
Juli sangat terkejut saat melihat wajah Hana, wajah cantik itu sama persis seperti saat dirinya telah menjadi seorang ratu umat manusia terkuat kelak.
Juli perlahan melihat wajah Hana yang sedang makan belibis rawa perlahan, gaya makannya masih menyerupai gaya makan bangsawan kelas atas walaupun dirinya makan tanpa sendok dan garpu.
Bliz! Blizz!
Grrrooomm! Gruk! Gruk!
Suara gemuruh terus terdengar di langit rintik hujan mulai membasahi bumi, sekilas Juli terngiang kehidupan sebelumnya, ‘Hm, Aku tidak bisa melupakan pertemuan pertama ku dengannya... dengan ratu terkuat umat manusia sepanjang sejarah’ Juli mulai mengenang kehidupan sebelumnya.
Di Pulau Langit, Bumi Tengah Tiga Puluh Tahun Mendatang.
Di Istana Langit telah berkumpul ratusan jutaan pasukan terbaik dunia untuk berperang melawan pasukan siluman di Bumi Tengah.
Di tengah huru hara peperangan yang melanda dunia, sebuah berita besar mengejutkan kekaisaran umat manusia tersebar, bahwa seorang kepala divisi telah terbukti melakukan penghianat terhadap seratus ribu pasukannya hingga menyebabkan seluruh pasukannya terbantai habis oleh aliansi siluman, bukti-bukti telah terkumpul dah hukum mati oleh hakim telah dijatuhkan.
Yang Mulia Ratu Rihana selaku manusia jenius terkuat umat manusia kala itu, ia telah mencapai budidaya tubuh Dewa tahap Puncak, mendengar pemberitaan itu ia sangat marah dan segera meminta hakim untuk menghadapkan Kepala Divisi Pengkhianat itu kepadanya sebelum di hukum mati.
Dalam Istana Kerajaan Langit Yang Agung.
Di dalam istana telah dihadiri sepuluh ribu orang petinggi dunia termasuk raja-raja dunia didalamnya untuk sebuah rapat penting, Ratu Rihana duduk di singgasana agung mengenakan pakaian kebesarannya dari berbagai permata yang bersinar.
Ratu Rihana selain dikenal sebagai manusia terkuat dan tercantik di dunia, ia juga terkenal adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dengan keputusannya.
“Semoga Tuhan memberikan umur panjang pada Ratu Agung Rihana”
Suara penghormatan terdengar menggema dalam istana, ribuan ahli dan raja-raja dunia bertekuk lutut di hadapannya, Ratu Rihana mengakat tangannya sebagai isyarat semua hadirin dipersilahkan bangkit kembali, maka semua hadirin mengikutinya.
*Ratu Rihana selalu berwajah serius dan hampir tidak pernah terlihat tersenyum,
“Peperangan terus terjadi umat manusia terus menipis, sekarang ini aku malah mendengar berita bahwa seorang kepala divisi melakukan pengkhianatan hingga ribuan nyawa mati karenanya, aku ingin bertanya kepadanya secara langsung, apa yang dipikirkannya?” ucap Ratu pada dewan pertahanan*.
“Yang Mulia Ratu, kami akan menghadirkannya”
Tidak lama kemudian seorang pria tampan berseragam tahanan putih yang telah di rantai kaki dan tangan diseret paksa hingga terjatuh, ia perlahan berlutut memberi hormatnya kepada Yang Mulia Ratu, dan ia di kawal oleh sepuluh ahli tingkat Emas.
__ADS_1
Pria ini berada ditingkat emas, kepalanya terus menunduk wajahnya terlihat murung bersedih, semua mata tertuju kepadanya,
Ratu Rihana memperhatikan pemuda itu secara seksama, “Prajurit siapa namamu?!” Tanya Ratu dengan tatapan tajam.
“Juli, Yang Mulia Ratu” jawabnya singkat.
“Hm.. Katakan pada ku kenapa kamu mengkhianati pasukan mu?” tanya Ratu Rihana Langsung tanpa basa-basi.
Juli terdiam seribu bahasa, air mata terus membasahi pipinya dan kemudian berlahan ia menjawab, “Yang Mulia, Aku tidak berkhianat, karena kejadian ini kakak tertuaku mati karenanya, aku bahkan tidak tahu siapa yang menyerupai ku menjerumuskan pasukan ku ke dalam jebakan kematian ini, selebihnya saya tidak bisa membela diri Yang mulia Ratu” bela Juli yang terlihat sangat berduka.
Ratu Rihana meminta hakim membacakan bukti-bukti yang di perolehnya, “Tuan Hakim bacakan bukti-bukti untukku” Titah Ratu
Hakim segera membacakan bukti-bukti dan keterangan para saksi mata,
“Yang Mulia, kepala divisi Juli, terbukti memberikan perintah dengan surat tertulisnya pada prajuritnya, ia memerintahkan pasukannya bergerak ke dalam lembah siluman yang sebenarnya adalah jebakan siluman, selanjutnya kami memiliki bukti saat dia sedang bernegosiasi dengan siluman dan bahkan kami memiliki kristal memori yang dapat dipertanggung jawabkan, selain itu, kami juga menyita ribuan Kristal Langit dirumahnya dan kami pastikan itu semua sebagai hasil negosiasinya dengan Siluman, dan kami juga memiliki ratusan bukti lainnya” Jelas hakim mengakhiri pembicaraan.
Ratu Rihana terlihat marah setelah mendengar bukti-bukti yang akurat, “Prajurit! bagaimana pembelaan mu dengan hukuman mati yang dijatuhkan kepada mu” tanya Ratu Rihana.
Juli senyum pahit, “Yang Mulia, Guruku pernah berpesan pada ku untuk jangan kau mengkhianati orang yang mencintaimu, karena mereka akan membantumu bahkan dengan nyawanya, jika kau mengkhianatinya itu akan membuatmu rugi besar, Yang Mulia Ratu, kali ini yang meninggal bukan hanya seratus ribu orang bawahan ku, tetapi juga kakak kedua ku, apakah aku akan mengorbankan kakakku hanya demi Kristal Langit? Jika aku memang memiliki begitu banyak Kristal Langit kenapa juga aku masih di tingkat emas? Yang Mulia Ratu, aku tidak memiliki bukti yang meringankan ku tapi aku telah berkata yang sebenarnya” Juli menjelaskan dengan nada pilu.
Juli tanpa berpikir panjang langsung memberitahukannya “Mendiang seorang pendekar buta biasa, Amin namanya, dia di kenal dikalangan bawah sebagai Pendekar Sejati yang berasal dari Bumi Timur” Juli mengenang mendiang gurunya kala itu.
Ratu Rihana menganguk-anguk, “Hm.. aku tidak mengenalnya tapi bisakan kamu sebutkan tingkat budidaya tubuhnya?” tanya Ratu Rihana.
“Yang Mulia Ratu, guruku masih belum berperingkat.. karena di bumi tengah tidak dikenal dengan budidaya tingkat Pejuang.. disini budidaya terendah tubuh manusia barada di tingkat Timah” Jelas Juli singkat
Semua orang dalam ruangan itu tidak ada yang mempercayainya, sekarang Juli benar-benar berada dalam keadaan terhina, sebenarnya ia seorang pejuang sejati dirubah oleh kenyataan pahit dengan di fitnah menjadi pengkhianat umat manusia.
Saat semua orang dalam ruangan istana mencaci dan menghinanya, Ratu Rihana mengeluarkan titah yang mengejutkan, “Mulai sekarang telah diputuskan, Prajurit Juli mantan kepala divisi ke-20 mulai saat ini akan menjadi salah satu prajurit inti ku yang akan kudidik sendiri sebagai ujung tombak dalam peperangan ini, dan bagi keluarga korban dalam kasus ini akan diberikan tunjangan seumur hidupnnya serta akan ditanggung biaya kesehatannya oleh kekaisaran” Titah Ratu Rihana menutup kasus.
“Apa?!”
*Semua orang tercengang mereka tidak percaya Ratu akan bertindak sejauh itu terhadap seorang prajurit biasa,
Semenjak saat itu Juli banyak mendapatkan sumberdaya serta petunjuk-petunjuk latihan dalam meningkatkan budidaya tubuhnya dari ratu,
__ADS_1
Ratu Rihana bahkan tidak segan-segan memberikan kitab tertingginya untuk dipelajari Juli kala itu, sehingga Juli menjadi seorang ahli yang bertempur disisinya lebih dari 20 tahun lamanya*.
*Akan tetapi bangsan siluman telah melahirkan enam Dewa tahap puncak, Ratu Rihana melawannya seorang diri kala itu, sementara Juli dan ahli manusia lainnya masih tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Ratu Rihana karena budidaya tubuh mereka masih begitu rendah untuk lawan setingkat dewa,
Setelah pertarungan berbulan-bulan seorang diri Ratu Rihana melawan enam Dewa Siluman, akhirnya Ratu Agung Rihana kalah dan menghembus nafas terakhir*.
Kehilangan Ratu Agung Rihana sebagai pilar tunggal umat manusia kala itu membuat umat manusia semakin terpuruk dan terancam di muka bumi.
Seratus tahun kemudian, baru ada pepatah mengatakan, “Patah Tumbuh Hilang Berganti” walaupun tidak sehebat Ratu Agung Rihana namun seorang Dewa baru segera muncul menggantikan posisinya, Juli Dewa Pengetahuan anak didik langsung dari Ratu Besar Rihana menjadi orang yang paling ditakuti selanjutnya oleh bangsa siluman.
**
Blizz!! Blizz!!
Gruu.. Grok.. Grooomm!!
Suara gemuruh dan kilat terus terdengar, Juli terlihat meneteskan air mata mengingat kenangannya, Hana sesekali melirik kearah Juli yang terlihat menangis,
“Saudara Juli! Sunggung bebek ini sangat enak, perpaduan rajikan bumbunya sangat enak, terus terang inilah makanan paling eksotis yang pernah saya makan, terimakasih ya…” ucap Hana sambil menutup kembali cadarnya.
Juli cepat menyeka air matanya, “Eh… Yang.. Eh! Hana.. nanti akan saya carikan lagi kalau.. kalau kau mau” Juli terlihat tergagap dan berkeringat tidak seperti beberapa saat yang lalu, karena bagaimanapun itu merupakan Ratunya di kehidupan sebelumnya.
Hana langsung mengangkat tangannya dengan lembut sedikit digoyangkan seperti orang menyuruh orang lain untuk pergi, biasa isyara itu di kehidupan sebelumnya berarti “Laksanakan!” itu hanya di mengerti oleh pasukan intinya saja, “Ah! Tidak perlu.. Tidak perlu Saudara Juli” Hana segera melarangnya.
"Hehehe" Juli tawa kikikan menutup mulutnya dengan tangan, lalu ia menoleh kearah perdu pohon besar dan nampak berpikir-pikir,
“Hana.. Sekarang kita harus bergerak mencari yang lainnya, aku tadi sempat melihat saudari Risa dan saudara Mija di sebuah jurang yang tidak jauh dari sini, ayo kita kesana menolong mereka” Ajak Juli sementara hujan mulai mengguyur bumi.
"Menolong mereka!?" gumam Hana kaget, Hana kemudian terlihat berpikir-pikir, lalu hana mengeluarkan secarik kain kasar dari balik bajunya, “Saudara Juli, Pakailah kain ini untuk menutupi kepala mu, kalau tidak, hujan pertama turun seperti ini akan membuat dirimu masuk angin” Hana menyerahkan secarik kain kasar padanya.
Juli senyum, ia segera mengambilnya dan tidak membantah, memang lazimnya bagi orang biasa akan cepat terkena flu karena kondisi alam yang demikian,
“Baiklah Hana” ucap Juli, ‘Kau bahkan tidak berubah.. dari dulu selalu mengkhawatirkan bawahanmu ini..” batin Juli segera memakai kain itu menutupi kepalanya.
“Ayo Berangkat!”
__ADS_1
**