Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 109. Berkawan Dengan Suku Bante Barat


__ADS_3

Beberapa saat setelah suku Bante barat memasuki reruntuhan kuno.


Di luar reruntuhan sekarang telah didatangi seratus pasukan berkuda, mereka rata-rata memiliki postur tubuh tinggi besar, berpangkat perak, dan semuanya berseragam hitam.


Di dada mereka dipasang lencana pengenal berbentuk tengkorak, untuk menandakan identitas mereka sebagai anggota Aliansi Lembah Hantu.


Pasukan ini dipimpin oleh seorang pria berbadan tegap berusia lima puluh tahun, memakai penutup mata kiri, karena satu mata kirinya buta. Di pinggangnya terselip sebilah pedang tingkat perang.


Wajahnya bringas dan tidak bersahabat, “Kepala Suku Ardan! Ini aku Kuntok, Pendekar bermata satu dari Gunung Paus Utara, kalau kau menganggapku sebagai teman lama, keluarlah! Serahkan peta itu baik-baik, dan aku akan menjamin keselamatan keluargamu, jika tidak, jangan salahkan aku jika harus membantai seluruh keluargamu”


Kuntok mencoba membujuk, karena menurut rumor yang beredar setiap orang yang memasuki reruntuhan kuno ini jarang yang keluar hidup-hidup, jadi Kuntok tidak mau pasukannya mati secara sia-sia.


Di dalam reruntuhan Ardan mendengar teriakkan Kuntok dengan jelas, keringat dingin membasahi tubuhnya.


“Celaka! Kuntok tidak pernah berbohong dengan ancamannya, ini bukan hanya peringatan, tapi ini ancaman, Ade! bagaimana ini?” ini semua idemu untuk mempercayai saran dari kunang-kunang emas”,


Semua orang menjadi panik, mereka mengalihkan pandangannya pada Fani. Anak kurus itu menatap kunang kunang emas ditangannya.


“Kunang-kunang, kami sudah kemari, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Fani mulai takut, tidak tahu mengapa kunang-kunang emas itu tiba-tiba membisu.


‘Kenapa kunang-kunang ini tidak bicara? Jangan-jangan kunang-kunang ini takut rahasianya terbongkar’ Pikir Fani cemas, ia menyimpan kunang-kunangnya kembali kedalam baju.


Ade menyadari apa yang dipikirkan Fani, karena dia juga berpikir hal senada,


‘Rupanya disini sangat berbahaya, kunang-kunang emas saja bahkan memilih diam. Aku yakin dengan tetap berada di sini kami akan selamat, akan tetapi disini tidak ada makanan, lambat laun kami harus keluar dan pada saat itulah mereka akan membunuh kami semua’ Ade berpikir keras.


“Kakek Ardan! Sepertinya kita harus menyerahkan peta ini pada mereka” Ade mulai putus asa, ia tahu ini jalan terbaik satu-satunya.


Putri Yara menjadi cemberut, jelas ia juga ingin mendapatkan pusaka yang tertera pada Peta yang dilihatnya. Namun jika ia merebutnya langsung dari mereka, itu tidak mungkin, karena Juli tidak akan tinggal diam saat melihatnya. Jadi untuk penukaran yang adil, dia harus menyelesaikan masalah suku kerdil terlebih dahulu.


‘Gila, aku tidak bisa membiarkan pusaka tingkat langit jatuh ke tangan mereka, tapi bagaimana aku bisa merebutnya dari manusia kerdil menyedihkan ini? Kalau di bumi tengah aku bisa saja merebutnya, atau menukarnya, tapi… monster kecil itu takkan pernah membiarkanku melakukan ini semua, dasar bocah iblis, baiklah, aku akan main secara adil, aku akan menyelamatkan mereka terlebih dahulu dari bandit-bandit bodoh itu’ batin Putri Yara melirik kearah Juli yang terlihat duduk bersila.


Putri Yara secara tidak sadar dalam hati kecilnya mengakui bahwa Juli merupakan monster kecil yang adil dan bijaksana.


Buktinya, dengan kekuatannya saja walaupun tidak menggunakan tenaga dalam ia masih mampu merebut Peta pusaka itu dari suku Bante, akan tetapi saat mengingat Juli ada di sana, ia sangat yakin kalau Juli akan menghakiminya.


“Jangan serahkan! Harta ini sangat penting, aku tidak tahu benda apa yang tergambar pada keterangan peta ini, tapi yang jelas ini sangat misterius, dan aku ingin memilikinya, biarlah aku yang menghadapi mereka, sebagai gantinya peta itu milikku” Putri Yara terlihat percaya diri, ia bergerak cepat keluar reruntuhan seorang diri.


Kepala Suku dan yang lainnya terdiam sesaat, mereka mencoba mencerna situasi, mata mereka teralihkan pada punggung Putri Yara yang telah meninggalkan tempat itu,


‘Siapa gadis ini? Dia sangat cantik seperti bidadari, apa ia penghuni gua ini? Ataukah dia juga siluman. Benar, belakangan ini banyak siluman tingkat tinggi berhasil menerobos kemari, aku yakin dia salah satunya’ Pikir Kepala Suku yang bernama Ardan.


“Yang lain tinggal disini, biar aku saja yang keluar memantau situasi!” Ardan segera menyusul Putri Yara keluar,


Setelah kepergian Ardan, semua suku Bante yang berada di ruangan itu terlihat pucat dan takut terhadap Juli. Mereka takut kalau Juli akan menyerang mereka secara tiba-tiba, maka mereka memilih berkumpul di sudut ruangan agar tidak mengganggunya.


Oeee.. Oeee…


Tiba-tiba tangisan bayi terus menggema dalam ruangan, seorang ibu berusaha mendiamkannya tapi tidak berhasil.

__ADS_1


"Diamlah nak, diam lah! sttt!" Seketika semua orang menjadi panik, mereka beramai-ramai berusaha membuat bayi kurus itu diam agar tidak menggangu Juli yang diyakini sebagai Bocah Iblis Barat.


Juli telah lama duduk diam dengan mata terpejam, andai saja Juli sedang tidak mengawasi “Sesuatu” dari ruangan itu, maka dia telah lama ia keluar untuk kenyamanan semua suku Bante ini.


Namun mendengar bayi menangis membuat hati kecilnya miris, ‘Orang-orang malang! aku tahu kalian kelaparan karena dua hari ini, kalian tidak makan karena pengejaran Aliansi Lembah Hantu, sampai sebagian besar anak-anak lemah dan harus digendong, namun aku tidak bisa membiarkan kalian kelaparan lebih lama lagi’ batin Juli mulai memeriksa bahan makanan dalam cincin ruangnya.


Juli mendatangi suku kerdil yang kelihatan ketakutan. Fani dan Ade langsung berdiri didepan ibu yang memiliki bayi dan berusaha melindungi mereka.


“Tuu.. Tuan.. maafkan bayi kami yang mengganggu ketengan tuan, kami tidak tahu kenapa bayi ini terus menangis”, Ade tergagap ketakutan, dan telah pasrah terhadap nasib.


Ade terlalu takut untuk membuat gerakan yang memprovokasi anak siluman ini, ia takut Juli marah dan membantai mereka semua. jadi ia memutuskan untuk diam saja.


Ibu dari bayi telah pucat pasi, ia kembali mencoba menyusui, namun karena frustasi berat asi tidak keluar sedikitpun. Bayi mungil itu terus menangis memecahkan kesunyian.


Juli menarik nafas panjang, dan mengeluarkan sebotol madu dan air putih dari cincin ruangnya,


“Ibu, Bayimu itu kelaparan, aku tidak memiliki susu, namun ini ada madu, sebaiknya berikan madu ini padanya, dan campurkan dengan air putih ini, bayimu itu sangat haus” Juli menyerahkan sebotol madu dan air putih padanya.


"Te.. terimakasih tuan."


Dengan tangan gemetar ibu dari bayi itu menerimanya, dan melakukan seperti yang diperintahkan Juli dengan cepat. Pada saat itu seandainya Juli menyuruh mereka membunuh bayi itupun mereka terpaksa harus dilakukan, demi keselamatan yang lainnya.


Bayi itupun minum madu yang dicampur air itu dengan lahap, seolah bayi itu tidak mau melepaskan botol minumannya.


Juli mencolek pipi bayi kurus itu dengan lembut, “Bayi ini laki-laki atau perempuan?” Tanya Juli senyum hangat.


Ibu itu membelai rambut bayinya, “Dia anak laki-laki, tuan! Dia baru berumur sebulan dan belum memiliki nama, kami masih memanggilnya adik bayi” Jawab ibu bayi, dan ia mulai menguasai keadaan tidak ketakutan seperti sebelumnya.


Ibu itu terlihat cerah, walaupun ada kekhawatiran didalamnya, ibu bayi itu takut anaknya akan dinamai layaknya nama siluman.


“Baiklah tuan apa namanya?”


“Ikbal! Bagaimana?”


“Wah! Ikbal nama yang bagus”.


“Iya itu sangat bagus, di bumi barat saya belum pernah mendengar nama itu”


Semua orang kini mulai melupakan rasa ketakutan mereka sebelumnya, kini mereka sudah berani bicara dengan Juli seperti biasanya.


'Padahal dikampung halaman ku nama Iqbal sangat banyak, xixi' batin Juli senyum.


Juli kembali mengeluarkan roti dan air dalam jumlah banyak dari cincin ruangnya.


“Baiklah! Ini ada roti kalian makanlah ini dulu, dan aku akan segera memasak untuk kalian, tolong ibu-ibu dan gadis-gadis bantu aku memasak, jangan pikirkan tentang Aliansi Lembah Hantu, biarkan saja mereka”


Juli meminta mereka membantunya, tatapan Juli hangat dan tidak memaksa. Walaupun dengan sedikit ragu-ragu sebelumnya namun pada akhirnya mereka menyetujui ajakan itu.


Suku Bante terbelalak saat mereka melihat Juli mengeluarkan bahan-bahan untuk masakan dari cincin ruangnya. Mereka tidak menduga samasekali Juli memiliki banyak bahan makanan dalam cincin ruang serta berbagai peralatannya.

__ADS_1


Di dalam ruangan luas reruntuhan, Juli bersama ibu-ibu memasak dengan talenta masing-masing, namun ibu-ibu sangat terpana saat melihat Juli dalam mengolah berbagai bumbu masakan. Tangan Juli kecil namun terlihat sangat mahir, ia dapat mengiris bawang langit dengan sangat rapi, padahal sangat sulit dilakukan. Racikan bumbu masakan Juli sungguh diluar logika.


“Tuan.. kau ini sebenarnya seorang koki ya? Kemampuan kami dalam memasak terlampau jauh tinggal darimu” Ibu-ibu itu tidak malu mengakui kekalahannya.


Juli hanya senyum ramah dan tidak menyombongkan diri, walaupun di kehidupan sebelumnya Juli menduduki peringkat pertama sebagai koki terbaik dunia, dan rekor itu tidak terpecahkan sepanjang masa.


Ade mengamati Juli dari tempat duduknya, tatapan matanya menyapu seluruh ruangan. Ia bisa melihat anak-anak kembali berlari-lari bermain setelah mereka sarapan. Walaupun sarapannya hanya roti dan air putih biasa, tapi cukup untuk mengembalikan stamina semua orang.


‘Bocah Iblis Barat! Aku mendengar nama itu saja sudah membuatku bergidik, apa benar dia bocah iblis barat? Sepertinya tidak mungkin, hatinya sangat lembut dan mudah berkawan, anak ini pula pandai mengasuh bayi, dan juga terlihat sangat berpengalaman diberbagai bidang. Kurasa kalau dia bocah iblis barat dia tidak akan sebaik ini, tapi jika dia memang benar bocah iblis barat maka rumor keganasannya itu tidak benar.’


Hati Ade bimbang saat memikirkan tentang Juli yang kini sedang menyiapkan tempat duduk untuk semua orang.


“Harum! Masakannya pasti sangat enak”


“Iya, saya jadi lapar!”


Berbagai komentar terdengar dari anak-anak kurus yang mulai lapar lagi karena aroma makanan. Juli senyum hangat, hati Juli terlihat senang.


Sejenak Juli teringat pada Hana, ‘Hana! Aku tahu kau dihukum oleh kaisar, tetapi itu sungguh tidak buruk menurutku, di hukum dalam istana luas, dan kau masih bisa berlatih dengan bebas, aku akan menjagamu dengan jiwaku, Hana ditempat ini aku merasakan kepedihan. Setiap harinya aku melihat anak-anak meninggal kelaparan, sungguh jiwa kunang-kunang tidak sanggup menjangkau semuanya. Hana aku akan menyelesaikan masalahmu kelak, sekarang biarkan aku membantu meringankan penderitaan rakyat miskin disini dulu, ini hanya untuk beberapa saat’ batin Juli saat melihat anak-anak sebayanya mulai main petak umpet didalam ruangan itu.


“Ini makanan semuanya telah siap, Ayolah semuanya, mari kita makan dulu! Jangan malu-malu, makanlah sepuasnya, jangan sampai makanan ini terbuang percuma” Juli mengajak semua suku Bante untuk sarapan bersama.


Di ruangan itu terlihat semua orang makan dengan lahap, mereka pertamanya takut-takut namun Juli terus menyodorkan lauk pada mereka.


“Nanti makanan yang tinggal akan saya buang! Cepat habiskan”


"Tapi tuan, ini sangat banyak"


"Pokoknya kalau tinggal saya kasih ke Aliansi Lembah Hantu, cepat makan"


"Baik! Baik!"


Benar saja, anak-anak mulai menambah makanan mereka, ibu mereka sering melarang makan banyak-banyak, namun Juli selalu mengibaskan tangannya.


“Ibu! Biarkan mereka makan sepuasnya, mereka masih dalam pertumbuhan” ucap Juli terlihat senang.


Dalam suasana ini sebagian ibu-ibu menangis haru, karena seumur hidupnya tidak pernah makan seenak ini.


'Anak ini anak Iblis, tapi hatinya seperti seorang malaikat, apa yang terjadi dengan dunia ini?' batin ibu itu terharu yang kini mulai menyusui bayinya karena telah ber-Asi.


Fani terlihat sangat bahagia, senyum bahagia terus mekar dibibirnya. Sambil makan Fani terus memainkan kunang-kunang, dan sesekali dia memberi makan kunang itu.


“Kunang emas makanlah!”


Juli menggeleng-gelengkan kepalanya, “Fani kau makan saja, jangan permainkan kunang-kunang itu, nanti dia bisa marah, kunang-kunang itu tidak makan dia menyerap energi langit bumi”


Semua mata kini melihat Juli dengan tatapan yang berbeda, menurut rumor Bocah Iblis Barat, sosok yang sangat brutal dan membunuh manusia tanpa ampun, tapi kali ini terlihat berbeda. Akan tetapi tanpa mereka sadari, Juli sebenarnya seorang kakek renta yang sangat lembut hatinya.


"Tolong! Tuan Iblis barat! tolong! Nona, Nona terluka parah dalam kepungan puluhan orang diluar!" tiba-tiba terdengar teriak Kepala Suku berlari kencang memasuki ruangan.

__ADS_1


**


__ADS_2