Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 104. Juli vs Suru si Darah Iblis


__ADS_3

“Hahahah menarik! Tapi maaf aku harus membunuhmu dulu, kalau membiarkanmu berkembang maka akan menjadi bumerang bagi kami kelak, lagi pula atas perintah pangeran kami harus membawa Putri Hana bagaimanapun caranya dan harus membersihkan apapun yang berkaitan dengannya dan itu tidak terkecuali dirimu nak!” celoteh pria bertopeng merah menyerang Juli dengan tendangannya berniat membunuh Juli dengan sekali serang.


“Tendangan Dewa Murka!”


Juli dapat merasakan aura kematian dalam tendangan pria beropeng merah, Juli segera menangkis dengan tangan kiri dan membuat tanah pijakan Juli hancur lebur menjadi kawah kecil.


DROOOM!!


Gerakan menangkis Juli ini bukan saja mengejutkan kelima Pengawal Istana Kekaisaran Bumi Tengah tapi juga Hana yang tidak mengira Juli akan sekuat ini.


‘Bagaimana tubuh Senior Juli bisa begitu kuat? Padahal aku pernah menyaksikan Tetua Darah Iblis menendang bukit hingga menyisakan kawah besar, ataukah kekuatan saat itu berbeda dengan kali ini’ batin Hana menebak.


Namun diantara semua orang yang paling terkejut ialah si Topeng Merah itu sendiri, sebenarnya kekuatannya sudah dikerahkan lima puluh persen dan itu sanggup untuk membunuh seorang ahli tingkat legenda namun ini justru tidak memiliki efek apapun pada bocah tingkat batu dan itu sungguh mengganggu pikirannya.


“Oh! Bocah! Kau tidak hanya mampu menagkis serangan ku dengan sempurna tapi juga berhasil mempertahan pijakan mu dengan baik, sungguh aku melawan seorang ahli yang sesungguhnya” Terdengar lengkingan celotehan menggunakan tenaga dalam berniat menekan Juli dengan tekniknya.


Pria bertopeng merah yang terlihat berusia lima puluh tahun sesungguhnya umurnya tidak kurang dari seratus lima puluh tahun. Senyum dingin menghiasi mulutnya untuk menutupi kejengkelan hati karena merasa dipermalukan oleh Juli yang notabene hanya anak berusia delapan tahun.


“Oh! Rupanya manusia tingkat Dewa mencoba menindas anak-anak dengan tenaga dalam, sungguh perbuatan yang sangat tidak terpuji dari pengawal kekaisaran Bumi Tengah” perkataan Juli bagai sembilu menggores hati kelima ahli itu akan tetapi belum sempat mereka berekspresi Juli telah bergerak kembali.


“Tinju Kaisar!”


Juli melesat cepat menghantam kearah dada Topeng Merah dengan menggunakan segenap tenaga, dalam waktu bersamaan si Topeng Merah menyerang balik dan dua tinju beradu membuat gelombang kejut dahsyat menerbangkan apapun disekitarnya termasuk kereta kuda yang ditumpangi Juli sebelumnya.


DROOOMMMM!!


Juli sedikit panik saat mengingat keselamatan pangeran kedua yang masih bersembunyi dalam kereta karena takut serta jendral wirma yang telah pingsan diatas kursi joki sebelumnya.


‘Celaka! Apa junior pangeran kedua dan jendral baik-baik saja?’ batin Juli khawatir.


“Saudara tertua aku baik-baik saja” terdengar suara gemetar pangeran dari kejauhan.


Dalam kepulan debu Juli dapat melihat Pangeran Kedua merangkak keluar dari kereta kuda yang sudah terbalik, dengan kondisi terhuyung-huyung ia mencoba menyelamatkan Jendral wirma yang berada tidak jauh darinya, perlahan Pangeran Kedua memopong Jendral Wirma membawa menjauh dari tempat pertarungan.


Juli mengeleng-geleng kepalanya, ‘Anak cerdas, walau bagaimanapun pangeran ini masih tahu batasanya dan itu bagus untuk watak kaisar selanjutnya’ batin Juli senyum geli.


“Senior!”


Tiba-tiba terdengar suara panggilan Hana dari arah langit, Juli mengalihkan pandangannya ke langit mencari sumber suara.


“Hana!”


Juli kini dapat melihat dengan jelas Hana telah mematung di cengkraman ditangan kakek bertopeng hitam melayang di langit agak jauh dari tempat pertarungan Juli berada.


“Oh! Cepat juga kau kakek tua, aku tidak berpikir kau akan menjadikannya sandera bukan?! Ayo kita bertempur secara adil dan kita lihat seberapa kuat kalian”

__ADS_1


Juli mulai serius, sebilah pedang pusaka tiba-tiba muncul ditangan, semua orang kini mulai kagum dengan kemampuan Juli yang terlihat tidak berada jauh dibawah mereka.


“Hoho, menarik! Yang lain jangan ikut campur pertarungan ku dengannya belum selesai, aku ingin sekali memberikan sedikit rasa putus asa padanya”


Si topeng merah terlihat bersemangat karena sekarang ia menganggap Juli adalah lawan sepadan baginya, sudah lama ia tidak menemukan musuh apalagi merasakan kekalahan dari musuhnya.


“Baiklah! Kalahkan bocah itu, cepat!”


Putri Yara beserta tiga yang lainnya langsung pindah posisi ke samping kakek tua yang mencengkram leher Hana, keempat orang tersebut merasa penasaran dengan Juli sehingga mereka memutuskan untuk menonton pertarungan mereka.


“Topeng Merah! Sebutkan namamu setidaknya setelah aku membunuhmu bila seseorang bertanya tentangmu aku bisa menjawabnya” suruh Juli dengan nada santai untuk mengulur waktu.


Tanpa menunggu jawaban topeng merah Juli melepaskan bajunya, senyum dingin menghiasi bibir, ia menggingit ibu jari tangan kanannya hingga berdarah dan menggambarkan pola misterius di dada.


“Namaku Suru si Darah Iblis, aku senang meladenimu karena kesombongan mu, sekarang apa yang kau coba gambarkan pada tubuh kurus mu itu nak? Hahahah” Ejek Suru si darah iblis mulai mencabut pedang dari cincin ruangnya.


Juli senyum matanya mulai dipejamkan, tulisan heroglif kuno di dadanya perlahan mulai bercahaya merah darah membentuk perisai aneh berputar mengelilingi tubuhnya.


Langit perlahan berubah menjadi mendung kilatan petir mulai bermunculan. Kini semua yang ada disana mulai mengerti bahwa anak kecil didepan mereka tidak bisa lagi dianggap remeh karena anak itu memiliki banyak teknik misterius.


“Sekarang majulah!” Tatapan Juli bagaikan singa ganas yang siap menerkam mangsanya,


“Hahahah, bocah mau menggertakku? Kau perlu belajar seratus tahun lagi untuk melakukan itu! Sekarang sampai jumpa di akhirat”


“Tebasan Iblis darah!”


“Kau lihat kemana bocah! lambat!” teriak Suru dengan kekaguman mengira membunuh Juli akan sangat cepat layaknya memotong rumput liar.


Syut!


Tiba-tiba tempat itu berkabut dan leher Juli yang seharusnya terpotong kini malah berubah menjadi butiran pasir yang berterbangan berganti menjadi pola misterius yang menyilau mata. Semua yang melihat kejadian misterius itu menjadi bingung dan merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


BROOOMMM


Hukum Dewa Petir menyambar Suru si Darah Iblis secara membabibuta menghantam apapun, suara petir terdengar menggelegar sampai puluhan kilometer jauhnya. Suru terus menggunakan tenaga dalam untuk berpindah tempat secepat yang dia bisa untuk menghindari sambaran petir.


“Gila! Petir apa ini? Kenapa bisa sedahsyat ini? Rahasia apa lagi yang dimiliki bocah itu, kemana dia sekarang?”


Teriak marah Suru si Darah Iblis karena sekian lama semakin membuatnya panik. Petir dewa seolah memiliki mata dan terus mengejar Suru si Darah Iblis kemanapun dia berpindah tempat.


Kedahsyatan petir ini sungguh diluar logika, setiap sambarannya akan berubah menjadi ketiadaan.


Empat pengawal bahkan mulai berkeringat dingin begitu menyadari petir misterius yang menimbulkan berbagai macam warna bahkan terkadang berwarna hitam.


“Ini celaka, seumur hidupku belum pernah melihat petir segila ini, kita sebaiknya pergi dari sini sebelum terlambat, karena firasatku fenomena ini tidak akan berakhir baik.. Kalau kita melawan bocah itu tanpa memiliki informasi mengenai kekuatannya, kita bisa saja celaka” kakek tua bertopeng hitam memberi pendapatnya.

__ADS_1


“Aku menduga anak ini hanya memiliki artefak tersembunyi, seperti artefak hukum ruang milik kita, tanpa artefak kita saja tidak bisa memasuki aray ini dengan mudah dan kurasa anak itupun memiliki artefak itu” si topeng biru memberikan pendapatnya.


Putri Yara memejamkan mata mencoba melacak keberadaan Juli dengan kemampuannya namun seolah anak itu telah ditelan bumi dan kembali menjelma menjadi petir kutukan yang terus menyambar Suru Darah Iblis yang kini terlihat kelelahan akibat tenaga dalamnya terkuras drastis.


“Bocah Iblis keluarlah! Jangan hanya mengandalkan artefak petir!” teriak marah Suru si Darah Iblis mulai bosan dan putus asa.


wuuzzzz


Angin berdesir kencang, Tiba-tiba Juli kembali muncul tepat di antara empat Pengawal Kekaisaran yang menonton pertandingan, kejadian ini diluar perkiraan mereka semua.


Keempat Pengawal Kerajaan Bumi tengah menjadi kaget tak terkecuali Hana yang berada ditangan kanan kakek pertopeng hitam.


“Senior, jangan korbankan dirimu untuk ku!”


Kemunculan Juli sedikit berbeda, tubuhnya mengeluarkan petir langsung dari wadah tenaga dalam dan matanya mengeluarkan cahaya petir hitam seolah penelan kegelapan itu sendiri. Hana bisa menebak bahwa Juli kembali mengorbankan diri demi orang yang ingin dilindunginya.


Sebenarnya kelima orang ini bukan tandingan Juli yang hanya memiliki tenaga dalam tingkat batu, akan tetapi berbeda cerita saat ia menggunakan teknik kegelapan dan teknik kutukan untuk menekan para dewa.


Ketakutan ini pula sekarang terlihat diwajah ke empat pengawal bertopeng, mereka bahkan tidak pernah tahu bahwa Juli jauh lebih mahir menggunakan hukum ruang dari pada mereka semua.


“Tebasan kaisar langit!”


Juli bergerak cepat menebas lengan kakek bertopeng hitam yang mencengkram leher Hana, Kakek bertopeng hitam mencoba menggunakan hukum ruang untuk berpindah tempat guna mengelak tebasan pedang Juli yang begitu cepat.


“Hukum Ruang! Berpindah!”


Kakek bertopeng hitam berhasil berpindah satu kilometer jauhnya dari Juli, akan tetapi tidak dengan legan kanannya. Sementara Hana jatuh ke bumi bersama lengan kanan yang masih mencengram lehernya.


“Hana!” Terdengar suara parau Juli panik,


“Teknik Hukum Ruang!”


Juli menggunakan Hukum Ruang agar Hana kembali ke bumi tanpa jatuh dari ketinggian, karena saat ini Juli tidak bisa menangkap tubuh Hana sebab tubuh Juli dipenuhi petir kegelapan yang sangat berbahaya bagi siapapun termasuk Hana, walaupun Hana kebal terhadap api hitam tapi tidak dengan sambaran petir kegelapan.


AAAAKKKKKK!


Terdengar jeritan kemarahan kakek tua bertopeng hitam saat menyadari tangan kanannya telah buntung, teriakan amarahnya semakin menjadi-jadi.


“Semuanya kepung bocah ini bersama-sama jangan biarkan bocah Jahannam ini kabur!” Kakek bertopeng hitam kini meremas topengnya hingga hancur lebur kemarahannya meluap-luap. Seperti diperintahkan semua pengawal Kekaisaran bumi tengah terbang cepat mengepung Juli yang masih melayang di udara.


“Aku akan membunuh mu bocah!”


Juli senyum dingin saat melihat dirinya telah dikepung oleh lima manusia tingkat Dewa, tidak terkecuali Suru si Darah Iblis yang kini terlihat kelelahan dengan napas terputus-putus.


“Seharusnya begini lebih cepat, akan kupastikan kalian mengingat hari ini” Juli kembali mengeluarkan petir yang lebih besar lagi dari wadah tenaga dalamnya.

__ADS_1


“Bocah sombong!”


**


__ADS_2