Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 84. Dua Anak Misterius


__ADS_3

Pangeran menjatuhkan diri berlutut pedang diletakkan di lehernya tatapan mata kosong menatap sepuluh pasukan sekarat yang sedang bertempur mati-matian, aura putus asa mendalam terlihat dari sana.


“Selamat tinggal!” terdengar ucapan putus asa Pangeran ke-dua sembari memenggal lehernya sendiri, di saat bersamaan sebuah tongkat besi melesat cepat menghantam pedang di tangannya hingga jatuh tertancap ke tanah.


“Dasar pangeran bodoh!”


Terdengar suara bocah laki-laki berjalan santai ditemani seorang bocah cantik jelita berpangkat dua perunggu. Bocah itu menyeringai saat melihat seorang berpangkat bintang perak bunuh diri di depan matanya.


“S-Siapa kau? Kenapa kau menghalangiku bunuh diri?” Pangeran ke-dua terlihat takut saat melihat ke arah dua bocah yang berjalan santai ke arahnya, pandangan mata mulai rabun, pangeran menggenggam erat tangannya mempertahankan kesadaran.


Anak itu senyum tipis, “Aku mengerti kecepatan kenaikan pangkat Pangeran Kedua tidak terlepas dari berlimpahnya sumberdaya dan kegigihan dalam berlatih, akan tetapi dalam dunia berkecamuk ini, itu saja tidak cukup, pengalaman dan jiwa kuatlah yang menjadi fondasi dasar keberhasilan hidup ini, terus terang aku malu mendengar seorang pangeran manusia bunuh diri karena kondisi alam yang seperti ini”


Perkataan anak kecil misterius itu terdengar pula oleh sepuluh orang sekarat dalam amukan Beruang Tumbuhan,


“Mundur! Lindungi pangeran!”


Teriak perintah seorang pasukan bertubuh tinggi besar, sehingga mereka berusaha melompat mundur ke arah pangeran ke-dua.


Mereka yakin kemunculan dua anak misterius yang bertahan di alam liar ini bukanlah sesuatu yang perlu diremehkan, apalagi begitu kemunculan anak itu telah menyelamatkan pangeran ke-dua dari bunuh diri.


“Ini bahaya jika lama di biarkan monster itu akan menyerang kemari”


Di sisi lainnya mereka juga tidak bisa mundur terlalu lama karena sedang berusaha keras melumpuhkan Beruang Tumbuhan yang terus menggila, hewan ini sungguh sangat sulit dikalahkan karena dapat menyembuhkan diri secara cepat.


Setelah mundur beberapa langkah para pasukan saling pandang satu sama lain mencari suatu persetujuan, lalu mereka mengangguk memberikan suatu keputusan yang hanya di ketahui oleh mereka sendiri.


“Baik, kami serahkan urusan ini padamu”

__ADS_1


Sembilan pasukan kembali maju mempertahankan posisi agar Beruang Tumbuhan tidak menerobos ke arah Pangeran ke-dua yang kini berlutut melamun frustasi, sementara seorang pasukan bergegas menghampiri dua bocah misterius yang sedang berjalan mendekati Pangeran ke-dua.


Pasukan elit ini terlihat mewakili pasukan lainnya untuk menghadap bocah misterius, dengan cepat ia bertekuk lutuk di hadapan kedua bocah dengan penuh pengharapan dalam keputus-asaannya,


“Para Senior kecil! Saja Jendral Wirma dari Kekaisaran Purba! Terimakasih banyak telah menyelamatkan pangeran kami, harap para senior menyebutkan nama untuk menghilangkan rasa penasaran kami sebelum kami menutup mata”


Pinta seorang Jendral berbadan tegap tinggi besar berlutut penuh hormat dan harap pada dua bocah kecil misterius yang baru muncul.


Dalam lubang hidung Jendral Wirma terlihat keluar tumbuhan parasit yang terus bergerak-gerak hingga menimbulkan kesan tersendiri bagi meraka yang melihatnya.


Anak misterius itu mengambil lima kristal hijau dari balik bajunya dan menyodorkan pada Jendral Wirma, “Jendral! Pecahkan ini menjadi 10 bagian bagaimana pun teknik mu, setelah itu bagikan pada semua pasukan lainnya, dan ingatlah siapa saja yang tidak mendapatkan bagian dia akan mati” Jelas bocah laki-laki itu menyeringai.


Jendral Wirma terbelalak matanya, ‘Apa? Kristal ini? Bukankan ini kristal penyembuh tingkat Dewa yang legendaris? Harganya tidak terhingga dan di kekaisaran hanya ada satu itupun ukurannya lebih kecil dari ini, senior benar-benar bermurah hati, apakah penyakit kami akan sembuh dengan menggunakan kristal ini? Tidak! Ini masih tidak cukup untuk seorang lagi, aku harus berkorban, aku akan memberikan ini pada rekan-rekan lainnya’ batinnya sembari mengambil pemberian anak misterius, dengan sisa-sisa tenaga dalam ia mematahkan kristal-kristal itu menjadi sepuluh bagian dengan sabar.


“Senior! Izinkan aku membagikan kristal ini untuk mereka semua, senior apa yang harus dilakukan dengan kristal ini” tanya Jendral Wirma terlihat bingung, karena biasanya kristal digunakan dengan cara menyerap tapi ia tidak mau mengambil resiko karena salah kaprah dalam penggunaannya.


Anak misterius senyum dan menepuk bahu Jendral Wirma yang bertekuk lutut di depannya, “Jendral! Kau suruh mereka telan, bergegaslah karena waktu kalian tidak banyak, dan serahkan Monster itu padaku”


Jendral Wirma memberi hormatnya, “Ah baik senior saya akan mengingatnya” ucapanya terlihat berat menahan rasa sakit.


Jendral Wirma segera mengehampiri Pangeran Ke-dua untuk memberikan kristal hijau penyembuh, tapi alangkah terkejut Jendral Wirma ketika menyadari Pangeran ke-dua menolak kristal itu mentah-mentah, dan malah menyuruhnya membagi-bagikan kristal itu untuk yang lainnya. Dengan berat hati sambil meneteskan air mata Jendral Wirma harus mematuhi perintah Pangeran ke-dua. Pada dasarnya Jendral Wirma telah berniat untuk membagikan semuanya pada pangeran dan rekan-rekannya.


“Semuanya mundur! Senior Kecil ingin mengambil alih penyerangan mosnter itu” terdengar perintah Jendral Wirma yang membuat semua orang terkejut bukan main, akan tetapi setiap perintah harus selalu diikuti walaupun hati mereka tidak percaya dengan kemampuan anak misterius.


Juli melangkah maju ingin menyerang Beruang Tumbuhan namun sebuah suara lembut menghentikan langkahnya,


“Senior! Serahkan monster ini padaku, karena aku ingin menguji kemampuan tenaga dalam dan teknik ku pada moster ini” Hana melangkah maju melawati Juli untuk mengurus beruang mengerikan dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Juli berdecak kagum, menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ck! Hana! Kelemahan beruang ini ada diantara dua matanya, pastikan kau menyerangnya dengan cepat dan tepat sasaran” Juli kembali berbalik badan menoleh ke arah pangeran yang masih duduk termenung, Juli tidak terlihat mengkhawatirkan Hana semenjak segel tumbuh Hana terbuka tidak seperti sebelumnya.


Di kehidupan sebelumnya Juli telah menjelajahi tempat ini selama 5 tahun lamanya bersama Ziya guna untuk mencari bahan pembuatan pil tingkat tinggi, sampai ia hafal betul setiap kelemahan monster-monster ditempat ini, serta mengetahui kristal apa yang dihasilkan.


Hana senyum mendengar tentang kelemahan Monster yang akan dilawan, "Terimakasih Senior atas informasinya" tanpa mengulur waktu Hana terus melesat cepat menyerang monster itu dengan sepasang pedangnya.


Jenderal Wirma menghampiri sembilan pasukan sekarat yang baru mundur dari pertempuran melawan monster, guna untuk membagi-bagikan kristal hijau yang diperolehnya dari Juli. Jenderal Wirma langsung menyuruh semua pasukan untuk menelan kristal-kristal yang telah diberikan, dan merekapun menaatinya sesuai perintah.


Di sisi lain, Pangeran ke-dua bangkit berdiri berjalan terhuyung-huyung menghampiri Juli,


"Senior, aku sudah merenungkan perkataanmu sebelumnya, dan itu benar, sekarang aku menyadari betapa tidak bergunanya aku di sini" Pangeran ke-dua menjatuhkan diri berlutut di depan Juli sembari memberi hormatnya, dan Juli hanya memandangnya dengan tatapan heran.


Pangeran ke-dua melepaskan cincin di jari tangannya, "Senior! jika Aku mati tolong bawalah pasukanku kembali dengan selamat, aku tidak bisa memberikan apapun untukmu, namun ini ada sedikit tanda mata dari ku sebagai ucapan terima kasih" Pangeran ketua menyodorkan cincin ruang pada Juli dengan penuh harap.


Para pasukan melihat Pangeran ke-dua berlutut dari kejauhan membuat mereka tertarik, mereka segera berlari menghampirinya karena Beruang Tumbuhan pun telah dihadapi oleh Hana. mereka terkejut saat melihat Pangeran ke-dua belutut menyerahkan cincin harta pusaka pada Juli yang baru dikenalnya. Karena bagaimanapun menyerahkan cincin ruang penuh dengan harta pusaka pada orang lain yang baru dikenalnya itu berlebihan.


"Pangeran!"


Panggil mereka serentak, mereka tidak berani mencampuri urusan Pangeran ke-dua tapi mereka pun tidak menginginkan harta pusaka Pangeran jatuh ke tangan yang salah. Juli menyadari itu, dan ia pun tidak tertarik dengan cincin ruang yang ditawarkan.


Pangeran menundukkan kepala dan penuh harap dengan permintaannya. Juli hanya senyum melihat rasa putus asa Pangeran ke-dua dan kekhawatiran pasukannya,


"Simpan saja cincin ruang mu, aku tidak butuh itu semua, mengenai mereka aku akan menyelamatkan semampuku" Juli menoleh ke arah Hana yang sedang menyerang Beruang Tumbuhan sesuai dengan arahannya.


Pangeran ke-dua senyum senang saat mendengar jawaban dari Juli, "Senior ada satu lagi permintaan ku, kuharap senior mau mengabulkannya" pintanya penuh harap.


"Katakanlah!" Suara Juli terdengar lirih

__ADS_1


"Ah! Senior, Izinkan Aku memanggilmu Kakak Tertua sebelum aku mati" pinta Pangeran ke-dua dengan wajah senyum senang menahan rasa sakitnya.


**


__ADS_2