Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 107. Kunang-Kunang Emas


__ADS_3

Ratu Kiria menyerahkan kunang-kunang itu kembali pada Hana, “Anakku yang bodoh, bagaimana kamu bisa menempatkan seorang leluhur sebagai seniormu, aku jadi teringat sejarah dua ratus ribu tahun silam, sejarah bangsa Ba-Un bangsa nenek moyang kita” Ratu Kiria duduk disamping hana mulai bercerita.


Dahulu kala bumi ini sangat damai sebelum munculnya bangsa iblis gerarasi pertama, Bangsa Iblis ini sangat kuat paling rendahnya budidaya tingkat Dewa.


Kemunculan bangsa iblis bukan hanya menganggu ketentraman dunia akan tetapi menghancurkan segalanya. Selama ribuan tahun setelahnya semua bangsa bahu-membahu memerangi bangsa iblis, akan tetapi semuanya dikalahkan.


Pada saat semua bangsa putus asa dan tidak tahu arah, semua raja memohon pada tuhannya.


Pada bulan Bakda, sesuatu keanehan terjadi, saat kunang-kunang emas memenuhi jagat raya, menciptakan malam menjadi siang dengan sinarnya.


Semua bangsa tidak tahu keberuntungan atau malapetaka pada saat itu, namun keesokan harinya bangsa iblis generasi pertama hilang bagai ditelan bumi.


Lambat laun baru diketahui bahwa kunang-kunang emaslah yang memusnahkan mereka semua. Di bumi para dewa kunang-kunang emas ini sangat sakral, dan kunang-kunang ini diyakini sebagai leluhur segala bangsa, leluhur para Dewa-Dewi.


Mulut Hana terbuka lebar, ia tahu ibunya tidak pernah mengagumi seorangpun bahkan terhadap kaisar sendiri selaku suaminya, namun kali ini ia benar-benar memuji kunang-kunang emas miliknya.


Hana kembali tersenyum, “Ibu salah, dia memang anak yang misterius tapi tidak sekuat itu” Hana mengibaskan tangannya dan tidak percaya, walaupun hatinya senang saat melihat kunang-kunang emas.


Ratu senyum hangat, “Didalam perpustakaan istana, disana ada catatan dewa leluhur, kau boleh membacanya dan keterangan mengenai kunang-kunang emas. Serta kitab-kitab ramalan dewa-dewi terhadap kemunculannya, sekarang seorang ahli dari Bumi Timur yang dikenal dengan Nyonya Tuya telah berhasil meramalkan kelahirannya” Ratu Kiria menundukkan kepala mengenang kenangannya bersama Nyonya Tuya.


“Ah! Ibu ini? Bumi timur adalah bumi terlemah diantara semuanya, bagaimana ibu mengenal seorang peramal dari sana, bagaimana bisa disandingkan dengan peramal Bumi Tengah” Hana terlihat tidak begitu percaya.


“Hana! Nyonya Tuya itu seniorku, dalam ramalan bahkan sampai sekarang tidak ada seorangpun ahli di bumi ini dapat menandinginya”


Hana tidak memperpanjang perdebatan dengan ibunya, kini ia hanya mengelus punggung kunang-kunang miliknya dengan hati cemas.


“Senior! Apa kau bisa mendengarku!”


Kunang-kunang hanya diam tidak bergeming seolah-olah tidak mendengar pembicaraannya. Ratu senyum kecut karena penasaran.


“Rihana! Jangan katakana kalau kunang-kunang ini bisa bicara!” Ratu Kiria menjadi salah tingkah.


“Iya, Aku bahkan bisa melihat ibunda Ratu, salam kenal Ibunda Ratu kiria, dan tolong rahasiakan keberadaanku” terdengar suara kunang-kunang seperti suara anak-anak pada umumnya.


Hana dan Ratu saling menatap dalam diam, dan sejuta pertanyaan keheranan terlihat diwajah Ratu Kiria.


**


Malam hari di Reruntuhan Kota Kurcaci, suara serigala terdengar melolong sepanjang waktu mengalahkan suara jangkrik yang terus berbunyi disetiap sudut ruangan.

__ADS_1


Walaupun sudah berusia ribuan tahun, reruntuhan ini masih sangat kokoh bahkan langit-langitnyapun terbuat dari batu hitam misterius.


Namun demikian, sudah puluhan tahun tidak ada orang yang berani menempati bagunan ini, hal itu karena ruangan ini mengandung aura iblis yang sangat misterius dan mengerikan.


Akan tetapi, semenjak tiga hari lalu seorang bocah berumur delapan tahun membawa seorang gadis yang tak sadarkan diri memasuki reruntuhan ini, semenjak saat itu juga aura mengerikan itu menghilang bagai ditelan bumi.


Sudah tiga hari seorang gadis terbaring tak sadarkan diri diatas lantai beralas kasur sederhana. Gadis ini dalam perawatan seorang anak berusia delapan tahun yang kini ia duduk bersila didepan api unggun dengan mata terpejam.


“Ah! Di mana ini? Dimana aku”


Terdengar suara seorang gadis mulai sadarkan diri dari pembaringannya. Gadis itu mencoba cari tahu apa yang terjadi dengan dirinya, namun alangkah terkejut saat dia menyadari seorang bocah yang dia takuti berada diruangan yang sama dengannya.


“Anak siluman! Kenapa kau ada disini” Bentak kaget gadis cantik itu berusaha bangkit, akan tetapi tubuhnya langsung jatuh kembali beberapa detik kemudian.


Sementara bocah yang duduk bersila itu tidak bergeming, seolah tidak mendengar suara apapun disekitarnya.


Gadis itu berusaha memeriksa tubuhnya, namun alangkah terkejut saat melihat bajunya telah robek-robek serta bagian perutnya tidak berpakaian sama sekali.


Ia meraba perutnya yang berkulit putih bersih, dalam ingatan terakhir, perutnya telah hancur total hingga menembus punggungnya. Kini ia penasaran pada dirinya sendiri, hatinya diserang sejuta pertanyaan pada anak kecil yang duduk bersila didepan api unggun.


“Bocah! Katakan? Apa kita telah mati? Atau aku yang telah mati?”


“Pukulan tapak dewi!”


Pukulan itu bukan pukulan angin yang terlihat, malah dirinya mengalami kesakitan, serta tidak memiliki efek apapun terhadap bocah itu.


“Apa yang terjadi? Kenapa dengan tenaga dalamku? Ada apa ini? Ataukah aku benar-benar telah mati dan aku sedang gentayangan?” Gadis itu mulai frustasi.


“Tenanglah! Duduklah dulu Putri Yara!”


Anak itu perlahan membuka mata, kini tatapanya diarahkan pada Putri Yara yang terlihat frustasi dengan keadaannya sekarang. Di sisi lain Putri Yara ketakutan dan termundur beberapa langkah hingga terjatuh ke posisi duduk.


“Si.. siapa kamu bocah iblis?” Putri Yara menunjuk kearah bocah itu, ia memberanikan diri untuk bertanya.


Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Hm, Namaku Juli, kau panggil saja begitu, kau tidak usah panik duduklah!” Juli terlihat tenang menikmati suasana malam.


Bagi sebagian orang, mendengar suara jankrik, lolongan serigala, dan suara burung hantu merupakan hal menakutkan, tapi bagi Juli itu salah satu suara alam yang dapat membuat dirinya tenang.


“O.. Bocah Iblis Barat bernama Juli, aku baru mengetahuinya sekarang, tapi itu tidak penting bagiku, sekarang dimana aku?” Putri Yara mulai menguasai dirinya.

__ADS_1


“Putri Yara, kau tadi hampir mati, dan aku menyelamatkanmu, tapi sayang.. wadah tenaga dalammu telah hancur” Juli menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mendengar penjelasan Juli, Putri Yara segera memeriksa wadah induk tenaga dalamnya, akan tetapi ia tidak bisa melakukannya. Saat itu juga wajahnya pucat pasi.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku bahkan tidak bisa merasakan tenaga dalam milikku sedikitpun? Kenapa bisa begini? Tidak! Tidak mungkin!” ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


Didunia persilatan, bagi seorang pendekar budidaya tubuh lebih penting dari nyawanya sendiri, seseorang lebih memilih mati dari pada kehilangan budidaya tubuhnya.


Putri Yara seorang gadis jenius, seumur hidupnya berlatih keras sampai mencapai alam dewa.


Tidak terhitung sumberdaya yang telah ia habiskan, dan tidak terhitung pula kepahitan yang ia alami untuk mendapatkan tingkatan seperti itu. Namun kehilangan budidaya dalam waktu tiba-tiba jelas membuatnya putus asa.


Saat ini ia tidak ubahnya seperti gadis biasa yang mudah untuk ditindas oleh siapapun, bahkan bisa diperlakukan lebih buruk dari pada itu, mengingat hal ini saja sudah membuatnya ingin bunuh diri.


“Putri Yara! Aku mungkin bisa menyembuhkanmu, tapi ada syaratnya”


Juli memberi sedikit harapan, ia tidak mau orang yang baru saja diselamatkan dengan susah payah akhirnya bunuh diri.


Putri Yara menatap Juli dengan tatapan marah, “Kaulah yang menyebabkanku seperti ini, tapi baiklah! Memang dalam pertarungan hidup dan mati itu hal biasa, karena aku sebagai manusia tentunya tidak akan mengkhianati manusia, kau siluman adalah musuh bebuyutan kami dari masa ke masa, tidak masalah dengan kita saling membunuh, sekarang katakan, asal tidak mengkhianati manusia akan ku pertimbangkan tawaranmu”.


Juli hanya senyum, tidak terlihat kemarahan diwajahnya, “Baiklah Putri Yara, aku malas berdebat denganmu, tapi jikakau ingin menerima syaratku aku berjanji akan menyembuhkanmu, tapi jika tidak! Kau boleh keluar dan berkelana sendiri dirimba persilatan ini” Juli memberi pilihan.


Putri Yara berpikir sejenak, pada dasarnya wajah Yara memang sangat manis dan anggun, akan tetapi, pada saat ia marah maka dikekaisaran Bumi Tengahpun sulit mencari lawan tanding untuknya.


“Baiklah! Coba katakana dulu! Siapa tahu aku bisa melakukannya”


“Aku hanya ingin kamu membantuku dalam menghancurkan segel aray kutukan iblis diatas kubah pelindung ini, bagaimana?” tawar Juli senyum.


Yara terperanjat, ia tidak mengira ada siluman yang ingin menghancurkan kutukan bangsa leluhurnya. Yara semakin bingung atas syarat yang ditawarkan oleh Juli.


“Heh! Apa bangsa siluman juga sedang terjadi perpecahan? Kalau cuma itu aku tentu tidak keberatan, tapi bagaimana kalau kau sebenarnya ingin menjebakku?” Putri Yara mulai curiga.


‘Tidak mungkin anak siluman ingin menghancurkan kutukan aray iblis, itu jelas menguntungkan manusia dan merugikan bangsa siluman, atau mungkinkah anak ini sedang bersengketa dengan siluman lainnya’ batin Yara menebak-nebak.


Juli senyum, ia dapat menebak jalan pikiran gadis didepannya, namun pada kenyataan Juli bukanlah siluman, ia berniat menghancurkan aray kutukan agar manusia terbebas dari penggunaan paksa terhadap Kristal siluman.


“Tenang saja Putri Yara, aku tidak berniat menjebakmu, dan jika aku lakukan maka dirimu pasti tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku” Juli senyum dan kembali memejamkan mata mengakhiri pembicaraan.


Yara duduk terpaku, ‘Aku tidak menduga pada akhirnya aku diselamatkan oleh anak siluman yang masih bau kencur, tapi kenapa jalan pikiran anak siluman ini berbeda? Apa yang dipikirkannya? Ataukah anak ini melakukan budidaya paksaan sampai-sampai ia memusuhi bangsanya sendiri? Ah terserahlah! Selama aku bisa disembuhkan aku tidak peduli tentang masalahnya’ batin Putri Yara.

__ADS_1


**


__ADS_2