Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 98. Juli Vs Pangeran Mahkota


__ADS_3

SERANG!


Ratusan pasukan pengawal Kerajaan Embun Barat bergerak serentak menyerang Pangeran ke-dua, sebenarnya mereka mengenalinya tapi sikap angkuh mereka yang tidak menyukai pangeran ke-dua membuat mereka pura pura buta dan menyerangnya tanpa ampun.


Lagi pula tidak ada saksi mata di tempat ini andaipun Pangeran Ke-dua terbunuh. mereka memang berniat membunuh pangeran kedua dan menyerap mayatnya hingga habis seperti yang dilakukan pada anak-anak selama ini.


“Jangan biarkan pemuda bodoh ini menghalangi perjalanan Pangeran Mahkota!” Perintah komandan pasukan sembari memanah Pangeran Ke-dua.


Swuuss syut swuuss syut


“Apa? Apa yang kalian lakukan!”


Pangeran Ke-dua terkejut, ia tidak menyangka kalau Putra Mahkota Kerajaan Embun berani bersikap kurang ajar terhadapnya.


Tanpa berpikir panjang Pangeran kedua segera mencabut pedang menangkis semua anak panah yang mengarah padanya.


"Serang!"


Belum semua anak panah reda dalam di tangkisan pedang, ratusan orang langsung menerjang menyerang ke arahnya dengan membabi-buta.


Syut! Trang! Tring!


“Apa kalian tidak mengenal ku? Ini mustahil” Pangeran Ke-dua terus mempertahankan diri dan menebas siapapun yang mencoba mendesaknya.


Dalam beberapa kali serangan Pangeran Ke-dua berhasil melumpuhkan belasan pasukan penyerangnya namun tidak seorangpun dibunuhnya.


“Aku tidak bisa membiarkan orang seperti kalian bertindak seenak hatinya, hari ini kalian akan ku hentikan”


Pangeran Ke-dua terus menyerang dalam malam buta. Dari segi kekuatan dan kecepatan mereka bukanlah tandingan Pangeran Ke-dua namun dalam jumlah mereka jauh lebih unggul.


Pangeran Ke-dua sendiri walaupun budidayanya tingkat tinggi namun dia jarang berhadapan langsung dengan manusia apalagi dalam kepungan.


Selama ini Pangeran Kedua hanya melawan monster di dalam portal yang tidak berpikiran. Jadi kali ini dia terlihat sedikit kewalahan dalam bertarung karena ia tidak ada niat untuk membunuh lawannya.


“Hahaha, cepat lumpuhkan Pangeran Palsu ini” Terdengar suara Pangeran Mahkota senyum senang saat melihat Pangeran Ke-dua mulai terdesak dalam kepungan ratusan anak buahnya.


Dalam kereta kuda, Pangeran Mahkota melihat pertandingan itu dengan dua orang selir yang mendampinginya. Kedua selir senyum senang sambil memukul-mukul bahu pangeran kedua untuk menghilangkan lelahnya.


“Yang Mulia, kenapa kau tega menyerang Pangeran Ke-Dua, dan seandainya dia selamat maka kita akan berada dalam masalah” kata seorang selir sembari memperhatikan jalannya pertarungan sengit di bawah sorotan cahaya kristal kereta.


“Hahaha, Tenang saja, aku sendiri bisa mengurusnya sekarang, aku hanya menggunakan jasa pasukan untuk membuatnya lelah setelah itu aku akan memenggalnya dengan tanganku sendiri”


“Hm.. Tapi yang mulia, tidak takut kah Yang Mulia kalau ada mata-mata di antara pasukan kita?”


“Jangan khawatir, mereka pasukan yang setia, dan kali ini tidak akan kubiarkan Pangeran ke-dua hidup dia menghambat program masa depan ku!” Pangeran Mahkota terlihat bersemangat ingin membantai Pangeran Ke-Dua.


Wooossshh….


“Hahaha, Apa Kau bilang! Kau mau membantai Pangeran Ke-dua”


Terdengar ucapan seorang anak kecil yang tiba-tiba sudah berada di sana, ia duduk di atas ranjang dalam kereta bersama salah seorang selir.


Semua sontak kaget, bahkan Pangeran Mahkota sendiri tidak menyadari kehadiran anak misterius ini.

__ADS_1


“Hey bocah! Siapa kau!”


“Kurang ajar!”


“Anak Jahannnam…!”


Maki pangeran dan kedua selirnya marah besar, saat menyadari seorang bocah telah berada dalam ranjang mereka.


“Kalian bahkan tidak bisa menjaga mulut! Biar sedikit ku beri peringatan!” Anak kecil itu melesat cepat sembari mengangkat kakinya mengarah ke pangeran dan dua selirnya.


Dask… Dask… Dask…


Dengan gerakan kilat anak kecil itu menendang Pangeran Mahkota dan Dua Selirnya secara serentak membentur dinding kereta kuda sampai hancur dan ketiganya terpelanting jauh jatuh ke tanah.


Aakkkhh!!


Aaakkhh!!


Dua orang selir tergeletak pingsan, keduanya mengalami nasip mengenaskan seluruh isi perutnya berantakan.


Sementara Pangeran Mahkota kembali keposisi duduk tangannya meraba dada, ia dapat merasakan lima tulang rusuknya patah mulutnya mengeluarkan darah segar. Kini dalam kereta kuda hanya tersisa seorang bocah kecil duduk santai menyilangkan kakinya di atas ranjang mereka.


“Kurang Ajar…. Bocah iblis siapa kau! Kau dan keluargamu akan ku hukum mati”


Teriak murka Pangeran Mahkota menunjukkan ke arah anak yang terlihat misterius dan tidak masuk akal dengan tindakannya.


“Aku! Kalau tanya siapa aku? Kau tidak akan mengenaliku walaupun aku memperkenalkan diri, tapi baiklah, Aku ini Juli, Pangeran Ke-dua kekaisaran itu memanggilku dengan sebutan 'Kakak Tertua', artinya, dia itu adik ku, dan aku tidak mau ada seseorang menyakiti adikku. Dan kau ingin memanfaatkan kelelahan adikku bukan, nah akupun sama, aku ingin mematahkan kaki dan tanganmu dulu sebelum kau bertarung dengannya dan aku rasa itu sangat adil”


Juli tiba-tiba sudah berada di depan wajah Pangeran Mahkota. Pangeran mahkota mulai frustasi kini dia baru sadar siapa bocah gembel yang baru muncul ini bukanlah manusia biasa, ia bahkan tidak bisa melihat pergerakannya.


“Kau bukan dari kerajaan ini! Bagaimana kau bisa sekuat ini padahal kau belum berpangkat, dan bagaimana kau bisa bergerak secepat itu siapa kau sebenarnya!” Pangeran Mahkota merangkak mundur menjauh dari Juli, ia sadar anak didepannya bukan sesuatu yang bisa ia lawan.


Whosshh…..


Juli tiba-tiba sudah berada di arah belakang Pangeran Mahkota, dan mencengram kepalanya semberi memberi segel Neraka Para Dewa.


“Aaakkkhh! A.. Apa yang kau lakukan! Kau… pergi kau…” Pangeran Mahkota kembali terkejut dan terus merangkak mundur menjauhi Juli yang kini menjadi momok menakutkan baginya, dia tidak pernah merasakan se frustasi ini sepanjang hidupnya.


“Hm… Sekarang giliranku untuk mencabut satu lengan mu!” Juli tiba-tiba sudah mencengkram tangan kanan Pangeran Mahkota.


“Lepaskan! Lepaskan!” Pangeran mahkota mencoba meronta dan berteriak keras sehingga semua pasukan yang sedang menyerang Pangeran Ke-dua kini mengalihkan pandangan pada Pangeran Mahkota.


"Apa yang terjadi?!"


Sontak semua pasukan terkejut saat melihat dua selir tergeletak bersimbah darah di tanah, sementara Pangeran Mahkota menjerit kesakitan karena lengannya sedang di cengkram oleh seorang anak kecil gembel dan tidak ada yang tahu berasal dari mana.


“Ada apa ini! semuanya lindungi Pangeran Mahkota!” teriak perintah komandan pasukan pada bawahannya.


Raut wajah mereka menjadi pucat mereka benar-benar tidak menyadari ada serangan lain di barisan belakang.


“Lindungi yang mulia!”


Semua pasukan kini berbalik arah bergerak cepat melindungi Pangeran Mahkota yang sedang terancam. Juli melihat semua pasukan mulai bergerak menyerang ke arahnya membuat dirinya tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Pangeran Mahkota! Aku ingin tanya, apa kau pernah menghitung jumlah anak-anak yang kau bunuh! Huh!” Tanya Juli sambil menarik lengan Pangeran Mahkota hingga terlepas dari bahunya.


“Aaakakkkhhh!”


Jeritan kesakitan Pangeran Mahkota memenuhi ruang udara. Semua pasukan kini mereka berhenti bergerak, mereka memutuskan hanya membidik Juli dari jarak jauh.


"Jangan mendekat anak kecil itu bisa menggila"


Mereka benar-benar takut kalau seandainya mereka mendekat maka Pangeran Mahkota akan di bunuh oleh anak misterius ini.


Disisi lain, Pangeran Ke-dua sudah tidak ada lagi yang menyerangnya, kini pandangannya teralihkan pada Kereta Kuda Pangeran Mahkota yang terlihat telah rusak dan dikerumuni oleh ratusan pasukan pengawal.


“Apa yang terjadi! Apa kakak Tertua sudah turun tangan! Aku harus bergegas ke sana” Pangeran Kedua segera melompat mencari tahu apa yang telah terjadi.


Sesampainya di sana ia kembali tercengang, saat melihat Juli telah mencabut dua lengan Pangeran Mahkota sementara ratusan pasukan hanya bisa berteriak dan mengancam saja dari jarak belasan meter, dan gilanya Juli bahkan tidak memperdulikan mereka sama sekali.


“Anak iblis! Lepaskan pangeran! Kami berjanji akan membirikanmu apapun!”


Tawar Kepala pasukan dengan wajah bringas, mereka berdiri belasan meter dan tidak berani mendekat. Pangeran Mahkota kini hanya bisa menjerit kesakitan, kedua lengannya di cabut oleh Juli bagaikan mencabut rumput kering saja.


“Ampun! Ampun!”


Juli senyum pahit, “Budidaya terlarang mu hasil dari membunuh ribuan anak-anak, sekarang akan kurebut olehku semuanya” Juli meletakkan tangan di atas ubun-ubun Pangeran Ke-dua dan mulai menyerap semua budidaya tubuhnya secara paksa.


“Aaakkkkkhhhh! Ampun! Ampun!” Teriak kesakitan Pangeran Mahkota, beriringan dengan serapan, tubuhnya terus menua, rambutnya memutih, kulitnya berkeriput hingga tidak terlihat lagi bintang dua di lengannya yang sempat ia banggakan.


Semua mata terbelalak menyaksikannya, mereka tidak menduga seorang anak setelah menyerap habis budidaya Pangeran Mahkota yang bintang dua tapi anak itu bahkan tidak naik satu peringkat pun.


Semua pasukan hanya bisa menelan ludah menyaksikan kejadian ini, untuk menyerang secara membabi buta anak misterius ini bisa dipastikan itu adalah jalan bunuh diri.


Pangeran Ke-dua melompat ke-atas atap kereta kuda, dia bisa menyaksikan keganasan Juli melebihi penilaiannya.


“Kakak Tertua! Aku rasa ini sudah cukup sisanya serahkan padaku, aku akan mengadilinya di pengadilan Kerajaan Embun, jika tidak aku akan menyeretnya ke Kaisaran Purba” Pinta Pangeran Ke-dua.


Pangeran ke-dua sebenarnya merasa iba melihat saudaranya berakhir mengenaskan begitu juga dengan dua selirnya, namun untuk menyalahkan Kakak Tertuanya itu jauh tidak terpikirkan olehnya, apalagi jika mengingat kosekuensi jika menyinggung monster kecil ini.


"Kakak Tertua!"


Mendengar Pangeran Kedua memanggil Juli dengan sebutan “Kakak Tertua” semua pasukan menjadi pucat pasi, mereka bisa membayangkan kalau Pangeran Ke-dua saja menghormatinya, itu artinya anak ini bukanlah anak yang sembarangan.


Kepala pasukan orang yang sangat berpengalaman, ia tahu kalau ini diteruskan mereka akan terancam, jadi dia sengara menjatuhkan pedangnya dan berlutut memberikan hormatnya.


“Semuanya berlutut! Pada Yang Mulai Pangeran Ke-dua, dan kepada Yang Mulia Kecil!”


"Panjang umur yang mulia!"


Serentak semuanya berlutut di hadapan Juli sembari memberikan penghormatan mereka, mereka menyadari tanpa ada Pangeran Mahkota melawan seorang Pangeran Ke-dua saja tidak ada peluang menang, apalagi harus berhadapan dengan anak misterius yang tidak terukur kekuatannya.


Juli senyum, “Kalian Kuberi dua pilihan! Penggal kepala kalian sendiri atau kalian kujadikan budak Neraka Para Dewa ku! Pilihlah!” Juli segera menciptakan gerbang Hitam untuk menyerap pasukan dengan pilihan kedua.


Whooomm


**

__ADS_1


__ADS_2