Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode. 147. Segel Dua Jiwa


__ADS_3

Di hari-hari berikutnya, Suami istri terus berusaha keras merawat keduanya dengan penuh talenta dan kasih sayang, pria paruh baya tiap hari memanjat tebing curam untuk mendapatkan tumbuh-tumbuhan yang bisa di gunakan sebagai obat-obatan dan bahan makanan. Sementara istrinya menjaga Juli dan Dewi Siluman Iblis siang dan malam. Juli sering kali mengigau berteriak kesakitan dalam tidurnya, dan wanita itu sering memberikan air rempah-rempah untuk menyembuhkan luka, walaupun Juli tidak terlihat membaik sedikit pun, tapi setidaknya dalam waktu beberapa hari Juli tidak merasakan kesakitan seperti sebelumnya.


Disisi lain, Dewi Siluman Iblis bahkan tidak siuman, kini tubuhnya tidak ubah seperti mayat hidup. Suami istri ini bisa merasakan kalau Dewi Siluman Iblis tidak lama lagi akan menghembuskan nafas terakhir.


Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, akhirnya Juli kembali bisa membuka matanya, ia melihat seorang pria duduk tidak jauh darinya sedang menggiling dedaunan untuk obat luka luar, serta seorang wanita paruh baya sedang merawatnya. “Ibu! Bisakah aku tahu siapa kalian sebenarnya? Dan kenapa bapak ibu berdua berakhir di sini?” Juli akhirnya bisa bertanya setelah sekian lama tidak bisa menggerakkan mulutnya secara bebas.


Ibu ini salut melihat kegigihan Juli dalam bertahan hidup yang tidak mungkin dimiliki oleh anak seusianya, bahkan untuk katagori orang dewasa sekalipun.


“Nak! Kamu luar biasa hebat, aku heran Bagaimana kamu bisa bertahan dari luka separah ini, tubuhmu telah hancur, secara logika kamu harusnya telah lama mati. Namun kamu bisa bertahan dengan luka separah ini. Ini sungguh diluar nalar.” Wanita itu senyum pahit, dan tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


“Ah ibu, saya hanya beruntung, Oya! Siapa nama ibu tadi?” Juli mengingatkan kembali, ia penasaran dengan arwah gentayangan yang menyelamatkannya.


Wanita gentayangan mengusap rambut Juli dengan lembut, seperti yang sering dilakukan terhadap anaknya semasa ia hidup.


“Saya Nenci, semasa hidup, saya pernah menjadi Ratu Agung dari Kekaisaran Purwa Barat, dan suami ku Arma, dulunya ia seorang Kaisar, kami di sini karena dijebak oleh adik suamiku sendiri, ia menyingkirkan kami untuk memperebutkan tahta kekaisaran, ceritanya sangat panjang, aku tidak ingin mengingatkannya lagi, lagi pula kami telah mati, kami tidak lagi peduli dengan urusan dunia ini, walaupun kami menginginkannya. Sekarang, yang kami inginkan hanya terlepas dari kutukan dan bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.” Wanita itu terlihat sedih, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, mengingat kutukan mereka sangat kuat, disamping itu mereka juga tidak bisa terlalu jauh dari jasadnya. Hal inilah yang membuat mereka tidak bisa mematahkan kutukan ini.


Juli melebarkan mata saat mendengar nama mereka disebutkan, kedua sosok didepannya adalah dua pahlawan legendaris masa lalu, dan keduanya sangat terkenal dalam sejarah dunia.


‘Bukankah mereka kaisar dan ratu yang legendaris? Mereka sangat bijaksana dan sangat dicintai oleh rakyat, di kehidupanku sebelumnya, nyanyian-nyanyian rakyat banyak terdengar di berbagai pelosok kekaisaran Purwa tentang kedermawanan dan kepahlawanan mereka, aku tidak menyangka mereka rupanya mati mengenaskan seperti ini, menurut cerita rakyat, mereka seharusnya meninggalkan Bumi Barat untuk keperluan terdesak di Bumi Tengah, padahal, realitanya mereka malah mati dibunuh di tempat terkutuk ini, berarti, sekarang kekaisaran Purwa telah diambil alih oleh Kaisar Abara adik kandung Kaisar Arma ini, Kaisar Abara yang sangat zalim dan kejam, dan tidak segan-segan membunuh siapa pun yang dikehendakinya.’ Batin Juli mencoba menatap wajah samar-samar Ratu Nenci yang terlihat sedih.


“Oh! Maaf Yang Mulia Ratu telah merepotkan anda sebelumnya, saya merasa terhormat dapat bertemu secara langsung dengan Yang Mulia Ratu Nenci.” Juli bisa melihat raut wajah Ratu Nenci yang sedang berusaha menutupi kesedihannya, Juli tentu mengerti penderitaan kutukan yang dijalani selama ini, tapi bagaimanapun itu, asalkan Juli mengetahui sumber kutukan, kemungkinan besar dia bisa melepaskannya.


“Yang Mulia Ratu! Percayalah! Saya akan berusaha menghilangkan kutukan, seandainya Saya masih bisa bertahan hidup dari luka yang saya alami, saya menyadari bagaimana menderita hidup gentayangan sepanjang masa, saya berjanji akan berusaha menolong Yang Mulia semampunya.”


Juli dapat melihat raut wajah Ratu Nenci berubah menjadi lebih baik setelah mendengar tekatnya, ia menyadari Ratu Nenci tidak begitu mempercayainya dalam melepaskan kutukan, akan tetapi Ratu Nenci tetap merasa senang karena Juli terlihat memiliki hati yang baik.

__ADS_1


Ratu Nenci menghela napas panjang, “Anak baik! Kau sedang sekarat, tapi masih sempat memikirkan keadaan orang lain, sungguh hatimu sangat mulia, tapi nak, kutukan kami sangat kuat, ini berhubungan dengan garis keturunan kami sendiri, kami jelas tidak menginginkan kau kelak juga bernasib sama seperti kami, karena kutukan ini dinamakan ‘Segel Sepasang Jiwa’, kau masih kecil tentunya kau tidak akan mengerti walaupun aku menjelaskannya padamu.” Ratu Nenci menundukkan wajahnya, dengan perasaan tidak menentu.


Juli memejamkan mata menahan rasa sakit yang mengalahkan rasa kaget saat mendengar penjelasan Ratu Nenci. Juli tentu saja mengetahui cara kerja kutukan ini. Di kehidupan sebelumnya, Juli mengetahui rahasia Segel Sepasang Jiwa melalui sebuah kitab kuno Bangsa Peri Langit generasi pertama yang ditemukan di Istana Dewi Langit. akan tetapi, Juli tidak habis pikir kalau Ratu Nenci sebenarnya adalah keturunan murni dari Bangsa Peri generasi pertama.


Bangsa Peri generasi pertama memiliki peraturan yang sangat ketat dalam ikatan pernikahan, setiap wanita yang telah menikah akan mendapatkan pola segel pernikahan ditubuhnya, saat itu terjadi, maka tidak ada seorang laki-laki pun dapat menyentuh wanita ini selain suaminya sendiri. Wanita dengan “Segel Sepasang Jiwa” hanya memiliki satu suami di sepanjang hidupnya. Asal usul terciptanya kutukan digaris keturunan ini memiliki sejarah panjang. Disisi lain, jika pasangan ini meninggal sebelum sempat menikahkan anak-anak mereka, maka mereka akan hidup gentayangan selama-lamanya sebelum menunaikan tugas terakhir mereka.


Kejadian ini tentulah dialami oleh Kaisar dan Ratu di hadapan Juli sekarang. Juli bisa menebak pemikiran suami istri ini, akan tetapi bagi Juli sedikit enggan berhadapan dengan kutukan kuno yang sangat rumit.


“Oh! Artinya, Ibunda Ratu masih memiliki putri yang belum sempat dinikahkan, sehingga kutukan tersebut tidak dapat dipatahkan! Baiklah, jika aku selamat akan kucarikan seorang pria baik sebagai pasangan hidup Putri Yang Mulia, dan kalian bisa menikahkannya kelak dengan Putri kalian, dengan begitu kutukan kalian akan terangkat. Jangan khawatir, aku pasti membujuk mereka, dengan alasan, bagi mempelai pria juga akan mendapatkan keuntungan, yaitu dapat meningkatkan kekuatan tubuhnya beberapa kali lipat dari tingkat sebelumnya.” Juli menjelaskan rencana dengan sederhana, bertujuan untuk membalaskan budi pasangan suami istri karena telah merawatnya selama ini.


Kedua Sosok suami istri terbelalak, mereka sulit mempercayai dengan apa yang didengarnya. Selama ini belum ada orang yang mengetahui kutukan ini selain kalangan tertentu dari empat bangsawan di Kekaisaran Purwa. lagi pula, ini rahasia orang dewasa tidak mungkin diketahui oleh anak-anak, tapi faktanya, kali ini anak sekarat di depan mata mereka seolah tahu semua tentang masalah yang mereka hadapi.


Kaisar Arma semula hanya duduk menggiling obat-obatan dan tidak begitu menghiraukan pembicaraan Juli dengan istrinya, Tapi setelah mendengar penjelasan Juli, kini perhatiannya tertuju pada Juli yang terbaring lemas dengan tatapan penasaran.


“Nak! Bagaimana kau bisa mengetahui informasi ini? Seharusnya ini hanya diketahui oleh bangsawan tinggi Kekaisaran Purwa, apa kau memiliki hubungan dengan salah satu dari empat bangsawan besar kekaisaran Purwa?”


Kedua Suami istri tidak tahu harus terkejut atau tertawa, karena jawaban Juli tidak masuk akal sedikit pun, raut wajah mereka malahan semakin bingung.


“Hahaha, Nak! Umurmu paling ada delapan atau sembilan tahun, tapi bagaimana kau memiliki teman lama? Memangnya selama apa? Satu bulan? Atau satu tahun? Itu bukan teman lama, hahaha, ada-ada saja kau ini nak! Tapi nak! Temanmu itu masih kurang satu informasi lagi, segel pernikahan ini bukan hanya mampu meningkatkan kekuatan tubuh saja, tapi juga bisa memulihkan luka serius, seperti yang kau alami sekarang, walaupun tidak bisa menjadikanmu sembuh secara sempurna, tapi setidaknya kamu tidak sekarat seperti sekarang ini.” Kaisar Arma menjelaskan, walaupun ia sendiri tidak ingin menikahkan anaknya dengan sembarang orang demi terlepas dari kutukan yang selama ini dirasakan, karena bagi pasangan ini, masa depan putrinya jauh lebih penting dari rasa sakit yang mereka derita.


Juli senyum pahit, ia tahu kalau ikatan itu dapat menyelamatkan hidupnya, walaupun luka dalam tidak sembuh sempurna, tapi setidaknya Juli bisa selamat dan tidak perlu menanggung penderitaan hingga belasan tahun, bahkan sampai puluhan tahun lamanya. Selain itu Juli juga tidak berniat menikahi putri pasangan suami istri ini untuk kesembuhannya.


Ratu Nenci menatap Juli dengan lembut sembari mengusap rambutnya, “Suamiku! Anak kita sangat malang, anak ini juga anak malang, kita berdua juga telah menjadi hantu gentayangan yang malang dan menderita sepanjang waktu. Suamiku! Alangkah baiknya kalau kita serahkan saja Putri kita padanya, aku yakin mereka akan hidup bahagia, aku bisa merasakan anak ini juga anak baik, kurasa tuhan telah mengirimkan peluang ini untuk kita, bagaimana menurutmu suamiku?” Ratu Nenci mengalihkan pandangan pada suaminya dengan perasaan pilu.


Kaisar Arma dapat melihat kesedihan mendalam istri tercinta, penderitaan yang mendalam lebih dari setahun lamanya. Kaisar Arma sebenarnya ingin melihat perkembangan Juli lebih jauh untuk mengambil keputusan, tapi mengingat mereka setiap hari jiwa mereka tersiksa, membuat Kaisar Arma kasian pada istrinya.

__ADS_1


Kaisar Arma mendekati pembaringan Juli, “Nak! Aku memiliki seorang putri, Aku meninggalkannya saat dia berumur enam tahun, dan mungkin usianya sekarang delapan tahun, bisa dikatakan sebaya denganmu, dia seharusnya menjadi seorang ratu setelah kepergianku, tapi, sekarang aku bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya, yang jelas dia masih hidup, karena kalau dia mati maka kami akan menghilang untuk selamanya, Jadi.. jadi… kami memiliki permohonan padamu nak”. Kaisar Arma sedikit canggung, padahal hanya berbicara pada anak-anak, perasaan tidak menentu, dari mata putih tua terlihat sedih dan gelisah.


Juli kembali memejamkan mata, ia dapat menebak permintaan mereka. Setelah lama bertemu Juli merasa kasihan pada kedua pasangan suami istri yang telah berusaha keras merawatnya selama ini, Juli bisa melihat ketulusan keduanya dalam berbagai hal, dari menjaga, mengobati, dan merawatnya seperti merawat anak mereka sendiri, hingga mengorbankan diri untuk terbakar setiap hari oleh sinar matahari saat mencari bahan makanan dan tanaman obat-obatan.


“Katakanlah Yang Mulia! Saya akan menyanggupinya jika saya masih hidup,” Juli berkata pelan menahan rasa sakit.


Pasangan suami istri saling pandang, hati mereka terlihat bimbang, Ratu Nenci akhirnya angkat bicara. “Begini Nak! Bagaimana kalau kau kuambil sebagai menantu kami, dan kau akan kami nikahkan dengan putri kami, tapi kau harus berjanji satu hal, yaitu tolong bebaskan putri kami dari cengkraman penguasa zalim bagaimana pun caranya, kami takut kalau putri kami akan dihancurkan oleh mereka.” Ratu Nenci memegang tangan Juli dengan penuh harapan.


Kaisar Arma memalingkan wajah sedihnya, “Kamu masih anak-anak tapi aku bisa melihat secercah harapan darimu, kalau kau menyetujui, kau akan sembuh dari penderitaan dan kami pun akan terbebas dari kutukan ini untuk selamanya.” Nada bicara Kaisar Arma terdengar penuh harap, namun pasang suami istri ini tidak berani memaksa kehendak mereka.


Juli kebingungan, ‘Kalau aku mati, bisa dipastikan mereka akan terkutuk untuk selamanya disini, karena dalam ribuan tahun pun tidak ada orang yang datang kemari, jika pun ada mereka akan menjadi mayat, tapi aku tidak mengenal putri mereka, mungkin di kehidupan ku sebelumnya Putri mereka mati muda, ah! Baiklah aku akan menolong mereka, dengan ini pula aku akan mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali.’ Pikir Juli mulai senyum hangat.


“Baiklah! Aku berjanji, kalian boleh melangsungkan upacara pernikahan leluhur, dan aku akan mengikuti kalian”.


Mendengar jawaban Juli pasangan suami istri ini menjadi sangat bahagia, seolah mereka berdua telah hidup kembali. Tidak lama kedua suami istri langsung menggambar pola-pola kuno di batu pembaringan Juli, menggunakan darah mereka yang dicampur dengan darah Juli sebagai ikatannya. Upacara rumit ini dilakukan sampai atas nama Tuhan dan langit bumi sebagai saksinya.


**


Senja Ramadhan beranjak pergi, berganti fajar syawal di pagi hari. Membawa cahaya kedamaian di penghujung ramadhan. Menebar berkah di hari kemenangan.


Di tengah gema takbir, hati tertunduk untuk memohon maaf. Dari lisan yang tak terjaga, janji yang terabaikan, tingkah laku yang tidak berkenan serta hati yang berprasangka.


Takbir, tahmid, tahlil telah berkumandang. Memecah keheningan malam. Mengantar rasa syukur kepada-Nya. Esok pagi menyambut hari yang fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.


Bang Fuadi,

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir Batin


**


__ADS_2