
Depan pintu gerbang Lembah Seribu Warna
Hana dan semua pasukan pelindungnya telah masuk ke dalam Portal yang muncul secara tiba-tiba di medan tempur itu, kecuali Husen, dan Juli yang masih duduk dengan santai seolah ia sedang menonton sandiwara yang telah kehilangan aktor utama.
Husen terlihat sedih atas kepergian semua orang terdekatnya, ia sadar kesempatan untuk selamat dalam Portal Perak adalah 5 Persen bagi orang yang berada di tingkatnya, ia menoleh pada Juli yang masih duduk santai dan memang mirip seperti orang sakit jiwa,
“Juli! kau jaga rumah, bila kami tidak kembali maka kau tinggallah disini, hahaha” tawa putus asa Husen sambil melangkah maju memasuki Pintu Portal.
Juli senyum pahit, melihat Dewa Pedang Ganda putus asa, ia sadar kepergian Husen itu merupakan ajang bunuh diri,
“Hm.. Baiklah!” jawab Juli singkat, ‘Dewa Pedang Ganda.. Majikan Lembah Seribu Warna… sepertinya aku pernah mendengarnya.. tapi.. bagaimana kisahnya..’ Batinnya mulai berpikir-pikir menggaruk dagu0nya.
Aboki menoleh kearah Juli, lalu bertanya pada anak buahnya, “Hey! Cunguk! Apa pangkat anak itu? Apa dia berbahaya?” Tanya Aboki curiga.
Seorang pasukan bernama Cunguk, ia langsung menganguk tanda mengerti, lalu ia segera menggunakan mata batinnya untuk merawang kearah Juli, “Hmmm! Bos! Anak itu hanya anak gembel.. tidak ada ciri-ciri kemunculan pangkat darinya” jelasnya pada Aboki yang terlihat tergesa-gesa.
Sementara Juli hanya duduk santai sambil menggaruk-garuk dagunya, ia terlihat sedang sibuk dengan pikiran sendirinya, ‘Hm.. Dewa Pedang Ganda, di kehidupan ku sebelumnya, ia meninggal tanpa jejak, desas-desus mengatakan kalau dirinya mati dalam portal saat ingin menyelamatkan seorang anak kecil jenius, kurasa disinilah dia mati, sungguh kasihan..” Batin Juli merasa kasian padanya, Juli memang tidak mengenal Husen di kehidupan sebelumnya karena husen mati lebih cepat dari kedatang Juli ke Bumi Barat.
Di tengah area pertempuran, Aboki kecewa bukan main, “Sial! Semua musuh telah masuk ke dalam portal, mereka hanya meninggalkan anak gembel di sini, kalau aku tidak membawa pulang Anak Jenius itu maka aku tidak akan hidup jika pulang ke markas, Aku yakin! ketua Klan pasti akan membunuhku” Teriaknya marah, hingga menakuti anak buahnya.
“Tanang lah Bos!”
“Iya Bos! Tenanglah!”
Anak buahnya mencoba menenangkannya, Aboki perlahan menoleh kearah Bomo si Petapa Tua Gunung Hantu untuk mencari pendapat yang berdiri agak jauh dari sana, “Tuan Bomo! Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Bomo senyum dingin menatap Aboki, “Kita akan kejar mereka, walaupun harus ke Neraka! Hehehe” Bomo memberi pendapatnya, sampai membuat bulu kuduk semua anak buah Aboki bergidik.
“Apa?! Ini Rencana gila Bos!”
“Iya Bos! Kita bahkan tidak bisa bertahan satu jam dari sana”
__ADS_1
“Pikirkan kembali Bos! Karena ini menyangkut nyawa”
Anak buah Aboki terus memberi masukan hingga membuat Aboki terlihat ragu-ragu, namun ia tidak punya pilihan selain mengikuti usulan Bomo, “Baiklah kalau begitu, ini sudah ku putuskan, semuanya mari masuk ke dalam portal! Berangkat!” Teriak Aboki memberi perintah pada bawahannya.
“A.. Apa?!”
“Bagaimana ini?”
“Ini Bunuh diri!”
Semua Pemburu ragu-ragu namun mereka tidak bisa menolak kehendak Aboki yang terkenal kejam, “Ba.. Baik Tuan!” ucap mereka Gugup.
Aboki senyum, ia bisa melihat ada potensi pasukannya untuk melarikan diri, “Tuan Bomo! Kau masuk lah paling akhir, dan tolong kau pastikan, bahwa mereka semua mengikuti ku” Aboki memberi perintah pada Bomo untuk mengawasi anak buahnya.
Bomo senyum dingin sehingga siapapun melihatnya akan bergidik, “Hmm.. Baiklah nak Abok! Sekarang kalian semua masuk lah” mata Bomo terus mengawasi pemburu yang berpotensi hengkang dari perintah.
Melihat Bomo saja mereka telah gemetar, apalagi kalau si tua itu mencabut pedangnya bisa dipastikan mereka akan kehilangan kepala, akhirnya dengan terpaksa mereka harus mengikuti Aboki untuk masuk ke dalam Pintu Portal.
“Ba.. baik Bos! Kita Akan ke sana”
“Tidak ikut bos berarti mati!”
“M..Maju…!!”
Aboki memimpin jalan masuk ke dalam Pintu Portal beserta semua anggota Klan Hyena, dan yang terakhir tinggal hanya kakek Bomo si Petapa Tua Gunung Hantu.
Bomo mengambil Guci Tuak yang diselipkan di pinggangnya, dan ia mulai menikmatinya, “Hm.. enak sekali.. orang tua sepertiku kalau tidak mabok dulu itu tidak cocok… hehe.. nah sekarang giliran ku..” Gumam Bomo seorang diri sambil bergerak perlahan untuk memasuki Portal.
Tiba-tiba angin tertiup kencang, gravitasi bertambah kuat beberapa persen hingga membuat Bomo si Petapa Tua Gunung Hantu bergidik.
WAM! WHAM!
__ADS_1
Huuuuussss Huuuuu….
“Hey…..” Tiba-tiba sebuah suara terdengar oleh Bomo, “Bomo! Kau mau kemana?” suara anak kecil seolah terdengar dekat sekali dengan telinganya.
Bomo bergidik ketakutan, “Siapa! Siapa ini? Apa kau siluman yang lepas?!” Kewaspadaannya meningkat kepalanya terus menoleh kiri kanan, tapi tidak ada seorangpun di dekatnya
“Siapa kau! Tunjukkan dirimu! Jangan bersembunyi seperti pengecut! Keluar dan hadapi aku secara jantan,” teriak Bomo memberanikan diri untuk memancing keluar pemilik suara itu.
Juli senyum gembira, ia terlihat duduk santai di depan pintu gerbang Lembah Seribu Warna, matanya tertuju pada Bomo yang terlihat bingung jauh di depannya, ia menggunakan tenaga dalamnya untuk mengirim suaranya lewat udara langsung ke telinga Bomo, teknik ini hanya bisa dilakukan oleh Ahli tingkat tinggi, sementara Juli di kehidupan sebelumya seorang Kaisar Langit dan Bumi, hal semacam ini hanyalah mainan anak-anak dihadapannya.
Juli tertawa melihat kebingungan Bomo berpangkat dua Perak yang pada dasarnya itu bukanlah lawannya sama sekali,
“Hahaha… Dasar tua bangka perampok! Apa karena kau sudah tua sehingga kau tidak bisa melihat ku lagi, huh? Tidakkah kau bisa melihat aku sedang duduk di depan pintu gerbang!” Suara Juli terdengar dekat telinga Bomo.
“D..Dimana?!” Bomo mengucek-ngucek matanya melihat kearah pintu gerbang Portal “Dimana kau? Aku tidak dapat melihat mu!” tanya Bomo semakin penasaran.
Juli dari kejauhan menatap Bomo dengan tatapan mata bodohnya, ia membatin, ‘Si tua bangka ini, pintu gerbang saja sudah tidak dikenali lagi, dia hanya pandai membunuh orang-orang lemah demi meningkatkan budidaya tubuhnya yang kotor itu, budidaya tubuhnya merupakan Budidaya Tubuh Hantu yang harus minum darah manusia setiap saat untuk peningkatannya, dan.. untuk menghindari para Pemburu akibat ulahnya, ia bertapa sebagai kedok sehingga orang tidak mencurigainya, di sisi lain ia terus membunuh orang untuk kepentingannya hingga tidak terhitung jumlahnya, sampai-sampai jasad-jasad yang dia bunuh sudah tidak mampu lagi dikuburnya hingga menyisakan arwah-arwah gentayangan di gua yang dia diami, Orang-orang lalu mengenal tempat itu dengan Gua Hantu, sekarang Bomo si Petapa Tua Gunung Hantu, hari ini akan ku akhiri kejahatanmu’ tatapan Juli mengandung kesedihan saat mengenang orang-orang lemah dibantai oleh bomo secara sadis.
Tapi saat melihat kebodohan Bomo yang bingung di depan Pintu Portal membuatnya tersenyum, “Tua Bangka Bodoh! Kau bahkan tidak bisa membedakan mana Pintu Portal, dan mana Pintu Gerbang!” Kata Juli pada Bomo yang masih menoleh keberbagai arah.
“Di mana itu?” Bomo sibuk mencarinya di Pintu Portal.
Juli senyum jengkel, “Kau lihatlah ke Gerbang Lembah Seribu Warna.. Ngapain kau memelototin Pintu Portal apa kau sudah terlalu lama di gua sehingga kau menjadi bodoh? Apa yang kau tahu hanya cara membunuh wanita-wanita tua lemah!”
Suara Anak kecil itu memakinya hingga darah Bomo bergejolak cepat, akan tetapi yang membuat Bomo penasaran bagaimana “Suara” itu mengetahui kalau dia membunuh orang.
Setelah makian itu, baru Bomo menoleh ke arah pintu gerbang Lembah Seribu Warna, di mana Juli lagi duduk santai di depannya, ia terkejut tapi kemarahan menutupi segelannya,
“Oh.. Rupanya kau bocah! Bagaimana teknikmu bisa mengirim suara ketelingaku? Apa kau seperti si Cunguk? Yang hanya memiliki sedikit kelebihan! Lalu kau congkak di hadapan ku” Teriak murka Bomo dari kejauhan.
Juli senyum melihat Bomo marah, “Tua Bangka! Tidak usah teriak teriak! Dosa mu sangat banyak, sebenarnya seribu kali aku membunuhmu masih belum sepadan dengan jumlah orang tak berdaya yang kau bunuh” Juli bangkit berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Wham! Wham!
**