
Aaakkkhh!
Hiak! Syut! Syut!
Jendra Wirma terus berusaha menyelamatkan diri dari cengraman pohon pemangsa raksasa. Sekarang kondisi tubuhnya terlihat sangat mengenaskan namun ia terus melawan menggerakkan pedang untuk menebas apapun di depannya.
“Sial! Aku sangat menyesal, kenapa aku tidak memutuskan untuk mengikuti senior Juli kala itu, aku benar-benar tidak berfikir kalau rimba ini masih mampu membantai kami walaupun telah kebal terhadap spora. Pangeran! Maafkan aku yang bodoh ini” Jendral Wirma bersedih dan mulai putus asa.
Grooaarr!
Tiba-tiba terdengar suara seekor singa parasit perpangkat perak mengaung keras saat melihat Jendral Wirma yang sedang berusaha mempertahankan diri dengan sisa-sisa tenaganya dari jeratan pohon raksasa.
“Apa? kalau begini, berakhir sudah diriku ini, aku sungguh menyesal, aku benar-benar sungguh menyesal... sekarang aku hanya bisa berharap akan menemui orang-orang yang ku sayangi setelah kematian ku ini, ah! Dunia ini sungguh sangat misterius, aku tidak menyangka akan menjadi bagian dari pohon pohon terkutuk ini” ucapnya putus asa saat melihat singa parasit yang kini mulai menerjang ke arahnya.
ROOAAARRR!
Wusss…!
Singa melompat tinggi menerkam leher Jendral Wirma dan ia hanya bisa mengangkat tangan melindungi kepala dan memalingkan wajah untuk menghindari pemandangan mengerikan.
Syuut!
Tiba-tiba Singa Parasit terhenti, tubuhnya masih melayang di udara tidak dapat mendarat ke arah Jendral Wirwa yang telah bersiap untuk mati.
"Huh?"
Perlahan Jendra Wirma memalingkan wajahnya kembali untuk melihat apa yang telah terjadi, ia penasaran Singa Yang menerkamnya belum juga sampai pada tubuhnya.
“Apa? Apa lagi ini? kenapa singa ini mematung dan melayang di udara?”
Jendral Wirma benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, namun apapun itu dia belum yakin kalau kejadian itu menyelamatkan jiwanya.
"Jendral!", Terdengar sebuah suara panggilan anak kecil yang memberikan harapan baru baginya. “Jendral! Apa yang terjadi dengan kalian? Di mana yang lainnya?”
Suara anak itu suara yang sangat di kenalnya, Jendral Birma melebarkan senyum, air mata terus mengalir di kedua pipinya.
“Senior! Tolong pangeran senior! Tolong senior!” Teriaknya tangis tidak peduli dengan pohon pemangsa raksasa yang kini mulai menjeratnya.
Dua anak kecil yang baru muncul itu saling pandang, “Hana! Ini urusan ku, kau lihat saja” ucap anak itu sembari menggenggam tangannya yang dapat menimbulkan energi udara berbentuk tangan besar meremas Singa Parasit di udara hingga hancur lebur.
Bruak! Wusss…
kemudian bocah laki-laki itu mengibaskan tangan sampai tercipta energi angin besar menghempas pohon besar yang mengcengkram Jendral Wirma.
__ADS_1
“A.. Apa? Se.. sekuat itu kah senior”
Jendral Wirma tergagap matanya terbuka lebar, dia sungguh tidak menyangka kekuatan Juli sehebat itu, karena sebelumnya Hana lah yang menyelesaikan semua pertarungan.
Dalam sekejap saja Jendral Wirma lepas dari jeratan dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk berlutut di depan Juli, Jendral Wirma bahkan tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yang sekarat.
“Senior tolonglah pangeran! Aku bisa mendengarkan suaranya tadi di wilayah utara, dan aku berusaha ke sana namun aku terjerat di sini”
Juli mengeluarkan kristal Hijau level tiga lalu menyerakan pada Jendral Wirma, “Jendral! Telan lah ini dan serap lah, kau akan sembuh dengan cepat! Sementara aku dan Hana akan mencari pangeran” Jelas Juli melihat ke arah sumber teriakan suara Pangeran Kedua.
“Baik Senior! Saya menurut!” Jendral Wirma sangat beryukur sampai meneteskan air matanya, ia benar-benar tidak menduga Juli bahkan rela memberikannya kristal lv3 secara cuma-cuma padahal selama ini mereka tidak pernah menemukan kristal lv 2 satu pun dari petualangannya, “Junior! aku benar-benar berhutang banyak padamu” ucapnya menetes air mata.
Jendral Wirma menjadi sangat lega ia segera menelan kristal hijau pemberian Juli tanpa membantah sedikitpun dan mulai duduk bersila untuk menyembuhkan diri dengan perasaan nyaman.
Juli senyum, “Jangan dipikirkan Jendral, kami pergi dulu” ucap Juli sambil menjentikkan jarinya.
Wusss…
Juli dan Hana menghilang bagai debu terbawa angin, Jendral Wirma kembali melebarkan mata, jantungnya berdetak kencang kekaguman terhadap Juli semakin menjadi-jadi,
“Ah! Aku benar-benar melihat seorang dewa di depan mataku, kenapa aku terlalu bodoh tidak memikirkan sebelumnya! Bagaimana seorang anak biasa bisa hidup di hutan terkutuk ini kalau bukan dua anak itu.. du.. dua orang Dewa Dewi… A.. Aku sungguh beruntung” Jendral Wirma bergidik saat mengingatnya. Kekagumannya terhadap dua anak itu semakin menjadi-jadi dihatinya.
**
“Tolong…! Bunuh aku… Tolong bunuh aku!”
Pangeran Ke-dua sekarang terjerat tumbuhan parasit sebagian tubuhnya telah di tumbuhi Parasit Maut, parasit paling ganas di antara semua. Parasit ini bahkan bisa menginfeksi tumbuhan parasit lainnya dengan mudah tapi parasit ini berumur pendek dan berkembang biak dengan tunas tunas.
Pangeran kedua terus meronta meminta tolong, badannya telah menempel pada pohon pemangsa lainnya serta sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Kesakitan yang tidak bisa di ungkapkan kata-kata kini dirasakan, ia sangat bersyukur jika ada seseorang yang bersedia membunuhnya untuk mengakhiri penderitaan yang tidak kunjung berakhir.
“Tolong! Bunuh aku, aku sudah tidak sanggup lagi menahan penyiksaan ini, tolong… tolong bunuh aku, kenapa aku tidak mati saja, atau pingsan sekurang kurangnya, kenapa tumbuhan terkutuk ini menyuntikkan racunnya agar otakku tetap sadar dan merasakan kesakitan ini” teriak sakit pangeran, sementara satu matanya telah memutih karena otak telah dikuasai tunbuhan parasit maut.
“Pangeran! Apa itu kau!”
Juli dan Hana begitu tiba di sana terlihat ekspresi terkejut mereka, Juli sangat heran melihat tumbuhan Parasit Maut yang sangat langka kini menginfeksi Pangeran ke-dua,
‘Tumbuhan Parasit Maut, tumbuhan ini paling tinggi kualitas kristalnya, bahkan puluhan kali lebih ampuh dibandingkan Janeng Iblis, aku beruntung kali ini, tapi aku benar-benar merasa kasihan melihat derita Pangeran ke-dua ini’ batin Juli menatap pangeran yang terus meronta karena sakit yang tidak bisa dibayangkan.
“Kakak tertua! Syukurlah kau datang kak! Kak, kumohon bunuhlah aku! Kumohon padamu kak! Aaaa…” pintanya menangis sejadi-jadinya.
Hana dari tadi menelan ludah, dia bisa merasakan kesakitan yang diderita pangeran ini jauh lebih sakit bila dibandingkan dengan dicopot dua tangan.
“Senior! Apa yang mesti kita lakukan? Apa kita benar-benar harus membunuhnya”
__ADS_1
Hana memegang tangan Juli dia sangat khawatir untuk itu, karena bagaimanapun Pangeran ke-dua adalah putra kaisar dan calon kaisar selanjutnya.
Juli mengeleng-gelengkan kepalanya, “Untuk membebaskannya akan sedikit sulit, tapi pertama aku akan mencabut paksa kristal tumbuhan Parasit Maut ini” jelas Juli menghela nafas panjang.
"Baiklah!"
Juli segera berusaha menyelamatkan Pangeran kedua dengan teknik-tekniknya, Hana memperhatikan Juli secara seksama. Juli dengan talenta mulai membedah tumbuhan parasit maut dan menebas semua cabang-cabangnya.
Dengan teknik rahasia Juli dengan mudah meyeret keluar kristal tumbuhan itu yang berwarna hijau bercampur dengan warna kemerah-merahan.
Juli menjelaskan pada Hana mengenai kristal langka yang bisa menyaingi Air Mata Abadi, namun hanya saja tumbuhan ini sangat lah langka dan mungkin di hutan ini hanya di jumpai beberapa saja.
Sembari menjelaskan, Juli terus melakukan penanaman kristal hijau level 2 pada setiap tubuh pangeran yang terluka. Saat dalam proses pencabutan dan pengobatan, akhirnya Pangeran ke-dua bisa pingsan dengan tenang sehingga memudahkan Juli dalam melakukan pekerjaannya.
Hana terus bertanya mengenai berbagai teknik misterius yang baru saja dilihatnya, jika dipikir kembali Hana memang di anggap anak super jenius di kalangan para ilmuwan namun dihadapan Juli, Hana tidak lebih dari seorang anak yang baru belajar merangkak.
“Selesai!”
Ucap Juli setelah menghabiskan waktu satu jam lebih untuk memisahkan tumbuhan Parasit Maut dan pengobatan organ-organ tubuh Pangeran ke-dua yang rusak.
“Senior! Apa maksudmu selesai? Bukankan dia masih terluka dan mungkin anggota tubuhnya telah hancur lebur di dalamnya?” Hana bingung karena melihat pangeran masih terbaring lemah.
“Tanang saja! Setelah aku mentransfer tenaga dalam nanti akan pulih sempurna” Jelas Juli sambil menekan dada Pangeran Kedua seiring menstranfer tenaga dalamnya.
Whooossss!
Dalam sekejap saja tubuh pangeran kedua berwarna hijau dan kembali memulihkan diri seperti sedia kala. Hana hanya menatap Juli dengan terkagum-kagum dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana luasnya pengetahuan Juli yang sebenarnya.
“Kakak tertua? Apa aku telah mati?”
Tiba-tiba suara pangeran kedua terdengar pelan, wajahnya masih terlihat pucat tapi seluruh tubuhnya telah kembali ke bentuk semula.
“Hebat! Pangeran kedua siuman dengan cepat” Hana tersenyum senang melihat keberhasilan Juli dalam menyembuhkan pangeran yang terasa mustahil untuk disembuhkan.
“Pangeran! Bangun lah! Kita akan kembali sekarang, karena aku merasa tempat ini bukan lagi tempat yang aman bagi kita, Hana ayo!”
“Senior! Apa pangeran sudah bisa bangkit?” tanya Hana heran.
Juli tidak menjawab, dan hanya menjentikkan jarinya.
"Tik!"
**
__ADS_1