
Di Depan Gua iblis.
Seorang Petinggi Pemburu Iblis bernama Toru menjadi berkeringat dingin begitu menyadari ke-sebelas orang Suku Padri sangat kuat diluar perkiraan mereka selama ini,
“Cepat! Panggilkan Para Petinggi lainnya katakan pada mereka kalau mereka tidak cepat turun tangan akan semakin banyak jatuh korban dipihak kita?” teriak Toru memerintah padabawahannya.
“Baik tuan Toru!” Seorang pasukan memberi hormat kepadanya kemudian ia membalik badan segera pergi dari tempat itu menuju ke Gua Iblis untuk meminta bantuan lebih banyak para petinggi,
Toru Si Pembantai berumur 50 tahun berbadan tinggi besar berambut pirang berotot kekar pengguna panah sebagai senjatanya, ia merupakan salah seorang petinggi Boris yang suka membantai orang-orang lemah secara brutal, kelebihan paling unggul dari Toru dibandingkan petinggi lainnya Toru sangat pendai memanfaatkan situasi dalam mencari kelemahan musuh-musuhnya.
Kini Toru terus memantau ke-sebelas Suku Padri, panahnya terus dibidik kearah mereka mencari kelengahan saat melalakukan penyarangan terhadap Pasukan Iblis, ‘Sepertinya kelemahan mereka semakin terlihat’ batin Toru saat melihat jalannya pertarungan.
Irawan dan sepuluh pasukannya dibawah pencahayaan bulan purnama ia terlalu konsentrasi dan disibukkan dengan pertempuran jarak dekat namun serangan-serangan gelap jarak jauh membuatnya tidak mampu terdeteksinya secara akurat.
Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Toru Si Pembantai untuk melakukan serangan gelap terhadap Irawan dengan anak panah beracunnya, Toru menoleh kearah beberapa anak buahnya yang berdiri menggunakan busur panah, mereka terlihat ragu untuk memanah karena pertempuran sedang berkecamuk, mereka khawatir anak panah bisa meleset dan mengenai rekan-rekan pemburu iblislainnya.
“Kalian kemarilah!” Panggil Toru pada dua puluh Pemanah yang berdiri agak jauh dari pertempuran yang berkecamuk, dua puluh pemanah itu pun segara berlari mendekatinya seraya memberi hormatnya,
“Tuan! Apa yang harus saya lakukan?” tanya seorang ketua regu pemanah berpangkat kuning mewakili anak buahnya.
Toru menunjuk kearah 11 orang suku Padri yang sedang bertarung dengan gagah berani melawan ratusan pasukan Pemburu Iblis seakan tidak merasakan lelah,
“Lihatlah! Semua mereka, dalam semenit sekali selalu menghantam udara dan menimbulkan gelombang kejut yang dahsyat, namun disisi lain mereka juga tidak dapat bergerak untuk sepuluh detik lamanya, kalian paham maksudku kan?” Tanya Boru senyum licik.
Semua orang saling pandang lalu menganguk secara bersamaan, “Kami paham tuan! Mari kita lumpuhkan mereka satu persatu” ucap kepala regu senyum senang sambil memberikan aba-aba pada pasukannya untuk siap membidik ke-sebelas orang Suku Padri yang sedang bertempur habis-habisan diantara ratusan pengepungnya.
Irawan terlihat sangat serius bertarung dan terlihat sangat terburu-buru, “Paman Bima! Terus lah bergerak! Karena sebentara lagi malam purtama akan mencapai puncaknya! Aku khawatir dengan keselamatan adik-adikku” teriak Irawan terus bertempur dengan sangat gagah perkasa menerobos maju dangan cepat berdampingan dengan seorang tua berkumis dan berjanggut panjang dengan helm baja penutup kepala yang dipanggilnya sebangai paman.
“Baiklah! Anakku” Teriaknya sambil mengayunkan palunya ke udara dengan kekuatan sangat mengerikan seraya berteriak keras hingga terdengar ratusan meter jauhnya.
“Teknik Tertinggi! Hantaman Udara!”
Phung!
Orang yang dipanggil Paman Bima dengan palunya segara menghantam udara didepannya seperti menghantam benda keras sampai menimbulkan bunyi dahsyat, efek hantaman itu dapat menimbulkan gelombang kejut dahsyat yang menghempaskan apapun didepannya serta menciptakan kerusakan bangunan-bangunan dan kematian bagi siapapun yang berada dalam jarak tertentu,
“Aaakkk!!”
__ADS_1
Ratusan Pemburu Iblis diterpental jauh membentuk jalan, tidak sedikit dari mereka yang mati ditempat namun pada saat yang bersamaan tubuh Bima menjadi lemah dan terlihat sedikit terhuyung-huyung, “Maju lah!” teriak Bima memerintah rekan-rekan untuk terus maju.
“Serang!”
Swas swus swas swus
Tiba-tiba belasan anak panah langsung melesat cepat kearah Bima saat ia sedang memulihkan tenaga dalamnya, Irawan tidak menyangka hal itu akan terjadi disaat genting mereka, seperti kejadian yang menimpa mendiang ayahnya Raden Pahlawan Legendaris beberapa hari lalu.
“Paman awas!” teriak Irawan sambil bergerak cepat mengahadang belasan anak panah yang melesat cepat kearah Bima sambil melakukan gerakan menghantam udara.
“Palu Terbang Pemecah Udara!”
Phueng!
Hantaman udara berhasil dilakukan namun anak panah juga melesat cepat mengenai paha dan pundaknya, sementara beberapa anak panah yang mengenai baju zirah terpental jauh jatuh ke tanah,
“Hati-hati, serangan gelap!” Teriak Irawan memperingati rekan-rekannya namun hal itu terlambat, perlahan Irawan menoleh kearah semua rekan-rekan, semuanya telah terkena panah beracun di paha dan lengan seperti yang menimpa dirinya.
Irawan meremas kepalanya dengan penuh penyesalan, “Ah! Kenapa bisa begini?” Air mata Irawan menetes dengan sendirinya, ia tahu anak panah yang mengarah pada mereka mengandung racun maut cakar Dondon yang tiada obatnya, Aura putus asa menyelimuti semua Pahlawan Suku Padri.
Bima melihat keponakannya dengan air mata berlinang, “Nak sabar lah! Mungkin kita akan mati disini tapi percayalah ramalan ibumu, suku padri akan berjaya kembali, walaupun kita tidak melihatnya, namun percayalah sang wali tang ramalkan akan segera datang!” Teriaknya memberikan semangat pada rekan-rekannya.
“Demi sang wali!”
“Demi sang wali!”
“Ramalan ibu ya? Ibuku hanya pembual, dia berkata kalau adik sulung akan mampu meramal seperti dirinya, namun adikku malah kehilangan matanya sebelum bisa melihat masa depan, aku tidak percaya dengan bualan ibuku itu, namun demikian aku juga akan memberikan perlawan yang keras terhadap mereka sehingga mereka tahu siapa suku padri ini” gumam Irawan mulai marah.
Irawan menatap para pengepungnya, “Baiklah aku akan bertarung mati-matian dengan kalian!” teriak Irawan segera menghantam udara disaat-saat matanya merabun.
“Palu Terbang Pemecah Udara!”
Phueng!
Hantaman Palu itu membuat puluhan pasukan Iblis merengang nyawa dan membuat pasukan lainnya mulai menjaga jarak dengan 11 Pasukan Suku Padri yang keracunan itu,
Dari kejauhan Toru senyum senang saat melihat semua pemburu Suku Padri telah roboh keracunan dan sebagian basih berdiri terhuyung-huyung akibat racun berat, ia menoleh kearah pasukan Pemburu Iblis pemanah yang siap mengikuti arahan darinya.
__ADS_1
“Mereka telah terkena racun mematikan, tidak dibunuh pun mereka akan mati dengan sendirinya, tapi aku tidak mau melihat mereka berdiri terhuyung-hunyung begitu lama, bidik leher mereka dan akhiri kisah 10 pahlawan suku Padri” Perintah Toru senyum dingin.
“Baik Tuan Toru!” ucap kepala regu pemanah segera memerintahkan anak buahnya untuk membidik kearah leher sebelas orang sekarat untuk menyelesaikan tugas mereka seraya berteriak
“Panah!”
Swas swus swas swus
Anak panah beracun melesat cepat kearah belasan orang suku Padri, namun aneh belasan anak panah itu menghilang di udara tidak ada yang tahu kemana perginya,
“Apa?”
Semua orang terkejut saling pandang termasuk Toru dia segera mengambil busurnya untuk mencoba memanah sendiri.
Swuss..
Anak panah Toru kembali hilang, “Kemana semua anak panah menghilang? Aneh! Anak panah menghilang di udara, apa yang terjadi, ayo panah sekali lagi!”
Perintah Toru pada bawahan dan ia pun mencoba membidik leher Irawan kembali yang terlihat masih berdiri terhuyung-hunyung yang dikepung oleh ratusan pasukan Pemburu Iblis yang terlihat takut mendekatinya.
“Panah!”
Teriak kepala regu pemanah memerintah, serentak semuanya memanah pasukan Suku
Padri namun tidak satu anak panah pun terlihat mengenai irawan ataupun pasukannya.
“Ada apa ini”
Semuanya terlihat kebingungan karena kejadian ini pastilah tidak pernah terjadi sebelumnya, Toru melihatnya dengan perasaan janggal namun kejanggalan itu tidak bertahan lama karena terpecahkan dengan kemunculan dua orang anak kecil secara tiba-tiba dari belakang mereka.
“Apa kalian bingung kenapa anak panah ini tidak mengenai mereka?” Tiba-tiba sebuah pertanyaan terdengar yang dilontarkan seorang anak kecil yang muncul dari arah belakang barisan pemanah.
Sontak semua orang menoleh kearah belakang mereka, dua orang anak kecil terlihat jelas dibawah cahaya bulan, seorang anak laki-laki gembel berusia delapan tahun digenggaman tangan kecilnya terlihat memegang beberapa anak panah yang mereka kenali, raut wajah anak itu senyum gembira seolah ia datang dengan sebuah hadiah, yang satu lagi anak perempuan memakai penutup kepala dan bercadar hanya terlihat cahaya bola mata indahnya di bawah sinar rembulan.
Anak laki-laki itu perlahan memperlihatkan puluhan anak panah pada Toru dan pasukan Pemburu Iblis dengan senyum gembira,
“Turo si Ayam Sayur! Apa anak panah ini milik kalian? Huh?” Tanya Juli senyum, namun Toru dan anak buahnya Justru tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk menjawab pertanyaan Juli.
__ADS_1
Juli perlahan melirik kearah Hana “Kalau begitu, Hana! Kau sembelih yang lain sekarang, biarlah Toru si Ayam Sayur beserta anak ayam sayur ini urusan ku, hehehe karena mereka perlu dibedah hingga otak-otaknya” Juli senyum gembira sambil mengeluarkan pisau runcingnya membuat Toru dan lainnya merasakan ketakutan yang sebenarnya.
**