Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 131. Tetua Marus dari Sekte Singa Hitam


__ADS_3

Kota Pelabuhan Permata selalu ramai, hiruk-pikuk masyarakat melakukan berbagai aktivitas seakan tidak habis-habisnya, restoran-restoran dan penginapan berjejer di sepanjang jalan, walaupun demikian hampir tidak ada tempat kosong untuk ditempati.


Berbagai simbol Aliran hitam atau pun putih terlihat lalu-lalang di setiap tempat, seolah tidak ada permusuhan di antara mereka, kenyataannya di tempat lain mereka saling mengancam dan membunuh.


Juli beserta rombongannya jalan kaki menuju pelabuhan,  mata semua orang tertuju pada rombongannya, terutama para kaum pria di sepanjang jalan, tatapan mereka bukan terarah pada Juli ataupun pada anggota pria lainnya, tatapan mereka tertuju pada seorang Dewi cantik di antara mereka, yaitu Putri Yara.


Putri Yara terlihat sangat mencolok di antara semua, ia memiliki kecantikan seorang Dewi, berpakaian indah dan mewah menandakan ia bukan dari kalangan menengah ke bawah. Para lelaki jelas tertarik padanya, karena tidak ada seorang pun yang bisa menyaingi kecantikan Putri Yara di kerajaan ini sekali pun. Bahkan banyak orang yang tidak bisa mengedipkan mata saat melihatnya. Akan tetapi yang membuat mereka penasaran, kenapa Gadis secantik ini tidak terkenal, padahal gadis menawan ini jelas dari kalangan atas.


“Dia seorang Dewi Khayangan! Kita harus membawanya pulang untuk istri ketua sekte!”


“Tidak! Dia cocok untuk putra tertua Walikota!”


“Persetan dengan kalian semua! Dia akan ku jadikan istriku!”


Berbagai perseteruan antar pengunjung terdengar di setiap restoran yang dilewati, beberapa orang bahkan rela keluar restoran untuk mengikutinya. Namun baik Putri Yara maupun rombongan seakan tidak peduli dengan pembicaraan mereka.


Putri Yara sendiri sebetulnya agak risi dengan tindakan dan  tatapan semua mata, namun dia telah terbiasa dengan kondisi ini, jika di Bumi Tengah orang yang berani menatapnya dengan tatapan kotor, mereka telah kehilangan mata paling kurangnya. Tapi di sini, tindakan ini tidak bisa dilakukan, sebab gurunya pasti akan melarang. Apalagi semenjak pertama masuk ke Kota Pelabuhan Permata gurunya terlihat sangat serius, bahkan sepanjang perjalanan tidak berbicara sepatah kata pun.


“Guru ada apa?” Telepati Putri Yara ke dalam pikiran Juli, Putri Yara memperhatikan Juli yang diam di sepanjang waktu, ia dapat menduga sesuatu yang tidak beres telah terjadi, karena kepekaan Juli terhadap keadaan sangat tinggi.


Juli terkejut dari lamunan, ia melirik ke arah Putri Yara, “Yara! Kali ini, perjalanan kita tidak semudah kelihatannya, hajat Dewi Siluman telah menyebar ke seluruh aray pelindung Kekaisaran Purba, hajat ini dapat dengan mudah mendeteksi kekuatan manusia di atas tingkat emas, Aku telah menyembunyikan tenaga dalammu sebelumnya, untuk sementara kau tidak usah menggunakannya dulu tenaga dalammu, kecuali sudah terpaksa. Tapi celakanya lagi, Dewi Siluman Iblis telah mengirim ratusan petinggi tingkat dewa ke dalam kubah pelindung, aku juga bisa merasakan puluhan mereka ada di sini! Bahkan masalah ini lebih rumit dari yang ku pikirkan”. Telepati Juli menjelaskan.


Putri Yara terkejut atas informasi ini. “Untuk apa Dewi Siluman melakukan ini? Bukankah dia masih bisa memanen manusia di luar kubah pelindung? Atau kah ada hal lain yang dia incar,” Putri Yara tahu Dewi Siluman Iblis tidak akan melakukan hal bodoh terhadap ternaknya, kecuali sesuatu yang terdesak sedang terjadi.


Juli senyum pahit, “Tentu saja dia mencari keberadaan Putri Mina, aku telah menduga ini akan terjadi, namun aku tidak menduga secepat ini, sekarang aku tahu kenapa mereka menyerang Gunung Dawai, di bawah Kubah Pelindung hanya kekuatan Gunung Dawai yang sanggup mengalahkan Mina, mereka tidak pernah menyangka kalau akulah penyebab semua ini,” telepati Juli dalam pikiran Putri Yara.


Putri Yara melebarkan matanya, “Lagi-lagi aku tidak leluasa di bawah aray terkutuk ini, sepertinya aku benar-benar akan menjadi sampah! baiklah! Aku akan mendengar nasihatmu”. Putri Yara membalas telepati Juli. Wajahnya terlihat sangat kesal, Putri Yara tidak menduga perjalanan kali ini mendapatkan banyak rintangan dan lika-liku yang sangat rumit.


Wajah Juli terlihat buruk, saat mengingat manusia di bawah Aray Pelindung Bumi Barat tidak ada yang mampu menahan invasi skala besar ini. Juli tidak tahu harus mengadu ke mana, hanya atas kehendak Tuhan lah kita sanggup menyelesaikan semua ini.

__ADS_1


Juli terus dalam lamunan hingga tidak terasa sudah sampai di sebuah restoran besar dengan tinggi gedung sampai lima lantai, sebuah pamflet terpasang di depan restoran bertuliskan “Restoran Angsa Langit”,tulisan ini di ukir dengan tinta emas.


Seorang pelayan tua restoran datang menyambut rombongan Juli dengan hangat, beberapa pelayan lainnya juga berdatangan menyusul.


“Selamat datang nona muda, silakan masuk”. Pelayan tua sedikit membungkuk memberi hormat, pelayan tua ini selalu melakukan hal yang sama setiap kali ada tamu yang datang.


Pandangan para pelayan tertuju pada Putri Yara yang terlihat memimpin rombongan, sementara yang lainnya hanya terlihat seperti pengawal saja.


Lie dari semula ia hanya mengikuti rombongan dengan gerobak sapinya, sekarang saat Putri Yara dan rombongan memasuki restoran Angsa Langit, ia pun berpamitan untuk membawa kakek tua ke pusat kesehatan terdekat terlebih dahulu.


Pelayan tua mempersilahkan Putri Yara dan rombongan duduk disebuah meja bundar yang terletak ditengah ruangan. Belum sempat Putri Yara duduk, belasan orang berlambang Singa Hitam datang menghampiri.


“Nona cantik! Kamu boleh duduk, yang lainnya berdiri saja, aku ada sedikit bisnis dengan nona kalian”. Tatapan matanya tajam, hawa pembunuh merembes keluar menekan pelayan tua yang kini mulai ketakutan.


“Maaf tuan Marus! Tapi,, tapi tempat ini untuk rombongan nona ini, dan tuan Marus sudah ada tempat duduknya sendiri!” pelayan tua memberanikan diri berbicara, akan tetapi rasa takutnya jelas terlihat.


Juli senyum pahit, ‘Sampah ini, beraninya mencari gara-gara denganku saat mud ku sedang buruk, Juli mengamati seluruh meja, umumnya mereka berasal dari aliran hitam, lebih dari sepuluh sekte ada di lantai satu, mungkin akan lebih banyak lagi jika berada di lantai lainnya, kalau baru datang membuat keributan,maka tempat ini akan menarik perhatian Siluman Iblis tingkat dewa, maka peperangan akan semakin cepat dari semestinya.’ Batin Juli mulai berpikir keras mencari solusi.


“Pelayan tua, apa kau pikir Kota Teratai Langit benar-benar menguasai tempat ini ya? Perlu kau ketahui saja, kota ini memiliki lima Sekte Pemburu Kegelapan, dan dua sekte aliran putih, mungkin dari segi ahli kami kekurangan tenaga ahli, tapi lihatlah seminggu lagi, apa kalian masih bisa congkak begini!” Setelah berkata demikian Marus beserta bawahannya duduk di kursi, sementara Kakek Boman, Amran dan Juli hanya diam berdiri mengamati keadaan.


Putri Yara marah, akan tetapi ia mencoba menekannya, “Tuan Marus, aku melihat anda dari sekte Singa Hitam, boleh saya tahu maksud anda mengganggu kami?” Putri Yara kembali memanggil pelayan tua untuk memesan makanan empat porsi saja. Pelayan tua segera mencatat sebelum bergegas pergi dengan perasaan takut.


Kakek Boman menjadi tidak selera makan, ketakutan mulai menyelimutinya, ia mengenali Marus dengan baik. Marus salah satu dari lima Tetua Singa Hitam yang terkenal ganas, menyinggung Marus sama saja dengan menyinggung seluruh Sekte Singa Hitam. Apalagi jika mengingat sekte ini salah satu dari tiga sekte besar di Kota Pelabuhan Permata.


Memesan empat porsi saja, jelas Putri Yara menghinanya secara langsung, biarpun Kekek Boman tahu Putri Yara mampu membunuh mereka semua, namun mencari gara-gara dengan sekte ini bukanlah keputusan yang bijak.


“Oh! Gadis manis, kau berencana mengusir kami, tapi tidak masalah! Aku langsung saja ke intinya, Aku mau kau menjadi istriku! Bagaimana?” tawar Marus tiba-tiba hingga membuat semua orang dalam ruangan itu tersendat ludah. Sebagian bahkan ada yang menyemburkan air minum karena kaget atas kenekatan Marus.


Hahahaha

__ADS_1


Suara tawa menggelegar di seluruh ruangan, tentu saja yang tertawa juga berasal dari sekte besar lainnya, sementara sekte menengah ke bawah hanya diam tanpa berani berkomentar.


Putri Yara sendiri memijit kepalanya, “Siapa namamu tadi? Marus! Apa kau selalu begini saat melihat wanita cantik? Bisa kutahu kau dari sekte mana?” Putri Yara menatap Marus dengan tatapan dingin.


Sejenak ruangan menjadi hening, Marus mendekati Putri Yara dengan penuh keangkuhan, “Gadis kecil, kau benar-benar tidak mengenaliku? Atau kau hanya berpura-pura!” Marus melihat Putri Yara dari rambut sampai ujung kaki, seolah ia ingin melahapnya sekaligus.


Putri Yara semakin marah dengan sikap angkuh Marus, ia mengalihkan pandangannya pada Juli, “Bolehkah aku memenggal kepala menyedihkan ini?” Putri Yara menunjuk ke arah kepala Marus, Yara meminta persetujuan.


Juli menghela nafas panjang, “Sepertinya peperangan ini akan semakin cepat!” Juli menatap Marus dingin, “Marus aku ingin menanyakan padamu, apa kau menyayangi nyawamu! Kalau sayang! Enyahlah dari meja ini, sebelum kesabaranku habis!” Juli menatap Marus dengan tatapan sedingin es.


‘Aku tidak menduga nasib Kota Pelabuhan Permata, akan ditentukan oleh si bodoh Marus ini’. Batin Juli mulai senyum gembira.


Hahaha


Seluruh ruangan tertawa menggelegar, mereka tidak mengira marus yang terkenal kejam kini digertak oleh seorang bocah kecil. Sehingga berbagai komentar mulai terdengar dalam ruangan itu.


“Tetua Marus di ancam lagi, hahaha!”


“Kali ini dia benar-benar dipermalukan oleh seorang wanita!”


“Bukan! Bukan hanya wanita, tapi oleh anak-anak! Sepertinya pamor sekte Singa Hitam semakin terpuruk selama ini!”


“Benar! Semenjak mereka ditekan oleh Kota Lembah Teratai Langit mereka bahkan benar-benar kehilangan wajah!”


Mendengar komentar semua orang dalam ruangan itu jelas membuat marus sangat terhina, akan tetapi Marus sendiri saat melihat tatapan Juli yang dingin itu, sungguh membuat tubuhnya bergidik. Ia seolah dilihat oleh hewan buas yang sangat mengerikan, hingga tanpa terasa celananya basah.


“Baaa.. Baiklah! Saat ini kau kulepaskan! Tapi tunggulah sebentar lagi!” Dengan tergagap ia mencoba mengancam Juli.


Dengan lutut gemetar, Marus mengajak seluruh bawahan untuk meninggalkan restoran Angsa Langit dengan perasaan malu. Ratusan orang kembali menertawai serta mengejek sekte Singa Hitam dengan berbagai komentar pedas.

__ADS_1


**


__ADS_2