Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 120. Juli Vs Dewi Cabak Iblis


__ADS_3

Jecki terpana saat memasuki kota singa, ia tidak menduga bahwa kota ini telah menjadi kota indah dalam beberapa hari. Kemajuan Kota Singa Selatan memang tidak sebanding dengan Kota Lembah Teratai Langit tapi juga tidak jauh dari itu.


“Ah! Dewi cantik khayangan, kecantikanmu tidak bisa ku lukiskan dengan kata-kata, Dewi cantik maukah kau menikah dengan ku, kalau mau,aku berjanji akan menceraikan istri-istriku lainnya.”


Begitu Jecki melihat Putri Yara yang cantik jelita berdiri dekat pintu portal, ia segera mengeluarkan kata-kata gombalnya. Jika saja Jecki bukan seorang utusan, mungkin Putri Yara tidak akan berpikir dua kali untuk membunuhnya.


Di Bumi Tengah sekalipun, tidak ada manusia setingkat Jecki yang berani mengangkat wajah dihadapannya, tapi di Bumi Barat orang setingkat Jecki malah berani bersikap padanya.


Hanya Ade yang terlihat tidak begitu peduli dengan sikap tamunya ini, dan ia segera mengajak Jecki untuk memasuki Pintu Portal Menara Utama yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang kota.


Jecki terlihat kagum dengan kota yang baru dibangun ini, bentuk bangunan lebih indah dan teratur, tembok-tembok kokoh sulit dihancurkan bahkan dengan pendobrak tembok sekalipun.


“Aku kagum dengan Kota baru ini, siapa yang membangunnya?apa nona cantik ini!” Jacki terus memandang Putri Yara, yang terlihat hampir sebaya dengannya.


Putri Yara senyum dingin, “Siapa namamu tadi? Jacki!” Putri Yara menggaruk dagu seolah sedang mengingat-ingat, padahal gadis ini bisa mengingat segala sesuatu dengan sekali dengar.


“Oh! Iya Jecki, katakan pada kami apa pesan dari walikotamu, dan kami akan menilainya nanti!” Putri Yara terlihat tidak senang dengan sikap yang ditunjukkan Jecki sebelumnya.


Jecki terlihat ceplas-ceplos dari pertama pertemuan Jecki bahkan tidak memberikan hormat pada siapapun, dan cenderung merayu gombal.


“Ah! Begini sayang, sebenarnya pasukan itu hanya rakyat biasa yang terpaksa memerangi Kota Singa ini untuk melihat tingkat kekuatan kalian saja, sementara kekuatan pasukan Cabak Iblis bukanlah setingkat ini.” Jecki menjelaskan.


Ade terlihat kebingungan dan tidak tahu harus bersikap, Putri Yara berpikir sejenak dan dia dapat menduga keinginan dari Walikota Lembah Teratai Langit.


“Jadi walikotamu meminta kami agar tidak membunuh mereka, Jacki! Kau lihatlah, disini hanya seratus orang yang sedikit lebih kuat, kami tidak bisa melumpuhkan ribuan orang tanpa membunuhnya, lagi pula kami juga perlu perlindungan, kurasa, walikotamu itu ceroboh! Seharusnya dia mengirimkan pasukannya kemari untuk membantu melaksanakan rencananya, bukan satu orang idiot sepertimu”. Putri Yara terlihat geram.


Jecki terdiam untuk sesaat, ‘Ah! Sial, sepertinya kecerdasan nona ini hampir menyamai ku, dia bisa menebak rencana kami sebelum kami beritahukan, apa yang harus kukatakan selanjutnya”. Jecki berpikir keras, sebab ia tidak tahu harus memulai dari mana.


“Nona manis! Jangan sekejam itu, aku ini seorang pendekar golok ganda! Tentu saja aku bukan orang biasa”. Jecki senyum bangga memegang gagang golok yang terselip di pinggangnya.


Putri Yara menggeleng-gelengkan kepala, “Hanya golok tingkat elit? Di tempatku golok ini hanya milik orang tua renta untuk membuka kulit kelapa awan, kalau kau merasa hebat pergi kesana sendirian dan sadarkan mereka, cepat! Dasar idiot!” Putri Yara semakin emosi.


“Eh! Kau marah-marah begitu, ku sumpahin jadi tua kau nanti, mana ada orang yang berani menghadapi ribuan orang sendirian! Jika memang ada, kau boleh memanggilku idiot”. Jecki membela diri.


“Lihatlah Jecki! Lihat kearah pergerakan pasukan Cabak Iblis! Tidakkah kau lihat di sana ada anak berumur delapan tahun! Bukankah ia sedang berhadapan dengan ribuan orang sendirian.” Mina menunjuk kearah seorang bocah yang berhadapan dengan ribuan pasukan Cabak Iblis.


Jecki menyempitkan mata mencoba melihat, yang terlihat justru hamparan hitam yang bisa disimpulkan itu kerumunan orang dari kejauhan lima kilometer dari tempatnya.


Putri Yara hanya senyum sinis, “Kau bahkan tidak mampu melihat pada jarak lima kilometer saja, sungguh menyedihkan.” Putri Yara mengalihkan pandangannya pada Ade.


“Ade! Itu Juli Raja kalian, Kurasa kita tidak harus turun tangan, Mina! Cepat beritahukan berita ini padanya sebelum terlambat”. Putri Yara memerintahkan.


Mina senyum, “Sepertinya tidak perlu, karena tuan telah mengetahuinya, lagi pula ia tahu apa yang aku ketahui.”


Jecki semakin penasaran, ia memandang 2 perempuan ini dengan tatapan ragu, baginya hanya Ade si manusia kerdil yang normal di matanya.


“Ini bukan mainan! Aku akan kesana untuk mengecek informasi”


Jecky mengeluarkan kunang-kunang emas dari balik jubahnya, “Kunang-kunang emas sembunyikan aku, aku mau memantau situasi!” Jecki mencoba memata-matai pergerakan sekte Cabak Iblis dari dekat.


“Jacki kau tetap disini saja, dan jangan memprovokasi monster yang ada di sampingmu itu, mereka bisa membunuhmu dengan mudah, ingat diam itu nyawa!” suara kunang-kunang terdengar.

__ADS_1


Yara sangat marah begitu mendengar kunang-kunang emas memanggilnya monster, ia merebutnya dengan cepat dari tangan Jecki.


Jecky sangat terkejut, saat melihat kunang-kunang di tangannya menghilang begitu saja dan berpindah ke tangan Putri Yara.


“Nona.. Nona manis, tolong jangan bunuh! Kunang-kunang ini satu-satunya keluargaku, tolonglah! Aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku sebelumnya, Tapi tolong berikan kunang-kunang itu kembali.” Jecki menjadi pucat, Karena bagaimanapun kunang-kunang itu telah menyelamatkan nyawanya ratusan kali.


Di sisi lain Ade juga kaget, “Tuan Putri Yara! Jangan dibunuh, kunang-kunang itu kunang-kunang sakral, kalau kita membunuh maka malapetaka akan menimpa, tolong lepaskan saja, dan jangan diambil hati, karena bagaimanapun ini hanya seekor kunang-kunang”.Ade cepat mendamaikan keduanya.


Putri Yara senyum mengejek, mengalihkan pandangannya pada kunang-kunang, ia sedikit penasaran dengan identitas kunang-kunang ini.


“Kau mengatakan aku monster, Apa kau tidak takut mati!” Putri Yara mengancam kunang-kunang surgawi di telapak tangannya.


“Putri Yara, kau gadis yang cerdas, tentunya kau takkan melakukan hal sebodoh itu,bukan”,


Mendengar jawaban kunang-kunang ini yang santai, Putri Yara bisa menilai bahwa kunang-kunang ini termasuk sebuah boneka jiwa yang cerdas, dan kemudian ia melemparkannya kembali pada Jecki.


Semenjak saat itu Jecki tidak berani lagi menggoda Yara seperti sebelumnya, kejadian ini membuat Ade tawa kikikan.


**


Di hamparan bebatuan luas, ribuan orang pasukan Cabak Iblis berjalan kaki bergerak ke Kota Singa Selatan. Lima orang pemimpin umumnya menunggang kuda, salah satunya bahkan menunggang Singa.


Dalam perjalanan, tiba-tiba mereka dicegat oleh seorang bocah laki-laki berumur 8 tahun, sorot matanya menyapu seluruh pasukan Cabak Iblis.


Raut wajah tak berdosa, seolah ia baru mengenali dunia yang kejam ini.


Pemandangan konyol ini menyita perhatian seluruh pasukan Cabak Iblis dan lima pemimpinnya.


“Berhenti! Bukankah kamu Bajok si Raja Rimba? Aku dengar kamu sangat cerdas, memanfaatkan orang-orang lemah sebagai tumbal penyerangan, tapi, Aku memiliki penawaran denganmu, bagaimana?”. Juli senyum lugu.


Bajok dan semua anggotanya tertawa bersama, Bajok mengira ini hanya sebuah lelucon untuk mengulur waktu semata.


“Aku tidak menduga bahwa namaku sangat terkenal, bahkan anak ini dimanfaatkan untuk membuat penawaran denganku”, Bajok memukul pahanya karena lucu, dan disambut tawa empat pemimpin lainnya.


“Bajok! Kau layanilah dia dulu! Siapa tahu penawaran itu membuat kita tertarik! Hahaha!” tambah Raja Iblis Terbang.


Bajok dengan jengkel memacu beberapa langkah singa memperdekat jarak dengan anak laki-laki ini.


Anak ini bahkan tidak terlihat takut sedikitpun pada binatang buas besar, hal ini membuat kagum bagi siapapun yang melihatnya.


“Aku mengerti kenapa Kota Kecil seperti ini menggunakan anak kecil menjadi tumbal! itu karena mereka tidak memiliki ahli tingkat tinggi, tapi nak! Keberanianmu patut diajukan jempol, tapi, aku si Bajok! Takkan tertipu dengan trik murahan mu itu dalam mengulur waktu”.


“Benar Bajok! Serahkan dia padaku, aku ingin bermain dengan anak-anak manis seperti dia”. Dewi Cabak Iblis terlihat gembira dan penuh semangat.


“Hahaha, Baiklah untuk menghargai anak bodoh ini, biarlah dia sedikit mengulur waktu untuk Kota baru suku kerdil, dan itu pantas untuk nyawanya”. Bajok tertawa senang, karena ia bisa melihat hiburan baru dari Dewi Cabak Iblis.


Dewi Cabak Iblis terkenal kejam, ia sering mempermainkan musuh-musuh sebelum membunuh. Karena kecantikannya, Dewi Cabak Iblis sering mengelabui pendekar-pendekar biasa dengan pura-pura lemah, seolah dialah korban yang harus ditolong.


Anak ini merasa sedikit jengkel, tapi senyuman gembira terlihat kembali diwajahnya seolah ia tidak mengetahui apapun.


“Kakak baik! Tidakkah kau melihat pangkatku? Aku sudah berpangkat satu putih loh! dan bisa dikatakan pencapaian ke depannya sangat menjanjikan, kenapa tidak menerima tawaranku saja, siapa tahu kalian tertarik”. Bujuk Juli mencoba bernegosiasi untuk terakhir kali.

__ADS_1


“Anak baik! Siapa namamu?”


“Ah! Namaku Juli! Begitulah mereka memanggilku”.


“Baiklah Adik Juli! Kakak yang lemah ini, ingin tahu seberapa hebat adik ini, tolong adik tidak berlaku kasar padaku”.


Ucapan ini tentu saja untuk mengelabui anak-anak lugu, karena Dewi Cabak Iblis berpangkat emas bintang dua, satu tingkat dibawah Bajok.


Juli tahu kelicikan ini, akan tetapi jika pertempuran sungguh terjadi, maka ribuan pasukan akan dikerahkan untuk menyerang atas perintah Bajok. Karena takut pada Bajok, para pasukan pasti akan mengikuti perintahnya, dan korban pun berjatuhan, Juli berusaha keras untuk mencegah kejadian ini agar tidak terjadi.


‘Aku tidak menduga, Dewi Cabak Iblis ingin mempermainkanku, baiklah! Akan kubuat kau menyesali perbuatanmu hari ini'. Batin Juli.


Juli diam terpaku menunggu Dewi Cabak Iblis mendatanginya.


Dari atas kuda, Dewi iblis melompat tinggi ke udara sembari mencabut pedang ia menukik cepat menebas ke arah Juli.


Swuuus.


Dewi Cabak Iblis menyerang Juli dengan menggunakan sedikit tenagadalam untuk mempermainkan Juli dengan teknik pedangnya.


Juli tahu, pedang Dewi Cabak Iblis tidak menyerang organ-organ vital, karena Dewi Cabak Iblis berniat untuk mempermainkan Juli saja.


Juli menghindarinya dengan lincah, seolah-olah serangan itu telah dihafalnya dengan baik. Beberapa detik kemudian keterkejutan mulai terlihat di wajah empat pemimpin Cabak Iblis yang menyaksikannya.


“Ah! Walaupun dalam berpura-pura, anak ini benar-benar lihai dalam menghindar, aku benar-benar menyukainya”. Bajok menjadi semakin bersemangat.


“Benar! Anak ini memiliki gerakan yang lincah, ia bahkan bisa menghindari tebasan pedang Dewi Cabak Iblis dengan sempurna, ini sungguh luar biasa!”


“Ia, padahal anak ini tidak bersenjata, ini sebenarnya siapa yang dipermainkan, hahaha.”


“Lihatlah! Anak itu bahkan bisa melawan balik, dan kali ini dia berhasil meninju perut Dewi Cabak Iblis, andaikan saja anak malang itu memiliki pedang atau sejenisnya, maka bisa dipastikan Dewi Cabak Iblis akan menjadi hantu hari ini, hahaha.”


Semula pasukan Cabak Iblis hanya menonton dengan pesimis, tapi saat melihat Juli menggunakan seluruh tenaga untuk berjuang dengan bukan lawan tandingnya membuat mereka mulai tergelitik.


“Anak ini jenius! Lihatlah! Padahal dia sangat kesulitan dan kesakitan, tapi dengan tekadnya dia mampu menyeimbangkan pertarungan ini”.


“Iya, aku bisa melihat, terkadang anak ini bisa bergerak sangat cepat, Oya, ini sudah sepuluh menit, tapi Dewi Cabak Iblis belum bisa menyentuhnya sedikitpun, malahan Dewi Cabak Iblis sendiri yang terkena pukulan tangan kecil si jenius Juli ini”.


“Aku menjadi kasihan, kenapa anak jenius seperti ini selalu berakhir dengan kematian, kalau saja aliran putih memiliki banyak pendekar hebat, maka anak-anak seperti ini tidak perlu mati muda”.


Kini Juli kembali mendapatkan simpati dari pasukan yang bertubuh kurus yang menonton pertandingannya.


Dewi Cabak Iblis pertama berniat mempermainkan, tapi kini dia bahkan benar-benar tidak bisa menebas Juli sekalipun, malahan ia merasakan nyeri diperutnya akibat pukulan Juli sebelumnya.


‘Sial! Anak ini licin seperti belut, dan lincah seperti kijang, aku bahkan dipermainkan olehnya, aku harus serius”. Batin Dewi Cabak Iblis mulai memutarkan pedang menyerang Juli dengan membabi-buta.


“Adik kecil! Gunakan segenap kemampuanmu, kakak yang lemah ini akan menggunakan segenap kekuatanku juga, awas ya, jangan sampai terluka”.


Kini pergerakan Dewi Cabak Iblis meningkat tajam, semua pasukan kini maju beberapa langkah dengan perasaan khawatir.


Bajok, terkejut dengan keseriusan Dewi Cabak Iblis yang berniat mengakhiri Juli dengan cepat.

__ADS_1


“Baiklah! Ini akan menghemat waktu”, Bajok tersenyum senang.


**


__ADS_2