
Bangkit!
Dari dalam bayangan Juli keluarkan Boris dan 10 anggotanya, mereka segera bertekuk lutut di hadapan Juli memberikan hormatnya,
“Yang mulia kami menghadap!”
Hantu Muka Merah dan semua pasukan lainnya melebarkan matanya mereka tidak mengira bahwa Juli seorang penyihir kebangkitan.
“Siapa anak itu”
“Dia Ahli Nujum kebangkitan”
“Bukankah Ahlul Nujum kebangkitan sudah dimusnahkan di bumi Barat?”
Di antara semua, yang paling terkejut ialah Hantu Muka Merah, betapa tidak, dia melihat sosok saudaranya Hantu Muka Putih bersama 10 pasukan yang dibangkitkan.
“Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkan saudaraku menjadi bayangan terkutuk mu” teriak Hantu Muka Merah sangat marah ia segera memerintah pasukannya untuk siap bertempur mati-matian.
“Semua pasukan Kerajaan Embun Barat! kita akan bertempur hari ini hingga nyawa hilang, bawakan kepala bocah ini padaku karena anak ini tidak bisa diajak negosiasi bahkan oleh pangeran sendiri” Hantu Muka Merah tidak mempedulikan lagi tentang keselamatan semua orang termasuk keselamatan Selir Wie yang juga berada di sana.
Jenis senyum melihat semua pasukan Hantu Muka Merah telah mencabut pedang untuk memulai pertempuran,
“Aku rasa kali ini aku harus melakukan pertempuran yang adil, apalagi mengingat seluruh pasukan elit sudah berpangkat perunggu” Ucap Juli sambil mengibaskan tangannya pada Boris dan 10 tingginya.
“Dengan senang hati yang mulia” jawab 11 pasukan bayangan serentak, kemudian mereka langsung berbalik badan untuk menghadapi pasukan Hantu Muka Merah.
Hantu Muka Merah menelan ludah, di sisi lain kemarahannya telah berada di ubun-ubun dan tak terbendung lagi, dia segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi sembari berteriak lantang.
“Serang!”
Semua pasukan kerajaan Embun Barat langsung menerjang maju menyerang siapa saja yang menghalangi jalan mereka, semangat mereka tidak terlihat goyah walaupun pangeran dan Hantu Muka Kuning telah dihabisi terlebih dahulu.
“Hadapi mereka” Juli melemparkan senjata untuk pasukan bayangannya sesuai dengan senjata yang digunakan semasa hidupnya.
Boris dan petingginya memberi hormat sebelum mereka menerjang maju menghadapi puluhan pasukan Hantu Muka Merah yang menyerang ke arah mereka.
Wuss..
Hiat! hiak
Trang! Trang!
Kedua pasukan bertubrukan, pasukan berkuda Hantu Muka Merah menyerang dengan sungguh-sungguh 11 pasukan bayangan milik Juli sehingga pertarungan sengit pun terjadi.
Hantu Muka Merah terus mengamuk melawan Boris satu lawan satu dan pertarungan keduanya terlihat berimbang, sementara puluhan Pasukan Elit Embun Barat lainnya melawan 10 Pasukan Bayangannya yang tersisa.
__ADS_1
Hana senyum pahit melihat pertarungan yang mengerikan itu, “Senior! Apakah peperangan ini tidak membuat manusia semakin krisis? Sekarang ini manusia berada di ambang kepunahan?” Hana terlihat khawatir dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Juli secara massal.
Hana melirik ke arah Selir Wie yang sudah pucat pasi sedang bersujud di hadapan Juli karena ketakutan yang mendalam,
“Senior! Ampuni dia, karena bagaimanapun dia berasal dari keluarga ku, aku tidak tega membunuh nya” pinta Hana dengan nada serius.
Juli diam sejenak terlihat berpikir-pikir, “Mm.. apa tidak sebagusnya dia aku penggal saja Hana?” tanya Juli senyum khasnya.
Mendengar pernyataan Juli cukup membuat Selir Wie mengompol di celana, padahal ia sudah memiliki pangkat dua perunggu termasuk pendekar yang tidak bisa di remehkan, kalau dibandingkan kan dengan Hantu Muka Putih jelas Selir Wie lebih unggul dari segi apapun.
“Jangan tuan kecil, aku mohon, aku akan melakukan apapun yang kau pinta asalkan kau tidak membunuh ku” Selir Wie menangis memohon bersujud-sujud.
Hana merasa kasihan pada Selir Wie lalu ia menjatuhkan diri berlutut disampingnya,
“Senior! Tolong Lepaskanlah dia, aku mohon padamu” Mohon Hana menundukkan kepalanya.
Juli melebarkan matanya dan segera menangkap pundak Hana untuk bangkit kembali,
“Ah! ini masalah kecil Hana kau tidak usah berlutut di hadapanku, Ingat Hana! Kau jangan berlutut padaku, kalau memang perlu kamu membebaskannya tinggal katakan saja, aku pasti akan melepaskannya kok” Juli mengingatkan Hana,
Juli merasa kasihan pada Hana ia tahu betul Hana merasa terasingkan selama ini, dan belum ada teman curhat yang cocok.
Juli mengeluarkan cairan Budak Darah dari cincin ruang, lalu melemparkan pada Selir Wie yang sedang bersujud pada adanya,
“Kau minum cairan itu hingga habis kalau tidak aku benar-benar akan membunuhmu” ancam Juli dengan nada serius.
Setelah cairan kutukan budak darah habis di minum, Juli terperanjat,
“Apa! Kau mata-mata Dewi Siluman?” ucapan kaget Juli yang membuat Hana ikut terkejut, akan tetapi Juli segara berjalan kearah kereta kuda meninggalkan mereka berdua di sana.
Saat di perjalanan Juli tiba-tiba diserang oleh lima pasukan Hantu Muka Merah, mereka melompat tinggi ke udara seraya menukik menebas pedang kearah kepala Juli dari arah atas, Juli terus berjalan santai sembari mengibaskan tangannya pelan kearah 5 penyerangnya.
Wuss..
Drooomm…
Tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Juli sangat besar melalui kibasan tangannya, sehingga Kelima orang itu meledak tidak terlihat serpihan daging tulangnya,
"Apa lagi ini?"
"Apa!"
Semua orang yang lagi bertempur tercengang, beberapa bahkan bisa melihat langsung kibasan tangan Juli yang mengandung tenaga dalam yang sangat dahsyat.
Semua orang menelan ludahnya lutut mereka gemetar hebat, Hantu Muka Merah tanpa terasa ngompol di celana, kini ia sadar akan perbedaan kekuatan antara dia dengan anak kecil yang berada di depannya.
__ADS_1
Juli sekarang bisa jalan bebas kearah kereta kuda tidak ada yang berani mendekatinya lagi, tatapan Juli terlihat serius saat ia membuka pintu kereta kuda, di belakang kursi kereta terlihat satu karung besar dan sebatang tongkat penyihir disampingnya, Juli bergegas membuka karung dengan hati yang berdebar-debar.
Di dalam karung terlihat seorang kakek tua kurus tubuhnya tersusun dari pasir dan tanah, saat kakek itu membuka matanya pasir-pasir di kelapanya terus berjatuhan, kakek tua ini berpangkat perunggu bintang dua saat matanya beradu pandang dengan Juli ia tersenyum bahagia.
Juli segera melepaskan tali pengikat tangan dan kaki kakek tua yang ditemukan melalui ingatan Selir Wie.
“Penyihir Bumi Selatan, ada masalah besar apa hingga sampai membawa seorang penyihir hebat kemari” Juli bertanya santun sambil mengeluarkan Kristal siluman dan meletakkan pada kalungnya yang terlihat sudah lama tidak terisi.
Orang tua itu senyum seraya mengambil tongkatnya kembali, “Terimakasih banyak tuan kecil, hamba akan mengabdi padamu, hamba di tangkap paksa dan di bawa kemari untuk menaklukkan Dondon mahkluk legendaris itu, mereka menyandra keluargaku sehingga aku harus melakukannya” Jelas kakek tua itu setengah menagis.
Setelah mendapatkan kristal siluman seluruh debu kembali melekat pada tubuh kakek tua itu hingga membentuk kulit kembali dan ia terlihat seperti manusia pada umumnya, Juli senyum senang karena ia sangat mengenali ras misterius ini.
Juli segera keluar dari kereta kuda diikuti oleh penyihir tua yang sangat ditakuti oleh para ahli sekalipun, sontak semua orang merasa tertekan dengan keberadaan kakek tua itu, wajah penyihir tua kini terlihat serius dan Juli bisa menyadarinya,
“Penyihir Rioh! Apa itu nama mu?” tanya Juli pelan yang membuat kakek tua itu melebarkan matanya hampir tidak bisa menjawab pertanyaan Juli karena keterkejutannya.
Penyihir Rioh menundukkan kepalanya, “Benar yang mulia memang itu manaku” Jawabnya menganguk-anguk mengerti, ia sadar bahwa anak kecil di depannya bukanlah manusia sembarangan, bisa jadi dia manusia tingkat dewa yang menyamar.
Juli senang melihat kesopanan Rioh padanya, “Kalau kau mau bergabung dengan pertempuran itu, maka silahkan saja”
Juli senyum karena tahu Rioh terlihat menyimpan dendam pada pasukan yang membawanya kemari.
Rioh tersenyum lebar, “Dengan senang hati yang mulai!” Rioh membalikkan badannya seraya mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Tanah langsung melayang-layang membentuk ribuan tombak mengarah pada puluhan pasukan Hantu Muka Merah yang telah terluka, angin juga mulai berhembus kuat tatapan Rioh semakin terlihat dingin hingga membuat semua orang bergidik.
“Braco…!”
Suara lemas Rioh diiringi melesatnya ribuan tombak itu kearah kawanan Hantu Muka Merah, tombak-tombak itu bahkan bisa menembus baju jirah dan perisal pertahanan dengan sangat mudah, tubuh Rioh kembali dikelilingi oleh tulisan kuno yang sangat mengerikan, tatapan matanya tajam mengandung aura pembunuh yang sangat besar,
Rioh bisa melihat tombak-tombaknya kembali menjadi tanah berdebu seperti biasa,
“Tuan! Aku rasa mereka hanya tinggal sepuluh orang lagi yang masih selamat, untuk kali ini aku sangat kelelahan karena tenaga dalamku habis ketika mempertahankan diri dari Aray kutukan ini, aku sudah bertahan tanpa Batu Siluman sudah lebih dari setahun lamanya, kalau tidak, aku bisa saja membunuh mereka semua dalam sekali serang” ucapnya dengan nada serius.
Juli senyum, “Istirahatlah! Aku akan memanggilmu setelah kau sembuh” Juli mempersilahkan Rioh untuk masuk ke dalam Kota Lembah Iblis
Rioh melihat ada aray dilangit Kota Lembah Iblis ia menganguk, “Baiklah tuan, oya tuan, apa tuan memiliki cairan kutukan berikan padaku aku ingin ber istirahat di dalam kota ini senbentar” Rioh sedikit membungkukkan badanya.
Juli senyum dia tahu tingkat kehebatan rioh jadi ia segera memberikan Cairan Pengenal Jiwa berwarna putih, Rioh senyum senang dia segera minum cairan itu dan segera tidur di tempat itu,
Hana heran melihat Rioh namun dia terus memperhatikan dengan wajah pensaran, tidak lama Hana kembali melebarkan matanya saat melihat rioh justru berubah menjadi tumpukan tanah biasa tidak berbentuk.
Druk! Druk!
Tiba-tiba Kristal kehidupan meledak, Muska, Nuryin dan teman-teman lainnya kini terlihat tergeletak terbaring di tanah dan tubuh mereka telah sembuh sempurna seperti sediakala.
__ADS_1
Nuryin perlahan membuka matanya, “Apa aku telah mati?” gumamnya seraya bangkit duduk melihat ke sekelilingnya.
**