Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 45. Penyerangan Juli


__ADS_3

“S-Siapa kau! Kenapa kau ada di sini?” Tanya Toru tergagap melihat seorang bocah kecil dengan aura pembunuh yang sangat pekat dan itu benar mengintimidasinya berserta dua puluh bawahan lainnya.


Juli mengalihkan pandangannya pada Hana, “Hana,  Kau berilah pil penawar racun Dewa Mindril pada 11 orang Suku Padri yang keracunan, kuharap mereka akan segera sembuh, Hana, dengarkan aku, aku harap kau tidak ragu membunuh musuh-musuh mu, ingat lah! Setiap keraguan mu akan membawa malapetaka pada rakyat tak berdosa” Juli memperingatkan Hana, sebelum Hana bergerak menyerang ratusan orang yang berada di depannya,


“Hm..” Hana hanya menganguk tidak menjawab sepatah katapun karena untuk membantah ia setidaknya harus memiliki argumen yang kuat, Hana terus bergerak cepat dengan sebilah pedang ditangannya ia terlihat seperti singa betina haus darah, kini ia tidak ragu memerahkan pedangnya dengan darah walaupun itu menentang hati nuraninya.


Juli menarik napas panjang, perlahan Juli menoleh kearah Toru yang sedang berdiri terpaku karena tertekan dengan aura pembunuh yang sangat kuat sampai-sampai ia sulit bernapas, Juli perlahan mendekati Toru seraya melemparkan puluhan anak panah ke arah perut Toru secepat kilat hingga menembus punggungnya.


Aaakkkh!


Toru menahan tusukan belasan anak panah secara bersamaan membuatnya menjerit kesakitan,


“Akkkkk! S-Siapa K-kau?” Suara berat Toru karena paru-parunya telah bolong akibat serangan itu, matanya mulai memerah saat menahan rasa sakit yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.


“Apa-apaan ini!”


“Bagaimana seorang bocah bisa melemparkan anak panah begitu akurat, aku benar-benar tidak bisa mempercayainya”


Semua Pemburu Iblis Pemanah penasaran melihat kemampuan Juli yang sangat cepat dalam melemparkan anak panah bahkan melebihi kecepatan busur sekalipun, kaki mereka semakin bergetar, celana terus basah akibat kencing secara tidak terkendalikan lagi oleh saraf mereka, aura pembunuh yang dikeluarkan Juli benar-benar mengintimidasi siapapun di daerah itu tidak terkecuali ratusan Pemburu Iblis lainnya,


“Hm.. Siapa Aku? Kau bertanya siapa aku?” Juli menggaruk-garuk kepalanya seolah memikirkan apa yang harus dijawab,


“Hm.. Aku hanya orang yang kebetulan lewat daerah sini, karena aku melihat tempat ini ada pesta meriah, jadi tidak ada salahnya kalau aku ikut, bukan?”


Perlahan Juli mengangkat telapak tangan kearah Toru yang masih berdiri kaku menahan rasa sakit, semua orang menatap Juli dengan tatapan kengerian, penasaran, menakutkan karena setiap gerak-gerik Juli pasti mendatangkan malapetaka bagi mereka,

__ADS_1


Swosh! Swoosh!


Telapak tangan Juli perlahan mengeluarkan asap hitam berputar-putar di telapak tangannya, asap hitam itu dapat menyerap apapun dan sebesar apapun.


“A-Apa itu?”


“A-Aku t-tidak tahu, namun apapun itu pastilah sangat mengerikan!”


“I-Ini benar-benar pertanda tidak baik”


Terdengar beberapa suara gemetar Pasukan Pemanah berbisik dalam ketakutan sesamanya, Juli hanya senyum perlahan ia mulai menyerap Toru ke dalam pusaran asap hitam hingga terdengar jeritan kesakitan Toru memecah kesunyian malam,


“Aaaakk! Ampun! Ampuni aku.. tidak.. tolong..” Suara teriakan kesakitan Toru terdengar sebelum asap hitam di tangan Juli menghilang,


Sunyi, senyap, tidak seperti biasanya, dulu saat Toru dalam masalah selalu banyak orang yang terus berdatangan membantunya, tapi kali ini tidak ada yang membantu Toru bahkan setelah Toru berteriak meminta tolong sekeras-kerasnya namun tidak ada pertolongan saat itu, disisi lain tidak ada pula yang menyalahkan tindakan Juli karena telah menyiksa Toru, puluhan orang yang menyaksikan hanya memilih diam menundukkan kepalanya seakan tidak melihat apapun.


Juli berlahan kembali mendekati barisan dua puluh orang pemanah yang telah gemetar dan tidak bisa bergerak sama sekali, sebuah pisau kecil telah dilumuri cairan kutukan perlahan pisau itu ditusuk kedalam bola mata mereka satu persatu hingga menembus tengkoraknya,


“Aaakkkk… Ampun! Ampun.. sakit… ampun…” Jeritan kesakitan mengerikan kembali terdengar dari dua puluh orang pemanah itu.


Juli senyum puas perlahan ia berjalan kearah Gua Iblis, pandangan mata menatap langit, “Sepertinya Pesta akan segera dimulai! Biarlah semua pasukan diluar ini akan diurus oleh ribuan pasukan tak berkepala” guman Juli sambil menjentikkan jarinya hingga membuatnya hilang bagaikan ditiup angin.


Huuuu… Huuuu…


Setelah Juli menghilang angin menderu kencang, pasukan iblis penjaga istana kembali tidak merasakan lagi Aura pembunuh yang menekan meraka, namun kini sebuah hal mengerikan akan segera terjadi, ratusan orang penjaga Gua Iblis kini tiba-tiba dikepung oleh ribuan pasukan tak berkepala, suara tenggorokan kesakitan pasukan tak berkepala menimbulkan suara yang sangat mengerikan.

__ADS_1


“Groookk..! Groookk!” Suara napas yang terus keluar dari tenggorokan tak berkepala membuat kesan angker tersendiri bagi siapa pun yang mendengarnya.


Ribuan Pemburu Iblis tak berkepala masing-masing memengang sebilah pedang di tangan, mereka bergerak cepat menerjang maju menyerang Pemburu Iblis penjaga gua yang berjumlah ratusan orang saja, para Pemburu Iblis penjaga gua bukannya melawan namun justru melarikan diri ke dalam gua untuk menyelamatkan diri serta tidak sedikit dari mereka memilih bunuh diri ditempat itu daripada harus menerima kenyataan pahit seperti para Pemburu yang telah tidak berkepala.


Penyerangan yang tak berimbang itu menyapu pasukan Pemburu Iblis, tidak lama kemudian jeritan mengerikan kembali terdengarn di berbagai pelosok kawasan itu.


Hana menelan ludah saat menyaksikan kengerian yang tak kunjung berakhir, ia segera menghampiri 11 orang suku Padri seperti yang ditugaskan oleh Juli, ia bergegas memberikan pil-pil penawar racun Dewa Mindril pada Irawan dan sepuluh pahlawan suku Padri yang masih mempertahankan posisi berdirinya dalam keadaan tidak sadar diri.


“Siapa kalian sebenarnya? Aku belum pernah melihat manusia-manusia perkasa seperti kalian, dalam keadaan tidak sadarkan diri kalian masih bisa membuka mata dan berdiri tegak menopang tubuh dengan bertongkat palu besar, jika dunia ini banyak pahlawan besar seperti kalian aku sangat yakin kedamaian dunia pasti akan terjaga” Gumam Hana bangga, saat melihat manusia-manusia berbadan kekar berdiri tegap dalam keadaan tidak sadarkan diri.


**


Dalam Gua Iblis.


Dodep telah mengumpulkan seratus orang gadis suci seperti permintaan Boris, mereka siap dijadikan tumbal, Boris telah berdiri diatas Altar sembahan, seratus orang gadis suci dalam posisi duduk berbaris di tepi gua leher mereka telah dibelenggu dengan rantai-rantai besar, aura putus asa terlihat jelas diwajah mereka.


Memikirkan harapan besarnya akan tercapai Boris terus tersenyum senang. “Dodep! Setelah hari ini maka tidak ada lagi yang namanya ketakuatan di hati Pemburu Iblis, kerena kekuatan kita telah mampu menguasai Kekaisaran Purba, hahaha” Boris terlihat sangat senang melihat pencapaiannya besarnya yang tak terhentikan.


Dodep memberi Hormatnya, “Tuan Boris kalau begitu mari kita sembelih gadis-gadis ini untuk mengambil darahnya” saran Dodep seraya mendekati seorang gadis kurus yang menundukkan kepalanya karena ketakutan.


“Gadis sia…” Dodep belum selesai berbicara gadis itu langsung meludah wajah Dodep,


“Cuih…!”


Gadis kurus itu menyeringai setelah meludahi wajah Dodep, Dodep menjadi murka matanya terpelotot tangannya diangkat tinggi tinggi hendak menghantam kepala gadis kurus itu.

__ADS_1


“Tuan Boris! Tuan! Gawat!”


__ADS_2