
“Rulang! Kalian majulah! Gunakan senjata terbaik kalian!”
Juli berdiri santai memegang sebilah pedang menunggu belasan petinggi Rulang yang berwajah pucat untuk menyerangnya.
“Tu.. Tuan! Kami ti.. tidak berani!” Terdengar ucapan seorang Penyihir Tua yang hampir tidak bisa bergerak kerena ketakutan dalam dinginnya angin malam.
“Sudah kukatakan! Jika kalian tidak layak maka akan ku seret kalian semua ke Neraka Para Dewa! Cepat! Serang lah!” Bentak Juli memaksa meraka semua untuk menyerangnya dengan segenap kemampuan mereka.
Kali ini Juli sengaja tidak mengunakan tenaga dalam untuk melawan puluhan penyerangnya agar terlihat berimbang. dan akhirnya pertarungan sengit pun terjadi.
“Serang! Bentuk formasi! jangan remehkan tuan kecil ini”
Rulang terus melancarkan serangan tenaga dalam dipadu tebasan pedang terhebatnya dalam bentuk formasi.
Serangan formasi gabungan memiliki efek penghancur besar dan sangat cocok untuk latihan fisik tingkat Hana. akan tetapi serangan ini sangat mudah dihindari oleh Juli, bahkan di saat yang sama Juli menyerang balik dan menghajar mereka semua dengan sisi datar pedangnya agar mereka tidak tertebas mati.
Plak! Plak! Plak!
Rulang dan semua petingginya diterbangkan keberbagai arah bagai hempasan angin topan, jatuh ke tanah mengalami luka dalam serius. Rulang hanya bisa terbelalak begitu menyadari dirinya bagaikan seekor semut dihadapan anak kecil yang baru berumur delapan tahun.
“Ba.. Bagaimana bisa dia sekuat dan secepat ini? Aku bahkan tidak mampu melihat pergerakannya”
“Bu.. bukan hanya itu, anak kecil ini bahkan tidak menggunakan tenaga dalam untuk melawan kita!”
“Iya, ini tidak normal!”
Para petinggi memegang dada mereka yang seakan hancur, padahal hanya hantaman pedang saja, kini mereka hanya bisa saling pandang dalam keadaan putus asa. Juli berjalan pelan ke arah mereka dengan wajah jengkel.
“Kalian terlalu lemah! Aku benar-benar kecewa melawan kalian, baiklah untuk ke depan kalian akan menjadi makhluk latihan Hana, kapanpun ku panggil kalian harus siap, sekarang kalian istirahatlah di Neraka Para Dewa dan renungkan lah kesalahan kalian” Juli mengangkat telapak tangan membentuk Pintu Portal Api Hitam.
“Tolong! Jangan! Tolong……….”
__ADS_1
“Tolong……..”
“Ampun……..”
Rulang dan petinggi mencoba kabur dari tempat ini, namun pintu itu dapat menarik mereka dengan mudah walaupun telah melompat tinggi ke udara, tapi semuanya berakhir ke dalam Neraka Para Dewa.
Kini pandangan Juli mengarah pada ribuan orang yang sedang berdiri mengamatinya dengan wajah pucat dalam kegelapan malam.
“Kalian semua! Berbaris dengan tertib, siapapun yang mencoba melarikan diri akan berakhir seperti Rulang! Kalau tidak percaya, maka lari lah untuk mencobanya!” Ancam Juli dengan tatapan serius.
Semua pasukan tidak ada yang berani melarikan diri karena mereka menyadari hal itu justru membuat mereka akan mengalami petaka yang lebih buruk. kini ratusan orang mulai berdiri dengan patuh tidak ada yang berani berkomentar.
Juli mengeluarkan puluhan pasukan berzirah besi dari dalam Neraka Para Dewa tercampakkan secara kasar kehadapannya. Ratusan pasukan terlihat mengenaskan disertai teriakan mengerikan karena kesakitan yang tiada tara. tidak lama kemudian pasukan itu kembali sembuh dengan sempurna dan langsung bersujud pada Juli dengan khidmat.
“Dewa yang agung! Ampuni kami… Dewa!”
“Dewa! Yang agung!”
Juli senyum gembira, “Kalian bangkitlah! Dan dengarkan perintahku, kalian buatlah Kutukan Budah Darah seperti kesadaran yang ku berikan! Dan berikan kepada mereka ingatlah siapapun yang menolak maka aku kan menyeret mereka langsung ke Neraka Para Dewa dan merenungkan kesalahan di sana” Juli berjalan santai memasuki istana.
Para pasukan hanya bisa berdiri dengan lutut gemetar menunggu nasib yang tidak jelas kedepannya, sebagian pasukan memilih mengakhiri hidup dengan memenggal lehernya sendiri. Juli membiarkan pilihan yang diambil mereka, karena menurutnya para pasukan tidaklah berdosa layaknya para petinggi dan kematian itu adalah hal yang sepadan dengan perbuatan mereka.
Di dalam Istana Rubi Pangeran Ke-dua telah menunggunya, Hana yang terlihat duduk bersila menyembuhkan diri setelah menelan kristal hijau di depan pintu istana.
“Kakak Tertua! Bagaimana menurutmu jika aku menyembuhkan Pangeran Mahkota dan dia sepertinya telah kehilangan banyak darah karena kedua tangannya terputus” Pangen Ke-dua menunjuk ke arah Pangeran Mahkota yang telah terbaring bersama dua selirnya di lantai teras Istana Rubi.
Pangeran Ke-dua terlihat tidak tega terhadap sepupunya walau bangaimanapun jahatnya dia sebelumnya, akan tetapi mengobatinya tanpa persetujuan Juli juga juga bukanlah solusi yang tepat. Jika di pikirkan kembali Pangeran Mahkota sekarang bahkan tidak memiliki budidaya tubuh sedikitpun setelah diserap oleh Juli hingga habis dan bisa dikatakan ia bukan lagi sebuah ancaman di masa depan.
“Kakak tertua!” Pangeran Ke-dua memanggil Juli dengan penuh harap.
Juli menganguk pelan, “Adik! Kurasa aku tidak mungkin tidak memberimu muka, tapi ingatlah! Kalau kau berlaku adil maka kau harus berlaku adil pada semua orang dan bukan saja pada keluargamu, Ingat! Yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar… Sementara aku akan menjalankan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka. Baiklah! Urusan pangeran Mahkota kuserahkah padamu! Tapi sebelum itu, dia dan selirnya akan tinggal beberapa saat di dalam Neraka Para Dewa untuk menebus kesalahannya, sekaligus untuk memperbaiki tubuhnya yang rusak"
__ADS_1
Juli segera menyerap Pangeran Mahkota dan kedua selirnya ke dalam Naraka Para Dewa, penyiksaan di sana sangatlah berat, sementara semua orang tidak pernah mengetahui detailnya sebelum memasukinya.
“Baiklah kakak kalau itu jalan terbaiknya!” Pangeran Ke-dua menyetujuinya.
Dari gegelapan malam Yome, Jecky serta puluhan pasukan Desa Rangkong lainnya bergerak cepat ke istana setelah menyadari ratusan pasukan hanya berdiri mematung tanpa menghiraukan mereka.
“Kanapa pasukan hanya berdiri mematung! Ada apa dengan mereka?” Tanya Jecky pada Pangeran Ke-dua yang berdiri siaga mengawasi Hana.
Sementara Juli memutuskan untuk terus berjalan memasuki ruangan utama tempat anak-anak di rantai, tanpa memperdulikan pertanyaan Jecky.
“Mereka telah menyerah! Jadi kalian cepat urus anak-anak dan bantu kakak tertua didalam sana, dan aku akan tetap di sini menemani senior Hana” Pangeran kedua memberikan isyarat agar semua orang masuk mengurusi anak-anak.
Yome melihat tubuh Hana bercahaya hijau dia sedikit penasaran, namun ia enggan untuk menanyakan itu, karena bagaimanapun Hana bukanlah orang biasa di mata mereka. Lain halnya dengan Jecky yang suka menggoda.
“Ah! Apa pula yang menimpa calon permaisuriku, sepertinya dia sedang terluka” Jecky mencoba melihat lebih dekat.
Pangeran Ke-dua segera menarik lengannya, “Hey bocah! Dia ini seorang diri mengalalahkan ribuan pasukan ini, apa kau berpikir kau akan menggodanya? Apa kau tidak sayang nyawa? Huh!” Pangeran kedua sedikit mengangkat wajahnya menatap ke bawah, hingga menimbulkan ancaman tersendiri bagi Jecky.
“Ah! benarkah! Tidak! Tidak! Aku tidak berani, aku hanya bertanya saja, heheh, baiklah jagalah calon permaisuri ku, aku akan masuk ke dalam untuk mengurus anak-anak” Jecky berlalu meninggalkan Hana dan Pangeran Kedua di depan pintu Istana Rubi.
Di dalam Istana Rubi Juli melepaskan semua anak-anak dan memberikan mereka batu kristal dan makanan. Anak-anak malang itupun segera mengambilnya seraya mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Juli senyum pahit saat melihat kondisi anak-anak malang itu, karena tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan perlakuan kasar dan bahkan ada yang kehilangan anggota tubuhnya.
Juli pada dasarnya sangat murka. Namun mengingat siksaan Naraka Para Dewa juga tidak kalah ringan maka sedikit meredam kemarahannya.
Malam telah larut Hana kembali membaik, anak-anak kembali istirahat dengan tenang, Juli menyerahkan tempat ini untuk dikelola oleh Yome, mengingat Yome lebih bijak dari yang lainnya sementara yang menjadi pengawal adalah seluruh pasukan yang telah minum cairan Kutukan Budak Darah.
Semula Yome keberatan dengan keputusan ini, namun setelah di bujuk oleh bawahannya. dan Jecky juga berjanji mendukungnya akhirnya iapun menyanggupi.
Setelah semua selesai malam itu juga Juli, Hana, Pangeran Ke-dua, Jendral Wirma, berangkat meneruskan perjalanan kembali. Kali ini mereka berangkat ke kota Raja dengan menggunakan kereta kuda Pangeran Mahkota dan jendral Wirma yang menjadi Joki nya.
**
__ADS_1
Telat Up ada tetangga meninggal tadi pagi.