
GROOAAAARR...
“Makhluk Apa itu?”
Teriak kaget Hana saat melihat seekor makhluk raksasa berbentuk kuda berpangkat emas menyeramkan menyerangnya secara tiba-tiba.
"Hm?" Mendengar suara teriakan Hana membuat Juli buyar konsentrasi dalam penyembuhan tubuh, perlahan ia membuka mata melihat ke arah Hana apa yang telah terjadi,
"Apa!" kali ini Juli benar-benar terkejut saat melihat monster yang berada di hadapan Hana, monster katagori ini benar-benar sangat berbahaya dan nyawa Hana benar-benar terancam.
“Ah! Gawat! Itukan Kuda Bunga Bangkai! Makhluk ini sangat berbahaya” teriak kaget Juli dan langsung meraih tongkatnya bangkit berdiri,
“Hana! Menjauh lah! Lidah monster itu sangat panjang dan beracun” teriak Juli dari kejauhan memperingati Hana sembari melesat cepat maju menerjang ke arah hana yang berjarak lebih dari 400 meter darinya.
Wuusss..
"Ada apa ini, kenapa dengan tubuhku?" tubuh Hana tiba-tiba kaku tidak bisa bergerak, tekanan aura pembunuh Monster Kuda itu sungguh diluar kemampuannya,
Hana mulai panik tubuhnya berkeringat dingin, “Se.. Senior! Tolong aku!” Gumam Hana pelan berusaha mundur akan tetapi kakinya benar-benar tidak bisa di gerakkan.
Swuuss… syut! syut!
GROOAAAARR!
Makhluk itu bergerak lincah menyerang Hana menggunakan lidahnya yang berupa tumbuhan rambat berduri dan sangat mematikan, Hana mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis akan tetapi kecepatan lidah monster ini sungguh sangat diluar akal sehat, dalam hitungan detik saja tubuh Hana telah dililitnya.
"Ah tidak!" tubuh Hana mencoba meronta tapi tidak berdaya,
“Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku mati rasa” gumamnya mulai hilang kesadaran perlahan, kristal-kristal yang telah di kumpulkan Hana untuk Juli kini semuanya berjatuhan sedikit demi sedikit dari tangan kecilnya.
Makhluk yang berhasil melumpuhkan Hana dikenal dengan sebutan Kuda Bunga Bangkai, awalnya merupakan kuda biasa yang terinfeksi dengan spora Bunga Bangkai Iblis, bentuk tubuh monster ini menyerupai kuda berkepala Bunga Bangkai, monster ini biasanya menyerang mangsa menggunakan lidah beracun serta memiliki bau busuk yang sangat menyengat.
“Hana…” Teriak Juli kaget saat melihat Hana telah tertangkap dililit dengan lidah beracun, ia terus memaksakan tubuhnya melesat cepat dengan dorongan satu kaki kanannya, wajahnya terlihat pucat penuh kekhawatiran saat melihat Hana sudah di seret oleh siluman Kuda Bangkai,
‘Hana… Tidak, gerakanku sungguh sangat lambat dengan satu kaki cacat ku ini, celaka! Hana mulai dilahap moster itu, tidak tidak bisa membiarkan itu terjadi padanya, aku harus mengerahkan seluruh tenaga ku untuk melindunginya bagaimanapun caranya’ tekad Juli terus mendorong kencang kaki cacat guna melesat cepat ke arah Monster Kuda Bangkai.
“Senior…” Panggil Hana lemas hampir tidak keluar suara lagi dalam mulut berbentuk Bunga bergigi tajam, pandangan mulai kabur sebelum kesadaran hilang ia melihat Juli bergerak cepat ke arahnya dari kejauhan, kini rasa putus asa Hana kembali terulang setelah malam mencekam beberapa saat lalu di hutan belantara,
"Hana bertahanlah!" Teriak Juli kakinya bergerak cepat mengamuk mendorong tanah mempercepat gerakan.
“Senior… pergilah! Monster ini terlalu kuat” gumam terakhir Hana lemas kemudian moster itu melahapnya hingga habis.
Melihat kejadian itu terjadi di depan mata, Juli melebarkan mata jantung seakan berhenti berdetak ekspresi wajahnya hilang seketika itu juga,
“Tidak! Tidak! Hana, Tidak akan kubiarkan!” Juli melompat tinggi menghantam tongkatnya ke arah monter kuda.
Wusss…
"MATI!"
__ADS_1
GROOAAAARR! TRUK!
Tiba-tiba seekor Kuda Bunga Bangkai lainnya muncul dalam hutan melompat tinggi menyeruduk Juli hingga menimbulkan hantaman keras dengan tongkatnya.
Brooomm…
Kuda Bunga Bangkai yang berbenturan dengan tongkat Juli terpental ke tanah membentur pohon kayu hidup begitu juga dengan Juli yang juga terpental balik belasan meter jauhnya.
Juli menancapkan tongkat ke tanah dengan murka, perlahan tangannya memegang dada yang terasa hancur,
“Aakkkhh sial, darimana datangnya monster-moster ini, khuk! Khuk!” Juli kembali batuk darah, tatapan mata menjadi semakin murka hingga membuat tubuh mengeluarkan asap hitam di luar kontrolnya.
“Kurang ajar! Akan ku musnahkan kalian semua!” Teriak mengeluarkan aura pembunuh dahsyat.
Dunia menjadi gelap, hembusan angin mulai terasa dingin aura pembunuh Juli bukan sesuatu yang bisa disaingi oleh monster tingkat Kuda Bangkai pemakan Hana, kuda itu dapat melihat kekuatan besar yang di miliki Juli yang melebihi monster manapun ditempat ini, hingga membuat nalurinya tergugah untuk menghindari bahaya. Sebab salah satu watak siluman ini hanya melawan mangsa terlemah dan enggan melawan predator.
Menyadari Juli sedang dalam terluka akibat serudukan Kuda Bunga Bangkai lainnya, kesempatan itu di manfaatkan oleh Kuda Bunga Bangkai pemakan Hana untuk melarikan diri masuk ke hutan seraya mengaung keras.
ROOAR! ROOAR!
Raungan itu bukanlah raungan biasa akan tetapi sebuah perintah serang oleh siluman pemimpin,
Juli menyadari itu, perlahan meraih tongkat kembali, genggaman tangan kirinya erat hingga menimbulkan asap putih,
“Kalian para siluman setelah menelan ratuku ingin melarikan diri, kini rencana mu ingin membunuhku dengan pasukan-pasukan terkutuk? Makhluk terkutuk ini benar-benar membuatku murka” Juli menggenggam tongkat kuat-kuat, aura pembunuhnya terus meluap-luap.
Terdengar ratusan langkah kaki, tanah mulai bergetar Juli dapat merasakan setidaknya ratusan Kuda Bunga Bangkai berpangkat perak bergerak cepat keluar dari hutan menyerang secara bersamaan.
ROOAAAR! ROOAR!
Suara raungan terdengar menggelegar mengisi ruang udara, bermodal tenaga dan ketahanan tubuh Juli melompat tinggi menerjang maju menggunakan tongkat melancarkan bukulan-pukulan dahsyat ke arah ratusan monster,
ROOAR! ROOAR!
Suara raungan kesakitan terus terdengar setelah terkena hantaman tongkat Juli yang tidak pernah melemah.
Tuss… Tuss.. Droomm… Droomm..
Ratusan Kuda Bunga Bangkai terus mengamuk menyeruduk Juli dengan keras begitu pula balasan-balasan hantaman tongkat besinya yang menggebu-gebu, darah merah menghitam akibat luka yang kembali terbuka membasahi jubahnya,
Dengan napas terengah-engah Juli terus mengamuk dalam gerombolan Kuda Bangkai,
'Tidak… Tidak akan ku biarkan kuda terkutuk itu melarikan diri, pasti ia sekarang sedang menyerap Air Mata Abadi di tubuh Hana, karena salah satu cara mengeksrak Air Mata Abadi dengan cara menyerap langsung dari tubuh pengguna, celaka Hana bisa mati..' batin Juli terlihat panik, tongkat terus di putarkan, namun kini ia fokus untuk melakukan pengejaran terhadap Kuda Bunga Bangkai pemakan Hana.
Kuda Bunga Bangkai seakan tahu rencana Juli dan mereka terus menghalanginya dengan serudukan mematikan dan lilitan lidah berduri, tubuh Juli sangat keras duri-duri beracun kesulitan menembus kulitnya namun karena Juli mengalami luka membuat Juli harus berusaha keras untuk melewati gerombolan monster menyeramkan itu.
Brukkk…
Serudukan Monster itu tidak menghentikan langkahnya,
__ADS_1
“Aaakkkhh, Aku harus mempercepat gerakku bangaimanapun caranya” Juli terus melompat tinggi dan meyerang beberapa Kuda Bunga Bangkai yang menghadang jalannya.
ROOAAAR!
Beberapa terpental kekiri dan ke kanannya akibat benturan tongkat dan Juli terus melesat cepat memasuki Rimba Pemangsa, tubuhan-tumbuhan jalar menjulurkan kait kaitnya untuk menangkap Juli yang berlari dalam remang-remang rimba.
ROOAAAR!
Suara teriakan Kuda Bunga Bangkai terus terdengar memecah ruang, panca indra Juli tidak setajam sebelumnya kini ia benar-benar kehilangan jejak Hana, kesedihan, kehilangan, tanggungjawab, balas budi, serta kenangan masa lalunya dengan Ratu Rihana membuat kemarahan Juli terhadap siluman semakin menjadi-jadi.
Wuss wuss.. brukk.. brukk..
Juli kini berdiri tenang ia tidak perduli lagi dengan cambukan dan gigitan beracun bunga bunga buas pemakan danging yang terus mengerogotinya, sikap ini adalah sikap yang paling ditakuti oleh para Dewa-Dewi di kehidupan sebelumnya, yaitu sikap Nekad.
“Kalian, benar-benar memaksaku mengambil tindakan ini, aku ingin melihat seberapa ganasnya kalian” gumam Juli pelan, ia mulai melepaskan jubah hingga terlihat luka-luka tubuhnya yang kini mulai terbuka, pola-pola misterius di dadanya kini terlihat jelas, Juli menyeringai sembari menggigit ibu jari hingga berdarah, perlahan ia menempatkan ibu jarinya pada pola tulisan kuno di dadanya.
"Sekarang kalian adalah semut di mataku" gumamnya murka.
Bliz! Bliz!
Cahaya merah penuh warna warni menyilaukan mata mulai terlihat, seluruh pola kuno di dada kini mulai memudar menghancurkan segel tenaga dalam yang rusak.
BROOOOOMMM… BROOOOOMMM…
Empa Hukum Dewa mengamuk dalam Wadah Induk Tenaga Dalam, tanah bergetar hebat, petir-petir dahsyat mengamuk tak terkontrol, Hukum Dewa Es kembali membekukan tempat itu secara menyeluruh beberapa ratus meter, mata Juli mengeluarkan petir, kaki dan tangannya merubah menjadi sekumpulan Hukum Dewa, kesakitan luar biasa Juli terlihat di sana.
Jubuhnya mulai melayang tinggi di udara, tumbuhan-tumbuhan raksasa mulai merangkak mencoba melarikan diri dari tempat itu, semua Kuda Bunga Bangkai berbalik badan ingin melarikan diri sembari termencret-mencret karena ketakutan yang mendalam.
BROOOMM! BROOOMM!
Kemurkaan Juli terlihat, “Kalian pikir bisa berlari dariku saat ini? huh! Bahkan Dewa pun jika muncul akan kubantai habis?” Juli terlihat marah, Petir Dewa terus menyambar-nyambar dikawasan itu hingga menghancurkan bukit-bukit hingga menimbulkan gempa lokal, Juli sekarang benar-benar tidak bisa mengendalikan Empat Hukum Dewa karena kebocoran besar Wadah Tenaga Dalamnya.
ROOAAAR! DROOOM! ROOAR!
Juli menyeringai saat melihat puluhan kilometer luluh lantak tak berbentuk, kini matanya mencari keberadaan Kuda Bunga Bangkai Pemakan Hana, sungguh hal itu sangat mudah dilakukan Juli saat ini, karena pandangan mata menembus ruang dan waktu, ia menjentik jari dan Kuda Bunga Bangkai pemakan Hana telah melayang di depannya dalam radius beberapa puluh meter.
ROOAAAR! ROOAAAR!
Ronta Kuda Bunga Bangkai itu ketakutan yang luar biasa, Juli menyeringai, ia mengerakan tangan membentuk energi tangan es raksasa perwujudan tangannya di kejauhan,
"Huh! Energi Tangan Es! telah lama tidak ku gunakan" Juli perlahan dengan tangan es-nya merobek perut Kuda Bangkai itu hingga terkoyak-koyak, raungan kesakitan mengisi ruang udara.
"Hana Maafkan aku" tatap Juli terasa sedih saat melihat Hana di dalam perutnya, namun ia benar-benar tidak bisa menyentuh Hana karena Hukum Dewanya.
“Kalian! Bangsa terkutuk! Mulai hari ini tumbuhan Pemangsa Bunga Bangkai akan kumusnahkan semua, khuk, khuk” ucap Juli terbatuk-batuk mulai menghentakkan tangan es-nya ke bumi seraya Berteriak!
"GERBANG NERAKA PARA DEWA!"
**
__ADS_1