
“Apa maksudmu?”
Pemimpin Wewe Gemut menjadi gelisah atas pertanyaan Juli, sejenak dia berpikir kembali.
“Tidak mungkin! Tidak mungkin ia bisa melakukan apapun tanpa tenaga dalam” batin pemimpin Wewe Gemut,
Mereka berpikir Juli sedang menggertak mereka, serta membuat pengalihan karena putus asa setelah tenaga dalamnya tersegel.
Perlahan tangan Juli yang diletakkan di kepala pemimpin Wewe Gemut mengeluarkan api hitam, pada detik berikutnya pemimpin Wewe Gemut menghilang bagai debu ditiup angin.
“Apa?”
Semua Wewe Gemut tercengang, untuk beberapa saat mereka hening karena syok, dan mereka tidak tahu apa yang terjadi pada pimpinannya.
“Pimpinan Qore!”
Teriak mereka memanggil, Pimpinan hebat yang mereka anggap kuat dan berpengalaman menghilang begitu saja di depan mata kepala.
“Apa?!”
“Apa yang terjadi?”
“Sihir apa itu?”
“Kurasa, hanya satu orang yang bisa mengalahkan bocah ini! Yaitu Ratu sendiri”
Ribuan Suku Wewe Gemut, ini menatap Juli dengan penuh dendam dan amarah, mereka bertekad untuk membunuh Juli bagaimanapun caranya.
“Hahaha!”
Juli tertawa terbahak-bahak. Ia melepaskan segel tenaga dalam yang telah dibuat oleh pemimpin suku Wewe Gemut dengan mudah.
“Kalian tahu! Aku sengaja membiarkan dia mendekatiku agar aku bisa menangkapnya, kalau bukan dengan cara ini, akan sulit bagiku untuk menangkapnya, hahaha”. Juli tawa lantang, ia kembali mengeluarkan pisau jiwa terbang miliknya.
“Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkan kami bocah!”
Wewe Gemut bertubuh tinggi kini mengambil alih kepemimpinan, tatapan matanya semakin beringas.
“Serang bocah ini!”.
Ribuan Wewe Gemut kembali menyerang, kali ini mereka menyerang dengan amarah dan murka. Berbeda dengan serangan sebelumnya, serangan kali ini mereka tidak bertarung secara langsung, melainkan menggunakan sumpit-sumpit terkutuk menyerang Juli dari jarak jauh.
Dalam kondisi seperti ini, Juli terpaksa maju untuk menyerang. Wewe Gemut termasuk bangsa cerdas,mereka bisa berpikir layaknya manusia, bahkan di bidang pertanian bisa dikatakan merekalah masternya.
Wewe Gemut bisa merekayasa genetika, hingga menghasilkan tumbuhan-tumbuhan berumur pendek dan hasil produk jugajauh lebih unggul.
Kecerdasan suku ini dalam pertanian menyaingi leluhur Sernam Dewi dari Bumi Timur, yang membedakan diantara keduanya ialah, jika leluhur Sernam Dewi menggunakan laboratorium penelitian untuk menghasilkan benih unggul, maka suku Wewe Gemut menggunakan sihir leluhur mereka untuk menciptakannya.
Sejauh ini, sangat banyak tumbuhan pangan seperti padi, palawija, atau tumbuhan buah berumur pendek lainnya, di temukan di wilayah reruntuhan ini.
Tumbuhan-tumbuhan ini, selain dikonsumsi oleh suku Wewe Gemut sendiri, juga berfungsi untuk memikat para manusia untuk memasukinya.
Pertarungan telah berjalan satu jam, Juli telah berhasil melumpuhkan puluhan suku Wewe Gemut dengan pisau roh terbangnya. Suku Wewe Gemut bukannya takut, namun justru semakin membuat mereka murka.
Juli sendiri mulai kelelahan, ia hanya menggerakkan pisaunya sesekali saat mereka bergerak mendekatinya.
“Sial! Memaksakan pisau roh terbangku untuk melumpuhkan Wewe Gemut di atas tingkat baja, sungguh membuat keseimbangan tenaga dalamku bermasalah. Aku harus mencari cara lain selain memenggal kepala-kepala mereka”.
Belum sempat Juli berpikir lebih jauh, tiba-tiba sebuah tombak besar melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Wuuuus
__ADS_1
Juli memutar tubuh, bergerak cepat ke samping menghindari, sehingga tombak itu tertancap ke tanah disisinya.
Tombak ini sedikitnya berada di tingkat pusaka langit, jika Juli tertusuk maka dapat dipastikan Juli akan terbunuh.
“Hohoho! Hanya seorang bocah, tapi sudah berani mengusik Ratu Tua Ini! Sungguh keberanian yang langka!”
Sesosok Wewe Gemut perempuan, bermahkota merah darah bercahaya di atas kepalanya. Mahkota ini sangat menyolok, dan tidak terlihat berkesesuaian dengan si pemakainya.
Saat melihat perempuan Wewe Gemut itu Juli senyum lebar, Juli sangat mengenali sosok Wewe Gemut yang berada di hadapannya ini.
“Ulyi! Si ratu Wewe Gemut! Bagaimana rasa haus darahmu? Apa sudah semakin tidak terbendung? Hahaha.”
Juli tertawa terbahak-bahak di antara kepungan ribuan suku Wewe Gemut. Juli seakan tidak peduli dengan mengepung yang lain, matanya kini hanya tertuju pada ratu Wewe Gemut yang menjadi tujuannya.
Mendengar Juli memanggilnya dengan nama “Ulyi”, membuat semakin penasaran, sudah ribuan tahun tidak ada lagi orang yang memanggil nama itu. Namun kini, seorang anak kecil yang berumur delapan tahun memanggilnya begitu saja, seolah anak itu telah mengenal dirinya dengan baik.
Ulyi menjadi sangat penasaran, “Katakan bocah siapa namamu!”.
Ulyi menjadi waspada, ia sebenarnya seorang penyihir tua hebat, dan bisa mengetahui bakat seseorang dengan sekali lihat. Kini ia melihat bakat Juli dengan mata sihirnya.
“Tidak! Selain tenaga dalam yang tidak normal, anak ini tidak memiliki bakat bawaan lahir lainnya, bisa dikatakan anak ini tidak termasuk dalam kategori anak spesial, namun bagaimana dia bisa mengetahui identitasku?’. Batin Ulyi Ratu Wewe Gemut penasaran.
Juli senyum misterius. Pada kehidupan sebelumnya Juli bersama pasukannya berhasil mengalahkan Ratu Wewe Gemut dan mengambil ingatannya dengan teknik rahasia lahap jiwa.
Juli mengetahui kisah hidup Ulyi si Ratu Wewe Gemut ini berdasarkan ingatannya. Semasa kecilnya Ulyi tinggal bersama seorang kakeknya yang dipanggil "Buya", kakeknya lah yang membesarkan Ratu Wewe Gemut hingga ia menjadi sangat kuat dan menguasai berbagai teknik-teknik sihir tingkat tinggi. kakek Ulyi sangat menghargai manusia, berbeda dengan sikap Ulyi Saat ini.
Sepanjang hidupnya kakek Ulyi tidak pernah menyakiti manusia, bahkan terkesan selalu mengalah terhadap umat manusia. Ini karena dulunya kakek Ulyi juga dipelihara dan dibesarkan oleh bangsa manusia, sampai ia menjadi pendekar terhebat dari bangsa Wewe Gemut kala itu.
Ulyi sangat menghargai dan mengagumi kakeknya yang telah dianggap sebagai pahlawan besar baginya. Akan tetapi kakeknya dibunuh oleh manusia dengan kejam dan mayatnya dibuang ke sungai.
Atas malapetaka yang menimpa kakeknya, Ulyi menyimpan dendam membara di hati, semenjak saat itulah ia menjadi murka terhadap manusia.
Untuk menghilangkan kebencian di hati, ia mulai membunuh dan memakan manusia yang ia ditemui, sampai kebenciannya menghilang.
Berkat rahasia ini, terlintas di pikirannya untuk mengaktifkan mahkota leluhur Suku Wewe Gemut yang kebetulan ada padanya. Dengan mahkota ini, ia dapat mengontrol kondisi tubuh seluruh garis keturunan bangsa Wewe Gemut dimanapun mereka berada.
Ulyi memanfaatkan mahkota ini untuk menciptakan rasa lapar sukunya terhadap daging manusia.
Walaupun pada kenyataan, sebagian suku Wewe Gemut tidak menyukai ritual ini, akan tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lain, dan tepaksa harus melakukannya untuk bertahan hidup.
“Ulyi cucuku yang cengeng! Tidakkah kau ingat apa yang kukatakan padamu dulu? Aku sungguh tidak bangga pada perbuatanmu sekarang, berapa kali kukatakan padamu? Hiduplah seperti udara, memberikan napas kepada semua, tidak pernah memilih, tapi lihatlah dirimu sekarang! Kau tidak ubahnya seperti seekor monster yang mengerikan,” Juli menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa.
Sementara itu Ulyi si Ratu Wewe Gemut terkejut bukan main, seolah seluruh rambutnya memutih. Ia kini menatap Juli dengan tatapan yang berbeda.
“Bu.. Buya!” panggilnya dengan tergagap, “Bagaimana Buya bisa menjadi anak kecil ras manusia seperti ini?” Ulyi semakin penasaran.
“Jangan panggil aku Buyamu! Aku tidak pernah memiliki cucu yang tidak berbakti!”. Bentak Juli yang menggetarkan jiwa Ulyi si Ratu Wewe Gemut. Ulyi tahu bahwa ini memang sikap kakeknya saat marah.
"Kakek ampui aku".
Ratu Wewe Gemut langsung menangis histeris dan berlutut didepan Juli. Semua Wewe Gemut yang ada di sana tidak percaya dengan pandangan mata kepala mereka.
“Bukankah! Kakeknya Ratu telah lama tiada? Tapi kini kenapa? Atau mungkinkah itu semua hanya tebakan anak kecil saja”
“Benar itu tebakan!”
Semua orang mulai bertanya-tanya, Ulyi sendiri berpikir itu ada benarnya, Ulyi kembali berdiri ia menatap Juli sekali lagi, kini tatapan matanya tajam.
‘Bisa jadi dia sedikit mengetahui tentangku melalui tetua sebelumnya, aku harus mengetesnya lebih jauh.’ batin Ulyi mulai mengingat kejadian yang hanya diketahui oleh dia dan kakeknya.
“Kalau kau Buyaku! Katakan siapa nama ibuku, dan dimana ibuku meninggal, dan apa yang dikatakan ibuku saat dia meninggal”. Kini tatapan Ulyi sangat tajam.
__ADS_1
Namun Juli bahkan tidak berpikir untuk menjawabnya, “Aku membohongimu saat itu, dan mengatakan nama ibumu ‘Batu’, dan selalu membawamu ke batu belakang Gunung Lembah Hijau saat kau merindukan ibumu, dan kata terakhir yang diucapkan, ‘Nak! kau janganlah menangis! Karena nantinya kau itu akan dianggap anak cengeng! Itu juga karanganku,”. Jelas Juli singkat.
Perkataan Juli ditertawai oleh seluruh Wewe Gemut, yang berada di sana, mereka mengira Juli sedang mengigau. Karena bagaimanapun diantara mereka tidak ada yang tahu kisah hidup Ulyi. Karena Ulyi merupakan Wewe Gemut paling tua diantara semua.
Tertawa mereka tidak berlangsung lama, karena beberapa detik berikutnya Ulyi menjatuhkan diri berlutut di depan Juli dan menangis sejadi-jadinya.
“Buya! Maafkan aku, Buya!” tangisan seribu kenangan, membuat Ulyi bertingkah seperti anak-anak didepan Juli, padahal Ulyi Wewe Gemut tertua diantara semua.
Juli mau berbicara sedikit panjang lebar, namun Ulyi langsung menarik dan memeluk Juli. Peluk tangis kerinduan Ulyi menjadi Juli sesak nafas karenanya.
Pada saat itu Juli meraih mahkota Ulyi dari kepalanya, Juli berharap Ulyi akan marah dan menyerangnya, dengan demikian Juli memiliki alasan kuat untuk membunuhnya.
“Buya! Maafkan aku, sekarang Buya ada disini, aku sudah tidak membutuhkan lagi mahkota itu”.
Jawaban seperti ini sebenarnya tidak diharapkan Juli dari monster ini, akan tetapi Juli juga tidak bisa membunuh mereka yang telah menganggapnya sebagai kakek..
“Eh! Benarkah kau tidak marah! Bagaimana kalau mahkota ini ku hancurkan?” ucapan Juli sedikit memprovokasi, karena bagaimanapun mahkota ini sumber dari kekuatan leluhur mereka.
“Tidak masalah Buya! Sejauh Buya mengampuni kesalahanku sebelumnya”, Ulyi merenggangkan pelukannya hingga Juli terbebas kembali.
‘Aku tidak menyangka akan menaklukkan mereka semudah ini, kalau dipikir kembali, Aku memang tidak berencana memusnahkan mereka, karena untuk saat ini tenaga mereka sangat ku butuhkan’, batin Juli senyum senang.
Juli dengan mudah menetralisir “Niat Lapar Wewe Gemut” pada mahkota leluhur Suku Wewe Gemut yang ada ditangannya.
“Mulai sekarang ingatlah, mahkota ini aku yang akan menyimpannya, sekarang Niat Mahkota untuk memakan manusia akan ku hapuskan! Sekarang hiduplah secara normal”.
Setelah mahkota ratu Wewe Gemut berhasil dinetralisir, mata suku Wewe Gemut kembali berubah menjadi mata biasa, tidak seperti sebelumnya yang bercahaya merah darah.
Semua suku Wewe Gemut mulai bisa merasakan kebebasan dari kutukan darah yang selama ini dirasakan. Mereka kini terlihat menyapu lidah mereka, seolah sesuatu yang menjijikan baru saja mereka makan.
“Ah kenapa denganku, perutku terasa mual-mual!”
“Aku juga sama, seharusnya aku segera makan kacang-kacangan untuk menghilangkan rasa mual-mual ku ini”.
Untuk waktu sesaat berbagai ragam reaksi mereka terdengar, namun kini tatapan Juli terkunci pada Ulyi.
“Ulyi! Bagaimanapun kamu harus dihukum, seandainya saja aku tidak memiliki bakat beladiri, hari ini kau bahkan telah memakan Buyamu sendiri”.
Ulyi berlutut dan menundukkan kepalanya,
“Buya! Ulyi menerima hukuman”, tidak ada tatapan permusuhan sama sekali di mata Ulyi, bahkan bisa dikatakan Ulyi menerima hukuman dari Juli dengan sukarela.
“Baiklah! Nanti kupikirkan hukuman yang pantas untukmu”
Juli sendiri sebenarnya belum memikirkan tentang hukum yang akan diberikan, karena dia tidak berpikir Ulyi akan bertindak
sejauh ini.
Beberapa detik kemudian, seluruh suku Wewe Gemut serentak bertekuk lutut di depan Juli, dan memberi hormatnya.
“Buya Leluhur! Maafkanlah kesalahan kami yang tidak mengenalimu, sungguh kami tidak menduga bahwa Buya leluhur sekarang telah menjelma menjadi anak manusia".
Juli mengibaskan tangannya, “Sudah! kalian bangunlah, aku tahu, diantara kalian semua,cucuku Ulyi yang paling tua, jadi bisa dibilang kalian adalah cicit-cicitku! dan sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang Buya leluhur untuk menasihati cucu dan cicit-cicitku”.
Setelah berkata demikian Juli segera memasuki reruntuhan istana,
“Ulyi! Ikuti aku, ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan,” Juli bergegas masuk ke dalam reruntuhan istana.
“Baik Buya!”
Ulyi mengikuti Juli dari belakang, seperti seorang cucu mengikuti kakeknya, Kenangan hangat ribuan tahun lalu kini kembali tergiang diingatan Ulyi, perasaan hangat yang telah lama ia lupakan.
__ADS_1
‘Buyaku selalu menjadi Buya yang terhebat di dunia, dan itu tidak pernah berubah,’ batin Ulyi bahagia.
**