
Dalam Reruntuhan Wadah Induk Tenaga Dalam Juli.
Cahaya perlahan sirna, gelombang air beransur-ansur tenang, kekuatan alam Wadah Tenaga Dalam hampir menghilang bersamaan dengan sirnanya cahaya, sesosok bayi peri mungil melayang dalam Wadah Induk Tenaga Dalam kini mulai bergerak gelisah dari tidurnya.
Jiwa Juli mulai pudar, hembusan angin sepoi-sepoi di Reruntuhan Wadah Induk Tenaga Dalam menenangkan perasaannya.
‘Ah! Aku telah menjalani dunia ini dalam dua kehidupan yang berbeda, aku tidak menyesal dengan keputusan yang telah ku ambil saat ini, karena kematian akan datang pada siapapun juga, hanya masalah waktu saja cepat ataupun lambat. Aku harusnya bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan ku umur panjang dan bisa menikmati sisa hidupku selama ini dengan baik, dan… aku juga telah berhasil menyelamatkan guruku, itu saja sesuatu yang patut aku hargai, Hm... jika kupikir ulang mengenai tubuhku ini, walaupun ukuran tenaga dalam sangat besar namun masih lah tahap batu yang tidak mungkin sama dengan tingkat besi atau di atasnya, seandainya saja aku berada di tingkat emas aku sangat yakin dapat menyimpan jiwa ku ini, dan kemudian dengan teknik terlarang aku masih bisa menggunakan tubuh lainnya sebagai inang ku, hehe, tapi aku tidak tertarik sama sekali dengan watak Dewa-Dewa Siluman yang bertindak seperti itu! Tubuh ini pemberian Tuhanku, maka tubuh inilah pemilik sah ku, jika tubuh ini mati demikian pula dengan jiwaku, aku bisa menghadap yang Maha Kuasa dengan damai sekarang’ batin Juli menyadari cahaya jiwanya yang kian menipis.
Whoooosss…
Angin menderu kencang dalam Reruntuhan Wadah Induk Tenaga Dalam, sesosok Dewi cantik jelita bertubuh cahaya abadi, bersayap cahaya kebiruan indah melekat di punggungnya, bajunya putih bersih seperti salju berpadu cahaya tubuh membuat Reruntuhan Wadah Induk Tenaga Dalam Juli kembali bercahaya terang.
Kemunculan Dewi peri cantik yang tiada tanding di dunia membuat Juli tertekun sejak hatinya sangat penasaran, Juli mengerutkan keningnya mencoba menerka-nerka.
“Yona! Apa itu kamu?”
Juli terlihat ragu dan bimbang pada paras cantik gadis ini namun ia bisa melihat kalau tubuh gadis ini bukan hanya tersusun dari cahaya abadi saja tetapi juga dari beberapa elemen lain yang berasal dari tubuh manusia.
Dewi Peri cantik jelita hanya menjawab pertanyaan Juli dengan senyuman manisnya, perlahan ia menghampiri bayi mungil yang melayang tepat berada di depan Juli.
Pandangan mata Dewi itu terlihat lembut bersahaja, “Bayi ini adalah diriku, aku kembali sejenak kemari dari masa depan” terang Peri Cantik dengan nada lembut pada Juli, namun matanya tidak lekang dari menatap bayi mungil yang terus bergerak dari tidurnya.
Juli dapat merasakan kekuatan Maha Dewi yang di miliki gadis ini sangatlah mengerikan, mungkin di bumi ini hanya Yona satu-satunya yang memiliki kekuatan sebesar ini, pikir Juli dengan penuh kebimbangan.
Juli senyum, “Ah! Aku tidak mengerti apa maksud mu?” Juli terlihat bingung dengan penjelasan Dewi Peri itu.
Dewi Peri itu senyum ringan, ia sedikit membungkuk tubuhnya di hadapan Juli hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Juli, “Namaku Liona, Dewi Salju Utara! Saya kemari hanya berkunjung” Jawab Liona senyum begitu manis.
"Hm.. Begitukah!"
Juli bisa merasakan bahwa ia terasa sangat akrab dengan gadis di depannya, disisi lain walaupun gadis itu terlihat sangat cantik jelita namun itu tidak mengusik perasaan kecil Juli sebagai lelaki sedikitpun terhadapnya, Juli bahkan merasa bahwa gadis itu sebagai bagian dari keluarganya sendiri, dan tidak pula takut terhadap gadis ini karena memiliki kekuatan yang mengerikannya.
Juli menggaruk-garuk dagunya berpikir, matanya menatap bola mata Liona berada tepat didepan wajahnya yang terasa tidak asing baginya, “Kau sangat mirip dengan Yona, aku bahkah hampir tidak bisa membedakannya, andaikan sayap sejati mu bukan kebiruan dan tubuhmu bukan setengah peri aku benar-benar tidak percaya bahwa kamu bukan Yona, tapi sudah lah! Sekarang apa yang kamu rencanakan terhadap jiwa ku ini?” tanya Juli sangat penasaran, Juli sadar gadis di depannya menguasai banyak Hukum Dewa dan kutukan.
__ADS_1
Liona senyum hangat, ia membuka genggaman tangan di antara wajahnya dan wajah Juli sembari memperlihatkan seekor kunang-kunang misterius yang sangat indah pada Juli,
“Mm… Lihat lah kunang-kunang ini, Kunang-kunang ini belum ada di manapun, ia akan ada nantinya, aku membawa kunang-kunang ini dari masa depan, lihat lah! Betapa indahnya, kelak dunia ini akan di penuhi oleh kunang-kunang ini, Kunang-Kunang Surgawi, Kunang-Kunang ini akan membawa kabar gembira pada mereka yang bersedih hati, Kunang-Kunang ini akan menghibur anak-anak duka lara, Kunang-Kunang ini akan mengeyangkan mereka yang lapar, Kunang-Kunang ini adalah harapan masa depan umat manusia” Jelas Liona berderai air mata karena kagum dan bahagia.
Juli senyum hangat matanya justru tidak teralihkan pada Kunang-Kunang tapi justru pada Dewi yang menjelaskannya, “Ah! Kunang-Kunang yang hebat, tapi kenapa kau malah menangkapnya? bukankah kau harus membebaskannya” tanya Juli heran pada Liona yang terlihat sedang mengelus lembut punggung kumbang ber-lentera.
Liona senyum hangat perlahan ia menyimpan Kunang-Kunang kembali sembari mengecup kening Juli perlahan, “Hm.. Kunang-Kunang Surgawi ini adalah Ayahku!” Suaranya terdengar setengah berbisik, Juli terpaku untuk sesaat.
Setelah kecupan itu tubuh Liona mulai memudar menghilang bersamaan dengan perubahan semua tempat Wadah Induk Tenaga Dalam milik Juli yang menjadi Kunang-Kunang Surgawi seperti yang diperlihatkan Liona.
“Liona! Kamu Siapa? Siapa bayi ini?”
Tanya Juli sebelum tubuh Liona benar-benar menghilang di hadapannya, kini Juli bisa melihat perubahan besar dalam Wadah Induk Tenaga Dalamnya, cahaya mulai muncul dari tempat itu, ribuan kunang-kunang surgawi terciptakan dari wadah induk tenaga dalamnya, Air, batu, Api, Angin, semuanya berubah menjadi Kunang-Kunang Surgawi mereka terus terbang mengintari dalam jumlah ribuan.
**
Semantara Itu Di Atas Hamparan Es
Yona menatap Hana dengan tatapan serius, “Wali Agung? Yang ini maksud kalian Wali Agung?” tanya Yona menunjuk ke Jasad Juli dalam posisi duduk kaku di dekatnya, Hana hanya menganguk pelan membenarkan perkataan Yona,
Hana menyeka air matanya yang terus mengalir, “Wali Juli!” jawabnya singkat, namun jawabannya itu mampu mereda kemarahan dan keraguan Yona.
Yona melangkah perlahan menghampiri jasad Juli, dan berlutut di depannya dengan linangan air mata, “Tuan! Maafkan aku yang tidak berbakti ini, hik… hik…” tangisan Yona mulai terdengar kembali, ia perlahan mengalihkan pandangannya pada Hana yang masih berlutut penuh harap dengan permintaannya,
“Aku Mohon maaf pada kalian semua, aku tidak bisa memberikan jasad wali kalian kembali, karena aku akan mengebumikannya di Bumi Timur, karena gurunya ada di sana, kematiannya merupakan pukulan besar bagi gurunya yang buta” Yona mengenang guru Amin, seorang pendekar buta biasa yang menjadi guru tuannya.
"Tapi.." Hana keberatan namun mendengar penjelasan Yona membuatnya tidak meneruskan kata-katanya.
Yona senyum hangat air matanya terus berderai, tatapan mata lembut tidak lekang dari senyum tuannya, ia membelai lembut rambut tuannya yang terlihat acak perlahan ia mengecup keningnya sebagai ucapan perpisahan, "Tuanku selamat jalan" air mata Yona terus berderai.
Semua mata terpana melihatnya, mereka benar-benar tidak menyangka seorang Dewi mengecup kening seorang anak gembel yang bahkan semasa hidupnya terkesan gila.
“Apa? Anak itu memiliki hubungan dengan seorang Dewi! Siapa anak itu sebanarnya?”
__ADS_1
“Bagimana bisa seorang anak gembel memiliki hubungan dengan seorang Dewi, Apa dia Dewa pengemis?”
“Wali dan Dewi kecil itu kerabat! Apa yang terjadi?”
Semua orang saling pandang mencari kebenaran pada sesamanya, sekarang mereka baru menyadari kalau anak kecil hitam itu memiliki hubungan erat dengan seorang Dewi kecil cantik jelita.
Hana menundukkan wajahnya tidak tahu harus berbuat apa karena ia sendiri benar-benar tidak tahu asal-usul Juli sebenarnya,
Sementara seluruh Aliansi Singa Hitam mulai menelan ludah pahitnya, mereka benar-benar tidak menyangka kalau Yona akan berubah menjadi musuh, hal itu jelas sangat merugikan mereka namun sejauh ini mereka hanya memilih berlutut tidak berani bergerak sedikitpun apalagi harus bertindak, dan itu jelas-jelas suatu tindakan bunuh diri.
Zttttt... Ztttttt....
Jasad Juli setelah di kecup oleh Yona tiba-tiba berubah bercahaya keemasan yang sangat terang dalam remang-remang malam, cahaya tubuh Juli mulai berkedap-kedip lalu bertebaran berterbangan ke berbagai arah dalam jumlah ribuan bagai hempasan debu yang tak tersisa.
Bruufff.... Bruufff....
Semua mata terbelalak, mereka tercengang melihat keajaiban yang terjadi, Yona dengan mata basah ia menangkap salah satu cahaya terbang yang terlihat indah,
"Kunang-Kunang!"
"Iya, Kunang-Kunang"
Yona tangis bahagia melihatnya, “Ah! Ini kunang-kunang, sungguh kunang-kunang yang sangat indah seperti di alam surgawi, hai kunang-kunang, kau tercipta dari tubuh tuan ku, aku menamakan mu Kunang-Kunang Surgawi” ucapan lembut Yona mengelus lembut punggung kunang-kunang yang membawa lentera cahaya kuning keemasan di tangannya.
Semua orang terpana, mereka mencoba menangkap kunang-kunang yang singgah di dekat mereka, dengan berbagai niat dan tujuan, Hana menyeka air matanya dan meraih salah satu kunang-kunang yang menghampirinya.
“Senior, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, tapi semua kunang-kunang ini tercipta dari jasadmu, aku tidak tau harus bagaimana, Bagaimana caraku menjaga kunang-kunang dalam jumlah ribuan dan terbang ke berbagai arah, kunang-kunang ini pasti di buru, kunang-kunang ini pasti di bunuh, namun aku berjanji pasti akan menjanganya” Hana bersedih melihat satu-satunya orang yang dicintainya meninggal dan berubah menjadi ribuan kunang-kunang surgawi.
Sriizzz… srizzz…
Plok! Plok! Plok!
Semantara itu beberapa pasukan Aliansi Singa Hitam membunuh Kunang-Kunang Surgawi dengan kedua telapak tangannya seperti membunuh nyamuk, karena sengatan listrik kunang-kunang surgawi yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
“Kunang-kunang sialan! Beraninya kau menyengat ku dengan listrik mu!”
**