
Reruntuhan Kota Kerdil Kuno wilayah selatan memiliki luas halaman lebih dari satu kilometer persegi. walaupun luas, halaman ini tertata indah dan rapi. Di bagian tengah halaman terletak sebuah patung pahlawan bangsa kerdil. Patung ini terlihat gagah, seolah ia ingin memperlihatkan keangkuhan dimasa kejayaannya.
Wilayah reruntuhan ini telah lama tidak didatangi manusia karena berbagai alasan, salah satunya karena keberadaan makhluk ghaib yang tidak diketahui.
Menurut rumor yang beredar, makhluk ini menyerupai manusia, dan ada juga yang mengatakan menyerupai bangsa jin, namun belum dapat dipastikan karena tidak ada orang yang melihat jelas bentuknya.
Halaman reruntuhan yang sudah sepi ratusan tahun, kini kembali terlihat seratus pasukan berkuda sedang mengepung seorang gadis belia.
“Gadis cantik! Aku memanggil Ardan, apa Ardan telah berubah menjadi gadis cantik jelita, kenapa kamu tidak menjadi istriku saja! Aku benar-benar jatuh cinta padamu”, Kuntok mencoba senyum semanis-manisnya.
“Bos! Bos telah banyak memiliki istri, kenapa tidak kau berikan saja padaku, aku bahkan belum memilikinya, kamu selalu jatuh cinta pada yang bening-bening, aku juga jatuh cinta padanya”, salah satu anak buah Kuntok berkepala botak menjadi bernafsu saat melihat Putri Yara.
“Kurang ajar! Aku adalah Bos, yang begini baru cocok untukku, kalian cari gadis kampung saja! Kalau tidak! Melajang saja sana seumur hidupmu, dasar dodol!” Kuntok marah.
“Bos! Bukan kan gadis ini juga gadis kampung? Jadi untuk kami saja,” pinta seorang bawahan,
Mereka menyadari walaupun kulit Yara putih bersih, namun pakaian yang digunakan telah kotor serta pada beberapa bagian telah robek, kondisi ini membuatnya terlihat seperti gadis kampung pada umumnya.
Galak tawa terdengar dari semua pasukan Aliansi Lembah Hantu. Disisi lain gadis cantik itu hanya senyum sinis, ia bahkan tidak terpengaruh dengan perkataan Kuntok dan anak buahnya. Sebilah pedang dengan cepat dicabut dari sarungnya dan di hunus kearah Kuntok.
“Buta bau! Sepertinya kau berhari-hari tidak mandi, baiklah! Baiknya ku kirim saja kau ke neraka”,
Putri Yara segera menerjang maju menebas kearah leher Kuntok sekuat tenaga. Kuntok kaget, ia segera mencabut pedangnya dan menangkis serangan Yara.
Traang!
Benturan dua pedang membuat mata Kuntok terbelalak, Yara tidak menggunakan tenaga dalam sama sekali, akan tetapi kekuatan fisiknya sangat kuat, orang tingkat perak seperti Kuntok masih kesulitan menahan serangan ini.
“Celaka! Gadis ini sangat kuat! Pedangku retak karena menangkis pedangnya, cepat serang dia, tapi ingat! jangan sampai membunuhnya” Kuntok murka, disamping itu dia juga jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
Pasukan berkuda bisa melihat, Kuntok hampir terjatuh dari kuda karena menahan serangan Yara, itu membuktikan kalau Yara bukan lawan yang lemah.
Tanpa pikir panjang semua pasukan melompat dari kuda untuk mempermudah penyerangan, disusul oleh Kuntok yang langsung melompat tinggi kearah Yara.
Saat melihat seratus orang berpangkat kuning hingga perak mengepungnya, Yara senyum pahit.
‘Andai saja wadah tenaga dalamku tidak rusak, maka orang seperti mereka bisa ku bunuh hanya sekali tebasan angin saja, namun sekarang untuk melawan tingkat ini saja aku harus berjuang keras,’ batin Yara mulai menerjang maju.
Pertempuran kembali terjadi, Yara mengamuk dalam kepungan. Berbagai teknik pedang digunakan, walaupun gerakan kaku karena tidak memiliki tenaga dalam, tapi Yara berhasil merobohkan beberapa orang dengan kekuatannya.
“Gila! Gadis ini sangat kuat dan lincah! Padahal dia tidak berpangkat sama sekali, kalian cepat gunakan Formasi Bintang Penakluk Iblis untuk melumpuhkan dia!” Kuntok memerintah anak buahnya.
__ADS_1
“Siap Bos!”
Kini semua pasukan Aliansi Lembah Hantu merubah pola serangan. Kali ini serangan lebih teratur dan sulit ditemukan celah, dalam kepungan formasi ini Yara sangat kewalahan.
‘Gawat! Formasi sampah ini saja masih bisa mencelakai ku, kalau diteruskan aku bisa saja terbunuh disini, kemana si bocah iblis barat itu? Apa dia sengaja membuatku dipermalukan disini,’ batin Yara merasakan kekesalannya.
Yara menghadapi kepungan formasi ini dalam waktu lama jelas tidak menguntungkan baginya, hingga beberapa tebasan mulai mendarat ditubuhnya. Sementara pasukan Aliansi Lembah Hantu menjadi semakin bersemangat, layaknya segerombolan serigala sedang mempermainkan singa betina.
Melihat situasi sudah tidak memungkinkan untuk bertahan, Yara menoleh ke pintu reruntuhan, Yara bisa melihat Ardan lagi mengendap-endap mengawasi jalannya pertarungan.
“Senior Ardan! Panggilkan Bocah iblis barak kemari!” teriak Yara memerintahkan Ardan.
Ardan sebelumnya hanya memantau situasi, kini saat mendengar permintaan Yara, ia segera berlari kedalam reruntuhan untuk menyampaikan pesannya.
Disisi lain pasukan Aliansi Lembah Hantu menjadi bingung, terhadap permintaan Yara pada Ardan. Mereka melompat mundur beberapa langkah menghentikan serangannya.
“Apa kau bilang! Apa maksudmu Bocah Iblis Barat! Bagaimana kau mengenalinya? Apa dia temanmu?” tanya Kuntok mulai gugup.
Bawok mengangkat tangannya memberi isyarat agar semua pasukan berhenti menyerang Yara. Mereka takut, kalau benar itu Bocah Iblis Barat maka mereka akan dihukum berat karena bertindak ceroboh.
“Bisa dikatakan kami musuh! Hanya saja kami memiliki misi yang sedikit sama,” Putri Yara senyum mengejek.
Bawok menjadi salah tingkah, wajahnya penasaran. “Tidak mungkin, sepengetahuanku Putri Mina tidak akan membiarkan siapapun musuhnya hidup, kecuali kamu memang memiliki pengaruh besar dalam misinya” kata Kuntok mulai curiga.
Putri Yara melebarkan matanya, “Mina? Putri?” Yara kaget, raut wajahnya menjadi ragu. ‘Sepertinya, aku salah orang, jelas-jelas anak itu laki-laki tulen, tapi kalau itu bukan Bocah Iblis Barat, jadi siapa dia?” kini Putri Yara menjadi dilema.
“Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku sebelumnya?” Tanya Kuntok penasaran.
“Kuntok! Simata satu!”
Tiba-tiba suara anak berusia delapan tahun keluar dari reruntuhan gedung, anak ini di ikuti oleh dua puluh orang kerdil dibelakangnya. Bocah itu tidak lain adalah Juli, senyumnya lebar seolah ia melihat mainan baru.
Bawok dan pasukannya menjadi pucat saat melihat banyak anak-anak yang keluar dari reruntuhan tua, ia khawatir salah satunya Mina si Bocah Iblis barat.
Bawok menyipitkan matanya mencari sosok Iblis Barat dalam kerumunan, namun tidak terlihat sosok yang dicarinya itu.
“Nah! Kalian telah keluar dimana Bocah Iblis Barat?” Tanya Kuntok mulai berani, karena dia tahu Putri Mina selalu melepaskan aura pembunuhnya.
Semua orang kerdil kini menatap kearah Juli, sementara Fani langsung menunjuk kearah Juli. Sejenak semua orang terdiam, suasana menjadi hening dan canggung.
“Haahaahaa, Bocah malang mana itu? Apa dia cewek? Tidakkah kalian tahu kalau Putri Mina itu seorang anak cantik layaknya Dewi, dan kalian semua telah ditipu olehnya”.
__ADS_1
Kuntok tertawa terbahak-bahak. semua orang terkejut dengan indentitas anak delapan tahun itu, mereka mengira kalau Juli itu benar-benar bocah iblis barat tapi nyatanya hanya anak kecil biasa.
Ade menggaru-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Banar juga, padahal anak ini telah mengatakan sebelumnya, kalau dia anak kampung biasa, bukankah kita semua mendengarnya”, Tanya Ade pada sukunya yang lain.
“Benar, dia tadi telah mengatakannya begitu”.
“Iya, ya. Padahal anak ini bahkan tidak berpangkat, bukankah menurut rumor Bocah Iblis Barat itu pangkat bintang hitam?”
“Benar! Lagi pula anak ini tidak terlihat bakat seni beladiri sedikitpun, bakat yang dimiliki anak ini cenderung seperti bakat ibu rumah tangga, bisa memasak dan mengurus bayi”.
Terdengar berbagai komentar dari suku Bante, semua orang kini mulai saling pandang dalam keraguan. Sementara kepala suku sudah meremas kepalanya karena mulai frustasi.
“Celaka! Aku pikir anak ini benar-benar Bocah Iblis Barat, aku sudah menyimpan harapan padanya. Tapi kini, Kuntok pasti sangat marah karena merasa dipermainkan” Gumam ketakutan Kepala Suku Ardan yang dapat didengar oleh Ade.
Ade mulai berkeringat dingin, ketakutannya kali ini lebih hebat dari sebelumnya saat berhadapan dengan Juli. Ade seperti biasanya dia dengan kaki gemetar kembali menjatuhkan diri berlutut, kejadian ini menarik perhatian semua orang.
Kuntok dan anak buahnya mengerti sekarang, kini wajah kemenangan terlihat jelas di wajah mereka.
“Oh! Rupanya kalian berani melawan kami karena kalian berpikir anak ini Putri Mina, bukankah begitu? Bodoh! Putri mina bukan gembel seperti dia, Putri Mina putri kekaisaran Iblis yang agung, dan sebagai catatan, kalau memang dia Putri Mina, apa kalian berpikir kalian masih bernafas sampai saat ini?” Jelas Kuntok sembari tawa lebar karena lelucon ini. Pernyataan Kuntok menyimpulkan situasi saat ini.
Putri Yara mengerutkan keningnya. ia akui kalau Juli bukan Bocah Iblis Barat, karena menurut kriteria yang diberikan Kuntok bocah Iblis barat tidak mau bernegosiasi dengan musuhnya.
"Baiklah! itu tidak penting dia Bocah Iblis Barat atau bukan, yang jelas kalian semua akan berhadapan dengannya," Putri Yara memanfaatkan kesempatan ini untuk melompat keluar dari kepungan dan bergerak ke tempat Juli berada.
Kejadian ini membuat suku Bante semakin panik, Ade kembali memohon ampun pada Kuntok dan berharap Kontok juga bisa mengampuninya.
"Senior Kuntok ampunilah kami, Kam.." belum habis Ade berbicara, Juli sudah menempuh pundaknya.
"Kalian tetap disini biar aku yang mengurus mereka" suara Juli terdengar santai, ia perlahan melangkah maju kehadapan seratus orang pasukan Aliansi Lembah Hantu.
Tindakan Juli bukan hanya membuat keterkejutan suku Bante, tetapi juga pihak Aliansi Lembah Hantu. Kuntok sendiri merasa dipermainkan oleh suku Bante atas sikap Juli sekarang ini.
"Ardan! kenapa kau tidak maju saja kemari! Apa leluhur suku Bante sudah bermuka tebal! Kalian menyuruh bocah miskin menghadapi kami, apa kau pikir aku akan melunak?," Kuntok semakin marah karena telah diremehkan.
Ade melongo sejenak hidupnya seperti mimpi, "Kepala Suku! Apa dia tadi menyuruhku untuk diam dibelakangnya? apa anak sedang sakit? atau aku yang sedang bermimpi! Kepala Suku! Cepat hentikan dia! kalau tidak, Aliansi Lembah Hantu akan semakin murka! kita semua akan mati" teriak histeris Ade mulai frustasi.
Seperti dikomando, Kepala Suku Ardan lari terbirit-birit mengejar Juli dengan perasaan panik. Kaki Ardan bergetar hebat namun dalam beberapa detik saja sudah berada di belakang Juli.
"Nak! Jangan nekat! banyak suku kami yang nekat semuanya telah mati, sekarang mari kita mohon ampun saja", Ardan memeluk Juli dari belakang, agar Juli tidak maju lagi mengajak perang Aliansi Lembah Hantu.
Kejadian ini membuat semua pasukan Aliansi Lembah Hantu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Suku Bante, banyak sekali lelucon kalian, kenapa kalian tidak maju saja semua. terus terang Ardan, aku malah melihat kalian yang tersisa hanya sekumpulan manusia pengecut, sementara yang berani semuanya telah mati," kata Kuntok dengan nada mengejek.
"Sudahlah! Ambil peta dan gadis cantik itu, yang lainnya bakar saja mereka, dasar sampah!"