Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 14. Yang Mulia Ratu Agung Rihana


__ADS_3

Malam hari di atas pohon wilayah Hutan Belukar


Malam semakin larut, cahaya bulan purnama mulai ditutupi awan hitam, hembusan angin malam mulai terasa dingin merasuki tulang, gemuruh di langit mulai terdengar.


Gruuk.. grruukkk..


Hhuuuuu huuuu..


Suara hembusan angin kencang mulai terdengar yang datang dari kejauhan, pergerakan angin semakin lama semakin kencang sampai membuat pucuk-pucuk pohon bergoyang, banyak burung penghuni pohon terbang mencari tempat yang lebih aman.


Koak! Koak! Koak!


Huuuuuuu huuuu..


Hembusan angin yang semakin kencang membuat hawa dingin semakin terasa di tubuh, walaupun begitu tidak membangunkan Hana dari tertidur lelapnya pada cabang kayu, “Krek!”, Tiba-tiba sebuah ranting kering patah jatuh mengenai pundaknya, “Ah! Ada apa ini?!” Teriak Hana terkejut dari tidur lelapnya.


Begitu matanya terbuka Hana segera mengawasi keadaan sekelilingnya, ‘Ah! Aku sempat tertidur rupanya, padahal tempat ini sangat berbahaya bagiku, untung lah aku selamat’ batin Hana, ia kembali menatap langit malam yang mulai mengelap, “Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, aku harus bertahan disini sampai besok pagi” gumam Hana pelan.


Krap! Krip! krap!


Tiba-tiba, suara api melahap kayu kering berasal dari bawah pohon yang dinaiki Hana terdengar, ‘Ah! Sepertinya ada orang yang menghidupkan api unggun di bawah, tapi siapa ya?’ batin Hana bertanya-tanya.


Hana penasaran, perlahan ia mengintipnya dari balik cabang pohon, ‘Hm.. Siapa itu ya?’ Apakah para pemburu Klan Hyena yang tersesat? Jika memang iya, berarti aku dalam bahaya sekarang’ batin Hana penasaran karena ia belum bisa melihat orangnya, lalu Hana berusaha untuk menjenguk melihat lebih jelas sesosok yang berada di dekat api unggun.


Saat si pembuat api unggun terlihat, Hana terkejut bukan main, “A.. Apa? Bu.. bukan kah dia itu roh anak yang telah menyelamatkan ku beberapa saat lalu? Tidak.. tidak..” gumam Hana seakan tidak percaya dengan mata kepalanya.


Sejenak Hana terdiam mencoba menenangkan diri, “Ini pasti ilusi… tidak mungkin anak lemah bisa bertahan di alam liar ini” gumam Hana memukul-mukul kepalanya agar dia sadar dari ilusi, ‘Ah! Biarlah, apapun itu aku harus memeriksanya sendiri’ pikir Hana penuh tekad, ia pun perlahan menuruni pohon besar itu untuk menjumpai dengan anak yang telah menyelamatkannya.

__ADS_1


**


Di bawah pohon rimbun seorang anak berusia delapan tahun duduk santai di depan api unggun yang dihidupinya, suasana gelap menjadi terang dengan pencahayaan api unggun yang dibuatnya, di samping anak itu juga terlihat dua ekor belibis rawa yang baru saja matang di panggang.


Wuss buk!


Tiba-tiba, Hana melompat turun dari atas pohon dan mendarat dekat dengan api unggun, jari telunjuk kecilnya di acungkan kearah anak laki-laki itu dengan mata terbelalak, “Apa benar.. kamu.. kamu.. saudara Juli..?” Tanya Hana tergagap seakan ia sedang bermimpi.


Juli hanya menganguk senyum, ia duduk santai beralas kayu kering sambil merapikan kayu api unggun,


“Eh! Hana, kau sudah bangun rupanya” kata Juli santai seolah ia sedang kamping dekat rumahnya.


Hana tertekun sejenak, “Saudara, apa aku telah mati? Atau saudara yang masih hidup?” tanya Hana sambil memegang badannya seakan tidak percaya saat melihat Juli ada tepat di depan matanya.


Juli menarik nafas panjang, ia mencoba melihat wajah Hana disela-sela kerudung dan cadarnya, “Hana, aku masih hidup, kau pun masih hidup, mana mungkin kita sudah mati.. Hehehe” Juli tawa terkekeh,


Perlahan Hana mengambilnya, tapi pandangan matanya tidak teralihkan dari wajah Juli yang kini mulai makan belibis panggang,


“Terimakasih, aku tidak merasa lapar, tapi jika saudara Juli belum kenyang, saudara bisa ambil kembali” kata Hana pelan, Hana sebenarnya bukan tidak lapar tapi pikirannya yang sedang berkecamuk membuatnya tidak selera makan.


Juli senyum, ia memberi isyarat agar Hana duduk di tempat yang telah disediakan sebelumnya di dekat api unggun oleh Juli, Hana pun menurutinya, namun tatapan mata Hana masih terpaku pada wajah Juli.


“Hana.. kau jangan lah menatapku terus, aku bisa grogi, apalagi aku sedang makan belibis enak ini” ucap Juli merasa risih di tatap terus oleh Hana.


Hana menjadi tersipu, “Ah! Saudara Juli, maaf, soalnya saya sangat penasaran dengan saudara, bisa saudara jelaskan padaku bagaimana saudara bisa lolos dari ratusan serigala yang mengejar mu tadi” Hana memperhatikan Juli bahkan tidak tergores sedikit pun.


Juli terkejut, sedetik kemudian ia senyum kembali, “Hehe… Ceritanya panjang, tapi yang jelas aku menipu mereka, ku buat mereka berputar-putar, lalu ku giring gerombolan serigala itu ke tempat siluman kera bertanduk, hehe.. kau tau apa yang terjadi?” jelas Juli singkat menipu Hana pada dasarnya semua serigala itu dihajarnya habis-habisan.

__ADS_1


“Ah..!” Hana terkejut dia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan cerita Juli, namun kisah ini hampir sama dengan kisah hancurnya masa depan Batok beberapa waktu lalu yang di dengarnya dari cerita Risa.


Hana menganguk-anguk, “Berarti.. Saudara membuat mereka bertarung satu sama lainnya bukan, itu artinya saudara pastilah sangat jenius memiliki rencana sehebat itu, aku telah salah sangka terhadap saudara sebelumnya, jadi maafkan aku” kata Hana yang tidak mengatakan bahwa Juli dikira hana “Gila” sebelumnya.


Blizz! Blizz!


Grooomm!! Brooomm!!


Kilat dan guntur terdengar keras di langit menandakan hujan akan segera turun, Juli melihat Hana masih memegang belibis panggang yang diberikannya,


“Hana! Cepat kau habiskan makanan mu dulu, karena kau akan membutuhkan tenaga besok, jika kamu tidak makan, kau akan kelaparan nantinya, lagi pula hujan akan turun sebentar lagi” jelas Juli cepat.


Hana senyum dibalik cadarnya, sebenarnya ia tidak pernah senyum selama ini, “Hm.. Saudara, baru kali ini aku melihat seorang anak pandai berbicara, seolah saudara sudah sangat berpengalaman di alam liar” puji Hana kagum.


Juli senyum terkekek, “Hehehe, Benarkah, dulu guruku juga berkata demikian” ucap Juli menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat gurunya berkata ia berpikiran "Sudah seperti orang dewasa"


‘Dewasa? Hihi, Aku malahan seorang kakek renta yang sudah pikun’ batin Juli senyum-senyum sendiri mengingat diri yang sebenarnya.


Hana menganguk, “Perkataan saudara Juli ada benarnya juga, aku harus makan sedikit untuk mengisi tenaga ku, dan aku tidak ingin merepotkan mu lagi besoknya” kata Hana yang mulai membuka perlahan cadarnya.


Juli sebenarnya penasaran dengan wajah Hana, tapi ia tidak enak hati melihatnya, sebab, siapa tahu wajah Hana cacat sehingga hana menutupinya agar tidak dilihat oleh orang lain.


Begitu cadarnya di buka Juli langsung melirik Hana sekilas dengan cepat, hal itu dilakukan agar Hana nyaman saat makan, tapi, setelah Juli melihatnya Juli langsung menundukkan kepalanya mata Juli terpelotot tubuhnya gemetar hebat.


Tanpa terasa Juli bergumam pelan dengan kepala menunduk, ‘Pahlawan Besar Dunia selama tiga ratus tahun, Ratu manusia tercantik dan terkuat sepanjang sejarah manusia, “Yang Mulia Ratu Agung Rihana”, Ratu Kaisar Langit dari Bumi Tengah, sekarang ia berada di depan mata ku!’ batin Juli gemetar hebat.


Hana mendengar Juli berbicara seorang diri ia bertanya, “Maaf saudara Juli, saudara bicara apa?”

__ADS_1


**


__ADS_2