Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 56. Mengantrilah!


__ADS_3

“A.. Apa? L-Lima keping emas?” Semua orang tercengang tidak percaya dengan telinga mereka sendiri, karena itu nilai yang sangat fantastis.


“Apa Bocah itu hanya membual?”


“Tidak mungkin anak gembel seperti dia memiliki kekayaan sebayak itu, Jumlah itu bahkan jika seluruh kekayaan suku Padri digabungkan semua, mereka masih tidak sanggup memberikan kita walaupun 50 perak per orangnya”


“Benar seperti kata mu”


Suara warga kembali ribut mereka semuanya tidak percaya dengan perkataan Juli, bahkan di antara mereka tidak sedikit yang mengolok-olok bahwa Juli adalah wali palsu yang datang untuk mencari ketenaran,


Si Rubah Hitam menyeringai, “Nak! Jika saja perkataan mu benar saya sangat setuju, tanah ku di sini sangat luas dan semuanya jika ku taksir sekitar 4 keping emas semuanya, kalau kau memberikan 5 keping emas pada ku aku akan menyetujui penawaran mu” Rubah Hitam yakin Juli pasti tidak memiliki uang sebanyak itu apalagi anak di depannya hanyalah anak gembel biasa.


‘Aku tahu anak ini memanfaatkan suku Padri untuk membayar penawarannya, tidakkah dia tahu kalau suku Padri sangat miskin, walaupun mereka mengais seluruh sampah di kekaisaran ini tidak akan mampu mendapatkan uang sebanyak itu’ batin Rubah Hitam senyum.


Irawan, Helga, dan 10 Pahlawan tersenyum pahit, mereka mengira Juli akan membebani mereka dengan hutang yang begitu banyak, walaupun demikian mereka bersumpah di dalam hatinya untuk menanggung hutang itu bagaimanapun caranya, hanya Aira yang terlihat tenang seolah ia tidak berpikir apapun.


Juli menoleh ke arah wajah-wajah suku Padri yang masih bertekuk lutut dan menundukkan kepalanya, Juli mengerti kekhawatiran mereka tentang janji besar yang telah diucapkan olehnya, bagaimanapun itu setiap janji orang tertinggi akan menjadi tanggungjawab bagi semua rakyatnya, apalagi Jumlah yang ditawarkan Juli bahkan melampau harga Lembah Iblis sekalipun.


Juli senyum, 'Ini kesempatan ku untuk menguji mereka' batin Juli,


“Aku mau bertanya diantara kalian semua, siapa yang mau menanggung beban besar ini dan mau mengajukan diri menjadi walikota serta kalian harus mempertanggung jawabkannya padaku, tentang kinerja Wali kota saat ini” Juli mulai menguji semua orang yang berada di sana.


Semua orang menundukkan kepala sejenak, dalam kepala mereka bercampur aduk karena beban kali ini jauh melampaui ekspetasi mereka, Juli menoleh ke arah Irawan yang terlihat lebih mampu dan cakap dalam mengurus Wali kota apalagi dia seorang putra sulung pendekar legendaris, akan tetapi wajah Irawan terlihat pucat pasi.


Irawan terus mengelap keringat dingin, ‘Ini sungguh diluar kemampuan ku, dari mana aku harus mengambil uang sebanyak itu, lagi pula aku harus mempertanggungjawabkan pada Wali, ini sungguh tidak bisa dilakukan oleh siapapun’ batinnya terus berkeringat dingin, ia bahkan takut kalau sewaktu-waktu Juli menunjukkan dirinya menjadi Wali kota.


Bima tidak kalah berkeringat dari Irawan, ia selama ini yang menjadi petinggi yang mengepalai Suku Padri selama ini, walaupun tidak tertulis semenjak kematian saudara tertuanya Raden ialah yang bertanggungjawab atas keselamatan seluruh suku padri.


‘Celaka! Apa yang harus kuperbuat, aku tidak mungkin menolak permintaan Wali tapi ini juga sangat mustahil bagi ku, ini bahka seperti pisau di depan dan pedang di belakang, maju mundur aku akan kena, mudah-mudahan ada orang gila lain yang mengemban tugas besar ini’ batin Bima dengan keringat terus membasahi lantai.


Juli melihat semua pembesar telah pucat, ‘Hm.. Apa suku Padri paling takut dengan hutang? Hehe, mereka memang seharusnya ketakutan, ini semua karena pengaruh tempat ini yang sangat miskin, bahkan untuk bertahan hidup saja sulit apa lagi harus membayar hutang’ batin Juli senyum melihat ke arah semua orang, pandangan terakhirnya jatuh pada Hana.


Hana mengerti maksud Juli, ia segera menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tertarik” ucapnya pelan,


‘Yang membuatku tertarik cuma satu, aku tidak mau jauh darimu, kalau seandainya jiwaku sedang tidak terancam aku malahan lebih suka berada di Pulau Langit dari pada harus menjadi Wali kota di sini’ batin Hana yang memang tidak berkeinginan menjadi wali kota walaupun dia tahu Juli mendapatkan gunungan kepingan emas di Istana Misterius.

__ADS_1


Semuanya tidak ada yang mengusulkan diri Juli mengeleng-gelengkan kepalanya, tiba-tiba Aira bangkit berdiri perlahan ia menghampiri Juli dengan menunjukkan kepalanya.


“Guru! Bolehkah aku menjadi Wali kota, aku bersedia menaggung beban yang kau berikan, bahkan jika itu harus kutukar dengan nyawaku” tanya Aira lembut


Juli menjadi terharu kembali, “Ah! Muridku aku hampir saja kehilangan muka, tapi baiklah sekarang kau akan menjadi Wali kota di sini, juga sebagai pelindung tertinggi setelah ku” ucap Juli menepuk pundak Aira dengan hati sangat bangga.


Aira masihlah usianya enam tahun namun postur tubuhnya sudah melebihi tinggi Juli itu dikarenakan dia anak suku Padri, Juli senyum senang, kemudian ia mengangkat tangan Aira tinggi-tinggi dengan senyum bahagia.


“Dengarkanlah oleh kalian! Mulai sekarang dia menjadi Wali Kota Lembah ini dan segala janjiku akan dibanyar lunas olehnya” Ucap Juli senyum gembira yang membuat orang lain terbelalak dan syok berat.


“APA?!”


“Apa anak sialan itu sehat?”


“Bocah sialan beraninya dia mempermainkan kita?”


“Benar-benar ni bocah!”


“Ada sendok ada garpu.. kita ketipu!”


Berbagai macam sepah-serapah para warga yang jengkel mulai terdengar, tidak sedikit mereka yang mengatakan bahwa Juli anak gila yang diagung-agungkan oleh suku Padri, tidak sedikit dari mereka berdiri dari bertekuk lutut karena mereka berpikir telah tertipu oleh bocah gembel secara terang-terangan.


“Aku tidak tau sebelumnya bahwa anak itu benar-benar anak gembel, habisnya sih kelihatannya dari cara 'Akting' mereka terlihat sangat meyakinkan”


“Kalian buta? Apa otak kalian tidak bisa berpikir? Lihat saja bajunya yang compang-camping itu, kalau dia kaya mana mungkin dia mau memakai baju yang llusu begitu bahkan untuk anak gembel sekalipun”


“Iya benar!”


Mendengar penghinaan terhadap gurunya Aira menjadi merah padam wajahnya, dia segera maju ke depan menunjuk ke arah para warga yang mencaci-maki gurunya.


“Aku Aira! Siapapun yang berahi menghina guruku akan ku keluarkan lidah dari tenggorokannya, dengarkan baik-baik berikan waktu aku sebulan aku akan membayar semuanya seperti yang dikatakan guruku!” ucap Aira dengan wajah sedih dan marah karena gurunya dihina.


Irawan melihat adik kecilnya berjuang sendirian membuatnya ikut meneteskan air mata terbaru, ‘Abang macam apa diriku ini, adik kecilku saja berani menghadapi gunungan hutang sendirian, sedangkan aku sebagai panutannya hanya gemetar ketakutan berlindung di balik punggungnya’ Batinnya bangkit berdiri melangkah maju ke samping adiknya.


“Beri kami waktu sebulan! Aku juga menjaminnya, bila tidak sanggup lunasi kalian bisa memenggal leherku kapanpun kalian mau” Ucap Irawan berdiri memegang pundak adiknya sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


Aira menoleh ke arah irawan, “Kakak terimakasih ya, aku sangat percaya pada guruku makanya aku akan melakukan apapun untuknya” ucapnya senyum bahagia.


Melihat Irawan telah bangkit, Helga, Bima, Zahra dan 20 orang lainnya bangkit bersama berdiri di belakang Aira dan Irawan memberi semangat.


Aira terlihat senang melihat semua pembesar mendukungnya, ia perlahan maju satu langkah seraya mengangkat tangannya,


“Kalau dalam jangka sembulan kami tidak bisa membayar sesuai ucapan Wali Tertinggi, maka kepala ku yang menjadi milik kalian!” Teriak Aira mengengkat tangan tinggi-tinggi.


“Kepala kami juga!” teriak Para Petinggi sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti yang dilakukan oleh Aira.


Melihat Pembesar Suku Padri telah siap untuk membayar hutang dengan nyawa, 5000 suku Padri yang hadir lainnya juga ikut bangkit mengangkat tangan secara bersama-sama.


“Kepala ku juga!”


“kepala ku juga!”


“Kepala kami juga!”


Semua suku Padri berjanji akan membayar kata-kata Wali Tertingginya semahal apapun itu bahkan dengan nyawa mereka.


Hana tertekun melihat kejadian itu perlahan ia menoleh kearah Juli, “Senior, kau tidak hanya pintar dalam berbagai teknik, tapi kau juga berhasil membuatku meneteskan air mata, aku tidak habis pikir saat di hadapan ku ada anak buta dan anak buntung kakinya yang berusaha bangun bertongkatkan ranting untuk memdukung membayar utang mu, apa yang harus dibayar oleh puluhan anak cacat seperti mereka? Nyawanya saja bahkan tidak seharga satu perunggu pun”


Hana menyeka air mata saat melihat anak-anak kurus-kurus cacat yatim piatu yang mengangkat tangannya ikut bergabung untuk mati bersama para pasukan lainya.


Juli menutup matanya, “Siapa bilang mereka tidak berharga satu perunggu pu, aku bersumpah akan mambayar nyawa mereka dengan nyawaku” ucap Juli terharu dan bersungguh-sungguh.


Hana menyeka air matanya, “Kau gila Senior! Apa kau juga akan melakukan sejauh itu untukku?” Hana mengakhiri percakapannya, Juli hanya senyum dan tidak menjawab apapun.


Si Rubah Hitam masih juga belum puas, “Tidak kami akan memberikan waktu satu minggu, mengingat kami tidak bisa hidup sebulan di luar tanpa bekal sedikit pun” ucapnya membuat tawaran.


Juli mendekati Aira sambil memegang pundaknya, “Aira muridku! Katakan pada mereka, Mengantrilah! karena kau akan membayarnya sekarang juga! Setelah itu kau temui aku di belakang” ucap Juli senyum hangat, setelah itu ia pergi meninggalkan Aira dan yang lainnya di atas panggung.


Aira senyum, kepercayaannya terhadap gurunya mengalah logika berpikir, “Sekarang Kalian yang ingin pergi dengan kepingan emas? Mengantrilah! Karena kalian akan dibayar sekarang Juga!” Ucap Aira senyum penuh percaya diri.


“Apa?! Bukan Cuma gurunya yang sakit, rupanya dua duanya kena saraf”

__ADS_1


**


__ADS_2