
Setelah melakukan pengejaran terhadap Boman, Juli tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, Boman yang sekarat hanya berlari sekitar 300 meter dari lokasi pertempuran terjadi.
Pada saat Juli menemukan Boman, ia berpikir Juli juga sedang melarikan diri dari para penjahat. Sulit bagi Boman mempercayai kata Juli bahwa musuh telah dikalahkan, apalagi mengingat musuh telah berubah menjadi siluman setelah minum Pil misterius.
Setelah diyakinkan oleh Juli, akhirnya Boman dan Amran kembali ke gebuknya untuk memantau situasi. Sampai di gubuk, Boman dan Amran sangat kaget begitu menyaksikan belasan orang berbaris rapi menjaga Putri Yara yang sedang duduk bersila memulihkan diri.
“Apa-apaan ini? Kenapa mereka masih di sini?” tanya Boman terkejut bukan main.
“Iya Guru! Mereka bahkan terlihat lebih mengerikan daripada sebelumnya, lihatlah guru, tubuh mereka mengeluarkan asap hitam.” setelah berkata demikian Amran langsung berbalik badan melarikan diri masuk ke dalam hutan, yang disusul oleh Boman. Juli sampai kaget melihat tingkah kedua orang ini.
“Aduh! Jangan takut mereka telah menyerah, lihatlah mereka bahkan mau menjaga kakak Yara di sana!” Yuli menunjukkan arah Putri Yara yang dijaga oleh belasan pasukan Cabak Iblis.
Mendengar perkataan Juli, Amran menghentikan langkah kaki sembari menoleh balik ke belakang untuk membuktikan kebenaran.
“Ah benar! Sepertinya mereka memang tidak mengejar kita lagi, guru sepertinya benar apa yang adik ini katakan! Ayo kita cek ulang.” Ajak Amran pada gurunya. Ia meyakini perkataan Juli ada benarnya.
“Kau ini! Yang lari jelas kau, aku cuma mengikutimu saja, dasar bocah, kalau orang dengar perkataanmu ini, seolah akulah yang pengecut dan melarikan diri!” Boman menyalahkan Amran karena tindakan bodohnya melarikan diri.
Juli hanya senyum, pada dasarnya Juli tahu bahwa keduanya takut pada pasukan Cabak Iblis, namun untuk menutupi kegugupannya ia mengkambing hitamkan muridnya.
‘Kalian ini sama saja, sama-sama pengecut!’ batin Juli menutup mulutnya dan senyum terkekeh.
Aura hijau merembes keluar tubuh Yara membuat keadaan alam di sekitar menjadi lebih dingin dari sebelumnya, pangkat di lengannya semula telah disegel oleh Juli agar tidak terlihat, kini perlahan telah muncul kembali.
Pangkat tiga hitam dan titik merah di dalamnya, pangkat yang tidak pernah terlihat di bawah aray kutukan selama ini. Semua orang dapat melihat pangkat gadis yang memiliki kecantikan seorang Dewi.
Wajah Bula Buli bersaudara sangat terkejut, mereka tidak mengira bahwa gadis yang baru saja mereka lawan adalah seorang Dewi.
‘Gila! Dari mana Dewi ini muncul, apa kemunculannya berkaitan dengan naga yang barusan lewat?’pikir Buli, tapi bagaimanapun dia telah terlambat untuk menyadarinya, Karena sekarang mereka telah terkena kutukan Neraka Para Dewa.
Kakek Boman mundur beberapa langkah, pandangannya terfokus pada pangkat di lengan Putri Yara, wajah boman berkeringat, ia benar-benar tidak menduga yang menolongnya ialah seorang Dewi.
“Dee.. Dewi! Maafkan kami yang tidak mengenalimu, maafkan situabangka ini yang jarang keluar dari kubah pelindung Kekaisaran Purba.” Kakek Boman segera memberi hormatnya dan diikuti oleh Amran.
__ADS_1
Pada kenyataannya, di bumi barat tidak ada seorangpun Dewa atau Dewi, dapat dipastikan bahwa Dewi Yara bukan dari kekaisarannya.
Dewi Yara sudah duduk beberapa jam untuk menyerap kristal hijau yang diberikan oleh Juli, ia tidak menduga bahwa kristal hijau ini dapat menyembuhkan tenaga dalamnya dengan sempurna.
‘Kristal apa ini? Di mana aku bisa mendapatkannya, aku tidak menduga bahwa guru benar-benar orang yang sangat misterius, atau mungkinkah dia menciptakannya sendiri, dan itu tidak mustahil mengingat teknik-tekniknya yang luar biasa.’ Batin Putri Yara.
Juli memang tidak ingin menyembuhkan Putri Yara sebelum ia berubah menjadi orang yang berwawasan. Di dunia ini orang tingkat Dewa sekalipun, jika dia tidak bermanfaat bagi umat manusia, maka dia sama saja dengan sampah atau bahkan lebih mengerikan dari itu.
Juli mendidiknya dengan cara yang benar, agar Putri Yara tetap berdiri di sisi manusia, bukan justru memanfaatkan manusia untuk keegoisan diri.
Ketika Putri Yara, sudah sedikit mengerti tentang kehidupan, maka Juli memberi kesempatan untuk menyembuhkan tenaga dalamnya kembali.
“Ah! Akhirnya aku sembuh dengan sempurna, kurasa tidak ada lagi yang perlu ku takutkan di Bumi Barat, dengan kembalinya kekuatanku aku bisa terbang kemanapun yang aku mau!” Putri Yara terlihat sangat bahagia.
Putri Yara melihat Juli duduk santai di depan pintu gebuk, sambil minum teh, wajah imut dan berseri di antara kabut-kabut tipis menyelimutinya.
Dalam sekejap mata Putri Yara telah berada di depan Juli, belum sempat Juli bereaksi, Putri Yara sudah memeluknya dengan erat.
“Terima kasih guru kecil! Aku bahkan tidak bermimpi aku bisa sembuh kembali” Gumamnya pelan.
“Baiklah Guru! Aku akan menurutimu.” Putri merenggangkan pelukannya, Juli kembali duduk seperti semula dengan terbatuk-batuk.
“Sudahlah! Aku sudah berpikir-pikir, aku tidak mau menerimamu sebagai murid, Aku ini masih kecil, kau panggil saja aku senior! Aku tidak mau guruku marah karena aku telah memiliki murid yang lebih tua dariku,” kata Juli mengingatkan.
Putri Yara jadi dilema, “Apa salahku! Ini tidak bisa, bukankah Asoka juga muridmu? Ia bahkan lebih tua dariku”. Putri Yara bersih keras, Dia menjadi semakin frustasi saat mendengar Juli menolaknya sebagai murid.
Juli menyadari itu, “Baiklah begini saja, kau tetap muridku, seperti Asoka, tapi kau panggil lah aku senior, bagaimana? Kalau begitu kan tidak masalah, lagi pula dalam sebuah perguruan orang yang paling pertama menjadi murid seorang guru itu adalah senior walaupun umurnya lebih muda daripada juniornya”. Juli memberi alasan.
Sebenarnya Juli tidak mau dipanggil guru oleh seorang Dewi karena ada alasannya. Karena menjadi Guru seorang Dewi nama Juli akan melambung tinggi, dan akan berdampak buruk bagi penilaian semua orang terhadapnya.
Orang lemah akan enggan mendekati, sementara para siluman iblis akan gencar mencarinya, dan berbagai masalah lainnya yang akan muncul di kemudian hari.
“Baiklah! Aku akan memanggil Guru dengan sebutan tuan saja, kan itu saya kira juga tidak masalah, sama halnya dengan Asoka.” Putri Yara dapat mengerti jalan pikiran gurunya.
__ADS_1
“Baiklah tuan Apa rencanamu selanjutnya?” Putri Yara senyum bahagia kembali setelah beberapa saat sempat muram.
Kakek Boman tidak mengerti apa yang dibicarakan antara Putri Yara dengan Juli, ia pun tidak berani menguping. Dalam pemahaman Boman, Putri Yara bersyukur atas keselamatan Juli dari penyerangan Sekte Cabak Iblis, serta menanyakan keadaannya.
Juli bangkit berdiri, “Sekarang kita ke pelabuhan semenanjung paus, dari sana kita bisa pergi ke Gunung Dawai”.
Juli, Putri Yara, Kakek Boman, dan Amran bergerak menuju ke pelabuhan semenanjung paus, sementara belasan pasukan Cabak Iblis sebelumnya melaksanakan misi pengintaian dalam pergerakan sekte Cabak Iblis.
Perjalanan kali ini Juli tempuh dengan berjalan kaki, karena mengingat Gunung Dawai dengan pelabuhan semenanjung paus tidak berjauhan, selain itu Juli juga ingin melihat keadaan desa di sekitar Gunung Dawai dengan mata kepalanya sendiri, walaupun beberapa kunang-kunang juga ada di wilayah ini.
Dalam perjalanan Juli selalu terlihat murung, hampir setiap desa yang dilewatinya melarat, kehabisan batu siluman, kelaparan, dan berbagai masalah lainnya. Juli tidak pernah melewatkan seorang pun tanpa membantunya.
“Tuan! Jika begini terus kita akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke Gunung Dawai,” Putri Yara melihat Juli yang sangat peduli dengan rakyat, Juli bahkan menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk meracik obat-obatan bagi rakyat yang menderita wabah penyakit.
Juli bahkan tidak segan-segan mengeluarkan banyak sumber daya, untuk menolong mereka tanpa pamrih, seorang dermawan pun akan berpikir puluhan kali untuk melakukannya.
Sebenarnya ini bukan tanggungjawab Juli, tetapi ini semua tanggungjawab dari Raja Kerajaan Embun Barat, beberapa kali Kakek Boman mengingatkan, namun Juli hanya tersenyum hangat.
Kakek Boman sendiri menjadi bingung, dari mana Juli mendapatkan kekayaan sebanyak itu, dan bahkan bisa dikatakan tidak habis-habisnya, apalagi Juli selalu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
‘Tapi bagaimanapun juga, harta-harta seperti itu tidak sepantasnya dibagi-bagikan,' begitulah pemikiran Kakek Boman yang melihat Juli sebagai anak yang ceroboh.
Juli mengerti jalan pikiran Kakek Boman, tapi yang sebenarnya, semua manusia memiliki tanggung jawab terhadap manusia lainnya, apabila kita diberi kemudahan untuk membantu, kenapa kita harus menunggu orang lain untuk turun tangan, yang belum tentu mereka juga mau melakukannya.
“Apakah kita akan membiarkan manusia terus dalam penderitaan dan kesedihan hingga mati, ataukah kita meringankan beban mereka walaupun tidak ada yang mengenangnya”, kalimat ini tergiang ditelinga Juli saat berpergian dengan Guru Amin di kehidupan sebelumnya.
Juli terus membimbing mereka dalam perjalanan, Kakek Boman sendiri menganggap Juli adalah anak yang bodoh dan lugu dalam dunia persilatan sekarang ini, dan belum banyak mengunyah asam garam pahitnya dunia.
Walaupun Juli berbuat sangat baik bagi siapapun dalam perjalanan, Kakek Boman tidak menganjurkan Amran untuk meniru, karena itu akan membawa kemudaratan bagi diri sendiri.
Putri Yara, melihat Juli bukan saja sebagai sosok guru, tapi Juli adalah sosok malaikat pelindung bagi siapapun yang membutuhkan, tidak peduli hujan dan angin menerpa, ia selalu menghibur hati orang-orang yang lara.
Untuk mengikuti jejak sosok guru, Putri Yara tidak yakin mampu melakukan sepanjang hidupnya. Dalam perjalanan ini saja, Juli dan dirinya sudah sangat dekat di hati orang-orang yang ditolong.
__ADS_1
**