Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 135. Perompak Sungai


__ADS_3

Setelah pertempuran terjadi ribuan orang berhamburan datang ke lokasi kejadian, mereka tidak menduga bahwa pertempuran singkat telah menghancurkan ratusan bangunan, bahkan bangunan termegah sekalipun seperti restoran Angsa Langit.


Sudah dua jam para bekerja terus menggali, banyak orang tertimbun reruntuhan bangunan, salah satunya reruntuhan restoran Angsa Langit.


Secara garis besar bangunan ini memang terlihat telah menjadi reruntuhan akan tetapi tidak semuanya hancur, sebagian pilar masih bertahan dengan kokoh dan atap-atap masih bergantungan walaupun tidak sempurna seperti sediakala.


Pasukan Lembah Teratai Langit berhasil mengeluarkan seorang anak yang telah pingsan tertimbun runtuhan bersama beberapa pelayan lainnya.


Anak itu masih duduk di atas kursi dan matanya masih tetap melotot tidak bisa terpejamkan, semua pasukan bisa melihat bahwa anak itu dalam keadaan syok berat bahkan setelah jatuh pingsan sekalipun. Mereka menduga anak ini melihat seluruh kejadian, dan bisa dikatakan anak itu adalah saksi utama.


Seorang kepala pasukan berumur 60 tahun bertanggung jawab atas misi penyelamatan ini, dia dikenal sebagai Kapten Mirdad. kapten ini terlihat sangat sibuk lalu lalang mengecek semua korban untuk memastikan keselamatan semua orang.


“Kapten Mirdad lapor! Kami menemukan seorang anak sepertinya dia menyaksikan semua kejadian ini, kurasa dia bisa kita bawa ke tenda pelayanan kesehatan, selanjutnya kita mintai keterangan”


“Banyak korban di sini kenapa kita harus mengambil anak-anak sebagai seorang saksi?” kapten Mirdad penasaran dengan usulan anak buahnya.


Pasukan itu memberikan isyarat kepada rekannya agar membawa anak yang dimaksud untuk menghadap, tanpa berkomentar belasan pasukan langsung membawa anak yang pingsan ke hadapan Mirdad.


Semua orang terkejut saat melihat ekspresi anak itu yang sangat mengerikan, giginya rapat seolah-olah tersenyum, padahal ia sedang menghadapi trauma yang luar biasa. Matanya terpelotot karena takut hingga memerah, detak jantungnya kencang hingga bisa terdengar belasan meter jauhnya.


Kapten Mirdad menggeleng-gelengkan kepala karena iba, “Sepertinya benar kalau anak ini adalah saksi kunci, Baiklah! Obati dia terlebih dahulu, Setelah sembuh kita akan mintai keterangan”. Jelas kapten Mirdad pada bawahannya.


Selang beberapa menit, seorang pasukan kembali membawa seorang kakek lainnya yang telah pingsan bersama seorang anak berumur sepuluh tahun.


“Lapor kapten! Kakek dan anak kecil ini tertancap kepalanya di tanah, dia koma, dan belum sadarkan diri. Apa yang harus saya lakukan”. Pasukan itu kebingungan, karena ekspresi kakek itu juga tidak kalah mengerikan.


“Bagaimana kondisi fisiknya apa dia cacat?”


“Tidak kapten! Menurut pemeriksaan awal, tulang ekor patah, tulang rusuk bengkok-bengkok, dan kepala benjol-benjol, sepertinya kakeknya kena gebuk! Sementara anak ini tulang rusuk patah dan syukur dia masih selamat.” Pasukan melaporkan rinciannya.


“Aduh! Kali ini hampir seribu orang yang terluka, namun untungnya belum ada kabar tewas, baiklah evakuasi mereka semua, jangan lupa beri obat sirup.” kapten Mirdad memijit kepala karena bingung.


Mirdad duduk di atas puing-puing bangunan dekat dengan tenda kesehatan, perasaannya gelisah memikirkan solusi jika suatu saat kejadian ini kembali terjadi.


Juli dan Putri Yara menghampirinya, Juli mengerti kegelisahan Mirdad, karena kalau kejadian ini kembali berulang maka Mirdad sebagai pemimpin pasukan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai kapten yang bertanggung jawab tentu saja ini akan menjadi beban pikiran.


Juli telah memeriksa keadaan lie, kakek Boman dan Amran. Ketiganya tidak terluka parah tapi justru mengalami syok berat.


“Kapten! Di sini ada banyak orang yang terluka, aku memiliki sebagian pil penyembuh, jadi ambil lah!”. Juli menyodorkan sekantong pil kepada kapten Mirdad.

__ADS_1


“Apa ini?”


Kapten Mirdad menerimanya dengan wajah penasaran, ketika membuka bungkusan yang diberikan, Mirdad menjadi kaget dan tidak menduganya bahwa perkataan anak kecil didepannya benar, ia sempat berpikir Juli bercanda, di dalam kantong tidak kurang dari 1000 pil tingkat tiga.


Seorang anak memiliki Pil tingkat tiga sebanyak ini tentulah bukan orang biasa, Pil ini dinamakan Pil Salju, sangat bermanfaat untuk menyembuhkan luka. Pil ini sangat sulit didapatkan, kecuali anak ini memiliki hubungan khusus dengan Asosiasi Dewa Pil Dunia atau Menara Pil Iblis.


“Nak! bisakah saya tahu bagaimana kau memperoleh pil-pil ini?” tanya Mirdad penuh selidik.


Juli hanya senyum, ia tahu bahwa Mirdad mencurigainya karena di dunia ini tidak ada orang yang memiliki pil sebanyak ini dan tentu saja tidak ada yang mempercayai jika ia mengatakan dirinya lah yang membuat semua pil ini, mengingat usianya hanya 8 tahun dan itu jelas sangat mustahil untuk dilakukan, bahkan untuk anak super jenius sekali pun.


“Aku memiliki hubungan dengan Aliansi Dewa Pil Dunia, bisa dikatakan aku memiliki beberapa kerabat di organisasi ini, jadi mereka memberikanku beberapa pil seperti ini untuk berjaga-jaga jika suatu saat aku mengalami luka serius”. Juli meyakinkan, karena dia tahu untuk saat ini hanya Dewa Pil Dunia dan Asosiasi Pil Iblis yang mampu membuat jenis pil ini dalam skala besar.


Mendengar penjelasan Juli tentu kapten Mirdad manggut manggut, memang perkataan Juli masuk akal akan tetapi memberikan pil dalam jumlah ribuan itu perkara lainnya.


Mirdad mengetahui ini janggal, tapi dia segan untuk campur tangan karena bagaimanapun Juli pasti memiliki alasan tersendiri untuk menyembunyikan identitasnya, apalagi sejauh ini Juli membantunya dengan sukarela.


Saat melihat lie, Juli dapat memahami tingkat trauma yang di derita dan tidak akan sembuh hanya dengan pil salju. Juli meminta Kapten Mirdad agar lie diberikan izin untuk dibawa bersamanya.


Mengingat kebaikan Juli tentu saja Kapten Mirdad tidak keberatan dan dia pun menyetujuinya, sementara kakek Boman dan Amran tetap dirawat di bawah perlindungan kapten Mirdad.


Dalam beberapa hari saja, Putri Yara menjadi sangat terkenal di Kota Pelabuhan Permata dan tidak ada lagi orang yang berani mengganggu apalagi melihatnya dengan tatapan kotor, semua orang mulai berbisik-bisik dan mengatakan kelima siluman dapat dikalahkan olehnya, bahkan tidak sedikit saksi mata yang sempat melihat kejadian itu.


Sementara beberapa orang mengatakan hal yang berbeda, mereka dengan jelas melihat anak kecil yang bersama Putri Yara lah yang telah mengalahkan para siluman, anak kecil itu dapat berjalan di udara dan memiliki kekuatan yang sangat misterius, mereka menduga bahwa anak itu tidak lain adalah Wali Agung yang sebenarnya.


**


Setelah Juli berpamitan dengan Kapten Mirdad beberapa hari yang lalu, ia menempuh jalur sungai untuk menuju ke Gunung Dawai.


Perjalanan ini memang membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan terbang menggunakan Tyrannosaurus bersayap, tapi di sisi lain Juli bisa lebih leluasa dalam meracik obat-obatan, membuat berbagai pil dan di setiap waktu luang ia sempat kan diri untuk memperhatikan kehidupan nelayan di sekitar sungai.


Putri Yara tidak jauh dari Juli, karena selama ini ia juga mendapat tugas untuk merawat Lie yang terguncang, tapi sekarang Lie telah kembali normal setelah minum berbagai pil penguat jiwa.


Perahu besar yang ditumpangi Juli mampu menampung ratusan orang, semua orang dikapal ini bergerak ke Gunung Dawai untuk berbagai macam kepentingan, ada yang sekedar beradu nasib sampai ada pula yang ingin menjadi Siriek Bude.


Setelah beberapa hari mengurung diri dan terus membuat berbagai macam Pil di dalam kamarnya, kini Juli ingin menghirup udara segar, dan tempat paling di sukai adalah geladak utama di bagian paling depan kapal.


“Udara di sini sangat segar!”


Juli dapat merasakan kesegaran tidak seperti dalam kamar, harum bunga Pandan Surgawi sangat lekat sampai membuat hati bergelora.

__ADS_1


Juli berdiri santai menikmati pemandangan alam di depan geladak utama di antara puluhan orang lain. Di sini sangat hiruk-pikuk, semua orang berbicara tentang berbagai macam masalah, mulai dari drama kekaisaran sampai rekrutan Siriek Bude dan tidak jarang mereka menyinggung tentang Wali Agung serta berbagai pembicaraan lainnya.


Dari kejauhan terlihat kapal-kapal besar berdatangan ke arahnya, kapal-kapal itu menggunakan bendera tengkorak hitam, begitu kapal itu terlihat semua orang menjadi panik.


“Lihatlah! Itu perompak dari Organisasi Bajak Sungai Darah! Mereka akan mengambil apapun selain kapal, termasuk wanita dan anak-anak.”


“Gawat! Bukan itu saja, mereka bahkan tidak segan-segan untuk membunuh!”


“Kenapa mereka muncul di saat-saat yang tidak tepat, padahal gunung Dawai sedang dalam masalah, tapi mereka terus memanfaatkan situasi, benar-benar manusia serakah!”


“Sebaiknya sebelum mereka datang kemari kita lari saja, mumpung kita masih ada kesempatan untuk berenang ke tepian, jika mereka telah berada di sini maka kemungkinan kecil kita bisa lolos.”


Berbagai kepanikan warga terdengar, sebagai orang malah langsung terjun ke sungai untuk melarikan diri. Hanya tinggal beberapa orang pendekar yang siap bertempur hingga darah penghabisan, Selebihnya hanya gadis-gadis lemah dan anak-anak yang tidak berdaya.


Seorang pendekar muda berusia 20 tahun berpangkat kuning maju ke geladak paling depan untuk memimpin beberapa pasukan lainnya, sorot mata tajam dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.


Juli senyum kagum melihat keberanian pemuda yang hanya berpangkat kuning, saat pandangannya beradu pemuda itu langsung menasehatinya.


“Bocah kecil! Kau mundurlah! Masuk ke dalam kamarmu,kunci pintu serapat mungkin, karena sebentar lagi di sini akan mengalami pertarungan hebat” pendekar muda itu memegang pundak Juli sebelum melangkah maju ke arah geladak paling depan.


Juli hanya tersenyum dan kembali bergabung dengan beberapa anak-anak dan gadis-gadis lainnya yang mulai masuk ke dalam ruang utama kapal. Juli dapat melihat ketakutan semua orang dalam ruangan itu, mereka mulai berdoa untuk keselamatannya.


“Kawan-kawan jangan takut, kita semua akan aman di sini, percayalah kita tidak akan apa-apa, apalagi banyak pendekar di atas sana,” Juli mencoba menghibur mereka.


Seorang gadis belia berumur 18 tahun menggenggam pedang, wajahnya terlihat pucat, walaupun gadis ini tidak memiliki pangkat namun dari cara dia memegang pedang menandakan gadis ini seorang pendekar.


“Semuanya! Kalian dengarlah aba-abaku, berlindunglah padaku jika sesuatu terjadi, oh ya, namaku Wulan.” walaupun Gadis itu ketakutan namun dia memperlihatkan sisi keberaniannya.


Juli dapat melihat mata putus asa gadis belia ini, karena hatinya lembut maka ia ingin mencoba mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang lemah lainnya.


Juli senyum hangat, “Terima kasih kak Wulan, kami pasti akan mendengarkanmu!” Juli mewakili anak lain dalam menjawab peringatan gadis belia ini.


Tiba-tiba seorang gadis cantik jelita muncul dengan sebilah pedang terselip di pinggangnya. ia adalah Putri Yara yang kebetulan lewat saat memeriksa situasi begitu mendengar ribut-ribut di dalam kapal.


“Tuan Apa rencanamu kali ini!” telepati Putri Yara ke dalam pikiran Juli.


Juli senyum, “Dalam kapal itu terdapat dua siluman tingkat dewa, dan aku tidak bisa membiarkan mereka lolos kali ini, kau tetaplah menjaga kapal ini agar tidak tenggelam! Sementara waktu, kita jangan bertindak dulu untuk memancingnya keluar!” telepati Juli menjelaskan.


Saat melihat Putri Yara muncul secara tiba-tiba di belakang Wulan, Wulan kaget dan segera menghunus pedangnya, Putri Yara cepat mengangkat tangan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

__ADS_1


“Semuanya yang ada dalam kapal! Segera menyerah baik-baik! Atau kalian semua akan kami bunuh!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari kapal perompak.


**


__ADS_2