Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 130. Juli Palsu


__ADS_3

Kota pelabuhan di Semenanjung Paus, dikenal juga dengan Kota Pelabuhan Permata, kota ini sangat padat dan lebih dari tiga juta jiwa jumlah penduduk.


Kota Pelabuhan Permata menjadi pusat perdagangan di wilayah Barat, akan tetapi, selama puluhan tahun kota ini berada di tangan para Pemburu Kegelapan.


Dulunya kota ini termasuk wilayah Kerajaan Embun Barat yang terabaikan, dan pernah dijuluki sebagai kota kriminal paling tinggi di Kekaisaran Purwa, beberapa aliran hitam beroperasi di sini.


Belakangan Kota Pelabuhan Permata telah jatuh ke wilayah Lembah Teratai Langit, walaupun daerah ini tidak dipasang aray pelindung kota, tapi secara administrasi telah tunduk ke Kota Teratai Langit.


Daerah ini termasuk daerah bebas, sehingga anggota sekte-sekte aliran hitam, dan pemburu kegelapan banyak ditemui di sini, bahkan mereka tidak menutupi identitasnya, karena untuk saat ini Kota Lembah Teratai Langit pun belum mampu mengontrol aliran hitam secara penuh.


Di sisi lain, Semenjak Kota Pelabuhan Permata menjadi wilayah Lembah Teratai Langit, kota ini menjadi maju, peraturan dan hukum ditegakkan dengan adil, ini berlaku untuk semua orang, perbatasan-perbatasan dijaga dengan ketat terutama berfokus pada penjualan barang-barang ilegal, seperti penjual rakyat biasa untuk dijadikan budak.


Di depan pintu gerbang masuk Kota Pelabuhan Permata, belasan orang penjaga berlambang Kota Teratai Langit berdiri dengan gagah dan memeriksa setiap bawaan para pengunjung.


“Ingat! orang yang memiliki pangkat harus membayar pajak masuk, pangkat putih itu satu perunggu, pangkat kuning itu 10 perunggu, orang biasa tidak dikenakan pajak, ini keputusan berlaku untuk siapapun.” Teriak lantang kepala pasukan pengawal pada setiap orang yang ingin memasuki Kota Pelabuhan Permata.


Seorang anak membawa gerobak lembu, didalam gerobak terdapat seorang kakek tua sakit. “Hey! Kakek ini sedang sakit, dia memang memiliki dua pangkat putih, tapi aku tidak memiliki uang untuk membayarmu,” seorang anak berusia delapan tahun berusaha membawa masuk seorang kakek yang berusia 60-an tahun.


“Tidak bisa! Biarkan aku menggeledahmu terlebih dahulu, Kalau benar kamu tidak memiliki uang, maka kami akan mempersilahkan kamu masuk, kalau tidak, kami akan keberatan”. Kepala penjaga bersikeras tidak ingin memberi izin bagi siapa pun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.


“Kau tidak tahu siapa aku! Aku ini tetua Juli yang agung! Aku datang kemari untuk mengetes kalian, Apa kau tidak mengenaliku?” tanya anak kecil itu dengan tatapan dingin.


Sontak Semua orang menjadi takut, kepala penjaga menggaruk-garuk dagu memikirkan. “Kau tahu bocah! Hari ini saja yang mengaku sebagai tetua kecil lebih dari 20 orang, kau yang ke-21, Apa kau kira kami tidak mengenali Tetua Kecil?” tanya kepala penjaga sembari membalas tatapan tidak kalah dingin.


Anak itu menggaruk-garuk kepalanya, “Nah kalau begitu aku ingin tanya padamu, tahukah kau siapa yang mendirikan Kota Singa Selatan baru-baru ini? Itu aku! Kau tahu berapa banyak penjahat yang ku bunuh, kau tahu, aku telah berhasil mengalahkan lima Dewa dari bumi Tengah sendirian, yang mengetahui ini putra kedua Yang Mulia Kekaisaran Purba.” anak itu menjelaskan dengan lancar dan meyakinkan.


Belasan penjaga saling pandang, wajah mereka mulai pucat, “Rumor yang kudengar memang benar, kurasa anak ini benar tetua kecil Juli Yang Agung, kalau begitu kita harus mengawalnya dengan baik,” seorang penjaga memberikan argumennya pada pemimpin pasukan penjaga.


"Iya benar!"


“Ah! Tetua Kecil Yang Agung, kalau begitu kami harus mendampingimu,” beberapa orang mulai menyalaminya sembari mencium tangan dan menundukkan kepala.


“Ada gerangan apa Tetua Kecil kemari?” tanya Kepala Pasukan membungkuk-bungkuk dengan penuh hormat.

__ADS_1


Anak itu membusungkan dada dengan bangga,” Ah biasa, selama ini aku membutuhkan banyak dana, jadi ya.. aku mau mengobati pasien-pasien yang berceceran di jalan, hitung-hitung nambah pemasukan, kau tahu kan, sekarang banyak orang miskin, kalau aku tidak bekerja keras begini, bagaimana aku bisa menghidupkan mereka, ya..Termasuk untuk membayar gaji kalian tentunya,” Anak itu menunjuk kearah Kepala Pasukan.


Anak itu terus berceramah tentang perjuangannya dalam mempertahankan rakyat kecil, dan bagaimana dirinya mencari nafkah.


Ceramah anak ini telah memakan waktu setengah jam lebih, para penjaga tidak berani memotong ceramahnya, sehingga antrian terus bertambah.


Karena antrian di depan pintu gerbang terlalu panjang, empat orang mencoba mengecek apa yang terjadi di barisan paling depan, empat orang itu ialah Juli, Putri Yara, kakek Boman dan Amran.


Putri Yara melihat ke arah anak-anak yang sedang berceramah di depan pintu gerbang Kota Pelabuhan Permata, sesekali anak itu terus mengatakan kalimat, “Aku Juli Wali Agung Kota Lembah teratai langit”.


Mendengar ini saja Putri Yara naik pitam, “Bocah! Apa yang kau katakan? Kenapa pula kau mengatakan, kau itu Juli wali agung! siapa kau!” tanya Putri Yara cepat, bagaimanapun Putri Yara tahu bahwa anak itu mengaku sebagai Juli, dan itu jelas merusak reputasi gurunya.


Kakek Boman malah bertindak sebaliknya, ia langsung menghampiri anak itu dengan membungkuk-bungkuk sembari memberi hormatnya.


“Ah Tetua Juli! Aku sudah lama mendengar tentangmu, Aku sangat ingin bergabung dengan Kota Lembah Teratai Langit, kalau ada peluang, tolong berikan rekomendasi, agar aku bisa menjadi prajuritmu, aku ini Boman Si Pedang Bangau Putih, dengan ada tetua disini, aku berharap tetua mau mengabulkan permintaan kecilku itu”. Kakek Boman memberi hormat sembari mencium tangannya berkali-kali.


“Ah! Pendekar Boman Si Pedang Bangau Putih? Namamu sudah tersohor sampai ke berbagai penjuru dunia, tentu saja aku akan menerimamu, akan ku angkat kau menjadi tangan kananku, tunggulah kabar baik dariku.” Ucap anak itu dengan nada berapi-api dan meyakinkan.


“Terima kasih ketua Agung! terima kasih!”.Kakek Boman memberikan hormat berkali-kali, begitu juga dengan Amran yang mengikuti apa yang dilakukan gurunya.


Putri Yara mengetahui kebenaran, hal ini membuat dia semakin jengkel. “Kepala Pasukan! Apa kalian semua sudah buta, atau jangan-jangan kau tidak mengenali Tetua Kecil! Aku ingin bertanya kepadamu? Apa hukumannya mengaku-ngaku sebagai tetua kecil!” Putri Yara bertanya pada kepala pasukan dengan tatapan serius.


Sejenak suasana menjadi hening, “Tentu saja mengaku-ngaku sebagai Tetua Kecil padahal ia berbohong, jelas hukumannya adalah hukuman mati, oleh karena itu, kami akan membawa Tetua Kecil ini ke kantor utama, di sana ada ketua Dolah, beliau pastinya sangat mengenali tetua kecil, jadi tidak ada yang bisa berbohong di sini, bukan begitu Tetua Kecil!” kepala penjaga itu menoleh ke arah anak yang mengaku Tetua Kecil.


Seketika wajah anak itu pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuh, ia tidak menduga dirinya akan dibawa ke kantor utama. Pertamanya ia hanya berpikir penyamaran ini hanya untuk terbebas dari pintu gerbang saja, tidak tahunya akan berbuntut panjang. Tapi sekarang nasi telah jadi bubur, anak itu memutar otak berusaha meyakinkan semua orang.


“Ah begini kepala penjaga, aku sangat sibuk, aku tidak bisa berkunjung ke kantor utama, tinggal sampaikan salamku pada kepala Dolah! Katakan padanya aku sedang terburu-buru, kapal induk sedang menungguku” mencoba meyakinkan semua orang.


Yara senyum sinis, ‘Kapal induk gundulmu! Mana ada kapal induk di sini’ batin Yara, namun dia memilih diam untuk melihat perkembangan selanjutnya.


Kepala Pasukan penjaga jelas terlihat keberatan, ia menaruh curiga pada anak kecil di depannya, terutama saat melihat anak kecil itu gugup dan salah tingkah. Kegugupannya bahkan terlihat oleh semua orang, secara psikologis ini mengatakan bahwa anak ini tidak jujur.


Putri Yara ingin mempermasalahkannya, tapi Juli melarangnya, “Sudahlah Putri Yara, Aira seniormu itu orangnya sangat serius, apalagi menyangkut dengan hukum yang dibuatnya, aku takut anak ini akan benar-benar mati gara-gara hal sepele”. Juli mengibaskan tangannya agar Putri Yara tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Juli berjalan ke arah kepala penjaga, dan mengeluarkan beberapa keping emas, “Aku membayar semuanya, aku sudah melihat semua rombongan ini, dan tidak ada yang mencurigakan, bahkan mereka umumnya dari masyarakat kecil saja, jadi kurasa emas ini sudah cukup untuk membayar semua,” Juli menyodorkan beberapa keping emas kepada Kepala Penjaga.


Kepala penjaga menunjuk ke arah anak yang mengaku sebagai tetua kecil, “Apa dia termasuk dalam hitungan bayaran?” Tanya penjaga.


“Ah dia kawanku, aku membayar untuknya sekalian, jadi biarkan dia masuk!” kata Juli sebagai pemberi hormat kepada penjaga.


Penjaga sedikit kebingungan, tapi saat melihat kepingan emas di tangannya, ia mengangguk, “Baiklah tuan kecil! Emas ini akan ku data, sebutkan nama tuan kecil.” penjaga itu berkata ramah.


Juni terlihat berpikir-pikir, Karena untuk menyebut namanya Juli, sudah tentu menimbulkan kegaduhan lain lagi. Kalau seandainya dia berbohong tentang hal kecil, Juli pun tidak menyukainya.


“Nama tuan ini Juli! Data dengan nama itu.” Putri Yara, berkata cepat, sebelum Juli sempat menjawab pertanyaan petugas itu.


“Juli! Apa kau juga hendak ingin mengaku sebagai Tetua kecil?” tanya kepala penjaga itu cepat.


Juli cepat-cepat melambaikan tangannya, “Tidak! tidak! Aku tidak melakukan itu, hanya saja nama kami sedikit sama, dan itu bukan berarti salah kan?” tanya Juli kepada kepala pasukan,


Juli sedikit gugup, masalahnya kepergian Juli saat itu tidak diberitahukan kepada Aira, dan ia bisa membayangkan bagaimana sedihnya Aira,saat mengetahui dia ada di sini dan tidak menemuinya.


“Baiklah! Untuk kali ini semuanya boleh masuk, tapi ingat, siapapun yang mengaku sebagai tetua kecil! Dia akan langsung dibawa ke kantor utama, untuk diinterogasi.” ancam kepala penjaga.


Semua orang akhirnya diperbolehkan masuk ke Kota Pelabuhan Permata, sementara kepala pasukan melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Anak yang menyamar tadi menghampiri Juli, dengan senyuman bersahabat, “kawan! Siapa namamu, terima kasih ya telah menolongku, aku benar-benar tidak menduga, berbohong kali ini hampir membawa malapetaka bagiku,” ucap anak itu menepuk pundak Juli.


Putri Yara melihat anak itu yang cepat akrab dengan Juli hatinya sedikit jengkel, apalagi saat mengingat perbuatannya yang baru saja mencemari nama baik gurunya.


“Namaku memang Juli,” Juli menjawab dengan senyum hangat.


“Ah kau ini ada-ada saja, aku sebelumnya juga sering ngaku nama itu, oh ya, namaku lie, jadi kau panggil aja lie,” ucap lie setengah berbisik.


Kakek Boman menjadi bingung untuk mencerna situasi, akhirnya ia mengikuti langkah Lie, “Amran lekas lah! Kita harus mengikuti tetua Agung!” kakek Boman mengajak Amran terburu-buru. Sementara Lie dengan cepat menaiki gerobak lembu kembali, dan terus memacu lembunya.


“Baik guru! Baik!”

__ADS_1


**


__ADS_2