
Kini seluruh pasukan memperlihatkan dukungan penuh mereka terhadap Juli. Menyadari kejadian ini, empat pemimpin sekte Cabak Iblis menjadi sangat murka.
Hanya Bajok yang terlihat senyum senang, dan ia tahu apa yang dipikirkan keempat kawannya.
“Sudahlah biarkan saja! Kalian tidak usah khawatir! Aku akan memperlihatkan pada mereka bagaimana orang yang mereka kagumi terbunuh begitu saja ditangan kita, hahaha”.
Bajok orang yang sangat licik, ia sengaja memberikan harapan ini pada mereka dan kemudian di musnahkan, agar pasukannya tahu, bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa menolong mereka dari tangan Bajok.
Juli melihat pedang tingkat perang di tangannya, “Ini pusaka keluarga ya? Sungguh sangat menyedihkan, aku tahu bahwa di tempat ini sangat sulit untuk menemukan senjata yang bagus, mungkin ini bisa dikatakan pusaka keluarga, aku merasa iba pada mereka”, batin Juli merasa kasihan.
Pandangan Juli menyapu ribuan orang yang berada dihadapannya, wajah mereka menyimpan sejuta pengharapan, terlihat kesedihan yang mendalam yang bahkan bisa dirasakan oleh Juli. Kesedihan orang-orang putus asa, dan mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Sejenak Juli mengenang masa kehidupan sebelumnya, ‘Dahulu mereka dibantai, sampai mayat mereka membusuk di berbagai tempat. Bumi Barat! Ya, di bumi barat, Aku melihat jasad-jasad orang miskin bergelimpangan, bayi-bayi kecil yang ditinggalkan oleh ibunya seorang diri, mereka mati dalam kelaparan, atau mereka mati karena ketiadaan batu siluman. Hari ini, di depan mataku, aku melihat ribuan orang putus asa, dan mereka tak tahu harus ke mana, ini semua menjadi tanggungjawab ku, tanggungjawab seorang kaisar langit dan bumi.” Juli meneteskan air matanya.
Melihat Juli meneteskan air mata, semua pasukan menjadi terharu, dalam ketidakberdayaannya untuk membantu.
‘Anak malang! Maafkan kami, karena kami pun harus melindungi yang lainnya, seperti dirimu yang ingin melindungi kami.' Gumam seorang kakek tua yang juga larut dalam kesedihan.
Dewi Cabak Iblis murka, dia ingin mengakhiri pertarungan yang menyita banyak waktunya. Ia merasa semakin lama berlarut-larut semakin membuat dirinya dirugikan.
“Adik kecil! Kau telah memiliki pedang, sekarang mohon untuk sedikit mengalah kepada kakakmu ini”. Tatapan mata Dewi Cabak Iblis kali ini sedikit berbeda.
Dewi Cabak Iblis mengeluarkan aura pembunuh yang sangat pekat untuk menekan pergerakan Juli yang terkenal lincah.
Tebasan Para iblis!
Dewi Cabak Iblis bergerak cepat menebas udara beberapa kali, tebasan ini lebih dahsyat dari sebelumnya.
Swas Swus Swas Swus.
Semua mata terpana. Dengan kemampuan yang diperlihatkan oleh Dewi Cabak Iblis, pertarungan ini bukan lagi pertarungan biasa.
“Ini berbahaya! Mundur!”
Semua pasukan terpukul mundur beberapa langkah karena tekanan energi pedangnya.
Dalam gempulan debu yang membumbung tinggi, Juli bisa mengelak dengan mudah setiap tebasan. tapi kali ini sedikit berbeda, Juli tanpa menggunakan tenagadalam bergerak maju diantara kepulan debu yang berterbangan.
Traaaang.
Pedang kembali beradu, semua mata terbelalak, mereka tidak mengira bahwa Juli bisa berhasil selamat dari serangan mematikan, dan kini malah Juli berhasil menyerang balik Dewi Cabak Iblis.
“Apa! Dia berhasil menghindar dari belasan tebasan energi pedang milik Dewi Cabak Iblis, ini mustahil!.”
“Benar! lihatlah! Iya bahkan mati-matian mencoba menyerang balik dalam kepulan debu, ini sungguh menakjubkan!”
“Benar! Benar! Semangat anak ini sungguh berapi-api, Aku yakin dia akan menjadi pendekar besar dimasa depan kalau dia berhasil bertahan hari ini!”
“Dia tidak akan mungkin berhasil, karena lawannya adalah Dewi Cabak Iblis! Tingkat anak inipun jauh berbeda bila dibandingkan dengan Dewi Cabak Iblis yang sekarang berada ditingkat emas, sementara dia hanya tingkat dasar saja, akan tetapi Aku benar-benar kagum padanya, sampai sekarang ia masih bisa bertahan.”
Berbagai kekaguman terdengar dari mulut pasukan Cabak Iblis, mereka dapat melihat kegigihan Juli dalam bertarung habis-habisan melawan Dewi Cabak Iblis.
Pergerakan Juli sangat cepat dalam menghindar berbagai serangan mematikan dari Dewi Cabak Iblis. Juli juga tidak menggunakan tenagadalam sedikitpun dalam pertarungan ini. Hal ini tentu membuat Bajok semakin penasaran.
“Bagaimana bocah kecil ini bisa menguasai teknik-teknik yang begitu sulit untuk dipahami, ia bahkan bisa menghindari jurus-jurus rahasia Dewi Cabak Iblis, tapi bagaimanapun anak ini tidak akan bisa bertahan lama, karena lambat laun tenaganya akan habis juga.”
Morgan, dari pertama terus mengamati pergerakan Juli dengan seksama, ia sesekali berdecak kagum saat melihat keahlian Juli dalam menghindari serangan dan menyerang.
“Ck! anak ini sungguh berbahaya jika dibiarkan hidup, nalurinya sangat tinggi dalam menyerang dan bertahan, ini bisa dikatakan bakat alami seorang anak”. Decakan kagum terus terdengar, padahal selama ini Morgan tidak pernah memuji siapapun,termasuk Bajok sendiri selaku pimpinan.
Saat ini, yang paling terkejut dari semua orang adalah Dewi Cabak Iblis itu sendiri, dia telah bertarung mati-matian menggunakan teknik-teknik terlarangnya mencoba menyerang Juli sekuat tenaga, namun, Juli selalu berhasil menghindar, dan bahkan beberapa kali Juli berhasil melabuhkan serangan atas Dewi Cabak Iblis.
“Bangsat! Beraninya kau menebasku!” teriak kaget Dewi Cabak Iblis saat ditebas oleh Juli di wajahnya.
Juli senyum, “Maafkan aku kakak yang baik! Aku tidak bermaksud menebas wajahmu, namun, aku tidak memiliki pilihan lain, karena kakak menyerang ku dengan dahsyat, jadi aku hanya asal menebas saja.” Juli masih sempat membela diri dalam pertarungan sengit itu.
Dewi Cabak Iblis semakin menggila, “Sekarang rasakan teknik terhebat ku!”.
__ADS_1
Tebasan Pedang Iblis Laksa!
Swas Swus Swas Swus.
Ribuan tebasan memenuhi udara yang dapat menimbulkan energi pedang yang dahsyat.
Bajok beserta tiga pemimpin lainnya melompat mundur beberapa langkah, untuk menghindari efek serangan itu.
“Mundur! Dewi Cabak Iblis telah menggila!”
Wajah pucat menyapu seluruh pasukan, kini mereka benar-benar kehilangan harapan terhadap keselamatan Juli dalam serangan terakhir ini.
“Anak yang sangat berbakat, seumur hidup aku belum pernah melihatnya”.
Kini kekaguman mereka terhadap perjuangan Juli tertanam hebat di hati mereka masing-masing.
“Tidak! Anak ini sudah tidak ada harapan untuk selamat! Energi pedang ini sangat brutal puluhan kali lebih brutal dari tebasan angin sebelumnya!”
“Ini tidak mungkin! Aku masih berharap anak itu bisa selamat!”
“Benar! kalau dia bisa selamat, aku bersumpah akan menjadi pengikut setianya sampai mati!”
“Benar aku juga, anak ini telah bersusah payah memperjuangkan nasib kita, aku tidak sampai hati meninggalkan anak ini mati sendirian disini! Bagaimanapun, anak ini mati karena membela kita.”
“Aku sampai meneteskan air mata saat melihat perjuangannya, dan aku malu pada diriku sendiri saat melihat tekadnya!”
Ribuan komentar senada terdengar dari pasukan Cabak Iblis, kini tatapan mereka fokus pada tempat pertarungan Juli sebelumnya, dan menunggu kepulan debu menipis untuk melihat hasil.
Jantung mereka berdetak hebat, seolah mereka sedang melihat anak mereka sendiri sedang bertarung memperjuangkan nasib mereka.
Kepulan asap telah menipis menyisakan seorang anak yang berdiri tegak dengan badan penuh luka tebasan, darah segar keluar di sekujur tubuhnya.
Juli berusaha menegakkan tubuh dengan sebilah pedang di tangannya. Matanya menatap langit, dan meraung sejadi-jadinya.
“Bagaimanapun aku akan melepaskan mereka dari belenggu! Akan ku korbankan nyawaku yang tak berharga ini, aku akan mengalahkanmu! Bagaimanapun caranya, aku harus menang! Aku harus membebaskan kakek-kakek dan paman-pamanku semua dari cengkraman kalian! Anak-anak mereka telah menunggu kepulangannya, aku akan berjuang sekuat tenagaku.” Teriak Juli melengking-lengking dan mengaung ke udara layaknya seekor singa yang kehilangan anak.
“Ba.. Bagaimana kamu bisa masih bisa selamat!”
Keterkejutan bukan hanya dialami oleh Dewi Cabak Iblis, tapi oleh semua petinggi yang berada di sana.
“Ini tidak masuk akal! Bagaimana anak itu bisa bertahan! Apakah karena pedang pusaka yang ada di tangannya?”
“Aku rasa demikian, lihatlah pedang pusakanya juga ikut retak, aku rasa, itu akibat menangkis energi pedang, lagi pula tubuhnya telah penuh dengan tebasan, kurasa dia akan mati sendiri karena banyak kehilangan darah.”
Dewi Cabak Iblis sendiri menjadi terengah-engah kehabisan tenagadalam, ia merasakan tenaganya terkuras habis saat menggunakan teknik terakhirnya.
“Sial! Kenapa bocah ini bisa membuatku terpuruk begini”. Gumamnya lemas.
Dewi Cabak Iblis merasa seluruh tubuhnya kaku, tapi ia tidak mungkin menunjukkan kelemahannya di depan semua orang.
“Tunggulah! Kakak baik, kita belum selesai!”. Juli perlahan berjalan ke arah Dewi Cabak Iblis dengan semangat juang tinggi.
“Kakak! Lihat serangan!”
Juli menerjang maju dengan cepat, kakinya mengamuk menendang tanah, menyerang Dewi Cabak Iblis dengan pedang retak ditangannya.
Melihat semangat Juli yang menggebu-gebu, Dewi Cabak Iblis menelan ludah, dari sisa-sisa tenaganya ia mencoba bertahan dari setiap serangan yang datang.
“Bocah sialan! Beraninya kau menyerang ku!” teriak Dewi Cabak Iblis mulai frustasi.
“Kakak yang baik! Lihat serangan!”
Juli terus memutar pedang dan melakukan serangan-serangan mematikan, dalam beberapa gerakan saja Dewi Cabak Iblis mendapat belasan tebasan darinya.
“Kurang ajar! Beraninya kau menebasku, akan ku bunuh kau!” Dewi Cabak Iblis bergerak mundur ke arah empat pemimpin lainnya dengan wajah marah.
“Apa yang kalian tunggu! Bantulah aku untuk membunuhnya!” teriak Dewi Cabak Iblis meminta bantuan pada rekan-rekannya.
__ADS_1
Melihat kejadian ini, semua pasukan menjadi marah, mereka tidak mengira Dewi Cabak Iblis bisa serendah itu. Dia jelas-jelas kalah, kini dia berusaha untuk memusnahkan Juli dengan meminta bantuan tenaga lainnya.
“Baiklah! Serahkan padaku!”
Pada saat yang sama, Iblis Terbang langsung mencabut pedang dan menyerang Juli secara membabi buta. Juli yang telah tidak sanggup berdiri berusaha menangkis dengan terhuyung-huyung, hingga membakar semua amarah pasukan Cabak Iblis.
“Dasar pengecut! Beraninya kalian melawan anak yang sudah terluka! Aku Iriansyah! Hari ini akan melawan kalian sampai mati, semuanya! Lindungi pahlawan kecil kita!” teriak seorang kakek tua dengan wajah marah,
Dengan tubuh tua dia bergerak maju mencoba melindungi Juli dari serangan Iblis Terbang.
Trang!
Tongkat kakek tua beradu dengan pedang hingga kakek itu terpental jauh memuntahkan darah segar.
“Tua bangka Iriansyah! Hari ini aku akan memenggal kepalamu!”. Teriak Si Raja iblis Terbang melesat cepat menyerang kakek tua yang telah jatuh di tanah.
Campur tangan kakek Iriansyah, membuat Raja Iblis Terbang murka, dan mencoba menghabisi kakek Iriansyah terlebih dahulu.
Melihat Raja Iblis Terbang bergerak menyerang kakek Iriansyah, Juli kembali bangkit dengan cepat menebas punggung Raja Iblis Terbang, hingga pedang retak yang digunakan Juli sebelumnya hancur berantakan.
“Aaak!”
Teriak kesakitan Raja Iblis Terbang, Sebelum terpental beberapa meter jauh dengan luka tebasan di punggungnya.
“Bocah Bangsaaat! Akan ku habisi kau!”. Teriak marah Bajok.
Bajok bergegas memacu singa kearah Juli dengan kecepatan tinggi sembari mengambil kapak besar di punggungnya.
Tatapan mata bringas, bajok melompat tinggi berjungkir balik di udara dan mendarat dengan bacokan kapak kearah Juli yang sedang terhuyung-huyung.
“Ilmu Kapak pembelah Batu!” Teriak Bajok disertai bacokan kapaknya.
Juli menjatuhkan diri kesamping, sehingga bacokan Bajok hanya mengenai tanah bekas pijakan Juli saja.
“Bocah! Bagaimanapun, ilmu menghindarimu sangat bagus, dari mana kau mempelajarinya?” Bajok bertanya saat membacok dan menebas Juli secara membabi-buta.
“Lihatlah! Si Bajok pengecut itu, dia menyerang seorang bocah yang bahkan tidak mampu lagi berdiri! Aliran hitam memang tidak tahu malu!”. Teriak murka pasukan Cabak Iblis.
Semua Orang terkejut begitu mereka menyadari Bajok telah bergabung dalam pertarungan, semua orang bangkit dengan semangat membara.
“Tidak! Jangan biarkan Bajok membunuh Pahlawan Kecil!”.
“Lindungi pahlawan kecil!”.
Sontak semua orang menyerang Bajok secara bersama. Mendapat serangan dari ribuan orang, lima pemimpin Sekte Cabak Iblis menjadi dilema.
“Kurang ajar! Akan ku bantai kalian semua!”
Mereka tidak mengira kalau seluruh pasukan berkhianat hari ini, dalam serangan Bajok terus melontarkan kata-kata ancaman, namun kali ini tidak ada yang mendengarkan.
Juli kembali diserang oleh Si Raja Iblis Terbang, dalam keadaan terhuyung-huyung Juli terus menghindar dan menyerang sesekali, keadaannya terlihat mengenaskan. Melihat Juli dalam bahaya, beberapa orang berteriak marah memecah udara.
“Tegakkan tubuh Pahlawan Kecil! Jangan biarkan dia jatuh!”
Dua orang berlari kencang ke arah Juli untuk menegakkan tubuhnya kembali, Juli senyum bahagia. Secara tidak sadar mereka telah menjadikan Juli sebagai symbol perlawanan hari ini.
“Akhirnya! aku berhasil mendesak kelima pemimpin Sekte Cabak Iblis, dan berhasil pula membangkitkan semangat juang rakyat jelata! Inilah yang kuinginkan, walaupun aku harus menerima sedikit luka karena tebasan pedangku sendiri, hehehe.' batin Juli mulai menjatuhkan diri ke tanah karena lelah.
“Pahlawan kecil!”
“Pahlawan kecil!”
Ratusan orang kini berdatangan menghampiri Juli, dengan penuh kekhawatiran yang mendalam, sementara Juli kembali senyum bahagia.
“Ini Belum Berakhir!” Gumam Juli pelan.
**
__ADS_1