Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 97. Pangeran Mahkota Kerajaan Embun Barat


__ADS_3

Malam hari di Kota Rubi cahaya obor digunakan sebagai penerangan malam hari. Pasukan kota terus berjaga di berbagai sudut dengan senjata lengkap seolah mereka sedang menghadapi peperangan yang akan segera di mulai.


Pintu gerbang kota ditutup rapat di dalamnya ratusan pasukan telah siaga, kejadian seperti ini selalu terjadi dalam seminggu kali semenjak beberapa bulan terakhir.


Seorang kepala pasukan beratribut lengkap berdiri di pos penjagaan khusus di luar pintu gerbang kota bersama belasan pasukan lainnya. Mereka terus memantau siapa saja yang ingin mendekati Kota Rubi dan merekapun tidak segan-segan membunuh siapapun yang dianggap mencurigakan.


“Bos! Kira-kira kapan Pangeran Mahkota akan kemari? Ini sudah telat namun mereka masih juga belum datang”


“Tenanglah! Kita telah menyiapkan 1000 anak-anak dan itu pasti menyenangkannya, aku pikir pangeran mahkota tidak akan melewatkan makan malamnya, hahaha”


“Iya! Cuma sepengetahuan ku anak-anak di kota kita semakin berkurang, Walikota Rulang bahkan kesulitan untuk mendapatkan anak-anak selama ini, kalau kejadian ini terus berlanjut lama-lama generasi muda akan habis”


Dari kejauhan terdengar sayup-sayup pembicaraan mereka oleh sekelompok orang yang telah siaga dengan senjata untuk menyerang Kota Rubi.


“Adik Ke-dua! Aku dengar sepupumu akan datang sebentar lagi, aku mau tanya apa yang akan kau lakukan padanya, ku ingatkan sekali lagi, Pangeran Mahkota Kerajaan Embun menggunakan teknik terlarang untuk meningkatkan budidaya tubuhnya, dia telah membunuh banyak anak-anak yang tidak berdosa di berbagai kota untuk tujuan itu. Di sini pun di dalam penjara kota juga sudah disiapkan seribu anak-anak untuk di jadikan tumbalnya. Namun keputusan ini tergantung padamu kuharap kau akan bertindak bijak” Ucap Anak kecil berdiri santai melipat tangan di depan dadanya di antara belasan orang lainnya.


Pangeran Ke-dua menyapu keringat dingin di keningnya, hatinya terlihat bersedih, “Kakak Tertua! Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan siapapun melakukan kejahatan terhadap rakyat, apapun alasannya, dalam hal ini aku akan mengurus sendiri saudara sepupuku yang berkhianat terhadap rakyatnya” tegas Pangeran Ke-dua dengan mata berapi-api.


Jendaral Wirma memberi hormatnya, “Pangeran ke-dua! Alangakah baiknya kita mencari bukti terlebih dahulu untuk kasus ini, kalau tidak, Yang Mulia Kaisar pasti akan marah besar dan tidak akan memaafkan mu, karena bagaimanapun yang mulai kaisar sangat mendukung Pangeran Mahkota kerajaan ini” Jendral Wirma mengingatkan.


“Senior! Apa yang dikatakan oleh jendral itu ada benarnya, kita harus memiliki bukti yang kuat dulu baru kita bisa bertindak, sebab, walaupun kita tahu dia salah tapi tanpa ada bukti kuat tidak mungkin kita menghukumnya dan ini suatu pelanggaran” seorang anak cantik jelita memberikan argumennya.


Juli menoleh ke arah belasan orang yang dipimpin oleh seorang wanita kurus, “Senior Yome! Tolong bawa anak buahmu untuk masuk ke Kota Rubi, bila mereka melarang, maka seranglah mereka!”


Juli kemudian mengalihkan pandangan ke arah anak cantik di sampingnya, “Hana! Dengarkan aku, aku bukanlah seorang yang mau mengikuti hukum, selama dia bersalah di mataku baik ada bukti atau tidak bagi kalian, maka aku akan bertindak, begitu juga sebaliknya. Sekarang aku telah melihat kezalimannya dan itu sudah cukup menjadi bukti padaku, dan sekarang tugasmu bawa Walikota Rulang hidup atau mati kepada ku, dan bantai saja siapapun yang mencoba menghalangi tugasmu ini, Hana ini perintah bukan sesuatu yang bisa kau tawar” Perintah Juli tegas tatapan matanya marah.


‘Bukti yang kuat! Hanya untuk penjabat penjabat tinggi, dan mereka sangat pandai berkilah lidah dan bahkan menghilangkan bukti dengan kelicikannya, sementara rakyat miskin di bunuh tanpa kesalahan, dan bisa di buktikan atas perbuatan yang tidak dilakukannya, bagiku aku sangat benci kerajaan ini, dan aku akan menuntut balas terhadap nyawa orang-orang yang tidak berdosa yang mereka bunuh’ Batin Juli marah.


Hana berkeringat dingin, ia bisa melihat Juli sedang tidak lagi bisa diajak berunding maka setiap keputusannya adalah “Hukum”, dan Hana sangat menyadari itu ia hanya menundukkan kepalanya tidak berkomentar lebih banyak,

__ADS_1


“Baiklah senior! Aku akan berangkat sekarang. Ayo! Senior Yome” Ajak Hana segera melesat cepat dalam gelap malam.


“Senior Kecil! Kami berangkat dulu!” Yome memberi hormatnya, dan iapun bersama belasan pasukannya berlari cepat melaksanakan seperti perintah.


Namun begitu Yome terlihat sangat penasaran dan hatinya selalu bertanya-tanya kebingungan dari semenjak bertemu dengan Juli, ‘Bagaimana anak ini begitu di takuti, padahal dia tidak berpangkat, dan tidak pula aku melihat sedikitpun kehebatan yang dimilikinya, hanya anak egois yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, memang kuakui aku setuju dengan keputusannya untuk menghukum Rulang yang telah membantai banyak orang tidak berdosa, karena mencari buktipun kita tidak mampu untuk tingkat walikota ini, disisi lain aku juga tidak suka dengan sikapnya, bagamana kalau dia salah dalam menilai, apa itu tidak membuat petaka lebih besar, dan yang paling ku heran kenapa aku juga merasa takut padanya, apa dia memiliki semacam sihir yang bahkan bekerja untuk


orang berpangkat tinggi, ini benar-benar berbahaya’ batin Yome yang terus bergerak cepat mengikuti perintahnya.


Juli menoleh kearah jendral yang berdiri disebelahnya, “Jendral! Engkau sebaiknya membantu mereka, mengingat lawan mereka juga tidak sedikit dan di sana ada pula beberapa pengendali jiwa hewan ghaib sebagai sumber kekuatannya, mereka itu bisa berubah menjadi monster kapan saja mereka mau, dan itu jelas bukan lah lawan Yome dan pasukannya” perintah Juli santai.


“Baik senior! Saya akan membantu!” Jendral Wirma segera memberi hormatnya dan bergerak cepat dalam gelap malam melaksanakan seperti di perintahkan.


Sekarang dalam gelap malam, Juli tinggal dengan Pangeran Ke-dua yang berdiri terpaku kebingungan di sampingnya,


“Pangeran Ke-dua! Aku bisa merasakan Pangeran Mahkota sudah mendekat kemari, lihatlah kesana” Juli menunjukkan ke ujung jalan yang terlihat jauh dari tempat mereka. “Dia dikawal oleh 200 pasukan petinggi istana berpangkat perak, yang lebih mengerikan dia sendiri tidak lebih kurang dari pangkat mu begitu juga dengan kekuatannya, artinya dalam beberapa bulan ini dia rutin melakukan teknik terlarang dan aku tidak sanggup menghitung berapa jumlah anak-anak yang telah di bunuh olehnya. Sekarang ada baiknya Pangeran Ke-dua hadang saja mereka, karena kalau mereka sempat ke Kota Rubi akan banyak lagi korban berjatuhan”


“Baiklah Kakak Tertua, kalau begitu mari kita menghadangnya”


Pangeran ke-dua langsung melompat melesat cepat dalam gelap malam pergi ke arah kereta kuda yang terlihat dari kejauhan.


Juli mengeleng-gelengkan kepalanya, ‘Tepatnya Bukan untuk di bunuh, tapi akan kubuat dia menjadi budak ku dan menjadi raja yang taat pada semua aturanku, dan tentunya harus melindungi rakyat’ Juli menjentikkan tangannya.


tik


**


Sebuah Kereta Kuda Mewah terbuat dari emas permata yang ditarik oleh 12 ekor kuda jantan perkasa, mereka terus melaju kencang dengan menggunakan penerangan kristal cahaya yang menyoroti ke segala arah.


Dua ratus pasukan pengawal ber-zirah baja, berpangkat perunggu dan perak memacu kuda dengan cepat, wajah mereka bringas dan tidak bersahabat siapapun yang menghalangi jalan mereka maka akan berakhir menjadi mayat.

__ADS_1


“Berhenti!”


Terdengar teriakan dalam kegelapan malam, mencoba menghentikan kereta kuda yang sedang melaju cepat.


“Penggal saja kelapanya! Jangan ada yang berhenti!” Teriaknya kepala pasukan menerjang maju sambil membidik sasaran dengan anak panahnya.


“Sorot! Sasaran dengan lampu!”


Blizzz….


Sasaran terlihat seorang ber-zirah emas sedang mengangkat Lencana Indentitas Emas Kekaisaran, yang bertuliskan “Pangeran Ke-Dua Kekaisaran Purba”, sontak semua pasukan menghentikan laju kudanya.


“Berhenti! Jangan ada yang memanah!” teriak kepala pasukan menghentikan pasukan lainnya,


Semua pasukan menurunkan panah, namun tidak seorangpun dari mereka yang turun untuk bersujud atau berlutut padanya, semua pasukan menunggu instruksi dari seseorang dalam kereta kuda.


“Kenapa berhenti! Kepala pengawal”


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kereta kuda dengan nada angkuh, kali ini semua pasukan baru turun dari kereta kuda dan berlutut kepada orang yang berada di dalam kereta kuda.


“Yang Mulai! Ada seseorang yang memegang lencana Indentitas Kekaisaran! Bertuliskan ‘Pangeran Ke-Dua Kekaisaran Purba’ dan kami bingung dalam bersikap”


“Hahaha, manarik! Katakan apa pangkatnya?”


“Bintang lima perak!”


“Menarik! Kalau begitu kenapa tidak kalian tes dulu siapa tahu itu bintang palsu! Hahaha”


**

__ADS_1


__ADS_2