Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 75. Klan Kerbau


__ADS_3

Kunang-Kunang Surgawi dalam dua hari telah berterbangan ke berbagai wilayah, cahaya indahnya sanggup menerangi sebuah ruangan layaknya batu kristal cahaya, walaupun begitu Kunang-Kunang Surgawi sangat sulit di tangkap karena memiliki sengatan yang sangat mematikan.


Di sisi lain orang-orang kalangan bawah, orang tua, anak-anak pedesaan mereka tidak mengetahui hal tersebut dan bahkan banyak di antara mereka yang menjualnya sebagai penerangan pada warga yang membutuhkan.


Sebuah Gebuk di lereng Bukit Merah Gunung Bayu dekat jalan lalu lintas Kota Teratai Langit dan Ibu Kota Kerajaan Embun, dua hari ini gebuk terlihat terang di malam hari karena cahaya Kunang-Kunang Surgawi yang telah bertengger di langit-langit gebuk, mereka menganggapnya sebagai pertanda kebaikan.


Pagi harinya seorang pria kurus berumur 40 tahun bernama Isura seorang pemburu biasa berpangkat putih dari Klan Kelinci, ia terlihat bersedih hati saat ingin berpergian berburu tidak seperti biasanya, dua lengan kurus memeluk dua putrinya yang masih berumur 10 dan 12 tahun, raut wajah ketiganya terlihat berduka.


“Ayah! Bisakah kami ikut berburu bersama mu, ibu sedang sakit keras sementara ayah tidak akan bisa berburu dengan kondisi mu yang sekarang ini” Jelas seorang anak berumur 10 tahun membujuk ayaknya agar mereka pun diberi izin ikut berburu bersama.


Isura senyum hangat, “Anak ku, di dalam portal itu bukanlah sesuatu yang bisa kalian hadapi, di dalamnya sangat banyak terdapat siluman yang bahkan tidak bisa ayah hadapi seorang diri, walaupun dikala ayah dalam kondisi masih prima” jelasnya seraya merangangkan pelukan terhadap dua anaknya.


"Tapi Ayah!" Kedua Anak remaja itu bersedih, saat melihat kondisi ayahnya sedang sakit-sakitan dan terpaksa harus berburu ke dalam portal.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat belasan orang bergegas mendatangi mereka dengan wajah yang tidak bersahabat.


“Hahahah, Isura! Sekarang kami kemari ingin menagih hutang! hutang mu 5 kristal ku harap kau akan melunasinya hari ini, dengan cara yang berbeda”


Terdengar suara salah satu dari belasan orang berbadan kekar yang datang ke tempat itu, mereka berseragam hitam terpasang bros berlambang kepala kerbau di dadanya, umumnya bersenjatakan golok yang terselip di pinggangnya, semua berpangkat putih.


"Ah.. Klan Kerbau Hitam!"


Isura dan anaknya terkejut bukan main, mereka tidak menyangka Klan Kerbau Hitam mendatanginya disaat ia sedang tidak memiliki apa-apa, Isura memberi hormatnya dengan tubuh gemetar,


“Ketua Kerbau Merah! Aku belum memiliki apapun untuk membayar mu, bagaimana jika waktu pulang berburu nanti aku akan membayar mu, karena kali ini saya akan masuk portal bersama dua puluh orang lainnya, mudah-mudahan kami bisa membawa banyak kristal siluman” Isura berjanji.


HAHAHA


Semua kelompok klan itu tertawa mereka saling pandang dengan tatapan penuh makna,


“Hahaha, Isura tidak masalah kau tidak membayarnya, karena kami datang kemari untuk mengambil putri sulungmu, kali ini kami tidak lagi membuat penawaran dengan mu” ucap Pria gemuk bertubuh besar yang dikenal dengan Kerbau Merah.


Isura berlutut dengan wajah pucat, begitu juga dengan anak-anaknya yang telah gemetar ketakutan mereka sadar Isura tidak mampu melawan 15 orang bertubuh sehat dan berpangkat sama dengannya dan bahkan beberapa di atasnya, apalagi jika mengingat resiko melawan jauh lebih besar dari pada menyerah.


“Jangan! Saya berjanji akan membayarnya, jangan ambil putriku dia masih terlalu kecil” Isura memohon pada Kerbau Merah.


Wuss... Brak!


Kerbau Merah langsung menendang Isura hingga tersungkur ke tanah sembari menyeret putri sulungnya dengan paksa.


“Jangan! Jangan tuan!” Mohon Isura bangkit kembali dengan tubuh terhuyung-huyung membantu melepaskan Putri sulungnya yang sedang meronta-ronta dalam genggaman tangan Kerbau Merah.


Duk! Duk!


Kerbau Merah kembali menendang Isura yang tidak mau melepaskan Putri sulungnya, “Eyahlah! Kami hanya mengambil satu saja, jika kau masih mencoba melawan kami maka akan ku ambil dua-duanya serta kami akan membakar rumah sekaligus membantai istrimu yang lagi sekarat itu” ancam Kerbau Merah dengan nada serius.


“Jangan tuan, jangan ambil anakku!” Isura tetap mempertahankan putri sulungnya walaupun tubuh kurusnya terus ditandatangani, begitu juga dengan kedua putrinya yang bahu-membahu mempertahankan ayahnya.


Kerbau Merah menjadi kewalahan ia melirik ke arah anak buahnya yang berdiri rada-rada begook,


"Kalian jangan diam saja hajar si sakitan ini, dasar bodoh! tidakkah kalian lihat betapa kacaunya aku?” Kerbau Merah membentak anak buahnya.

__ADS_1


Setelah mendengar perintah itu belasan orang langsung turun tangan menendang Isura dan menginjak-injaknya beramai-ramai, Isura dan anaknya terus menjerit berteriak memohon pertolongan, akan tetapi biarpun ada orang yang lewat di jalan itu namun tidak ada yang berani mencampuri usuran Klan Kerbau Hitam yang terkenal kejam.


Tek! Tek! Tek!


Tiba-tiba Terdengar suara tongkat memukul bambu di depan gebuk tua hingga menarik semua mata ke arah sesosok anak cacat yang berdiri sibuk memukul bambu seolah permainan alat musik saja.


"Apa!"


Sejenak semuanya melongo melihat seorang anak laki-laki menyedihkan yang hanya memiliki satu kaki kanan dan tangan kiri saja, tubuh anak itu semakin terlihat menyedihkan karena luka parah di sekujur tubuhnya.


"Halooo..."


Sapa anak itu dingin sampai membuat belasan orang itu bergidik, apalagi jika mengingat anak itu muncul tiba-tiba di antara mereka tanpa seorang pun menyadari sebelumnya.


“Eh! Siapa dia? Apa dia siluman?”


“Anak yang sangat menyedihkan, kenapa dia tidak mati dengan luka separah itu?"


"Anak Ini sungguh mengerikan”


“Dia tidak normal”


Semua orang terbelalak termasuk Isura bersama dua putrinya, mereka terlihat merinding dua putrinya kini berusaha bersembunyi diu balik Ayahnya.


“Ayah Aku takut? Kenapa anak mengerikan ini ada di depan rumah kita?”


“Iya, Ayah! Aku juga takut, apa ibu tidak apa-apa di dalam sana, lalu semenjak kapan dia ada di sana?”


Isura senyum pahit, “Anak ku jangan takut, diamlah jangan banyak bicara” Isura memperingati dua anaknya agar tidak memprovokasi salah satunya.


Juli senyum pahit saat melihat ketakutan anak-anak terhadapnya, “Hey Kerbau Kerbau! Kenapa kalian pagi-pagi buta telah mencoba mengganggu orang? Ada masalah apa ini? Berapa utang mereka yang belum terbayar pada kalian, khuk! Khuk!” suara Juli terdengar berat menahan rasa sakit paru-parunya.


Kerbau Merah menyeringai, “Anak sekarat! Kenapa kau masih bisa hidup dengan keadaan yang sangat mengenaskan, tapi kau jangan khawatir, aku akan segera mengirim mu ke neraka” Kerbau Merah mencabut padangnya.


Juli tenyum gembira, “Hehehe, kadang saat melihat banyaknya Kerbau Kerbau selalu membuatku ingin berumur panjang di bumi ini, sekarang kalian majulah! Jika tidak, maka akulah yang akan ke sana” ucap Juli mulai berjongkok dan mencondongkan tubuhnya ke arah anggota belasan Klan Kerbau Merah.


“Bocah sombong!” Teriak Kerbau Merah menyeringai sembari menerjang maju menebas batang leher Juli ingin mengakhiri penderitaannya.


Swuusss!


Wusss….! Brruuzzzz...


Kerbau Merah hanya menebas udara kosong sementara anak cacat yang ditebasnya sudah tidak berada di sana,


"Kemana bocah itu" teriak Kerbau Merah kaget, dan tiba-tiba perutnya terasa nyeri kemudian mencoba meraba perutnya, Kerbau Merah kembali kaget saat mengetahui perutnya telah bolong menembus punggungnya,


"Aaaakkhh! Sial...."


Terdengar suara teriak Kerbau Merah terakhir kalinya, setelah itu dia jatuh ke tanah bersimbah darah,


Semua mata terbuka lebar dan berwajah pucat, semua mematung tidak ada yang bisa berbicara, wajah mereka terlihat frustasi berat, karena kejadian itu belum pernah dilihat sebelumnya.

__ADS_1


“Hm… apa kalian masih berpikir bisa kembali? Setelah mengusik ku?” tanya Juli tiba-tiba sudah berada di arah belakang mereka. Semua orang menoleh ke arah belakang tubuhnya perlahan.


“Apa!"


"A..Apa!"


Semua orang terkejut, wajah mereka semakin pucat pasi, mereka tidak mengira bahwa anak cacat itu bisa bergerak secepat kilat, pergerakannya bahkan tidak dapat di ikuti oleh mata mereka.


“Am.. Ampun! Ampun! Ini semua salah paham tuan kecil cacat!”


“Benar! Dia berhutang pada kami dan sudah sewajarnya kami nenagih hutang, bukankah itu hal yang wajar?”


“Karena salah paham ini, kami anggap hutang ini telah lunas, kami berjanji tidak akan menagihnya lagi”


Terdengar suara pembelaan diri mereka dengan tubuh gemetar, mereka sungguh tidak menyangka anak cacat yang baru ditemui merupakan seekor monster.


“Khuk! Khuk!” Juli tersenyum sambil terbatuk-batuk sampai keluar darah dari dalam mulutnya, “Aku ingin semua batu siluman kalian dikumpulkan padaku beserta semua barang-barang berharga lainnya, jika kalian mencoba menyembunyikannya murka ku akan sangat berat” Juli mengancam mereka seraya menancapkan tongkatnya ke tanah.


Dhup!


“I.. Iya tuan”


“Cepat!”


“Ba.. Baik tuan kecil”


Dengan tubuh gemetar tanpa pikir panjang belasan orang bertubuh kekar itu segera menyetujuinya, Meraka bergegas menumpulkan semua bingkisan dan diletakkan di depan Juli secara terburu-buru, setelah itu mereka mencoba meninggalkan tempat itu.


“Berhenti! Jangan ada yang pergi tanpa seizinku? Pergi berarti mati” ancaman Juli dengan tatapan dingin, hal itu cukup membuat mereka menelan ludah.


“Gawat anak ini sungguh bahaya? Kerbau Merah saja bisa di bunuh dalam sekejab mata, kita harus mencari cara agar bisa menyelamatkan diri darinya”


“Benar! Sekarang nyawa kita yang paling penting”


“Tenang saja setelah ini kita akan datang lagi kemari”


“Iya”


Mereka berbisik-bisik sesamanya, kini setelah memberikan semua bingkisan yang diminta perasaan mereka menjadi lega karena mereka yakin anak kecil itu pasti melepaskan mereka, akhirnya Klan Kerbau Hitam kembali berbaris seperti sediakala.


Juli melihat banyaknya bawaan mereka membuatnya tersenyum, ‘Hm… Klan Kerbau? Di kehidupan ku sebelumnya klan ini merupakan Klan Kegelapan yang terus merampok dan menculik gadis-gadis tak berdaya, sekarang aku hanya menemukan beberapa orang saja, tapi sudah cukuplah untuk mencoba ilmu tongkat dengan tubuh cacat ini, hehehe,, Khuk! Khuk!’ batin Juli sambil seraya menjongkok kearah meraka.


Whoooossss…


“Hantaman Tongkat Sakti!”


Buukkpp… Buukkpp… Buukkpp…


Aaakkhh! Aaakkhh! Aaakkhh!


**

__ADS_1


__ADS_2