
Selepas magrib di pintu gerbang Kota Lembah Iblis
Sepuluh anggota Pemburu Iblis rata-rata berpangkat putih berjaga-jaga di atas pintu gerbang yang sangat besar dan luas, pandangan mata mereka tertuju ke ruas jalan yang sepi.
“Coy! Lihat lah sepertinya aku melihat Gundoruwo berjalan dengan cucu-cucunya” Seorang pasukan menunjuk kearah jalan remang-remang yang agak jauh dari pandangan mata.
“Bro.. itu sepertinya bayangan.. apa benar itu Gundoruwo..” Tanya seorang bertubuh gendut memakai Topeng Iblis Merah.
“Bisa jadi Coy, karena menurut mitos yang ku dengar Gundoruwo keluar habis magrib dan meneror janda-janda tua kesepian? Hii.. serem!” jelas si botak memakai topeng iblis warna putih.
Sementara yang lainnya mengucek-ucek matanya karena melihat keanehan baru, “Bukankan tadi Gundoruwo itu bertiga dengan cucu-cucunya… kemana satu cucunya? kok Tiba-tiba hilang” Tanya si Topeng merah terkejut saat salah satu anak telah menghilang di bawah remang-remang cahaya.
“Iya kemana dia?” Semua orang mulai panik karena itu memang membuktikan bahwa mereka itu hantu.
“Gawat pukul lonceng tanda bahaya!” Perintah seorang anggota bertopeng putih pada rekannya.
Dua orang langsung berlari cepat pada sebuah lonceng raksasa yang berasa disisi atas pintu gerbang tidak jauh dari meraka, tiba-tiba di samping itu sudah berdiri sosok anak kecil gembel dengan sebilah pedang di tangannya wajahnya terlihat senyum dingin.
“Hahaha! Apa kau mencari ku?” anak itu tertawa senang.
“Apa?! Sejak kapan dia di sini?”
“Entah lah! Bagaimana anak gembel ini naik kemari?”
Mereka kaget, mereka benar-benar tidak menyadari kehadiran anak misterius itu di sana padahal anak ini tidak berpangkat sama sekali tapi jika dilihat dari gayanya memegang pedang anak itu bukanlah anak biasa.
“Hati-Hati! Kurasa anak ini yang jalan dengan Gundoruwo tadi.. aku dengar hantu tidak memiliki pangkat, jangan jangan anak ini hantu” Si Topeng Merah memperingatkan rekan-rekannya.
“Heh! Hantu atau bukan aku akan memenggal kepalanya” Seorang Topeng putih bergerak cepat menyerang anak yang terlihat berdiri tenang.
Syut.. wusss.. Clink!
“Apa?!”
Tiba-tiba anak itu hilang tepat saat Pemburu Bertopeng putih menebasnya sehingga Pemburu itu hanya menebas udara kosong, semua Pemburu Iblis penjaga menjadi pucat dan penasaran.
“Hantu? Kemana anak itu menghilang?” tanya Si topeng merah pada rekan-rekannya, sementara semua rekan-rekannya terlihat telah berdiri mematung dengan tatapan kosong.
“Hey Kalian! kenapa berdiri saja? ada apa dengan kalian” si Topeng Merah semakin penasaran terhadap reaksi kawan-kawannya yang telah mematung.
Wuss!
__ADS_1
Tiba-tiba anak kecil itu telah duduk di atas pundak si Topeng Putih, Anak misterius itu perlahan menempatkan mata pedangnya pada batang leher Si topeng putih yang telah berdiri mematung,
"Sreeeesss..." Anak kecil itu memenggal leher si topeng putih yang didudukinya.
“Ah! Gendut Bertopeng Merah! Apa kau bos di sini!” Tanya anak itu sambil mengangkat kepala si topeng putih yang telah putus dipenggal dengan pedangnya.
Si topeng merah menjadi gemetar hebat saat menyaksikan hal yang mengerikan terhadap bawahannya namun dia tidak bisa bergerak sama sekali seperti yang dialami bawahan lainnya termasuk sosok tubuh tak berkepala yang diduduki anak itu masih tetap berdiri kokoh tak bergeming,
“A.. Apa ya.. yang kau ingin kan?” tanya Si Topeng merah tergagap kakinya bergetar hebat.
“Lembah ini sangat luas aku kekurangan anggota.. kalian sebenarnya sangat lemah.. aku hanya ingin pasukan sedikit menyeramkan untuk membasmi iblis terkutuk seperti kalian” anak itu mengeluarkan cairan merah yang seakan diambil dari ruang hampa.
“Ja.. Jadi a.. pa yang harus ku lakukan…” Si Topeng merah mulai terkencing-kencing mulutnya bergetar hebat seakan nafasnya berhenti.
Anak itu menuangkan cairan merah pada batang leher yang telah putus, saat itu juga tubuh itu langsung bergerak kembali.
"Hehehe.. Turunkan aku dari pundak mu, kawan", anak itu senyum dingin saat melihat orang tak berkepala itu mulai menurunkan dirinya perlahan.
Anak itu menoleh pada si topeng merah, “Kau tidak perlu berpikir, seperti yang sudah-sudah kau juga tidak pernah berpikir saat membunuh rakyat tak bersalah, karena aku tidak membutuhkan kepala mu yang malas berpikir” Anak kecil itu melempar kepala bertopeng putih kearah wajah si topeng merah hingga membuatnya frustasi berat.
Buk!
“Ti.. tidak.. Am.. ampun!” Rambut Si Topeng merah seketika memutih karena frustasi berat namun anak itu masih terlihat senyum gembira.
Syut syut!
Dengan gerakan kilat ke-sembilan orang itu ditebas batang lehernya hingga menyisakan badan yang berdiri tegap secara sempurna.
“Sekarang! Buka lah pintu gerbang dan sambut lah para tamu secara meriah.. hehehe!” tawa gembira anak kecil itu terdengar setelah itu ia pun menghilang dari sana.
**
Dalam gelap malam Hana berjalan paling depan menuju ke pintu gerbang Kota Lembah Iblis sementara Kingkong berjalan di sisi Juli yang terlihat senyum senyum, sesaat yang lalu Juli sempat menghilang dari belakang Hana dengan alasan yang tidak jelas.
“Senior! dari mana saja kau ini. jangan bilang kau ingin bersembunyi” Hana sedikit ciriga.
Juli langsung melambaikan kedua tangannya, “Tidak! Tidak! Aku tadi melihat sesuatu yang curigakan di tepi jalan jadi aku pergi memeriksanya, aku hanya tak ingin kita terjebak itu saja” Kilah Juli memberi alasan.
“Baik lah, jadi bagaimana cara kita memasukinya, sepertinya pintu gerbang itu di jaga oleh pasukan berpangkat kuning, dan itu akan menimbulkan keributan”
Hana memberi komentar karena sangat sulit baginya untuk menerobos tanpa menimbulkan kegaduhan. sementara Kingkong hanya mengikuti saja tanpa berkomentar.
__ADS_1
Juli senyum senang ia terus melangkah maju dengan tenang, “Tanang saja pintu itu kan terbuka jika melihat tamu yang datang, hehehe” Juli terlihat sangat santai seolah pulang ke rumahnya sendiri.
Hana penasaran melihat sikap Juli namun benar saja saat mereka mendekat pintu gerbang besar itu langsung terbuka dengan sendirinya, sepuluh orang segera menghadap mereka seraya membungkuk badan mempersilahkan mereka masuk dengan isyarat tangan.
“Apa..! Ma.. manusia tak berkepala? Lehernya bahkan masih mengalir darah segar” Hana terkejut sampai melompat mundur tiga langkah ke sisi Kingkong saat melihat kengerian yang membuatnya menelan ludah.
Juli senyum, “Hah! Ayolah didalam sana kau akan melihat hal semacam ini sepanjang malam.. hahaha” tawa Juli senang.
“Apa maksudnya ini senior?” Hana terkejut bukan main dengan ucapan Juli sekarang ini Hana tidak berani meremehkan Juli seperti sebelumnya.
Kreekk! Kreekk!
Tiba-tiba pintu gerbang mulai ditutup kembali dengan rapi, Juli senyum menoleh kearah sepuluh orang yang kini mengikutinya,
“Sekarang bunyikan bel bahaya” perintah Juli dalam isyarat pada salah satu Anggota Pemburu Iblis tak ber kelapa itu, Pemburu Iblis itu membungkuk badan dan segera berlari naik keatas pintu gerbang untuk membunyikan bel.
TANG! TANG! TANG!
Hana menjadi kaget, “Apa? Bel tanda bahaya gawat kita akan segera terkepung, ini jebakan”
Hana segera menyerang sembilan orang yang tidak berkepala itu dengan pedangnya, sontak mereka pun melakukan perlawanan terhadap Hana, akan tetapi serangan mereka tidak mematikan.
Juli hanya senyum melihat pertandingan pedang, Hana masih lah bocah tujuh tahun namun skil pedangnya tidak bisa dianggap remeh, namun anehnya jurus-jurus orang berkepala buntung itu justru lebih cepat dan lebih ulet sehingga Hana sampai terdesak parah.
“Senior gawat! Mereka berada di bawah pangkat ku, namun gerak jurus mereka sangat cepat dan sulit diprediksi.. aku bahkan tidak bisa menalawan mereka satu lawan satu apalagi jika mereka maju sekaligus, kita terjebak” Hana berkeringat dingin, namun perasaannya sedikit aneh saat menyadari Kingkong dan Juli hanya menonton saja.
Juli senyum “Hana.. tidak usah melawan mereka, karena mereka tidak akan menyerang mu.. tapi lawan mu akan segera sampai, mungkin puluhan, mungkin juga ribuan, hehehe siapa yang tahu.. sekarang bersiap lah” Juli mengeluar sebilah pedang dari cincin ruangnya.
Kingkong melihat kearah Juli, “Tuan, apa yang akan saya lakukan!” tanya Kingkong pada Juli dengan tatapan mata haus darah.
Juli senyum ia menoleh kearah Kingkong, “Jangan Kau sentuh rakyat, tapi bunuh lah semua Anggota Pemburu Iblis dan tinggalkan aku dengan hana disini untuk berolah raga sedikit, kau bergerak maju dulu sekarang” Perintah Juli pada Kingkong, lalu Juli menoleh pada sepuluh Pemburu tak berkepala,
“Nah sementara kalian jaga lah disini jangan biarkan satu Pemburu Iblis pun keluar, hehe.. boleh saja mereka keluar tapi suruh tinggalkan kepala mereka dulu”
Dari kejauhan Juli sudah bisa melihat para Hunter Iblis terus berdatangan ketempatnya.
Hana berkeringat dingin “Apa-apaan ini.. kondisi semacam ini benar-benar membuatku gila…” Teriak Hana marah mulai mencabut pedang.
Juli menatap Hana dengan senyum hangat, “Mari kita.. menyembelih ayam… jangan merasa ragu dalam melakukannya” Juli segera menerjang maju dengan sebilah pedang tanpa menggunakan tenaga dalam sedikitpun.
“Apa!”
__ADS_1
**