Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 16. Penyerangan Siluman Bangkai


__ADS_3

Malam hari di Reruntuhan Bangun Tua


Blizz! Blizz!


Gruuk! Gruk! GROOMM!! TOOOMM!!


Ruuuuu Ruuuu..


Hujan turun deras mengguyur bumi, kilat dan halilintar sambung menyambung tidak henti hentinya, dalam reruntuhan bangunan yang telah berlumut, Husen, Dolah, Yuyun dan Ruyu mereka berteduh bersama dalam kegelapan malam.


Suara-suara monster dan siluman terus terdengar mengiringi suara gemuruh petir, Kakek Husen dan Dolah bertindak sebagai penjaga pintu sementara Yuyun dan Ruyu menggunakan kesempatan itu untuk tidur sejenak di dalam reruntuhan tua.


Rok! Rok!! Kek! Kek!


Tiba-tiba terdengar suara siluman Bangkai dalam kegelapan malam, siluman ini menyerupai manusia yang bergigi panjang hingga keluar dari mulutnya, memiliki sepasang sayap seperti kelelawar, umumnya siluman ini berukuran tubuh setinggi tiga meter, dan rata-rata berpangkat putih dan kuning.


Selain itu Siluman Bangkai juga merupakan siluman paling menjijikkan dan paling bau diantara semua siluman yang ada, siluman Bangkai bukanlah siluman kuat di alam liar ini oleh karenanya siluman bangkai selalu berburu secara gerombolan di malam hari.


Rok! Rok!! Kek! Kek!


Mendengar suara siluman bangkai raut wajah kakek Husen langsung berubah pucat, “Sttt! Diam! Jangan ribut” perintah Kakek Husen pada Dolah.


Dolah penasaran saat mendengar banyak suara aneh dan suara langkah kaki disekitar bangunan yang mereka diami, “Apa itu? Kek? Sepertinya jumlah mereka sangat banyak, bau busuk juga sangat menyengat” Bisik Dolah yang bisa mencium bau busuk tubuh siluman.


Husen perlahan mencabut pedangnya, “Mereka Siluman Bangkai, dan celakanya siluman ini bisa melihat di gelap malam, aku harap kita tidak mati di tangan monster yang menjijikkan ini, Dolah! Cepat bangunkan Ruyu dan Yuyun” Pinta Husen setengah berbisik pada Dolah diantara kilatan petir dan gemuruh.


“Baik” ucap Dolah berjalan perlahan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara pada Tempat tidur Ruyu dan Yuyun.


"Ruyu.. Ruyu.. Yuyun.. bangun.. Ruyu.." Dolah perlahan membangun kan Ruyu dan Yuyun yang terlelap,


Pada saat dibangunkan Ruyu terkejut dan berteriak keras, “Aaakk! Siapa ini! Apa ini..? Eh maaf”, Saat melihat kegelapan dan kilatan petir yang menyala-nyala baru Ruyu menyadari kalau dirinya berada di alam liar sekarang ini.


Rok! Rok!! Kek! Kek! Rok!


"Celaka" Mendengar teriakan Ruyu Kakek Husen terkejut bukan main, selain itu suara siluman bangkai menjadi semakin ribut,


“Semuanya bersiap! Mereka telah bergerak kemari” kakek Husen bisa melihat ratusan Siluman Bangkai bergerak kearahnya di bawah penerangan cahaya kilat.


“Cepat! Kalian bersiaplah!” kata Dolah memerintahkan Yuyun dan Ruyu, namun Yuyun masih terlihat kebingungan ia belum mengerti situasi karena ia terbangun karena mendengarkan teriakan Ruyu.


“Eh! Ada apa paman Dolah!” Tanya Yuyun cepat sambil menarik pedang, akan tetapi hal itu tidak perlu penjelasan lebih lanjut dari Dolah karena di bawah cahaya kilatan dalam guyuran hujan puluhan monster menyeramkan dan menjijikkan mendekati mereka.


"Ya Tuhan, makhluk apa ini? ini benar-benar sangat mengerikan" Yuyun merasa ngeri apa lagi jika sampai dimangsa oleh makhluk ini.


Kakek Husen segera melompat ke dalam hujan bersiap menghadang, “Kalian pergilah dari sini, biar aku yang menghadang mereka”, Teriaknya memberi perintah dan ia sendiri mulai menebas siluman bangkai yang mencoba menyerangnya.


Syuuss! Syuuutt!


Rok! Rok!! Kek! Kek!


Puluhan Monster bangkai mulai menyerang Husen dengan cakar-cakar tajam mereka, dan husen mulai mengamuk dalam kawanan itu,

__ADS_1


Syusst! Syuut!


Oooookkk! Oooookkk!


Dolah tidak tinggal diam ia segera menerjang maju menebas Siluman Bangkai di bawah penerangan cahaya kilatan dan petir,


“Tidak! Kita akan melawan siluman kotor ini bersama” teriak Dolah menyerang Siluman bangkai dengan penuh emosi.


Syut.. Trak.. Trang.. Tring..


Aaakkk Ooookkk Syusss


Yuyun dan Ruyu saling pandang dan menganguk secara bersamaan, “Ayo Kita bantu kakek! Percayalah! Tanpa kakek kita tidak akan selamat di hutan ini” Ruyu mulai menerjang maju menebas siluman bangkai yang dilihatnya dalam guyuran hujan lebat.


Trak! Tring! Trang!


Hiak! Hiat!


Ruyu dan yuyun bergerak cepat menebas siluman dibawah kilatan petir menyusul Dolah dan Husen dengan gigih walaupun siluman bangkai terus berdatangan menyerang mereka.


“Aku rasa kita tidak bisa bertahan lama karena tubuh mereka sangat kokoh dan pergerakannya juga sangat cepat” teriak Ruyu mencoba menerobos ke arah kakek Husen yang berada dalam kepungan siluman.


Syuss! Trang! Tring!


Aaaakkkk.. Hiat! Hiat!


Oookkk! Oooookkk!


Disisi lain Siluman Bangkai semakin bringas mahluk itu terus mencakar keempat orang dalam kepungannya. Kakek Husen mengalami luka cakar cukup parah bila dibandingkan tiga orang lainnya, hal itu disebabkan kakek tua ini penyerang digarda paling depan diantara mereka semua.


Trang! Cruss!


Aaaakkkk.. Hiat! Hiat!


Oooookkk! Kek! Kek! Rok!


Kakek Husen menyadari dirinya tidak memiliki peluang untuk selamat karena ia sendiri telah luka parah dan kehilangan banyak darah harapan satu-satunya ialah menyelamatkan generasi muda yang ikut bersamanya,


“Sudah! Kalian sudah cukup membantuku, kita telah berhasil menumbangkan puluhan siluman, sekarang aku akan buka jalan untuk kalian” teriaknya menerjang maju memecah kepungan siluman bangkai.


“Tidak kakek!” Ruyu menerjang membantu dengan nekat, tanpa disadari sebuah cakaran siluman bangkai mengenai punggungnya,


“Akkk! Tidak! Kakek jangan maju” teriaknya ingin menghentikan Husen, sementara pandangan Ruyu mulai buram karena banyak kehilangan banyak darah akibat luka cakaran hingga akhirnya jatuh berlutut.


Sying! Sying!


Dolah melihat kejadian itu menjadi panik, dia segera bergerak cepat membantu Ruyu, walaupun dia sendiri penuh dengan luka cakaran,


“Ruyu! bangun, jangan maju lagi!” teriaknya yang juga kini mulai tercabik-cabik oleh Siluman Bangkai dari arah belakangnya.


Dalam keadaan putus asa dan hilang harapan, Tiba-tiba sebuah bayangan berkelabat cepat menyerang dalam kerumunan Siluman Bangkai, gerakannya lincah dan terus menghantam siluman dengan tongkatnya.

__ADS_1


Bak! Buk! Bak!


Hiat hiat!


Brooomm! Broomm!


Oooookkk! Kek! Kek! Rok!


Sesosok itu ialah seorang kakek agak bungkuk berpakaian hitam menyerang dengan cepat membantu Husen yang menyerang dibarisan depan Siluman Bangkai,


“Husen! Mundur lah! Biar aku yang akan menghajar siluman-siluman rendahan ini” teriak kakek yang pernah mereka lihat sebelumnya.


Husen pun sangat terkejut atas munculnya kakek itu secara tiba-tiba, “Bomo! Kenapa kau ada di sini?” Tanya Kakek husen melompat mundur beberapa langkah menjadi waspada.


Bomo terus menerjang maju menghantam Siluman Bangkai dengan cepat mengantikan posisi Husen yang kini telah terluka parah dibawah guyuran hujan,


“Husen jangan takut! Aku datang kemari untuk membantumu, aku telah insyaf dan telah bertobat sekarang” Jelasnya mencoba meyakinkan Husen.


Husen samasekali tidak percaya pada Bomo karena kakek ini terkenal licik dan penuh tipu muslihat walaupun kenyataannya Bomo datang dengan bantuan pasti ada hal lain yang disembunyikan,


‘Apa yang diinginkan Bomo hingga rela membantu kami, ini pasti berkaitan dengan Hana’ batin Husen mulai curiga.


Setelah Bomo merobohkan belasan Siluman Bangkai seorang diri dengan menggunakan sebatang tongkat membuat semua siluman mulai putus asa dan memilih melarikan diri menyelamatkan hidupnya,


Begitulah cara hidup siluman bangkai selama ini di alam liar, mereka tahu kapan harus bertindak dan tahu pula kapan harus melarikan diri dan bersembunyi di dalam kegelapan.


Husen, Bomo dan lainnya kini mereka bisa kembali berteduh di reruntuhan, Yuyun merawat luka Ruyu dan Kakek Husen karena kedua orang inilah yang memiliki luka yang lebih parah diantara lainnya, Sementara luka Bomo semuanya sembuh dengan sendirinya karena pengaruh kutukan.


“Bomo! Kau benar-benar monster aku melihat sendiri kamu menyerang mereka sementara tubuh mu juga penuh cakaran, namun aku tidak melihat sedikitpun luka ditubuh mu” ucap Husen keheranan.


Bomo senyum pahit, ‘Aku sekarang bahkan tidak tahu siapa diriku ini’ Batin Bomo gelisah dan ketakutan,


“Ah! kebetulan tubuh ku ini memiliki regenerasi tubuh yang tinggi” Bomo mencoba menjelaskan


Husen mengerutkan keningnya saat teringat Bomo mengatakan dirinya telah “insyaf” hal itu sungguh tidak bisa diterima akal Husen yang tahu betul watak Bomo,


“Bomo! Kau mengatakan kau telah bertobat? Itu sungguh lucu, dan alasan mu itu tidak bisa diterima oleh akal sehat, namun yang ingin ku tahu, adakah yang kau inginkan selain mengejar Hana?” Tanya Husen curiga.


Bomo menggelengkan kepalanya pelan, sejenak ia teringat pada Juli langsung membuat bulu kuduknya merinding,


“Ah! Aku disadarkan oleh anak kecil yang tinggal di rumah mu”


“Apa?!”


Semua orang kaget dan sama sekali tidak percaya, “Hahaha, Lelucon macam apa itu Bomo? Adakah orang percaya bahwa seorang seperti ‘Bomo’ insyaf karena nasehat seorang bocah?” Tanya Husen tidak percaya sama sekali.


Bomo menarik nafas panjang, “Itu terserah pada kalian percaya atau tidak, tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan, sebenarnya siapa anak kecil yang tinggal di rumah mu itu?” tanya Bomo dengan wajah serius yang terlihat jelas di bawah sinar kilat.


“Siapa? Maksud mu si Juli?”


“Iya.. De.. Eh.. benar Juli namanya”

__ADS_1


**


__ADS_2