi tempat untuk berlindung. Jika pun ada dua kota, mereka bahkan tidak bisa mencapai sebelum siluman membunuhnya.” Juli meneteskan air mata dan kembali menghadap ke langit, setelah mencoba menjelaskan.
Juli sadar mengajarkan seorang murid bukan hanya cara menjadikannya kuat tak tertandingi, tapi juga, cara pandang yang benar agar tidak menimbulkan penyesalan ketika berada dipuncak.
__ADS_1
Di kehidupan Juli sebelumnya, ia berada di puncak dunia persilatan, dapat membunuh Dewa langit hanya dengan menjentikkan jarinya saja, akan tetapi rasa kehilangan orang-orang dicintai membuat semuanya tidak berarti. Penyesalan seperti itu tidak ingin diwariskan pada murid-muridnya.
"Baiklah! Guru berjanjilah, kau harus hidup! selamat tinggal!"
Putri Yara mengusap air matanya, dengan berat hati akhirnya Putri Yara menurut, Putri Yara segera berbalik badan, tanpa mendengar jawaban gurunya ia langsung terbang pergi dari sana. Keempat Dewa Siluman setelah berpamitan kepada Juli, mereka terbang dari kapal menyusul Putri Yara.
Juli melihat ratusan pasukan Aliansi Sungai Darah yang kini telah menjadi bawahannya.
“Orang-orang seperti kalian lah yang selalu mencoba menghancurkan kubah pelindung, hari ini kubah pelindung menjadi kritis, dan aku harus menghadapi Dewi Siluman Iblis sendirian, kekuatan kalian malahan tidak berarti sama sekali, kalian masuklah kembali ke dalam neraka para dewa, dan saat kubutuhkan kalian akan kupanggil kembali, jika saat itu kalian tidak berguna, maka kalian tidak akan ku panggilkan kembali untuk selamanya!” kata Juli dingin, membuat semua orang yang ada di sana menangis histeris, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain terserap kembali ke telapak tangan Juli seperti biasa.
Juli duduk sejenak memikirkan cara untuk menghadapi Dewi siluman iblis secara tepat agar tidak jatuh banyak korban, waktunya tidak banyak, karena sekarang ia bisa merasakan aura kehadiran Dewi Siluman Iblis yang tidak jauh lagi darinya, dari arah Gunung Dawai.
‘Pertarungan sungguh tidak terhindarkan, Aku harus memilih tempat yang bagus untuk bertempur, aku tidak mungkin berperang di tempat padat penduduk, tempat peperangan yang paling bagus untuk saat ini yaitu di Gunung Dawai, lagi pula Gunung Dawai bukanlah tempat yang mudah bagi para siluman, kuharap Sariek Beude bisa menjadi pendukung yang baik.’ Batin Juli sembari mengeluarkan Tyrannosaurus Bersayap.
Grooor
Tyrannosaurus terbang mengaung dahsyat hingga menggetarkan bumi disekitarnya, karena makhluk ini dapat merasakan kemarahan tuannya.
“T-Rex! Ayo kita ke Gunung Dawai!” Juli segera melompat ke atas kepala sang penguasa langit.
Tyrannosaurus Bersayap langsung menendang lantai geladak kapal hingga hancur sampai tubuh besarnya melambung tinggi ke udara sembari menggerpakkan sayap gagahnya.
Roar!
__ADS_1
**