
Gunung Kematian sebuah gunung yang berdekatan dengan Kubah Pelindung Kekaisaran Purwa, bahkan sebagian kaki gunung berada dalam Kubah Pelindung. Hutan di pegunungan sangat lebat, didominasi tumbuhan berdaun hijau dihiasi berbagai macam tumbuhan warna indah lainnya.
Dikatakan Gunung Kematian, karena ribuan tahun lalu pegunungan ini pernah menjadi medan perang segala bangsa dalam melawan Bangsa Iblis. Sampai saat ini berbagai macam rangka berserakan di berbagai tempat.
Di Gunung Kematian, Dewi Siluman Iblis berhari-hari mencoba bertahan di tebing curam kawah, kondisi tubuh kritis dan penuh luka, penampilan sudah berubah, kini tubuh kelihatan lebih muda dan tidak terlihat aura kekuatan hebat seperti sebelumnya.
Tingkat budidaya tubuh bahkan tidak sampai tahap batu, di bawah Kubah Pelindung dia bahkan tidak terlihat pangkat satu titik putih pun.
Setelah penantian panjang akhirnya ute-e dapat menemukannya, Ute-e terkejut begitu melihat kondisi Dewi Siluman Iblis saat ini. Ute-e tidak menyangka bahwa Dewi Siluman Iblis yang dihormati oleh seluruh siluman, kini benar-benar telah berubah menjadi Peri Barat yang merupakan musuh bebuyutan bangsa siluman.
“Yang Mulia Ratu! Ada apa denganmu? Kenapa tingkat kekuatanmu saat ini menurun drastis? Kenapa pangkat Yang Mulia bahkan tidak terlihat lagi? Apa yang terjadi?”.
Pertanyaan Ute-e beruntun karena kebingungan, apalagi saat menyadari Dewi Siluman Iblis tidak bisa terbang seperti biasa, sekarang ia telah bergantungan selama beberapa hari di tebing kawah tanpa bisa berbuat apa-apa, bahkan sosok Dewi Siluman yang kuat, kini tidak mampu memanjat ke atas puncak gunung, ini sungguh miris. Ute-e bisa menebak sesuatu yang mengerikan telah terjadi padanya.
Dewi Siluman Iblis sangat murka begitu mendengar pertanyaan Ute-e, ia terus mengutuk Juli di dalam hati, Dewi Siluman Iblis benar-benar tidak menyangka dirinya akan bernasib apes dalam pertarungan kali ini.
“Aku tidak tahu, kutukan apa yang ditanam bocah itu padaku, tapi apapun itu bukanlah sesuatu yang baik, sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan tenaga dalam sedikit pun, aku kira dia benar-benar mau menyiksa ku sampai mati, dia benar-benar anak Iblis”. Keluh Dewi Siluman Iblis marah seakan ia ingin menelan musuhnya hidup-hidup.
Ute-e bukan segera membantu Dewi Siluman Iblis keluar dari tebing, tapi wajahnya justru menatap Dewi Siluman Iblis dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat.
“Berarti, kau sudah kehilangan kekuatanmu bukan? ketahuilah! Kami bangsa Iblis tidak bersedia dipimpin oleh bangsa peri sepertimu, namun untuk menyingkirkanmu sangat tidak memungkinkan, kau terlalu kuat. Sekarang! aku ingin memberitahukan sesuatu padamu, kau hanya sampah yang tidak berguna dan hanya memanfaatkan bangsa kami untuk ambisi bodohmu, pikiranmu hanya untuk membalas dendam pada manusia, sementara misiku untuk menguasai dunia, aku bersumpah akan membuat seluruh tatanan dunia berada di bawah telapak kakiku,
hahaha”. Ute-e tertawa lantang, sebenarnya Ute-e dari dulu ia selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan Dewi Siluman Iblis, hari ini dia bisa melihat kesempatan besar berada di depan matanya.
Dewi Siluman Iblis tidak menduga, Ute-e yang telah dianggapnya sebagai adik sendiri, bahkan Dewi Siluman Iblis selalu melindunginya dalam keadaan apapun bahkan dengan nyawa, rupanya Ute-e musuh dalam selimut yang selalu mengintai setiap ada kesempatan.
Wajah Dewi siluman iblis menjadi buruk, dia sempat tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Ute-e! Aku selalu melindungimu, Bahkan aku mengangkatmu sebagai jendral pribadiku, padahal kau jauh dari kualifikasi, namun apa yang telah kau katakan sekarang! Kamu bahkan lebih buruk dari anak manusia yang mengutukku, cepat selamatkan aku! Candamu itu tidak lucu!” Dewi siluman iblis menjadi marah, dalam kondisi sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus meredam amarahnya.
Ute-e bukannya membantu, tapi senyum sinis terus menghiasi bibirnya. “Pergilah kau ke Neraka!”
__ADS_1
Secepat kilat Ute-e mencabut pedang, dan langsung menikam punggung Dewi siluman iblis yang sedang bergantungan hingga menembus perut.
“Akh! Ute-e Apa yang kau lakukan!” Dewi Siluman Iblis kaget, matanya berkaca-kaca, dendam dan amarah bercampur aduk, ia bingung dengan segala kenyataan yang dihadapi, seolah kejadian ini semua hanya mimpi.
“Ahk! Ute-e kau benar-benar Iblis! Berani-beraninya kau menikam ku dari belakang! Teganya kau Iblis!”
“Hahaha.” Ute-e tertawa lepas, “Aku memang Iblis! Tapi kau jauh lebih Iblis dariku, kau yang bahkan seorang peri, tapi berhati Iblis. Jadi, menurut ku tidak salah saling membunuh dalam persaingan kekuasaan, kita memang harus saling menyingkirkan bukan? Karena suatu saat kau pun akan melakukan hal yang sama terhadap kami, jadi apa salahnya aku mencuri start.” Selesai berkata demikian, Ute-e langsung menendang Dewi Siluman Iblis ke dalam jurang kawah Gunung Kematian.
“Kurang ajar kau Ute-e!” Menanggapi tingkah Ute-e, Dewi Siluman Iblis hanya bisa meneteskan air mata penyesalan, dan kembali pasrah pada keadaan.
“Ute-e! Kau juga akan merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan, kau juga akan dikhianati oleh yang lainnya, tunggulah!”. Dewi Siluman Iblis mencoba mengutuk Ute-e sebelum jatuh ke dalam kawah tak berujung.
“Hahaha, Dasar Peri rendahan! Sekarang kau pergilah ke neraka bersama bocah manusia itu, dasar sampah! Hahaha.”
Ute-e tertawa senang, saat menyaksikan sosok yang ingin dia musnahkan dari dulu, kini jatuh dalam keadaan tidak berdaya. Dewi Siluman Iblis sangat murka, namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyesali sikap dirinya sendiri yang terlalu lunak dan mempercayai penuh bangsa siluman yang notabenenya adalah musuh dalam selimut.
“Ute-e! Sampai jumpa di neraka, dan semoga kau juga akan merasakan seperti yang kurasakan sekarang ini! Hahaha.” tertawa lepas Dewi Siluman Iblis seolah tidak ada penyesalan terhadap masalah yang menimpanya.
“Bocah manusia! Akhirnya aku pun menyusulmu, di dunia ini memang tidak ada yang bisa dipercaya, tidak manusia, tidak iblis, semuanya akan mementingkan diri sendiri pada akhirnya”. gumam Dewi Siluman Iblis penuh penyesalan sebelum dia hilang kesadarannya.
**
Dalam lembah kematian, lava panas bercahaya kuning kemerahan memenuhi dasar dan menjadi penerangan di dalam kegelapan lembah, beberapa bagian sungai lava terdapat bongkahan batu yang menjulang tinggi dan sebagian tempat terdapat daratan landai. Suhu lembah lebih dari 100 derajat celcius yang membuat manusia normal tidak mampu bertahan hidup lebih dari beberapa menit lamanya.
Di atas sebongkah batu, seorang anak kecil terbaring dengan kondisi luka tubuh mengenaskan bersama seorang peri remaja yang tidak sadarkan diri. Kondisi keduanya sangat buruk napas keduanya putus-putus, dalam sekali lihat saja semua orang akan mengira kalau keduanya sedang sarkaratul maut.
“Akh! Dimana ini?” Anak itu perlahan membuka mata, mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya.
‘Sepertinya Aku sekarang berada di dasar kawah Gunung Kematian. Aku tidak menyangka akan terlempar sejauh ini, Kondisi tubuhku juga sangat buruk. Aku benar-benar tidak bisa bergerak sedikit pun, bahkan hanya untuk sekedar memalingkan wajah. Aduh! Seluruh tubuhku benar-benar mati rasa, ini semua pasti karena tulang punggungku yang telah hancur. Khuk! Khuk! Akhirnya, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput, aku benar-benar tidak menduga, kalau Gunung Kematian ini akan menjadi tempat peristirahatan terakhirku. Apa boleh buat, Begini lah dunia.’ Batin anak kecil itu mulai memejamkan mata mencoba menahan sakit yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Rasa sakit ini benar-benar diluar imajinasi, seluruh otot-otot kejang-kejang hebat, rasa sakit di sekujur tubuh tidak pernah reda walau hanya sedetikpun.
“Akh! Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit yang luar biasa ini, air kehidupan pun butuh waktu puluhan tahun untuk membuatku bisa bergerak kembali, ini penyiksaan yang tiada akhir.”
Dalam kesakitan, anak itu mencoba melirik ke sekelilingnya, matanya kembali melebar saat menyadari ia tidak sendirian, tapi, sosok peri remaja juga tergeletak di sampingnya dengan kondisi luka mengenaskan, walaupun tidak separah dirinya, namun ia bisa menebak kalau gadis ini juga akan mati dalam beberapa jam berikutnya jika tidak ada yang menolong.
“Dewi Peri! Apa yang terjadi padamu? Mungkinkah ada ahli lain yang menyerangmu? Ataukah siriek beude atau penunggang malam menemukanmu, sehingga kau berakhir mengenaskan seperti ini. Akh! Akhirnya kita berdua akan mati dengan sangat mengenaskan, kau pasti tidak pernah berpikir kita akan begini bukan?” Gumam anak itu keheranan sembari memejam mata menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
“Anak muda! Siapa kalian?”
Tiba-tiba sepasang suami istri muncul dari balik batu besar, tubuh kedua orang ini transparan, mengenakan baju lusuh serta bekas luka di sekujur tubuh, sekali lihat saja semua orang akan tahu bahwa kedua sosok ini adalah jiwa orang gentayangan. Anak itu mencoba menoleh kearah suara, tapi lehernya bahkan tidak bisa digerakkan, perlahan ia mengerling ke arah dua jiwa yang menarik perhatiannya.
“Ah! Dua Jiwa Penasaran! Tidak mengherankan kalian muncul di saat seperti ini, tapi sepengetahuanku, di sini ada jutaan orang yang mati ribuan tahun lalu dalam peperangan besar, dan kenapa kalian berdua saja yang muncul di bawah cahaya lava? Atau kah kalian majikan penunggu lembah kematian ini?”.
Anak itu berusaha keras berbicara dengan sepasang suami istri gentayangan, walaupun ia tahu kalau keduanya tidak bisa membantu banyak, akan tetapi kehadiran mereka secara tiba-tiba juga bisa membawa harapan baru, walaupun hanya sekedar untuk mengakhiri penderitaan yang dialami.
“Nak! Siapa namamu? Terus terang aku kagum padamu, kau bahkan tidak takut terhadap kami. Luar biasa!” pria paruh baya itu memuji, wajar saja karena setiap manusia pada umumnya menakuti hantu, apalagi mereka datang di saat korban tidak berdaya, seperti yang dialami anak ini.
Anak itu menari napas panjang, mencoba berbicara diantara rasa sakit. “Nama ku Juli, Apa yang perlu ku takutkan, aku pun tidak lama lagi akan menjadi jiwa bergentayangan seperti kalian, tidakkah kalian lihat tubuhku ini? Kaki kiri dan tangan kananku telah putus, dada ku telah bolong, Wadah Tenaga Dalam ku telah hancur berkeping-keping, aku bertahan hidup karena air mata kehidupan yang telah menutup semua pembuluh darah, agar darah tidak keluar habis dari dalam tubuhku! Tapi itu hanya bisa bertahan untuk sementara waktu saja! Sebelum aku benar-benar mati kemudian.” Juli mencoba menjelaskan sebelum memejamkan matanya dan kembali tidak sadarkan diri.
Kedua suami istri itu saling pandang, kekaguman di wajah mereka terlihat jelas terhadap anak kecil dihadapan mereka. Karena selama mereka hidup tidak pernah melihat anak yang setangguh anak dihadapan mereka saat ini.
“Suamiku, sudah setahun kita tiada, kutukan kita akan terus terjadi, dan kita akan selamanya terkutuk seperti ini, dalam penderitaan yang tiada akhir, aku tidak ingin mereka menjadi seperti kita. Sebaiknya kita coba menyelamatkan mereka berdua, siapa tau mereka akan berguna, lagi pula, aku rasa kalau keduanya anak-anak yang malang, apalagi anak laki-laki ini, dia seumuran putri kita, dan aku akan berusaha menyelamatkannya.” wanita itu kembali terisak tangis begitu mengingat putrinya.
Pria paruh baya itu berpikir-pikir, ia menengadah ke langit memandang tebing tinggi seolah tak berujung, dengan wajah bimbang. “Tebing ini terlalu tinggi, mereka tidak mungkin bisa keluar dari sini, sementara kita telah terkunci dan tidak bisa keluar untuk selamanya, lagi pula di tempat ini hanya sedikit tumbuh-tumbuhan, mereka tidak bisa bertahan hidup, namun jika kita memutuskan untuk menyelamatkan mereka, kita harus mendaki tebing curam untuk mendapatkan tumbuhan-tumbuhan, Tapi, matahari akan membakar kita, dan itu sangat menyakitkan. Jadi apa yang harus kita lakukan?” Mata putih pria itu terlihat tidak bersemangat.
Istrinya memegang tangan suaminya dengan penuh keyakinan, “Suamiku! Tidak salah jika kita mencoba, aku akan membantunya, lihatlah! Anak malang ini sekarat, tapi tubuhnya sanggup menahan panas lava, bagaimana kalau kita menggunakan teknik keluarga untuk menyembuhkannya? Kurasa anak ini anak yang baik, dan..” Wanita ini ingin lanjutkan percakapannya, namun pria itu mengangkat tangan memotong pembicaraan.
“Istriku! Kita tidak boleh naif! Dan bertindak sejauh itu, lagi pula anak ini belum tentu baik seperti yang kita pikirkan, lagi pula aku juga tidak yakin anak ini menyetujuinya, begini saja, aku akan mencari rempah-rempah, kau rawatlah mereka, mari! Kita bawa mereka ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu”.
__ADS_1
Pasangan suami istri segera membawa Juli dan Dewi Siluman Iblis ke sebuah gunung dangkal di lereng tebing, suhu di dalam gua ini tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan tempat sebelumnya, walaupun demikian cukup untuk mematangkan telur puyuh salju.
**