Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 53. Juli Dicurigai Anak-Anak


__ADS_3

Seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun terlihat sangat sibuk dari semalam, tangannya terus mengukir bebatuan dan menulis beberapa kitab penting, kedua tangannya terlihat berkerja sinergis dalam waktu bersamaan ia bahkan bisa menulis dua kitab sekaligus, pandangan mata sangat cepat dalam melirik dan mengamati setiap tulisan yang di goresnya.


Di sampingnya terlihat seorang anak perempuan berusia tujuh tahun tertidur pulas beralaskan batu, anak perempuan itu terlihat sangat kelelahan karena dari semalam ia bekerja dalam mengobati anak-anak dan gadis-gadis kurus yang baru bebas dari penjara perbudakan.


Tanpa terasa sang surya telah terbit di ufuk timur menyinari cakrawala merah menguning membuat panorama alam terlihat sangat indah, burung-burung cerucuk surgawi mulai berkicau dengan suara merdu menyempurnakan kenikmatan Tuhan yang perlu di syukuri.


Bola mata indah anak mungil mulai terlihat kembali setelah terpejam untuk beberapa jam lamanya, perlahan ia bangkit dari tidur lelahnya pandangan mata indah itu kini tertuju pada seorang anak lelaki yang terus menulis kitab seakan tidak pernah lelah dan kehabisan ide-idenya.


Anak cantik itu meregangkan tubuhnya, “Wuuaaaaa… Mmm.. Senior! Belum tidur? Apa yang kau kerjakan dari semalam ? Apa tubuh mu itu terbuat dari besi atau semacamnya?” sapa anak bercadar dengan senyuman di balik cadarnya.


Juli senyum, tangannya terus menoreh tinta-tinta di kertas dengan sangat cepat dalam beberapa menit saja ia bisa menulis ratusan lembar kertas,


“Hana! Apa istirahat mu selesai” tanya Juli tanpa melirik kearah Hana, ia terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Hana mencium bau pakaiannya, “Hm.. Sepertinya saya akan mandi sebentar? Senior, kau tahu di mana tempat pemandian di sekitar sini”


Hana bangkit berdiri menghampiri Juli sekaligus ingin melihat apa yang sedang di kerjakan oleh Juli dari semalam.


Juli mengangguk, “Saya tahu, tapi sebelumnya kau harus mengumpulkan seluruh para pembesar kemari, katakan pada mereka aku ingin bicara” Perintah Juli pada Hana.


Hana terlihat jengkel karena telah disuruh-suruh oleh Juli sebelum ia mandi terlebih dahulu,


“Baiklah!” Hana menghentakkan kaki kirinya karena kesal dan segera mempercepat jalannya, baru sepuluh meter berjalan Hana menghentikan langkahnya,


“Eh! Siapa tadi? Pembesar? Siapa pembesar di sini?” Hana baru menyadari kalau tempat ini bukanlah Kekaisaran Langit jadi dia tidak tahu siapa pembesar yang dimaksud Juli.


Juli tertawa ringan sambil menutup mulutnya, hampir saja kuas di tangan salah menggores, ‘Mungkin karena baru bangun tidur ia langsung bersemangat! Dasar Putri Kaisar, kurasa selain orang tuanya hanya diriku yang selalu menyuruh-nyuruh dirinya, pantaslah dia marah karena seorang putri lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar mandi dari pada berlatih’ batin Juli senyum-senyum.


Hana cemberut kedua pipinya digembungkan dalam cadarnya, “Lhoh! Kok malah tertawa? Senior aku tanya serius loh!” nada suara Hana terdengar sedikit marah.


“Hm.. 10 Pahlawan suku Padri, Irawan, Zahra, Helga dan Aira, Pergilah cari mereka" Juli mengibaskan tangannya agar Hana cepat pergi.


Hana kembali menghentak kakinya dan segera mempercepat langkahnya, Juli hanya senyum dan ia kembali meneruskan penulisan kitabnya dengan serius,

__ADS_1


Matahari pagi sudah terlihat di ufuk timur, anak-anak dan para gadis kini mulai keluar dari tenda-tenda mereka untuk melakukan aktifitasnya, sebagian anak-anak memilih duduk-duduk santai menyaksikan indahnya matahari pagi yang selama ini tidak pernah dilihatnya, sebagian anak lainnya memilih untuk berlari-lari dengan riang menikmati kebebasan mereka.


Juli menghentikan sejenak tulisnya saat beberapa anak-anak kurus datang menghampiri, anak-anak itu terlihat heran terhadap sikap Juli yang berdiri agak berjauhan kamp darurat, selain itu Juli juga terlihat lebih bersih kulitnya dibandingkan mereka, walaupun baju Juli terlihat compang-camping namun tidak ada bagian tubuh Juli yang terlihat.


Seorang anak berusia 12 tahun botak hanya berambut di tengah kepalanya, ia datang bersama sepuluh kawan lainnya yang memiliki tampang dan usia yang sama, sekilas saja dari bentuk postur tubuh anak-anak itu, semua orang bisa menebak bahwa mereka anak-anak suku Padri.


Ke-sebelas anak itu menatap Juli dengan tatapan curiga, “Bocah manusia! Kenapa kau di sini sendirian, lagi ngapain kau?” tanya anak botak itu menggertak, anak ini terlihat mengetuai sepuluh anak lainnya.


Juli bisa melihat raut wajah ke-sebelas anak ini tidak bersahabat, ia segera menyimpan kitab-kitab tulisannya ke dalam bajunya, hal itu semakin membuat anak-anak itu curiga,


Juli sedikit berkeringat begitu anak-anak itu mulai mendekatinya secara bersamaan, “Ah! Kawan, jangan salah sangka, aku sedang belajar menulis” Juli mengangkat tangan membela diri.


“Muska! Jangan percaya, lihatlah wajah anak itu, wajahnya sangat bersih bajunya juga sangat wangi, dia itu pasti mata-mata kerajaan yang dikirim kemari, aku yakin, yang tadi itu berupa catatan rahasia, kita tidak bisa melepaskannya kalau dia lepas akan banyak lagi jatuh korban di lembah ini” Jelas seorang anak kurus berbekas luka tebasan di wajah kananya,


Penjelasan anak itu mendapat tanggapan serius dari ketua kelompok yang dipanggil dengan Muska,


“Nuryin! Kau rebut kertas tadi darinya, aku juga curiga, kita selaku Sebelas Tombak Suku Padri tidak bisa membiarkan suku kita jatuh hanya karena seorang bocah mata-mata” Perintah Muska pada anak berbekas luka di wajah kanan itu.


“Baiklah!”


"Uuugh! Sial"


“Bagaimana dia bisa mengelak Nuryin? Apa Nuryin selama di penjara sudah tidak memiliki tenaga lagi?”


“Bisa saja, sebaiknya mari kita bantu Nuryin, karena kejadian seperti ini akan membuat kita semakin malu”


“Benar mari tangkap bocah ini sama-sama”


Nuryin yang telah terjatuh tersungkur wajahnya kini merah padam karena marah dan malu pada teman-temannya, apa lagi sampai temannya harus turun tangan untuk mengatasi masalahnya yang hanya menangkap anak-anak berusia delapan tahun.


Muska bisa melihat kemarahan Nuryin sehingga ia mengangkat tangannya agar teman-teman lainnya tidak maju,


“Kalian jangan maju dulu, biar Muryin sendiri yang meminta bantuan kalian, ingat kita Suku Padri jangan mempermalukan sesama, apalagi hanya melawan seorang bocah manusia yang umurnya jauh lebih muda dari kita” tegur Muska dengan sikap kepemimpinan yang kuat.

__ADS_1


“Ah Baiklah Ketua!”


“Iya baik!”


Sontak semua pengikutnya menelan ludah dan segera berdiri tenang kembali tanpa mencampuri pertarungan Nuryin.


Juli senyum bangga, tangannya dilipat di depan dada ia terlihat berdiri santai, “Ah! kalian salah paham teman, aku bukanlah mata-mata tapi aku ini orang yang kebetulan lewat” jelas Juli, karena ia tidak ingin menciptakan permusuhan dengan anak-anak yang mengepungnya.


Nuryin bangkit berdiri kembali, “Bocah! Lihat ke mana kau, aku mengajakmu duel secara adil, kalau kau kalah maka berikan kertas itu pada ku” kini wajahnya terlihat sangat serius.


Tangannya di genggam erat seolah seperti palu besar, anak ini masihlah belum berpangkat namun kekuatannya sungguh sangat besar, sementara anak lain mulai bergerak mengelilingi membuat batasan pertarungan antara Nuryin dengan Juli.


Juli sedikit terkejut, “Eh! Apa kita tidak bisa bicara dulu?” Tanya Juli namun melihat keseriusan Nuryin memang tidak ada jalan musyawarah, “Baiklah… Tapi kalau kau kalah jangan marah ya” Tanya Juli senyum datar.


“Bocah terimalah ini”


Teriak Nuryin meluncur cepat menghantam udara menggunakan tangannya sebagai palu pemukul udara, dan teknik adalah ini teknik tertinggi Suku Padri, entah apa dalam pikiran Nuryin ia melepaskan Pukulan sehebat itu kearah Juli sembari berteriak,


“Hantaman Pemecah Udara!”


Pheng!


Whoosss..


Pukulan udara itu tidak sehebat Irawan atau sepuluh pahlawan suku Padri lainnya, tapi cukup untuk membuat seorang dewasa terluka parah karenanya, mata Juli terbuka lebar saat melihat kehebatan anak kurus itu hingga membuatnya lengah.


Bruukk!


Pukulan udara mengenai dada Juli, pukulan itu sebenarnya tidak cukup untuk sekedar menggelitik Juli namun melihat keseriusan anak itu membuat Juli bergerak berpura terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang.


Juli cepat memberi hormat, “Senior! Pukulan mu sungguh mengerikan aku mengakui kau sungguh sangat hebat, tapi aku juga mampu menahan serangan mu dengan baik, jadi bisa dikatakan kita seri, jadi tidak ada apapun yang bisa ku berikan” ucap Juli memberi hormat.


Semua mata melebar, mereka tidak menyangka Juli mampu menahan serangan langsung dari Nuryin semudah itu, seharusnya Juli sekurang-kurangnya akan pingsan karena pukulan dahsyat itu pikir mereka.

__ADS_1


**


__ADS_2