Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 102. Dua Kitab, Ilmu Pedang Langit dan Ilmu Tombak Tanpa Tanding


__ADS_3

Kerajaan Embun Barat merupakan salah satu dari empat kerajaan milik kekaisaran purba dan wilayahnya terletak di wilayah barat kekaisaran serta memiliki cakupan luas hampir sepersepuluh dari total wilayah Kekaisaran Purba itu sendiri.


Daerah kerajaan ini memiliki tanah subur dan kekayaan alam melimpah serta panorama yang tak tertandingi bila dibandingkan dengan tiga kerajaan lainnya oleh karena itu banyak pelancong dan pedangan mendatangi daerah ini.


Kerajaan Embun barat juga memiliki sejarah panjang, dahulu kala wilayah ini merupakan kerajaan kurcaci sehingga tidak sedikit peninggalan-peninggalan suku kurcaci ditemukan di sini, seperti bangunan kota-kota tua bangsa kurcaci dan sampai sekarang terlihat berjejer dibeberapa tempat sepanjang jalan menuju ke kota raja.


Wilayah ini juga dulunya sempat menjadi tujuan para pendekar untuk mencari harta karun peninggalan bangsa kurcaci yang menurut lagenda banyak pusaka tingkat dewa bersemanyam disini, namun anehnya tidak satupun pusaka bangsa kurcaci di temukan setelah pencarian selama beberapa abad lamanya seolah bangunan-bangunan tua ini tidak memiliki apapun selain tembok-tembok kokoh megah yang membuktikan kejayaan dimasanya.


Di sebuah jalan utama menuju Kota Kerajaan Embun Barat yang nama lainnya "Kota Naga Merah" sebuah kereta kuda mewah ditarik oleh sepuluh ekor kuda perkasa berlari kencang menuju kearah ibu kota kerajaan.


Seorang anak berumur delapan tahun duduk didalam kereta sibuk menulis di dua halaman buku dalam waktu bersamaan dengan menggunakan kedua tangannya. ia menulis cepat, tatapan matanya tajam dan sesekali tatapan matanya terarah keluar jendela menikmati panorama alam di sela-sela kesibukannya.


Sepak terjang anak delapan tahun ini disaksikan oleh seorang pemuda berzirah perang dan seorang anak berusia tujuh tahun, mereka duduk berhadapan dengan tatapan penuh kekagumam saat melihat ketrampilan yang ditunjukkan oleh anak laki-laki berusia delapan tahun yang duduk di hadapannya.


“Saudara tertua, bagaimana caramu menulis begitu cepat di dua halaman yang berbeda dengan kalimat yang berbeda pula, bahkan tidak sedikitpun salah goresan disaat kereta kuda begitu goyang, melihat kejadian ini saja masih bisakah kau dianggap seorang anak manusia?” pemuda berzirah perang itu terkagum-kagum setelah lama melongo.


Anak delapan tahun itu senyum hangat dan tidak terlihat kesombongan diraut wajahnya,


“Pangeran, aku ini saudara tertua mu, bagaimana aku bisa kau anggap yang tertua kalau hal sekecil ini saja membuatmu melongo, apa sekarang kekaisaran purba begitu merosot oleh jenius?” anak delapan tahun itu menarik napas dalam-dalam dan mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Senior Juli, dua hari ini kau telah menyelesaikan dua kitab ‘Ilmu Pedang Langit’ dan ‘Ilmu Tombak Tanpa Tanding’ kepada siapa ingin kauserahkan kedua ilmu tingkat tinggi itu?” anak perempuan itu senyum ramah walaupun detak jantungnya kencang ia dapat menduga itu akan diberikan kepadanya.


“Tentunya ilmu pedang ini akan saya berikan padamu, dan telah saya jabarkan dengan sangat detail… ini untuk menyempurnakan ilmu pedang mu yang telah ku ajarkan sebelumnya, tapi ingat jangan sampai kitab ini jatuh ketangan yang salah, aku tidak mau kelak kita akan menemukan musuh yang merepotkan” Juli menyerahkan kitab pedang yang diciptakannya pada Hana.


“Eh!”


Hana sedikit kaget, ia tidak menyadarinya bahwa Juli akan segera memberikannya begitu saja, Hana menyadari jika Juli mengatakan demikian maka kebenaran tidak perlu dipertanyakan lagi mengingat seniornya ini bukan orang sembarangan tapi lebih misterius dari yang misterius.


Disisi lain Pangeran kedua menelan ludahnya, bisa dilihat keinginannya untuk memiliki salah satu sangat terlihat diwajahnya namun ia tidak berani memintanya apalagi kitab yang ditulis oleh anak misterius itu sangat hebat dan ia yakin tidak satupun kitab di Kekaisaran Purba yang setara dengan kitab yang titulis oleh anak kecil berumur delapan tahun didepannya ini.

__ADS_1


“Adik Pangeran, aku sangat sulit memberikan kitab yang ku ciptakan ini kepada sembarang orang walaupun terlihat tidak berharga, tapi percayalah ilmu tombakku ini cukup untuk menggemparkan dunia persilatan benua barat dan pastinya akan menelan korban ratusan ribu orang jika ada yang mengetahuinya, bagaimana menurutmu?”


Juli dapat melihat raut wajah Pangeran Kedua tidak dapat berbohong, ia jelas sangat menginginkan kitab ini, dan Juli memberi keterangan dengan santainya seolah sedang bercanda padanya.


Tapi kenyataannya benar, lima ratus tahun lagi kitab ilmu tombak di tangan Juli ini adalah satu-satunya Kitab Tertinggi yang diperebutkan jutaan pendekar di bumi tengah dan tidak terhitung jumlah korban berjatuhan bahkan bangsa siluman rela mengorbankan beberapa dewanya demi kitab ini.


Raut wajah pangeran kedua menjadi bimbang namun dalam hati kecilnya membenarkan,


‘Saudara Tertua Juli ini sangat misterius dan aku sangat yakin kalau dia ini seorang Dewa yang menyamar, tidak mungkin seorang bocah delapan tahun menguasai ribuan teknik yang bahkan tidak ada dikekaisaran barat sekalipun, kalau dia mengatakan ilmu tombak ini jadi rebutan dunia persilatan aku juga sangat yakin untuk itu, dan kurasa kitab ditangannya ini walaupun bukan yang aslinya tapi isinya tetap sama’ batin Pangeran Kedua dan menjatuhkan diri berlutut di depan Juli.


“Saudara tertua, bagaimana caraku untuk mendapatkan kitab itu dan tentu saja aku akan menuruti semua perkataanmu”


Pangeran Kedua tidak pernah memohon dan merendah sebelumnya bahkan didepan kaisar sendiri, namun dihadapan Juli ia bagai anak lima tahun yang merengek permen pada kakaknya.


Juli senyum mengibaskan tangannya, “Kereta ini sempit, kau bangunlah! Memang kitab ini sengaja ku ciptakan untukmu dan persyaratanku ada dua pertama jangan coba-coba mengkhianati rakyatmu kelak dan yang kedua coba kau ceritakan saja mengenai perkembangan politik kerajaan ini, itu saja”


“Baik, ini ambillah” Juli menyerahkan kitab yang ditulisnya pada pangeran kedua, sebenarnya kitab ini merupakan salah satu kitab ciptaannya di masa depan diantara ribuan kitab hebat lainnya.


Juli sebenarnya sudah tahu semua mengenai politik kerajaan ini karena kesadarannya melalui kunang-kunang emas telah menyebar keseluruh kekaisaran akan tetapi Juli sendiri ingin mengetahui sudut pandang pangeran kedua saja mengenai kerajaan embun barat.


“Saudara tertua, sebenarnya saya pribadi tidak menyukai Raja Darman ini walaupun dia termasuk pamanku, alasan ku tidak menyukainya sederhana saja.. itu karena dia raja korup dan tidak memihak kepada rakyatnya, lihatlah kerajaan ini.. banyak orang fakir miskin.. mereka di tindas dan bahkan menteri-menterinya tidak ubah seperti serigala haus darah yang selalu menerkam rakyatnya, aku hampir tidak melihat kebaikan sedikitpun dari pamanku itu.. dan jika bukan dia termasuk kerabatku maka telah lama dia dijatuhi hukuman mati” pangeran kedua menggepalkan tangannya karena kesal.


Hana hanya diam walaupun sempat kaget ketika kitab yang ditulis Juli dibagikan dengan mudah namun Hana masih tidak senang saat melihat salah satu kitab terbaik ciptaan Juli diserahkan pada pangeran kedua dengan persyaratan ringan dan belum tentu dipenuhinya.


‘Seniorku terlalu mudah percaya orang, aku takut kalau suatu saat pangeran ini bukan saja menkhianati rakyat tapi juga seniorku, kalau itu sempat terjadi aku akan mengerahkan armada kekaisaranku kemari, dan ku ratakan mereka semua, bagaimanapun risikonya’ batin hana serius.


Dengan indentitas Hana saat ini untuk meratakan sebuah kekaisaran di Bumi Barat hanya seperti membalikkan telapak tangan, jika saja pangeran kedua mengetahuinya mungkin dia akan berpikir dua kali untuk menerima persyaratan ini.


“Hey Pangeran, Apa kau serius? Apa itu saja informasimu? Apa itu bisa dikatakan sebuah informasi? jika kamu hanya mengatakan kalau kau tidak suka pada pamanmu, cepat berikan informasi yang jelas! Percayalah itu tidak sepadan dengan kitab yang diberikan seniorku”

__ADS_1


Hana terlihat tidak suka pada pangeran kedua, Juli menyadarinya sebab Juli sangat hafal watak Hana yang telah menjalani dua kehidupan bersamanya.


Juli senyum mengeleng-gelengkan kepalanya sementara Pangeran kedua mulai gugup,


‘Ratu Rihana memang orang yang sangat hati-hati dan tidak mudah percaya pada orang lain, ia hampir bisa dikatakan setengah meramal masa depan dan hampir semuanya akurat, tapi aku sangat yakin kalau pangeran kedua ini tidak akan berkhianat walaupun aku tidak begitu mengenalnya karena dia mati muda di kehidupan ku sebelumnya, dan jika ia mengkhianati aku tinggal mengurusnya saja nanti’ batin Juli menenangkan diri saat menyadari keraguan Hana.


“Ah begitukah, baiklah saya akan menjawab apa saja yang ditanyakan saudara tertua sebisa mungkin” pangeran memberi hormatnya pada Hana yang kelihatan marah.


“Sudah! Kalian diamlah! Aku merasakan kehadiran ahli tingkat tinggi! Ini pasti ahli tingkat Dewa dan lebih kuat dari Ute-e yang kita temui sebelumnya, Hana, Junior Pangeran, simpanlah kitab yang aku berikan pada kalian dan dengarkan aku, kalian tetap dibelakangku bila sempat kaburlah! ini jalan satu-satunya agar aku bisa menghadapi mereka dengan tenang”


Juli memperingati Hana dan Pangeran ke-dua, sontak keduanya terkejut dan langsung menyimpan kitab yang diberikan kedalam cincin ruang masing-masing.


“Senior! Mungkin target mereka bukan kita atau mungkin saja mereka hanya sekedar lewat”


Hana mencoba menenangkan Juli yang terlihat gelisah karena selama ini Juli terlihat tenang dan gila, akan tetapi belum sempat Juli menjawab sebuah suara melengking dari arah langit terdengar.


“Hentikan kereta! Atau kalian akan terkubur disini”


Terdengar suara wanita melengking dilangit penuh tenaga dalam sampai kuda dan Jendral Wirma sebagai joki memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya hingga tidak sadarkan diri. Hana dan Pangeran kedua terlindungi oleh aray segel yang diciptakan oleh Juli secara tiba-tiba seolah Juli telah mengetahui kejadian ini akan terjadi.


“Senior aku sepertinya mengenal suara ini, biarkan aku turun dan menghadapi mereka!” Hana mencoba turun menghadapi sumber suara yang berasal dari langit namun Juli mengangkat tangan memberi isyarat menghentikan tindakan Hana.


“Hana, tenanglah biarkan aku yang keluar”


Juli bergegas keluar dari kereta dan menatap ke langit, di langit telah berdiri di udara lima sosok manusia bertopeng dengan aura mengerikan.


“Lima Penjaga Keluarga Kekaisaran Bumi Tengah! Sungguh merepotkan”


**

__ADS_1


__ADS_2