
Dalam kabut tipis,Dewi cantik jelita berjalan santai bersama seorang anak laki-laki yang berusia delapan tahunan.
Bula dan Buli bersaudara senyum lebar, apalagi melihat kedua orang yang muncul dari kabut itu sama sekali tidak berpangkat, “Ini mangsa” batin mereka.
Dewi cantik ini hanya memiliki sebuah pedang yang terselip dipinggangnya, sementara anak kecil itu hanya bertongkatkan ranting kering saja, ini menjelaskan bahwa keduanya hanya lah pendekar biasa, atau bisa jadi pendekar aliran putih yang berasal dari desa Lembah Angin.
“Oho, rupanya Dewi dan anak tampan, tapi aku tidak melihat pangkat dilenganmu sama sekali, Apa kau yang berbicara tadi gadis cantik? Oh! Gadis cantik, teknikmu sangat bagus.” Bula terlihat sangat bergairah seperti biasa.
Di antara dua bersaudara, Bula lah yang paling suka menggoda wanita, apalagi gadis secantik Putri Yara, air liurnya langsung merembes.
Kakek Boman mencoba bangkit berdiri, tangannya mengisyaratkan agar Dewi cantik itu pergi dari tempat ini, Dewi terlihat tidak peduli dengan isyarat tangan Kakek Boman dan justru mendekatinya.
‘Ada yang salah dengan otak gadis cantik ini, apa dia tidak tahu jika di depannya ini orang-orang dari Aliran Hitam? Sial aku harus turun tangan lagi,' batin Kakek Boman merasa kasihan pada Dewi cantik ini.
Amran dan pasukan pengepungnya menjadipenasaran dengan tingkah Dewi bersama anak yang di bawanya, mereka berdua seakan tidak melihat bahaya yang mengancam nyawa.
Sesampai Dewi cantik itu di depan belasan orang, dia langsung menunjuk ke arah Bula dan Buli bersaudara. “Kalian berdua! Tadi sudah kuperingatkan untuk pergi, tapi sekarang telah terlambat.” Putri Yara senyum dingin.
Syut!
Putri Yara bergerak cepat menendang perut Bula bersaudara, kecepatan Putri Yara bukan tandingan siapa pun dari mereka, Bula mencoba menangkis namun terlambat, tendangan Yara telah mengenai perutnya hingga terpental 20 meter jauhnya.
“Apa?”
“Apa yang terjadi?”
Semua mata kini tertuju pada Putri Yara, tatapan keterkejutan terlukis di wajah mereka, sampai mulut mereka terbuka berbentuk huruf O, mereka tidak mempercayai bahwa seorang gadis belia memiliki kekuatan monster seperti ini.
Juli senyum melihat keganasan Putri Yara, ‘Putri Yara ini sangat bersemangat, tapi walau bagaimanapun, tubuh tingkat Dewa bukan tandingan belasan pasukan Sekte Cabak Iblis, apalagi manusia lemah seperti mereka, kali ini mereka benar-benar apes’, batin Juli sembari senyum kikikan.
Buli melihat saudara kembarnya ditendang seperti bola, hatinya panas, amarah memuncak. “Semua pasukan! Hajar gadis ini! Jangan biarkan dia lolos!” Buli melompat tinggi menyerang Putri Yara, kini ia menyerang dengan serius karena tidak mau berakhir seperti saudara kembarnya.
Putri Yara menyambut serangan Buli dengan santai, hanya dengan kecepatan serangan pedang saja, Buli menjadi sangat terdesak, sementara belasan pasukan lain menjadi enggan menyerangnya.
“Apa yang kalian lihat! Bantu aku!” teriak Buli semakin pucat, ia tidak menduga Putri Yara sangat cepat dan lincah,bahkan pedang Buli malah dijadikan tameng untuk pertahanan saja.
Belasan orang kini melompat menyerang Putri Yara secara bersamaan, mereka mencari celah agar bisa menebas walaupun hanya untuk sekali, tapi fakta malah sebaliknya. Putri Yara dengan mudah menendang satu persatu penyerangnya seperti bola, beberapa bahkan terbang belasan meter ke udara dan mendarat dengan kondisi tubuh mengenaskan.
Beberapa orang yang tersisa menjadi sangat pucat dan ketakutan, mereka baru kali ini melihat monster yang sebenarnya.
Buli menelan ludah, ia tidak menyangka akan menemukan lawan separah ini, yang lebih mengejutkan lagi gadis ini tidak berpangkat sama sekali.
__ADS_1
“Kita harus menggunakan Pil Iblis yang diberikan oleh ketua sekte Cabak Iblis, dengan ini, Kita bisa melawannya, Kalau tidak, kita semua akan mati konyol di sini”. Buli memerintah beberapa bawahan yang masih selamat.
Pasukan saling pandang, pil ini diberikan oleh ketua Sekte Cabak Iblis untuk digunakan saat pertempuran di Gunung Dawai beberapa hari lagi, jika mereka menggunakan sekarang maka sudah tentu ketua sekte akan menjatuhi hukuman berat terhadap mereka. Namun saat ini, mereka tidak punya pilihan lain selain menggunakannya.
“Buli! Kita akan dihukum berat kalau menggunakan pil ini sekarang, Apa tidak sebaiknya kita mencoba melawannya seperti biasa dulu!” salah seorang pasukan keberatan dengan ide Buli yang dianggap terlalu ceroboh.
“Apa mau mencoba melawannya tanpa menggunakan pil? Heh! Kita menggunakan pil sajabelum tentu kita bisa selamat darinya.” Perkataan Buli ini masuk akal, mengingat banyak pasukan mereka yang telah tumbang di tangan gadis cantik jelita ini.
Untuk sesaat mereka terlihat berpikir, namun setelah melihat Bulimulai menelan pil itu, maka semua pasukan juga melakukan hal yang sama.
Krak! Kruk!
Tubuh mereka berubah kemerah-merahan, gigi mereka keluar lebih panjang, pangkat mereka dua tingkat naik secara tiba-tiba, postur tubuh mereka beberapa puluh centimeterlebih tinggi dari sebelumnya.
Putri Yara menjadi kaget, begitu juga dengan kakek Boman dan Amran termundur beberapa langkah, wajah mereka menjadi pucat dan tidak pernah menyangka ada pil dengan efek yang sedemikian mengerikan.
“Pak tua! Adik kecil! Kalian berdua pergi menjauh dulu, aku tidak mau kalian menjadi beban dalam pertarunganku nanti!” Putri Yara menoleh kearah kakek Boman dan Amran muridnya memperingati.
“Pil apa ini? Kenapa bisa begitu mengerikan? Kalau semua pasukan Sekte Cabak Iblis memiliki pil yang sejenis ini, maka Sariek Beude di Gunung Dawai bisa dipastikan binasa.” terlihat kekhawatiran Kakek Boman di wajah tuanya, sebelum beranjak pergi menjauh ke dalam kabut yang semakin menebal.
Juli masih berdiri terpaku, wajahnya terlihat buruk, karena di antara semua orang yang paling kaget adalah Juli ketika melihat perubahan pasukan Cabak Iblis. Kekagetan Yuli bukan karena perubahan bentuk tubuh mereka yang mengerikan, akan tetapi sesuatu dibaliknya.
Juli berkeringat dingin, ‘Celaka! Pil yang digunakan ini bernama “Pil Darah Iblis”. Pil ini tidak bisa dibawa masuk ke dalam Kubah Pelindung, karena Pil ini dibuat dari darah iblis dan akan hancur apabila bersentuhan dengan dinding Aray Kubah Pelindung, di kehidupanku sebelumnya, Pil ini baru bisa dibawa masuk 20 tahun kemudian, mereka menggunakan salah satu artefak raksasa, yang dinamakan artefak pintu ruang, tapi kenapa sekarang mereka telah membawanya kemari? Ada apa yang sebenarnya?” Juli mulai berpikir keras.
Juli menoleh ke arah Putri Yara yang sedang memperhatikan perubahan wujud pasukan Cabak Iblis.
“Putri Yara berhati-hatilah, kekuatan mereka di luar perkiraanmu, berhati-hatilah terhadap cakar mereka, itu sangat beracun dan mematikan”. Juli mengingatkan.
Juli khawatir pada keselamatan Putri Yara, karena ia tahu Putri Yara pasti tidak mengetahui rahasia dari Pil Darah Iblis yang baru muncul sekarang.
Setelah semua pasukan berubah wujud dengan sempurna, Putri Yara mulai merasakan tekanan berat dari mereka, tekanan dari darah siluman.
Akan tetapi sedikit ganjil, perubahan ini membuat pasukan biasa mengalami hilang kesadaran diri, cenderung berpikiran liar dan mereka menggunakan cakar untuk senjata. Sementara ahli tingkat perak ke atasseperti Buli masih dapat mempertahankan sisi kemanusiaannya, sehingga ia menggunakan pedang sebagai senjata.
“Apa-apaan ini! Tanpa tenaga dalam sepertinya aku akan kesulitan melawan mereka, tapi siapa tahu sebelumaku mencobanya”.
Putri Yara berniat melakukan penyerangan lebih dulu sebelum mereka bisa menguasai perubahan barunya, tapi sebelum niatnya tercapai mereka justru sudah menyerang Yara secepat kilat.
Sying!
“Celaka!”
__ADS_1
Gerakan sangat cepat mengimbangi kecepatan Putri Yara, dalam beberapa gerakan saja, Putri Yara menjadi terdesak oleh serangan pasukan Cabak Iblis yang semakin brutal.
“Teknik Pedang Dewi Langit!”
Putri Yara sudah tidak bisa lagi mengandalkan kecepatan, sekarang ia menggunakan teknik terhebatnya untuk bertahan dan menyerang, teknik andalannya saat ini ialah “Teknik Pedang Dewi Langit”. Juli memperhatikan teknik-teknik pedang yang digunakan Putri Yara.
‘Teknik pedang ini sangat banyak celahnya, saat ini ahli tingkat tinggi Bumi Tengah menganggap teknik ini sudah berada di puncak teknik pedang, tapi sebenarnya itu awal dari teknik pedang yang sebenarnya'. Juli menggeleng-geleng kepala saat menyaksikan Putri Yara yang terpojok hanya oleh beberapa pasukan Cabak Iblis saja.
Belum sempat Putri Yara meroboh satu pasukan Cabak Iblis pun, sekarang Buli yang tadinya mengamati, kini mulai mendekati daerah pertarungan.
“Kalian mundurlah! Biar aku yang menghabisinya, kalian terlalu lambat!”
Tanpa menunggu pasukannya mundur, Buli kembali bergerak cepat menyerang Putri Yara dengan tenaga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Gerakan ketiga! Pedang Penghancur Gunung!”
Gerakan kali ini sangat cepat menebas ke arah dada Putri Yara, Putri Yara pun segera menyambut serangan Buli dengan teknik “Pedang Dewi Langit”.
“Gerakan Perisai Pedang Dewi langit!”
Putri Yara terus memutar pedang menciptakan perisai pertahanan, tanpa tenaga dalam itu hanya pertahanan berupa gerakan saja yang jauh dari kata sempurna.
Di sisi lain, Gerakan Buli bahkan lebih mengerikan, Buli menggunakan pedang besarnya dengan sangat cepat, berbeda dari beberapa pasukan lain yang kehilangan kesadaran dan menggunakan cakar sebagai senjatanya.
Buli bahkan mampu menggunakan teknik-teknik bertarungnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya, sehingga Putri Yara berhasil ditebas dan terpental jauh jatuh beberapa meter dari tempat pertarungan.
Juli kaget, efek Darah Iblis kali ini jauh lebih kuat dari kehidupan Juli sebelumnya, Putri Yara memiliki tubuh tingkat dewa, itu sangat sulit dilukai. tapi kali ini berbeda ceritanya, dengan serangan Buli, Dewi Yara mengalami luka tebasan walaupun tidak parah, karena pedang yang digunakan Buli bukanlah pedang tingkat pusaka.
“Ini gawat! Kalau seperti ini bisa dipastikan umat manusia akan binasa! Aku tidak bisa melindungi mereka semua, dan aku pun tidak yakin bisa bertahan hidup bila berhadapan dengan belasan siluman tingkat tinggi yang seperti ini, apalagi jika mereka mengeroyokku sampai ratusan jumlahnya.” Juli terlihat sedih ketika mengingat nasib umat manusia kembali terancam.
Putri Yara mencoba bangkit, kemudian dia terjatuh lagi serta mengeluarkan darah segar dari mulutnya, tebasan yang didapatkan bukan hanya menyakiti bagian fisiknya saja, tapi justru menyerang jiwanya secara dahsyat.
“Khuk! Khuk! Juli sepertinya aku tidak bisa meneruskan pertarungan ini, ini terlalu berisiko terhadap tubuhku sekarang, selanjutnya pertarungan ini akan ku serahkan kepadamu.” Putri Yara memegang dada merasakan kesakitan, Juli hanya mengangguk menyetujui permintaan Yara.
Di sisi lain, Buli juga terkejut saat melihat pedangnya, pedang besar yang telah mendampinginya selama puluhan tahun kini telah retak dan hampir tidak bisa digunakan lagi.
“Gadis Monster! Bagaimana bisa tubuhmu lebih keras dari pedang ku? Tapi bagaimanapun juga, Aku akan membunuhmu hari ini!” Buli mengalihkan pandangannya ke arah pasukan yang lebih mirip hewan buas dari pada manusia.
“Jangan diam saja! Ayo kita serang bersama! Jangan biarkan dia hidup!” teriak Buli memerintah anak buahnya, Buli sadar menyerang bersama jauh lebih efektif daripada bertindak sendirian, apalagi jika mengingat tubuh Dewi Yara sangat keras layaknya baja.
“Hei! Lawan kalian adalah aku.” Juli muncul di hadapan mereka secara tiba-tiba, secepat kilat Juli memukul kepala Buli dengan tongkatnya, Buli tidak sempat melihat serangan hingga terpental beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
“Putri Yara! Perhatikan gerakan ilmu pedang ku!”
**