Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 94. Tyranosaurus Terbang


__ADS_3

“Gawat!”


“Pintu portalnya telah menghilang, bukankah seharusnya ada waktu dua hari lagi? Bagaimana ini Kakak Tertua”


“Ini karena kita telah berhasil membunuh banyak monster tingkat tinggi di kawasan ini jadi Pintu Portal akan tertutup secara otomatis”


“Jadi apa yang harus kita lakukan, senior! Kalau menunggu terbuka kembali tidak mungkin”


“Kita harus mencari portal lain di luar wilayah ini, dan ini akan membutuhkan waktu yang lama, tapi tenanglah, aku memiliki tunggangan untuk kalian dan ku harap pangeran bisa berbagi tempat duduk dengan Jendra Wirma”


“Ah tidak masalah!” jawab Pangeran ke-dua cepat.


Juli mengeluarkan kristal kehidupan dari dalam cincin ruang yang direbutnya dari Mina, di dalam kristal ini terdapat jasad Dinosaurus Purba hasil rekayasa genetika.


Makhluk ini jenis hewan ghaib purba yang dapat berlari dengan kencang serta dapat terbang bebas dengan sepasang sayapnya, dari segi kekuatan tentunya tidak bisa diragukan lagi walaupun tidak sekuat Naga Kegelapan milik Hana.


Juli menyalurkan sedikit kesadarannya pada kristal kehidupan, kristal itu langsung bercahaya dan meledak disusul raungan keras Tyrannosaurus raksasa bersayap.


ROAARR!


Pangeran kedua dan Jendra Wirma menelan ludahnya, mahluk ini sangat besar berpangkat emas. Di ukur dari kaki ke pundaknya sedikitnya memiliki tinggi 10 meter dan ini benar-benar monster raksasa yang mengerikan.


“Ka.. Kakak tertua? Apa kami harus menunggang monster ini? Ini sungguh sangat menyedihkan”


Pangeran menelan ludahnya, mengingat duri duri besar runcing di atas punggungnya saja sudah membuatnya ngeri apalagi harus menunggang dalam jarak yang tidak diketahui.


Juli mengerti ia hanya tertawa kecil, “Kau tidak usah takut, duduklah di atas kepalanya saja, lagi pula hewan ini akan terbang bukan berlari, kalian akan aman di atas tanduk ratanya” jelas Juli menghilangkan ke khawatiran mereka.


"Baiklah Kakak Tertua!"


"Baik Senior!"


Jendra Wirma dan pangeran kedua tanpa memperpanjang argumen mereka langsung melompat ke atas kepala Tyrannosaurus bersayap.


Sementara Juli bersama Hana menunggangi Naga Kegelapan, pada dasarnya Juli mengeluarkan Tyrannosaurus Bersayap karena pangeran dan Jendral tidak kebal terhadap api hitam, berbeda dengan tubuh Juli dan Hana.


Setelah terbang selama dua jam mengarungi udara langit Bumi Barat akhirnya Juli berhasil menemukan Portal Putih pada wilayah yang sangat jauh dari Hutan Pemangsa.


Juli pun memutuskan untuk mendarat di sana. Karena walau bagaimanapun akhir dari semua Pintu Portal tetap mengarah ke dalam Kubah Pelindung, sementara Pangeran Kedua dan Jendral hanya menurut saja.


“Kakak Tertua, lihatlah itu ada segerombolan rubah sedang menyerang para Hanter Gadis, apa kita menolongnya” Pangeran menunjuk ke arah 10 orang gadis kurus sedang bertarung mati-matian dengan rubah berpangkat putih.

__ADS_1


Sementara itu para pendekar wanita sedang sibuk mempertahankan diri dari siluman rubah ghaib dan tidak menyadari kahariran Juli dan lainnya di udara.


“Ayo! Atur posisi jangan sampai berpencar!”


“Baik Ketua Yome!”


Seorang gadis kurus berpangkat dua putih bersenjata golok terus menyerang dengan gagah berani di antara amukan ratusan Rubah Ghaib setinggi satu meter.


Aura putus asa terlihat pada raut wajah mereka. Semua gadis benar-benar tidak menyangka akan ada ratusan Rubah Ghaib berpangkat putih di dalamnya, dan seharusnya Portal ini cocoknya berwarna kuning.


“Ketua Yome! Kita tidak mungkin bertahan, aku sudah tidak sanggup lagi berdiri” teriak putus asa anggota Hunter Gadis.


“Bertahan lah! Kalau kita mati seluruh anak-anak dan orang tua akan mati hari ini, kita lah harapan terakhir mereka satu-satunya, jadi kumohon bertahanlah! Hik hik!” Yome mulai menangis putus asa sebenarnya rubah ini bukanlah kapasitas lawan mereka.


GROOOORR!


Tiba-tiba teriakan mengerikan terdengar di langit, semua Rubah Ghaib langsung memasukkan ekor ke dalam puantatnya dan lari terbirit-birit ketakutan,


Aiingg! Aiiing!


Semua mata Pemburu Gadis mendongak memandang ke arah sumber suara. Mata mereka lebar saat melihat seekor monster kuno raksasa bepangkat emas dan seekor Naga Raksasa tercipta dari api hitam terbang mendarat mendekati mereka.


“Ke.. ketua Yome… i.. ini bukan sesuatu yang bisa kita lawan” teriak bawahannya mengingatkan.


“Hey, Nona! Jangan takut kami datang untuk membantumu bukan” Pangeran Ke-dua, ia langsung berdiri di atas kepala Tyrannosaurus Terbang sehingga terlihat oleh para pasukan gadis.


“Benar nona nona! Jangan takut”


Jendral segera melompat ke bawah menghampiri para Pemburu Wanita yang terlihat takut terhadap tunggangannya.


Wusss…


Kedua tunggangan itu tiba-tiba menghilang seperti debu di tiup angin. Juli dan Hana muncul, mereka berdua berjalan santai menghampiri para Hunter Gadis dengan wajah senyum.


"Mereka sangat kuat, lihatlah pangkat mereka"


Sementara ke sepuluh gadis itu terus menoleh ke arah pangkat empat orang yang baru ditemuinya.


“Ah! Tu.. tuan sekalian, nama ku Yome.. ini semua rekan-rekanku, terimakasih atas pertolongan tuan-tuan” Yome memberi hormatnya, keringat dingin mengalir di kening, apalagi saat menatap wajah tampan Pangeran Ke-dua.


Pangeran ke-dua memang tidak mengenakan pakaian kebesarannya, namun melihat zirah emas penuh permata yang dikenakan saja pastilah pemuda ini dari kalangan bangsawan tinggi. Begitu pula dengan Jendral Wirma yang memakai zirah perang emas penuh goresan pedang dan bekas darah. Sekilas lihat saja semua orang dapat menebak mereka berdua bukan orang sembarangan.

__ADS_1


Sementara itu, seorang anak perempuan kecil yang hadir disini juga tidak dapat di pandang ringan, betapa tidak, di usianya yang sangat belia dia telah berpangkat satu perak dan itu bukan sesuatu yang normal. Kecuali seorang anak laki-laki gembel yang tidak berpangkat sama sekali dan dia itulah yang paling normal di antara ketiganya.


“Ah! kakak Yome, kami ingin tahu, daerah manakah sumber portal ini?” Tanya Juli senyum memberi hormatnya.


Yome melihat ke arah Juli yang berdiri santai menyilangkan lengan di depan dadanya,


“Ah! Adik kecil kami dari Desa Rangkong, Kerajaan Embun, sebenarnya kami sedang dalam krisis besar karena seluruh hunter kami di tangkap paksa untuk di masukkan ke dalam portal Emas di depan istana, jadi kami terpaksa berburu kristal untuk anak-anak dan orang tua yang tersisa” Yome bersedih hati.


Juli menganguk, ia bisa menangkap arah bicara Yome yang ingin meminta bantuan untuk memburu kristal siluman untuknya, Juli menoleh ke arah pangeran ke-dua dan Jendral Wirma.


“Adik kedua, dan Junior Wirma! Kalian bantu lah, kakak Yome ini untuk mengumpulkan kristal sebanyak-banyaknya dan aku akan menunggu kalian di sini” Juli mengibaskan tangannya.


“Ba.. baik kakak pertama!”


“Baik Senior!”


Pangeran Kedua dan Jendral memberikan hormatnya, wajah mereka terlihat bahagia karena telah diakui sebagai adik oleh Juli, begitu juga dengan Jendral Wirma yang telah diakui sebagai juniornya, tanpa banyak bicara mereka langsung berangkat terbang dari sana dengan penuh semangat.


Adapun Juli memanggil begitu ia tidak mau membuat heboh bahwa yang menolong gadis ini seorang Pangeran Kekaisaran serta Jendral Besar Wirma.


Yome dan anggotanya tercengang mulut mereka terbuka lebar, ‘Bagaimana anak ini yang bahkan mirip gembel memerintah seorang bangsawan berpangkat tinggi dengan mudahnya, apa anak ini seorang penyihir? Tapi sepertinya tidak jikapun seorang penyihir pasti ia tidak mampu memerintah seseorang berpangkat tinggi yang jauh melampaui pangkatnya’ batin Yome mulai menelan ludah dan berkeringat dingin.


Juli orang yang peka dia mengerti keterkejutan Yome, “Ah! kakak kakak ini jangan terkejut, itu karena ayahku lebih tua dari ayah mereka, jadi wajar saja aku memanggil mereka adik-adikku dan begitulah tradisi kami” Juli tahu bahwa tradisi itu mengikuti tradisi bangsawan.


“Ah! Begitukah! Kalau begitu kami paham, lalu siapa Nona ini?” Yome menunjuk ke arah Hana yang berdiri santai tidak berkomentara apapun dari tadi.


“Aku Hana, dan dia ini suamiku” jawab Hana dengan nada ketus.


Juli tersendak napasnya, ia semakin bingung dengan dramanya, Juli mengaruk-garukkan telinga tidak tahu lagi harus berkomentar apa, sejenak otak Juli menjadi buntu, dan untungnya Hana berdiri agak jauh darinya, kalau tidak, sudah disentil hidungnya.


“Ooo… Salam nyonya muda”


Semua gadis yang berada di sana tidak seorangpun terkejut dengan pernyataan Hana, dan mereka terlihat serius memberi hormat padanya.


Hana kembali memberikan hormatnya, “Boleh ku tahu di Desa Rangkong berapa banyak anak-anak di bawah umur yang belum dinikahi oleh Walikota?” Tanya Hana dengan wajah serius.


“Ah! sekarang semua sudah ikut tradisi, semua anak anak akan menikah, kalau tidak akan di culik oleh walikota dan kebetulan di desa kami masih banyak anak-anak yang lolos” Jelas Yome dengan nada serius.


“Hmm.. Kalian tenanglah, aku dan suamiku akan mengurus masalah kalian, dan kami akan mulai dari walikotanya” tatapan Hana serius seperti ada dendam yang terselimuti di sana.


Juli mulai mengerti ia hanya senyum mengaruk-garukkan kepalanya saja, ‘Dasar Ratu Bocah! Ada rencana bukan dirembuk dulu dengan ku, hehehe’ batin Juli tidak memperpanjang komentar.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Pangeran Kedua dan Jendral kembali dengan membawa ribuan kristal level 1 dan level 2.


**


__ADS_2