
BROOMM! BROOM!
Ledakan demi ledakan Hutan Siluman Pemangsa Tanah Parasit terdengar menggelegar, semua siluman penghuni terusik karenanya. Padahal di hutan ini sudah ribuan tahun tidak pernah ada yang mengusiknya karena penguasa tempat ini bukanlah siluman biasa, tapi Ute-e jendral besar siluman kekaisaran barat yang di pimpin oleh Dewi Siluman Iblis.
Ute-e adalah manusia siluman bertubuh tinggi besar berkulit merah berpangkat dua bintang hitam Pedang Besar menjadi senjata andalannya. Menyadari wilayahnya diserang Ute-e membawa dua puluh pasukan terbaiknya berpangkat bintang merah mendatangi kawasan bermasalah.
“Tuan Ute-e kita harus hati-hati setidaknya lawan kali ini bukanlah manusia biasa” seorang pasukan mengingatkan Ute-e karena bagaimanapun serangan setingkat ini bukanlah serangan sembarangan orang, mengingat pula portal yang muncul di kawasan ini adalah portal merah, sungguh orang-orang yang memasukinya bukanlah orang-orang biasa.
Ute-e bersama 20 orang pasukan terbaik terbang cepat, sesampai ditempat tujuan mata meraka terbelalak saat lelihat kawah-kawah besar dan hamparan es yang membekukan. Mata Ute-e terus mencari siapa pelakunya.
“Ini tidak mungkin! Kekuatan setingkat ini harusnya seorang Dewa yang melakukannya, cepat kalian cari siapa pelakunya, ingat jangan langsung melawan” Ute-e memperingatkan bawahan agar tidak ceroboh dan pencarian mereka tidak berlangsung lama karena sebuah portal raksasa berwarna hitam terlihat tidak jauh dari tempat Ute-e.
Semua manusia siluman tercengang mereka tidak menyangka portal api kegelapan ikut campur tangan di daerahnya, Ute-e memberi isyarat agar semua pasukan mengikutinya untuk memeriksa. benar saja seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berdiri di samping gerbang portal raksasa menyerap tumbuhan dan pepohonan disekitarnya.
Ute-e melebarkan matanya, “Siapa anak itu? Kondisi ini sungguh sangat berbahaya, ayo kita dekati” Ute-e terbang mendekati portal disusul 20 orang bawahannya, tentu saja mereka tidak berani terlalu dekat dengan anak misterius ini, disisi lain Ute-e justru memanfaatkan kesempatan untuk mengukur kekuatan lawannya.
“Tuan! Anak itu bahkan tidak berpangkat! Tapi bagaimana dia menguasai hukum? ini aneh, lihatlah tubuhnya juga terlihat sangat mengerikan” salah satu bawahan melihat keganjilan anak kecil pengendali Portal Api hitam.
Wham!
Tiba-tiba tatapan anak kecil misterius beradu pandang dengan Ute-e, kali ini Ute-e benar-benar tertekan oleh Aura mengerikan anak kecil yang tak berpangkat, Ute-e kembali tercengang berkeringat dingin, ‘Bagaimana bisa? Anak itu berani mengintimidasi ku yang sudah berpangkat bintang hitam, siapa dia? bukan hanya itu, dia bahkan berani menghancurkan tempat ini di depan mata ku, ini benar-banar gila, tapi... kalau kulihat dari kondisi tubuhnya dia telah sekarat dan mungkin beberapa saat lagi akan mati’ batin Ute-e mengelus dagu untuk mengurangi rasa gemetarnya.
__ADS_1
“Apa kalian kemari! Ingin menangtang ku? huh?”
Tiba-tiba suara anak kecil itu terdengar di telinga Ute-e dan 20 pasukannya, suara anak itu menimbulkan berbagai macam reaksi, tapi Ute-e kembali berkeringat dingin, 'Bocah ini benar-benar, menantang ku' Ute-e berpikir keras beberapa kali dia menelan ludahnya, namun tatapan tajam mata bocah itu bukan sesuatu yang bisa dilawannya.
"Jenderal biar aku yang membunuhnya"
Seorang siluman hendak mencoba menyerang Juli secara langsung akan tetapi Ute-e segera menahannya, “Jangan bertindak gegabah! Dia itu singa sekarat, kalau kita terpancing untuk maju aku yakin dia bisa membuat kerugian besar terhadap kita, dengan kemampuan hukumnya sekarang, dia dengan mudah mengamuk dan pastinya beberapa nyawa dari kalian akan melayang, selain itu lihatlah tubuhnya yang telah sekarat, kita biarkan pun dia akan mati dengan sendirinya” Ute-e memperhatikan tubuh anak itu terus terkikiskan oleh hukum-hukumnya sendiri.
Ute-e adalah jendral cerdik pandai dia tidak mau membahayakan nyawa pasukannya demi untuk keegoisan dirinya, “Semuanya mundur! Biarkan bocah gila itu di sini” Ute-e terbang meninggalkan tempat itu dengan wajah geram tapi keputusannya sangatlah bijak.
Juli sempat berpikir kalau dia akan menghadapi para siluman yang telah menginjak ranah dewa, wajahnya senyum, ‘Hm… Padahal dengan kondisiku sekarang aku tidak yakin biasa menggunakan hukum dewa ini untuk 10 menit kedepan, namun aku akan menyerap habis sampah-sampah ini ke dalam neraka para dewa’ batin Juli terus menyerap Kuda Bunga Bangkai ke dalam gerbang portal Neraka.
Pandangan Juli perlahan teralihkan pada Hana yang tergeletak agak jauh darinya, Juli sengaja meletakkan Hana agak jauh untuk menghindari sengatan petirnya yang sulit dikontrol,
Juli melihat sekeliling yang telah menjadi neraka es yang menakutkan. Tenaga dalamnya terus mengeluarkan hukum es dan Juli cepat mengambil inisiatif untuk menyegel tenaga dalamnya kembali,
“Hm… Aku masih lemah! Benar aku masih lemah karena mengingat budidaya di alam liar ini jauh melampauiku, apa Yona bersalah kepadaku? Jawabannya tidak sama sekali, apalagi ada yang mengira Yona adalah sampah yang mencelakanku, terus terang di dunia ini belum ada seorang pun yang mendapati 2 Hukum Dewa sekaligus secara bersamaan walaupun bayarannya mahal, namun kukira itu masih sepadan dengan hasil yang kudapat walaupun resiko itu berat, Ingat! Janganlah cengeng dengan kehidupan ini, terkadang kita berbuat baikpun belum tentu berimbas baik kepada kita dan itu hal yang biasa dalam kehidupan ini, namun belajarlah berbuat tulus ikhlas karena Tuhan selalu akan menolong kita dengan tangan tangan yang berbeda, hm… itulah petuah guru Amin kepada ku dulu, jadi untuk sukses peganglah kata-kata itu” Juli menyelesaikan segel tenaga dalam sehingga ia kembali jatuh dalam posisi duduk.
Juli menghela nafas memperhatikan tubuhnya, 'Tubuhku tingkat pusaka langit dan bumi, ini belum cukup untuk menahan kekuatan petir ini, karena kekuatan Hukum Dewa jauh melampauinya, aku harus cepat menyembuhkan diri ku ini' batin Juli mulai berjalan dengan terbatuk-batuk mendekati Hana yang terbaring di antara ratusan kristal hijau agak jauh dari tempatnya.
Pusakan Langit Bumi pada dasarnya ada tiga tingkatan, biasa, menengah, dan tinggi, sementara di atasnya itu Pusaka Surgawi yang memiliki 10 tingkat, sejauh ini hanya Cincin Ruang Surgwi saja yang berada di peringkat puncak, sementara Cincin Ruang Pusaka Sembilan Dewa milik Hana hanya berda di tingkat 2 saja.
__ADS_1
Tubuh Juli berada di tingkat pusaka langit biasa, sementara Hukum Dewa berada di tingkat surgawi jadi wajar saja jika tubuh Juli bisa hancur karena amukannya.
Juli melihat Hana kristis andaikan ia terlambat bertindak maka Hana tidak akan tertolong lagi, “Hana! Hana! Apa kau mendengarkanku?” panggil Juli mengoyang-goyangkan tubuhnya yang tidak sadarkan diri.
Pakaian Hana dibasahi lendir racun hijau serta penuh robekan karena kena cambukan lidah duri Kuda Bangkai, Juli mengerutkan keningnya karena menyadari kondisi tubuh Hana sedang tidak baik-baik saja. Jika lendir beracun itu dibiarkan dia akan meresap ke dalam tubuh Hana akibatnya sangat fatal.
Dikehidupan sebelumnya Juli pernah melihat kondisi serupa seperti yang dialami Hana saat ini dan semuanya berakhir dengan kematian, kali ini Juli tidak bisa membiarkan kejadian yang sama menimpa Hana, Juli melihat lingkungan sekitarnya dengan wajah cemas.
“Dimana aku bisa mendapatkan air? Aku tidak mungkin menunggu es padat ini mencair, apa lagi es ini akan bertahan sebulan lamanya, hmm.. berarti aku harus mendatangi tempat itu lagi, baiklah” Gumam Juli melihat ke arah sebuah telaga berair jernih tidak begitu jauh dari sana.
Telaga Naga Iblis terlihat menawan banyak bunga indah yang menipu mata tapi sebenarnya semua hewan dan tumbuhan di sini adalah karnivora beracun yang siap memangsa setiap saat. Juli pernah mendatangi telaga ini di kehidupan sebelumnya dan dia tahu betul makluk apa yang bersemayam di dalamnya, namun karena keadaan terdesak anak rusa pun akan minum di sungai yang penuh buaya.
Juli memopong Hana di punggungnya dan melompat cepat bergerak ke arah telaga, kali ini tidak terlihat satupun siluman yang peduli padanya. “Hana! Bertahanlah” gumam Juli terus meluncur cepat dengan satu kakinya.
“Telaga Naga Iblis” gumam Juli mengenang masa lalu saat dia berada di tepi telaga,
“Naga Iblis keluarlah! aku tahu kau bersembunyi di bawah air, bukankah kau akan membunuh setiap mahkluk yang mendatangi telaga ini” terdengar teriakan Juli sampai pada sesosok monster mengerikan yang bersembunyi di dasar telaga.
Panggilan Juli itu rupanya dapat membuat ombak besar di telaga, gelembung gelembung udara mulai bermunculan dari bawah permukaan air. Sesosok kepala ular besar bergigi tajam muncul kepermukaan air. Ular raksasa itu sangat besar dan panjang, ukuran kepalanya saja lebih 6 meter garis tengahnya bisa dikatakan makhluk ini adalah Ular Raksasa.
“Bocah manusia! Aku sudah lama tidak memakan daging kalian, tapi beberapa hari ini aku sudah makan beberapa, tapi aku sangat heran pada mu bocah, katakan bangaimana kau bisa mengetahui kalau aku bersemayam di sini” tanya Naga Iblis heran mengangkat kepalanya tinggi.
__ADS_1
**