
Di depan pintu gerbang Kota Lembah Iblis.
Dalam kepulan debu yang berterbangan 11 anak malang suku Padri terkapar di tanah, galak tawa pasukan Kerajaan Embun Barat mengisi ruang udara, Hantu Muka Kuning terlihat bangga dengan teknik penyerangannya sampai-sampai ia tidak menyadari seorang anak berusia delapan tahun telah berada didekatnya.
Anak kecil itu bagaikan bayang yang tak terlihat di antara mereka, ia memeriksa nadi anak-anak dan segera melakukan totokan-totokan tenaga dalam guna untuk menghentikan pendarahan.
“Hana! Aku melihat dalam cincin ruang mu ada Air Salju Dewa tingkat enam, bolehkah kau meminjamkan itu padaku? Kelak aku akan membayarnya” suara Juli terdengar pada telinga Hana yang masih berjarak 50 meter darinya.
Suara Hana dari kejauhan terdengar, “Tidak apa-apa, senior tidak berhutang apapun padaku”
Hana segera mengeluarkan sebuah botol indah yang berisi cairan hijau di dalamnya, “Senior! Apa mereka baik-baik saja?” Hana sangat khawatir segera mempercepat larinya.
Wusss
Botol Air Salju Dewa langsung hilang di tangan Hana, suara Juli kembali terdengar di telinganya,
“Nuryin sangat kritis detak jantungnya hampir menghilang, otaknya telah mati rasa, sementara anak-anak yang lain mengalami luka serius! Untuk itu aku harus menggunakan Air Salju Dewa ini untuk menyembuhkan mereka secepat mungkin, sekarang aku akan menempatkan mereka dalam Kristal Kehidupan, tubuh mereka akan beregenerasi dalam beberapa menit, setelah mereka sembuh total kristal kehidupan ini juga akan meledak dengan sendirinya” suara Juli terdengar jelas di telinga Hana.
"Apa yang terjadi?"
Hantu Muka Merah dan pasukan lainnya terkejut saat melihat jasad-jasad anak-anak dalam kepulan debu menghilang dan tergantikan dengan kristal hijau yang terletak persis di posisi mereka sebelumnya.
“Kemana anak-anak kurus itu?”
“Apa? Apa anak-anak setelah mati berubah menjadi kristal hijau?”
Hantu Muka Kuning menjadi penasaran dengan perkataan pasukan lainnya, sehingga dia menoleh kearah anak-anak, tiba-tiba semua tempat tergeletak anak-anak sekarang telah tergantikan dengan permata hijau.
Hantu Wajah Kuning semakin terbelalak saat menyadari di antara kristal hijau ada seorang anak gembel sedang jongkok meletakkan kristal itu perlahan keatas tanah, kehadiran anak kecil itu di sana tidak terdeteksi sama sekali oleh mereka semua.
“Bocah sialan! Apa ini? Sejak kapan kau ada di situ?” tanya Hantu Muka Kuning kaget hal itu menarik perhatian semua pasukan Kerajaan Embun Barat yang juga merasakan hal yang sama.
“Apa? Apaan anak gembel itu?”
“Iya, kapan dia menyusup ke sana?”
"Aku juga tidak tahu"
Semua orang menjadi kaget apa lagi melihat anak kecil itu terlihat tidak terlihat menakuti mereka sama sekali, Hantu Muka Kuning segera menghunus pedang ke leher Juli yang sedang bangkit berdiri.
Hantu Muka Kuning senyum dingin, “Bocah! Katakan siapa nama mu sebelum kepala terpisah dari tubuh menyedihkan mu ini” suara berat itu terdengar mengancaman sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Juli.
Juli menatap Hantu Muka Kuning dengan tatapan bodohnya, “Apa kau sejenis dengan Hantu Wajah Putih?"
Juli sedikit menggerakkan kepalanya menjenguk ke arah pangkat Hantu Wajah Kuning, “Oh! Kau sudah berpangkat perak ya? Apa kau pikir dengan pangkat seperti ini bisa menakuti anak kecil seperti aku, huh?” Juli menatap wajah Hantu Muka Kuning dengan tatapan bingung.
HAHAHA HAHAHA
Gemuruh tawa kembali terdengar di barisan pasukan, Hantu Muka Merah juga tertawa-tawa mereka sangat senang melihat anak bodoh yang masih bernyali besar saat pedang sudah diletakkan pada batang lehernya.
__ADS_1
“Hahaha, Aku tidak tahu anak ini gila atau bodoh!”
“Iya, Soalnya pedang hampir memenggal kepala menyedihkan itu, tapi dia masih saja tidak menyadarinya”
“Itulah aku suka di tempat ini, di tempat ini banyak anak-anak yang sangat nekat, mereka bahkan tidak tahu maut di depan matanya, hahaha”
"Anak ini sungguh menarik” Hantu Muka Kuning melihat keberanian Juli yang langka dijumpai membuatnya ingin sekali mempermainkan Juli seperti yang telah dilakukan pada anak-anak suku Padri sebelumnya,
Hantu Muka Kuning menarik pedang dari leher Juli perlahan semberi menoleh kearah kereta kuda. Hantu Muka Kuning bertekuk lutut memberi hormatnya ke arah kereta kuda,
“Pangeran Kesembilan, bolehkah aku memberikan sedikit hiburan pada Pangeran dan Selir Wie?” tanyanya penuh hormat.
Suara wanita bersuara lembut terdengar, “Ahay! Hantu Muka Kuning, kau tidak pernah jenuh menghibur kami, buatlah kami terhibur kembali” suara perempuan dari dalam kereta terdengar lagi bermanja-manja.
“Mantap bos! Bos Hantu Kuning, ayo seperti biasa pura-pura kalah dulu!”
“Hantu! Tahan dulu tiga pukulan darinya, Hahaha”
“Bos Hantu Kuning suruh pukul burung mu dulu biar mereka bersemangat, Hahaha”
Berbagai canda tawa pasukan terdengar, Hantu Muka Kuning memang memakai celana baja sehingga sering mengerjai anak-anak dengan tiga pukulan dan anak-anak akan mencari titik lemahnya sehingga anak-anak sering terjebak karenanya.
Hantu Muka Kuning senyum licik, “Bocah! Kau tinju aku dimanapun yang kamu suka, hahaha” tawa Hantu Muka Kuning penasaran bagaimana muka bodoh Juli mengerang kesakitan setelah meninju tubuhnya yang penuh metal itu.
Juli menunjuk ke arah hidung kecilnya, “Kau menyuruh ku memukul mu? Apa ibumu belum cukup menghajar mu? Baiklah aku akan memukul di perut mu saja, walaupun kau memakai zirah perak aku ingin lihat mana lebih keras dengan tinju ku” Juli memberikan isyarat agar Hantu Muka Kuning sedikit membungkuk padanya.
Hantu Muka Kuning penasaran, “Kenapa aku harus membungkuk? Harusnya kau berusaha memukulku dengan cara meloncat atau apapunlah seperti teman gembel mu sebelumnya” jelasnya penasaran.
HAHAHA
“Hahaha, Hantu Muka Kuning apa yang ku pikirkan, biarlah anak itu menojok dada mu, menunduk saja sedikit kenapa?” kata Hantu Muka Merah diiringi dengan tawa pasukan lainnya.
“Apa Hantu Muka Kuning takut di tojok dadanya ya?”
“Kurasa kelemahannya juga di sana, jangan-jangan dia banci pula, hahaha”
Mendengar ocehan pasukan lainnya Hantu Muka Kuning menjadi sangat marah bercampur malu, ia cepat membungkuk dan melebarkan kaki sedikit agar tubuhnya rendah,
“Bocah! Apa begini sudah sampai tanganmu? Hahaha?”
Juli senyum, “Itu sudah pas!” dengan cepat ia mengubah bentuk tinju menjadi tusukan dua jari dan menyerang cepat ke arah dua bola mata Hantu Muka Kuning sebelum dia sempat mengedip.
Wuss.. Bruuukk
“Aaakkhh.. Aaaakkkhh…” Teriak kesakitan Hantu Muka Kuning terpental jauh jatuh terguling-guling di tanah ia terus meronta-ronta menutup matanya.
HAHAHA
Gemuruh tawa terdengar dari pasukan itu, mereka tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Juli tergadap Hantu Muka Kuning, akan tetapi mereka meyakini kejadian itu sudah sering dilakukan oleh Hantu Muka Kuning yang selalu pura-pura kesakitan.
__ADS_1
“Hahaha, Hantu Muka Kuning selalu terlihat serius memperagakannya”
“Iya! Dia sangat pandai menipu lawan, lihatlah anak itu kebingungan sekarang?”
“Iya, Hahaha, dia selalu begitu sebelum mambunuh mangsanya”
“Lihatlah anak kecil bodoh itu dia malah tidak tau nyawanya sedang berada di ujung tanduk”
Ucapan setengah bisik-bisik pasukan terdengar, Juli memperhatikan kedua jarinya yang mengeluarkan asap hitam dan tidak berlumuran darah sedikitpun.
‘Mn.. Sudah dua hantu menjadi bayangan kegelapan ku, ini tidak buruk mengingat aku belum memiliki kekuatan yang madai di sini’ batin Juli senyum.
Hantu Muka Kuning terus meronta-ronta matanya mulai mengeluarkan asap hitam di sela jari-jari yang menutupi matanya,
"Asap hitam?"
Melihat keanehan itu semua pasukan terdiam karena penasaran, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Hantu Muka Kuning namun itu kelihatannya sudah bukan candaan lagi.
Hantu muka merah menatap Juli dengan tatapan tajam, “Bocah! yang kau lakukan padanya?”
Hantu Muka Merah megangkat tangannya memberikan isyarat pada bawahannya untuk memeriksa Hantu Muka Kuning, beberapa bawahannya segera menuruni kuda dan berlarian mengikuti perintah.
Juli senyum gembira, “Hantu Merah! Aku baru saja menusuk mata hantu bodoh itu, dan rasanya membutakan kalian sungguh mengembirakan” Juli melihat dua jarinya yang telah berasap-asap hitam.
Beberapa pasukan yang telah memeriksa Hantu Muka Kuning juga memberi laporan, “Tuan Hantu Merah! Hantu Kuning telah buta matanya sepertinya ditusuk pakai jari”
Hantu Muka Merah naik pitam, ia terlihat sangat murka, “Cepat penggal anak itu! Jangan biarkan dia hidup!” Teriaknya hingga terdengar sampai ke barisan paling belakang.
“Baik!”
“Baik!”
Dua pasukan secara bersamaan memacu kudanya kearah Juli disertai tebasan pedang dahsyat, "mampus kau bocah!" teriak salah satu pasukan menebas Juli tepat di lehernya.
Wuss
Juli terlihat tidak bergeser dari tempatnya namun tebasan itu juga tidak mengenai lehernya sama sekali, tapi justru kedua pasukan penebasnya terlihat huyung-huyung di atas kudanya dan tidak lama kemudian kedua pasukan itu jatuh terkulai ke tanah.
Brukk! bruk!
Semua pasukan saling pandang mereka tidak tahu apa yang terjadi pada dua pasukan yang terjatuh secara tiba-tiba di atas kudanya setelah menyerang Juli,
Keterkejutan itu juga dirasakan oleh Hantu Muka Merah karena kejadian itu tepat terjadi di depan matanya.
"Apa yang terjadi? Siapa kau bocah? Apa yang kau lakukan pada dua pasukan ku tadi?"
Juli menyeringai melihat ke arah Hantu Muka Merah yang kini telah memasang wajah penasaran, "Hantu Merah! Kau terlalu banyak tanya, majulah kalian semua sekaligus, tadi aku hanya memberinya dua lemparan batu kerikil saja, Apa kau tidak melihatnya?"
Juli kembali mengambil beberapa kerikil dari tanah dengan santai, kerikil-kerikil itu ketika berada di tangannya langsung mengeluarkan asap hitam,
__ADS_1
"Mempermainkan orang-orang bodoh seperti kalian sungguh sangat menyenangkan, hahaha"
**