
Malam Hari di kota Rubi.
Keributan terjadi di Pintu Gerbang Kota, ratusan pasukan telah dikerahkan untuk mengamankan, namun pertengkaran mulut masih saja terdengar.
“Kalian semua lancang! Berani memaksa masuk kemari! Sudah ku katakan malam ini tidak boleh seorang pun masuk ke dalam kota, apapun alasannya, jika kalian memaksa jangan salahkan kami untuk bertindak tegas” Teriak kepala pasukan menghunus pedang pada Yome yang menjadi pemimpin belasan orang.
Yome menggepalkan tinju sangat geram karena gagal bernegosiasi, di satu sisi ia sadar kalau kepala pasukan ini bukan lawan seimbangnya. Hana menyadari kegugupan Yome, ia langsung maju beberapa langkah menghampiri Yome untuk mendukungnya.
“Hey Pak tua! Kalian bertugas! kami pun bertugas! Jadi sebelum kita berperang aku ingin mengatakan satu hal pada kalian! Walikota Rulang telah menculik banyak anak-anak di Desa Rangkong, kami datang kemari ingin menjemput anak-anak dan menangkap Rulang hidup atau mati, tapi jika kalian mendukungnya maka kalian pun sama, berarti kalian harus siap dengan konsekuensinya!” Jelas Hana sedikit bernegosiasi.
“Hahaha, bocah ingusan berani menggertak ku! Kau ini sudah menentang penguasa daerah, itu berarti kau telah melakukan pelanggaran hukum kekaisaran, maka kau juga akan ditangkap dan dihukum mati” Kepala pasukan bringas seraya menebas Yome yang kebetulan berada di depannya.
Syut! Trang!
Yome langsung memblokir serangan dengan goloknya. Sehingga pertarungan antara keduanya pun terhindarkan.
“Serang!”
Teriak Pasukan Kota Rubi menyerang pasukan Yome yang berjumlah belasan yang tadinya hanya waspada. Melihat para pasukan Kota Rubi menyerang secara menyeluruh dalam jumlah ratusan, Hana menjadi serius menanggapinya, tatapan mata Hana kini mengeluarkan api hitam.
“Apa kalian yakin memilih bertempur! Sayangnya perasaanku lagi tidak baik kali ini… Aku baru saja kena teguran, jadi akan ku lampiaskan sedikit rasa murka ku pada kalian!” ucap Hana sambil mengeluarkan tunggangannya.
“Naga Kegelapan! Keluar lah”
ROOOAAAARRR!!
Naga Api Hitam kali ini muncul di depan pintu gerbang, mambuat semua mata tercengang. Mereka sungguh tidak menduka anak kecil itu seorang penunggang Naga.
TANG! TANG! TANG!
Bel bahaya langsung berbunyi, seluruh pasukan dari berbagai tempat berdatangan ke arah pintu gerbang untuk menghadapi serangan. Sebagai besar pasukan tidak tahu yang mereka hadapi adalah makhluk terkutuk yang tidak bisa binasa.
"Kalian meminta ku untuk berperang baiklah!"
Hana melompat ke atas punggung Naga dan mengontrolnya secara langsung. Naga kegelapan berjalan perlahan menghampiri Komandan Pasukan yang kini mulai pucat ketakutan dan berhenti menyerang Yome.
“Ampun Naga! Ampun!” Komandan pasukan tidak berdaya di hadapan Naga Kegelapan yang besar kepalanya saja lebih 3 meter, ukuran Naga bisa dimanipulasi sesuai keinginan Hana.
“Kau tadi mengancam tuan ku! Sekarang kau telah menjadi seonggok danging! Katakan padaku, ku bakar kau sampai habis atau ku telan hidup-hidup!” Terdengar suara Naga bernada berat mendatangkan kengerian tersendiri bagi Pasukan Kota Rubi lainnya.
“Jangan! Ampun! Ampun!” Sementara Kepala pasukan terus bersujud sujud memohon ampun ketakutan dan ia sadar tidak ada jalan untuk melarikan diri dari monster sebesar ini.
Hana bisa merasakan ketakutan musuh-musuhnya, bahkan ratusan pasukan kini menahan diri untuk menyerang. Di sisi lain Yome dan anggotanya juga mulai mundur beberapa langkah karena takut terbakar oleh api hitam.
Hana menyeringai, saat melihat beberapa pasukan Kota Rubi mulai bergabung dengan jiwa makhluk ghaib, dan berubah bentuk setengah hewan, seperti manusia serigala, manusia harimau, dan berbagai jenis lainnya.
“Sudahlah! Naga! Bakar saja mereka semua, aku bosan dengan tampilan mereka” Perintah Hana ringan pada Naga Kegelapan.
ROOAAAR!
Huuuuuuuu Huuuuuu…..
Naga Kegelapan langsung menyembur Api Hitam ke arah pasukan tanpa pandang bulu. Pasukan yang telah berubah kebentuk hewan ghaib mulai terbakar.
__ADS_1
"Roar! Serang Naga ini!"
"Serang bersamaan sekaligus!"
"TIDAK...."
"Api apa ini, api ini tidak bisa padam!"
"Gawat! ini bukan sesuatu yang bisa kita lawan!"
Terdengar suara teriakan Pasukan Kota Rubi saat menyerang Naga Kegelapan, akan tetapi, semua pasukan yang hendak menyerang semuanya dilahap api hitam yang tidak kenal padam. bukan hanya itu Hana Juga membakar pintu gerbang serta bangunan-bangunan disekitarnya sampai banyak pasukan menjadi frustasi dan lari kocar-kasir.
Hana menoleh ke arah Home dan pasukannya yang berdiri agak jauh menjaga jarak dari Naga Kegelapan, “Senior Yome! Aku serahkan sisanya pada kalian, lagi pula dalam kota si Jecki Remaja Golok Ganda juga sedang bertempur, sementara aku akan mencari keberadaan Walikota Rulang untuk menghabisinya”
“Ba.. Baik Senior Hana!”
Naga Kegelapan melompat ke udara menggerpakkan sayapnya untuk melaju terbang, di sepanjang perjalanan ia terus membakar Pasukan Kota Rubi yang mencoba menyerangnya.
Sementara Yome mulai menyerang sisa-sisa pasukan, tidak lama kemudian Jenderal Wirma pun datang membantu, sehingga penumpasan pasukan penjaga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
**
Hana terus menunggang Naga untuk terbang meninggi di atas kota, “Naga! Gunakan mata mu untuk melihat letak Istana!” Hana mulai terbang mengarungi udara langit malam, matanya terus melihat ke bumi untuk mencari letak istana.
Tidak butuh waktu lama, sebuah bangunan besar tinggi berada ditengah-tengah kota serta memiliki penerangan yang cukup diberbagai tempat terlihat jelas dari langit.
Banyak pasukan pengawal yang berjaga di setiap tempat dan juga ratusan berjajar di halaman istana seperti sedang menyambut perang.
ROOAAARR!
**
Di dalam Istana megah seorang pria bertubuh tinggi besar berpangkat emas bertompel hitam di pipi kiri duduk santai di singgasana. dia sosok orang paling dibenci oleh seluruh rakyat Kota Rubi, Rulang si Rubah.
Dalam ruangan utama 1000 anak-anak sudah dirantai duduk berjejeran di lantai, 100 orang pasukan berdiri berjajar menjaga anak-anak agar tidak ada yang mencoba bunuh diri sebelum Pangeran Mahkota sampai. 20 petinggi duduk di kursi kohormatan berjajar rapi di depan singgasana.
“Kurang ajar! Kenapa pangeran mahkota belum juga muncul! Seharusnya sekarang dia telah menyerap habis anak-anak sampah ini, menunggu adalah hal yang paling membosankan dan aku sangat membencinya, dia itu sangat menyusahkan, seandainya saja dia bukan calon raja maka dia sudah ku bunuh dari dulu” Rulang menggepalkan tangannya geram.
“Tenanglah Tuan! Setelah bocah itu jadi raja kita masih memiliki peluang untuk menghancurkannya, lagi pula kita bisa menyergapnya dengan mudah, karena Pangeran Mahkota hanya tinggi budidaya tubuhnya namun tidak dengan kemampuannya, lihatlah kita di sini memiliki banyak para ahli” Jelas seorang Petinggi berbadan tinggi besar.
“Hahaha, memang rencanaku juga begitu, kita hanya menunggu dia membereskan ayahnya dulu, karena ayahnya kurang menguntungkan bisnis kita” Rulang terlihat sangat senang dengan siasat yang telah direncanakan.
“Banar tuan! Kita akan menguasai kerajaan ini dengan mudah pastinya, lagi pula kita telah memiliki cara untuk membuat rakyat tunduk pada kita sepenuhnya, Hahaha”
Hahahah
Dalam ruang istana itu terdengar riang tawa para petinggi, sementara anak-anak kecil dalam ruangan itu terus menagis ketakutan, mereka bahkan tidak di berikan kristal siluman untuk kehidupannya.
Rooaaarrr!
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar raungan Naga, semua orang diruangan itu saling pandang mencari tahu sumber suara. Rulang melihat ke arah salah satu penyihir tua yang juga salah satu petinggi hebatnya.
“Penyihir Tua! Suara apa itu?”
__ADS_1
Penyihir tua mengayun tongkat sihirnya mengeluarkan asap hitam dan menciptakan bentuk mahkluk yang suara barusan terdengar.
Wusss…
“Saksikanlah! Inilah sosok makhluk yang bersuara tadi!” Ucap Penyihir tua itu mulai membentuk Naga Kegelapan lengkap dengan Hana yang duduk di punggung Naga tunggangannya.
Bayangan asap itu terlihat jelas sehingga semua orang terbelalak saat melihatnya, mereka baru menyadari kalau mahkluk legenda itu masih ada di muka bumi ini.
“NAGA!”
“Naga ini di tunggangi oleh seorang anak-anak!”
“Apa itu Si Penunggang Malam?” (Baca di : Kaisar Langit dan Bumi)
“Gawat kalau mereka datang kita ini bisa celaka! Kekuatan kita tidak bisa membendungnya”
“Bukan! ini bukan Penunggang Malam, ini terlihat anak-anak biasa, kita hanya butuh seseorang yang bisa menagani Naga saja, dan anak ini tidak terlalu berbahaya bagi kita”
“Tapi! Kalau dilihat perbandingannya berarti Naga ini sangat besar! Dan bahkan bisa mencapai panjangnya 30 meter lebih”
“Celaka! Cepat siapkan panah!”
Semua orang dalam istana menjadi panik dan segera mengenakan baju zirah perang untuk menghadapi serangan Naga Kegelapan, akan tetapi sebelum mereka beranjak sebuah suara detuman terdengar dahsyat dari arah luar istana.
DROOOMMM!
Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelombang kejut hingga menggetarkan istana. Semua orang menjadi panik terutama anak-anak malang yang dirantai layaknya hewan peliharaan.
“Suara apa ini?”
“Ini suara benturan! Di halaman depan!”
“Bukankan di sana terdapat ribuan pasukan kita, ayo kita keluar!
“Iya ayo!”
Semua orang mulai kalang kabut, semua petinggi segera berlari berhamburan keluar istana. Rulang menbawa golok besar untuk bersiaga perang dan ingin melihat langsung apa yang sedang terjadi di luar.
Tiba-tiba seorang pasukan lari buru-buru menghadap Rulang membawa laporan. “Tuan! Di luar istana ada Naga Raksasa sedang mengamuk dan membakar apapun dengan api hitamnya” pasukan itu terlihat sangat ketakutan dan nafasnya terburu-buru.
“Tanang saja kami bisa menghadapinya bersama-sama” Rulang menoleh ke arah para petingginya yang telah siap menyerang bersama,
“Ingat! Kalian segel Naga itu, biar aku sendiri yang akan membunuh bocah penunggangnya” tatapan Rulang dingin.
“Siap! Tuan jangan khawatir aku tahu kelemahan Naga Kegelapan ini?” Ucap penyihir mulai menciptakan segelnya.
“Benarkah!”
“Dengar! Aku akan mengegel Naga ini, Sementara itu anak kecil itu urusan kalian! Ingat! waktu kalian tidak lebih dari setengah jam karena itu batas kemampuan ku” ucap penyihir mulai membentuk pola misterius.
“Baik!”
**
__ADS_1