
Warga pada dasarnya tidak mempercayai perkataan Aira, namun agar mereka juga terlihat serius dalam urusan ini mereka pun segera mengantri seperti yang diperintahkan, pada mulanya orang yang berniat keluar dari tempat itu hanya berkisar 5000 orang, kini mendengar banyaknya uang yang akan diberikan jumlah mereka semakin bertambah bahkan telah sampai di kisaran 8000 orang.
Sementara itu Aira menemui Juli yang telah menunggunya di taman depan istana sambil duduk santai diatas sebuah kursi tidak jauh dari belakang Pentas Podium.
Aira senyum saat melihat Juli duduk santai yang bahkan wajah gurunya itu tidak terlihat khawatir sedikit pun, saat bertemu pandang dengan gurunya Aira segera memberi hormatnya.
“Guru! Murid mu menghadap” ucapnya santun.
Juli senyum seraya mengibas-ngibas debu di kursi sebelahnya, “Aira duduklah di samping guru, guru akan mengajarimu sesuatu” ajak Juli senyum.
Aira senyum dia segera duduk di samping Juli seperti yang diperintahkan, “Guru, apa guru ada ide?” Aira terlihat penasaran ide apakah yang akan dikatakan padanya.
Wusss…
Juli mengeluarkan sebuah cincin ruang yang disitanya dari Boris, cincin ruang itu tidaklah sebagus cincin ruang milik Mina ataupun Dewa Mindril yang ruangnya sangat luas, tapi milik Boris hanya memiliki kapasitas ruang sekitar 6 x 6 saja dan itu cukup untuk beberapa juta keping emas.
Juli menyodorkan cincin ruang itu pada Aira, “Aira! Ini namanya cincin ruang, kau bisa menyimpan apapun di dalamnya selagi itu bukan mahkluk hidup, di dalam cincin ini ada 4 juta keping emas, seandainya mereka semua pindah dan meminta satu orang 10 keping emas berarti hanya 100.000 saja, sementara yang lainnya kau kerjakan seperti yang tertera di kitab administrasi, dan di sana ada cetak biru gedung-gedung yang akan kau gunakan, untuk membangunnya gunakan lah teknologi kalian” Juli menjelaskan sementara Aira terbelalak tidak percaya dengan jumlah yang di dengarnya.
Aira menyeka keringat dingin karena jangankan melihat kepingan sebanyak itu membayangkannya saja tidak pernah terlintas dalam pikirannya,
“Guru ajari aku cara menggunakan cincin ini” setelah cincin diterimanya dia segera memakainya dijari manis, “Guru aku tidak menyangka cincin ini juga cocok di jariku” Aira kembali kaget.
Juli perlahan mengajarkan Aira cara menyimpan memeriksa dan mengambilnya dari cincin ruang tersebut memang tidak butuh waktu lama Aira langsung bisa menggunakannya dengan sempurna.
“Guru! Aku bisa melihat ini tumpukan emas yang sangat banyak” Aira kaget sambil mengeluarkan beberapa keping emas di tangannya,
Aira juga melihat di dalam cincin ruang itu bukan hanya kepingan emas, namun banyak sekali jenis di dalamnya dan baju zirah besi serta dua puluh Kitab berkaitan dengan pengelolaan kota serta pertahanan.
“Aira! Kau kerjakan seperti yang ku katakan, dan ingat lah, kota ini bukan lagi Lembah Iblis tapi Lembah teratai langit, ingat lah setiap warga Lembah Teratai Langit berikan bros penanda sesuai dengan jabatan pekerjaannya” Jelas Juli singkat.
Aira terlihat sangat bersemangat seolah ia ingin sekali mempelajari kitab-kitab yang diberikan padanya, Aira segera bangkit berdiri memberikan hormat, “Guru aku pamit dulu dan aku akan membagikan ini semua bagi mereka” Aira kini senyum mekar menghiasi bibirnya.
Juli hanya mengangguk, belum juga Aira beranjak pergi dari tempat itu tiba-tiba Hana mendatangi Juli agak terburu-buru bersama Yori,
“Bang! Luar pintu gerbang Pangeran Kesembilan datang kemari sekarang sedang bentrok dengan anak-anak yang kebetulan ditugaskan di pintu gerbang hari ini” Hana menjelaskan, sementara Yori terlihat ketakutan.
Aira terkejut ia menoleh kearah Yori, “Bang Yori! Apa itu kelompok senior Muska? Aku yang menghukum mereka ke sana karena telah berani berbuat kasar tadi pagi pada guru, aku tidak menduga mereka berada dalam bahaya sekarang” Aira terlihat menyesal karena tindakannya.
Juli menepuk pundak Aira dengan senyum hangat, “Murid ku, kau urus saja urusan Wali kota, biarlah aku yang akan mengurus masalah kecil ini” Juli segera bergerak pergi.
__ADS_1
Hana hanya senyum, “Aira selamat ya? Aku senang kau bisa menjadi petinggi di sini, aku berharap kelak kita bisa bekerja sama” ucap Hana segera berlari kecil mengejar Juli.
Sementara Yori masih acuh tak acuh untuk mengikuti Juli dan Hana, “Aira! Sebaiknya aku tidak ke sana, aku lebih baik di sini saja membantu mu, di sana benar-benar sangat berbahaya karena pangeran kesembilan datang dengan 100 orang pasukan elit serta dua pasukan hantu berpangkat perak” Jelas Yori terlihat khawatir dan ketakutan saat menjelaskan pada Aira.
“Apa?!” Aira kaget, “Apa mereka hendak melenyapkan tempat ini? Tapi kita masih untung karena guru ada di sini, baiklah Bang, mari membantuku membagi-bagikan koin emas untuk orang-orang yang akan meninggalkan tempat ini” Ajak Aira segera pergi ke pentas podium.
Yori terpaku sejenak, “Membagi-bagikan koin emas? Dimana koin emasnya” gumam Yori terheran-heran sambil menggaruk-garukkan kepalanya ia pun pergi menyusul Aira.
**
Di depan pintu gerbang Kota Lembah Iblis
Sebuah kereta kuda mewah Kerajaan Embun Barat ditarik oleh delapan ekor kuda jantan hitam dan dikawal oleh seratus pasukan berkuda berzirah perunggu serta dua pasukan berkuda berzirah perak sebagai pemimpinnya, wajah mereka terlihat bringas terutama dua pemimpin pasukan berwajah merah dan berwajah kuning.
Pengawal berwajah kuning kini sedang bertarung melawan sebelas anak suku Padri setengah mempermainkannya sambil tertawa terbahak-bahak yang ditonton oleh seluruh pasukan berkuda lainnya.
“Hantu Muka Kuning! Kau terlihat terlalu lemah sekarang, cepat singkirkan bocah-bocah ini, kita akan menjumpai junior di dalam sana, aku sudah rindu dengan layanan selir-selirnya, hehehe itu sungguh mengairahkan” perintah Hantu Muka Merah pada Hantu Muka Kuning yang lagi bertarung dengan sebelas orang anak suku Padri.
Muska terlihat sangat serius melancarkan serangan-serangan untuk mematahkan pukulan-pukulan Hantu Muka Kuning yang sangat lihai dalam berpedang, sementara Muska beserta kawan-kawannya hanya menggunakan tangan kosong untuk melawannya.
“Nuryin! Sekarang kalian dari arah kiri aku akan menghajarnya dari sisi belakang” perintah Muska seraya melompat tinggi ke udara menukik maju menghantam tinjunya ke udara.
“Hantaman udara”
“Hantaman udara”
Teriak mereka secara bersamaan seraya menghantam udara hingga menimbulkan gelombang kejut yang sangat dahsyat ke arah kepala lawan.
Pheung…
Bhooom…
“Hahaha, Segerombolan anak gembel kurus yang menyedihkan, mau memojokkan ku dengan tinju tinju kalian dari udara? Sungguh anak-anak gembel yang tidak berpengalaman!” Hantu Muka Kuning senyum saat melihat serangan anak-anak yang hanya bermodal tinju, kemudian secepat kilat dia melakukan serangan balik dengan tebasan pedangnya terhadap serangan anak-anak suku Padri.
“Teknik Ilusi Tebasan Pedang!”
Wuusss wuusss wuuss
Tebasan angin berbentuk sabit terbang ke berbagai arah membuat anak-anak kurus suku Padri kebingungan dalam menghindarinya di udara, anak-anak suku Padri belum lah berpengalaman menghadapi orang tingkat tinggi seperti Hantu Muka Kuning sehingga dalam satu serangan mematikan tersebut membuat mereka jatuh terkapar.
__ADS_1
Aakkhh.. Aakkhh..
Dalam serangan mematikan tersebut Nuryin bisa melihat salah satu tebasan angin sabit mengarah pada leher dua temannya yang telah pasrah, secepat kilat di udara ia menarik kedua tubuh temanya hingga dirinya mendapatkan tiga tebasan udara sekaligus.
Syieet.. Syieet.. Syieet..
Aakkhh..
Ke-sebelas anak itu jatuh tersungkur ke tanah dengan luka serius, namun dari semua anak itu Nuryin lah yang terluka paling serius, anak suku Padri berusaha bangkit akan tetapi luka tebasan angin di tubuh mereka terlalu parah membuat mereka tidak sanggup untuk bangkit kembali.
Hahaha
Galak ketawa pasukan Kerajaan Embun Barat terdengar gemuruh mengisi ruang udara, mereka terlihat puas setelah mempermainkan anak-anak kurus gembel suku Padri yang tidak memiliki senjata apapun.
“Hahaha, Hantu Muka Kuning Kau sungguh kejam terhadap anak-anak kurus ini, padahal jurus pedang setinggi itu tidak perlu kau gunakan pada mereka” ucap bangga Hantu Muka Merah.
Hantu Muka Kuning menyeringai, “Mereka adalah bocah ingusan yang hanya menghabiskan sumber daya, sebaiknya aku penggal saja kepalanya untuk oleh-oleh buat Hantu Kepala Putih nanti di sana, hahaha” tawa Hantu Muka Kuning penuh kegembiraan.
HAHAHA
Tawa senang terdengar menggelegar dari seluruh pasukan kuda mereka sangat bersemangat saat melakukan penyiksaan terhadap lawan-lawan tanding mereka.
Muska menyeret tubuhnya yang terluka kearah Nuryin yang terlihat tidak bisa diselamatkan lagi,
“Nuryin bertahan lah! Nuryin… Nuryin…” Muska mulai menggoyang-goyangkan tubuh Nuryin yang telah terluka parah hingga terlihat robekan ususnya yang terputus-putus.
Nuryin senyum menatap langit, tangan kurusnya menutup luka perut, air mata menetas pelan membasahi bumi, darah segar yang terus keluar dari mulutnya ia berusaha melirik Muska,
"Muska.. kitaa ini anak yatim piatu yang tak penting.. yang makan dari mengais sampah, beruntung kita bisa makan dua hari sekali.. itupun jika kita beruntung menemukan barang barang bergunaaa, Muskaaa kemarin aku menemukan rumput biruuu.. rencananya akan kuberikan sebagai ulang tahun Aairaaa, Muskaaa ingatkah ketika kita lapar dan hampir mati di jalanan.. Mmm.. iya.. kala itu tuan Raden menyelamatkan kita.." air mata Nuryin terus menetes, napas terus tertahan Nuryin berusaha senyum untuk menghibur sahabatnya.
"Nuryin jangan bicara!" Muska mulai menangis, ia bisa melihat temannya sedang sekarat.
“Kataaakaan paaaadaaa aaa aadik Aaiiraa.. maaaafkaaann aaak..” Suara Nuryin putus dengan senyuman, matanya terbuka menatap sahabat karibnya.
“Nuryin… Nuryin… Jangan bercanda Nuryin…!” Muska terus menggoyang-goyangkan tubuh temannya dengan linangan air mata, diiringi isak tangis sahabat-sahabat lainnya.
Wusss…
**
__ADS_1