
Setelah beberapa jam Juli menelusuri wilayah reruntuhan bangsa kerdil, berbagai halangan dan rintangan terus terjadi, seperti serangan senjata-senjata gelap, jebakan-jebakan mematikan disepanjang jalan, tapi Juli selalu berhasil mengatasinya dengan mudah.
Setelah perjalanan melelahkan, akhirnya Juli berada di wilayah tengah reruntuhan.
Di sini Juli dapat melihat reruntuhan istana suku kerdil yang Agung seperti dalam nyanyian-nyanyian rakyat, Istana ini sangat luas bahkan beberapa kali lebih luas dari istana kerajaan Embun Barat saat ini.
Juli berencana memasuki reruntuhan istana, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena kemunculan belasan sosok makhluk berpangkat perunggu yang menyerupai manusia di hadapannya.
Sosok paling tua berdiri paling depan, ia bertubuh gemuk, berjenggot, memakai tudung layaknya seorang petani, dengan sebilah sabit di tangan kanannya.
Bola mata mereka umumnya merah darah, tatapan mereka tajam dan tidak bersahabat. Makhluk ini adalah Wewe Gemut yang legendaris.
“Anak manusia! Kau sungguh hebat, walaupun kau belum memiliki pangkat di bawah aray iblis, tapi aku bisa melihat kau setidaknya berada di peringkat batu tahap 3, kau bukan anak biasa, katakan padaku! apa tujuanmu datang kemari?” tanya sosok pimpinan Wewe Gemut itu pada Juli dengan penuh selidik.
Juli terlihat tak peduli pada mereka, tatapan mata justru teralihkan pada pemandangan alam di sekitarnya.
‘Sudah lama aku tidak menyelusuri runtuhan ini, saat berada di sini, Aku teringat kehidupan pertamaku, di sinilah aku menemukan rahasia Wewe Gemut yang sesungguhnya, mereka memang tidak bisa mati, tapi mereka tetaplah bisa merasakan kesakitan atas setiap luka yang mereka miliki. akan tetapi, yang menjadi rahasia bukan itu. tapi, seorang ratu Wewe Gemut yang berada dalam reruntuhan istana ini’. Batin Juli.
Sejenak Juli memejamkan mata, merasakan udara segarnya di alam sekitar.
Dulu Juli pernah kemari, saat itu misinya untuk membasmi seluruh suku Wewe Gemut, karena suku ini telah membantai ribuan nyawa manusia tanpa pandang bulu.
Setelah semua Wewe Gemut berhasil ditumpas di berbagai wilayah, tinggallah Ratu Wewe Gemut terakhir yang berada dalam reruntuhan istana ini.
Kini kenangan itu tergiang kembali dalam ingatannya, walaupun suasana agak berbeda, karena kali ini Juli disambut langsung oleh belasan pasukan Wewe Gemut.
“Hei! anak manusia! Apa kau mengabaikanku?” pertanyaan Pemimpin Wewe Gemut setengah teriak kembali terdengar memecah kesunyian.
Juli menghela nafas panjang, “Suku Wewe Gemut! Kenapa kalian saat ini ingin berdiskusi denganku, bukankah biasanya kalian langsung membunuh para pengunjung kemari! Dan kalian makan dagingnya hingga habis, Bahkan kalian tidak peduli tingkat apa pun mereka, sekarang aku bisa menebak rencana kalian, kalian ingin meracuniku bukan? Tidakkah cukup atas serangan sebelumnya? Baiklah! untuk menghemat waktu, majulah!” tatapan Juli sedingin es.
Ucapan Juli ini bukan tidak beralasan, sebenarnya semenjak kedatangan pertama Juli kemari, mereka terus mengganggu dan berusaha melumpuhkan Juli dengan berbagai cara.
Seperti dengan menggunakan asap racun, penyerangan diam-diam dengan menggunakan sumpit kutukan, serangan-serangan gelap jarum iblis, serta berbagai cara licik lainnya.
Serangan seperti ini biasanya selalu berhasil terhadap pendekar-pendekar sebelumnya. Akan tetapi, tindakan pengecut ini semua dapat digagalkan oleh Juli dengan mudah.
Saat itu Juli tidak melakukan pengejaran, karena Juli sedang sibuk merawat Putri Yara, akan tetapi sekarang ceritanya sedikit berbeda.
Wewe Gemut terkejut dengan pernyataan Juli, mereka saling pandang, dan tidak menyangka Juli bisa membaca strategi mereka dengan mudah.
“Kami bisa mencium bau bocah kencur dari dagingmu! Tidak ada yang bisa menipu hidung kami, umurmu hanya delapan tahun beberapa bulan saja, walaupun kau memiliki fisik yang kuat, namun itu bukan berarti kamu bisa sombong di daerah kami, cepat katakan! Siapa kau!”
Tanya pemimpin Wewe Gemut menjadi semakin murka, pada dasarnya mereka membuka ruang negosiasi sebelumnya hanya sebagai kedok semata, sebab tujuan utama adalah meracuni Juli dengan makanan yang akan disajikan.
Kini, saat mendengar Juli mengetahui rencananya, bahkan menantangnya secara langsung, ubun-ubun mereka seakan mendidih, mereka tidak menduga ada anak manusia senekat dirinya.
“Baiklah! Sekarang! Jadikan dia hidangan Ratu!”
__ADS_1
“Baik!”
Seperti di komando, belasan orang itu langsung menyerang Juli dengan cepat menggunakan sabit. Serangan mereka sangat teratur,walaupun tidak memiliki pola jurus tertentu namun kecepatan mereka tidak bisa diremehkan.
Juli dengan cepat mengelak setiap serangan, di saat bersamaan Juli menyegel mereka dengan menggunakan telapak tangannya.
“Segel Dewa Kegelapan! Neraka Para Dewa!”
Setiap Wewe Gemut yang terkena telapak tangan Juli langsung menghilang seperti ditelan udara. Serangan Juli membuat Wewe Gemut yang tersisa menjadi ketakutan.
“Ayo maju! Maju sini! Bukankah kalian sangat ingin memakan daging manusia, kemarilah makan dagingku!” Juli senyum gembira.
Beberapa Wewe Gemut yang tersisa menjadi pucat, mereka menyadari mereka tidak akan mati karena tebasan, walaupun leher mereka terpisah dari tubuhnya. Akan tetapi rasa sakit yang diderita mereka melebihi kematian.
“Pemimpin Qore! Anak ini adalah monster, sebaiknya kita Serang dia dengan tenaga penuh, kalau tidak kita akan binasa dengan sia-sia,” nasehat sesosok wewe gemuk yang berukuran tubuh lebih tinggi di antara belasan lainnya.
Wewe gemuk tua langsung mengeluarkan peluit dari jubah dan buru-buru meniupnya sekuat tenaga.
Piiiip!
Suara Pluit melengking-lengking menggema mengisi ruang udara, persamaan dengan munculnya ribuan orang dari balik tembok reruntuhan.
Aura pembunuh yang dipancarkan Wewe Gemut sangat mengerikan, sampai-sampai dunia berubah gelap. Aura pembunuh itu secara bersamaan ditujukan pada Juli untuk mengintimidasinya.
Seorang ahli tingkat berlian sekalipun akan langsung jatuh pingsan jika ditekan dengan aura pembunuh sekuat ini. Juli memang tidak pingsan, akan tetapi pundaknya terasa ditumpuk ribuan ton batu di atasnya.
“Oh! Beginikah cara kalian melumpuhkan seorang anak kecil, aku tidak menduga kalian semua para pengumpul aura pembunuh. Memangku akui, ora bunuh kalian sangat pekat kalian tidak ubahnya siluman tua lainnya,” Juli senyum dingin, ia berusaha keras untuk menegakkan tubuhnya.
Bagaimanapun aura pembunuh sekuat ini, tidak dimiliki oleh sembarang orang, ini menandakan bahwa setiap Wewe Gemut bukan hanya membunuh ratusan orang saja,tapi mereka telah memakan ribuan orang selama hidupnya.
Di sisi lain wewe gemuk juga terkejut,
“Bagaimana ini mungkin! Kenapa anak manusia tingkat batu tahap 3 ini tidak pingsan di bawah intimidasi ribuan orang!”
“Pemimpin! Inilah anak yang kuceritakan padamu! Dia bisa bertarung imbang melawan 5 dewa sendirian, kita tidak bisa meremehkannya! Aku menyaksikan sendiri sebelumnya”.
“Benar pemimpin! anak inilah yang kuceritakan padamu sebelumnya, anak inilah yang bisa melihat kami, walaupun kami memakai jubah sihir”.
“Pemimpin! Dalam beberapa hari ini, anak itu telah menguasai daerah kita di wilayah Selatan, kita harus melenyapkannya hari ini, jika tidak! aku takut dia akan merebut semua runtuhan ini dari kita.”
Beberapa suku Wewe Gemut memberikan informasi kepada pemimpinnya. Tatapan mereka terhadap Juli semakin murka, aura pembunuh semakin ditingkatkan, untuk menekan Juli.
Juli dalam keadaan terdesak, ia juga terpaksa mengeluarkan aura pembunuh yang juga tidak kalah pekatnya dari mereka.
Kini dua aura pembunuh saling beradu. Dunia semakin gelap, di langit muncul dua mata jiwa Juli yang mengintimidasi ribuan orang, hasilnya, ratusan Wewe Gemut lemah langsung jatuh tak sadarkan diri.
kejadian ini seolah seekor singa sedang bertarung aura dengan ribuan serigala.
__ADS_1
Juli menggertakan gigi, bertahan dengan seluruh kekuatan jiwanya, kondisi tubuh saat ini hampir tidak bisa digerakkan, senyum pahit mulai menghiasi bibirnya.
“Aku harus mencari cara! Jika begini terus, bisa saja aku dibelenggu oleh mereka, ini sungguh memalukan.” gumam Juli sembari mengeluarkan pisau jiwa yang ia dapatkan dari reruntuhan suku Kerdil di Bumi timur setahun yang lalu.
Wewe Gemut semakin terkejut saat melihat aura pembunuh Juli yang setara dengan 100 orang sukunya.
“Ini bahaya, padahal dia hanya seorang anak kecil, bagaimana ia dapat mengumpulkan aura pembunuh sebanyak itu? Apa mungkin dia juga seorang kanibal, yang jauh lebih kanibal dari kanibal itu sendiri”.
“Tidak! Itu masih tidak masuk akal, kita telah berumur ribuan tahun, ribuan manusia telah kita makan, sementara anak ini hanya berumur 8 tahun, bahkan jika setiap hari pun dia memakan ratusan manusia, belum juga sebanding dengan kita.”
Suku Wewe Gemut mulai bingung, tapi, saat mereka menyadari bahwa Juli dalam keadaan tidak bisa bergerak bebas, kembali mereka senyum senang.
“Serang!”
Ratusan Wewe Gemut, kembali menyerang Juli dari berbagai sisi. Mereka senyum lebar, karena mereka menyadari bahwa Juli tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dalam keadaan terdesak Juli mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam untuk menggerakkan pisau-pisau jiwa. Gerakan pisau terbang ini sangat cepat memenggal kepala siapapun yang berada di dekatnya.
Belasan Pisau terbang bergerak layaknya perisai mengelilingi Juli, dan menyerang siapa saja yang mencoba mendekati.
Keterkejutan Wewe Gemut kembali terlihat, mereka tidak pernah mengira anak-anak yang telah tersegel oleh aura pembunuh, dan bertubuh kaku, tapi masih dapat melakukan serangan mematikan.
Pemimpin Wewe Gemut hampir kehilangan akal, ya terus mengerahkan pasukan lainnya untuk menyerang Juli secara terus-menerus.
Juli mulai kewalahan, beberapa tebasan sabit kembali diterimanya, tebasan itu memang tidak melukainya,tapi cukup untuk membuat Juli terhempas jauh.
Kerja sama suku Wewe Gemut dalam formasi menyerang tidak bisa diragukan.
Serangan Wewe Gemut terus menerus dan silih berganti membuat Juli dalam keadaan terdesak.
“Bagus! pertahankan posisi kalian semua, aku akan menyegel tenaga dalamnya!”
Pimpinan Wewe Gemut memanfaatkan keadaan untuk menyegel tenaga dalam Juli. Segel yang digunakan bukanlah segel kuno namun mereka bisa menyegel tenaga dalam siapapun dengan sempurna.
Di tengah gempuran hebat, Juli hanya memanfaatkan pisau jiwanya untuk mendebas siapapun yang mendekat, akan tetapi pisaunya tidak bisa melukai Wewe Gemut yang berada 3 tingkat di atasnya, dengan dalam kata lain, Juli tidak bisa melukai manusia tingkat baja, atau di atasnya.
Kesempatan inilah yang digunakan oleh pemimpin Wewe Gemut untuk menyegel tenaga dalam Juli. Gerakan cepat pemimpin Wewe Gemut saat ini tidak bisa dihindari oleh Juli dengan sempurna.
Buk!
Telapak tangan pemimpin Wewe Gemut menempel di dada Juli.
“Segel tenaga dalam! Diaktifkan!”
Teriak pimpinan Wewe Gemut disertai tatapan dingin terhadap Juli. Cahaya merah darah muncul di telapak tangannya, perlahan cahaya itu menyegel tenaga dalam Juli, bersamaan dengan kejadian itu, Pisau jiwa terbang Juli seketika menghilang di udara.
Di sisi lain, Juli juga ikut tersenyum, dengan gerakan lambat dan kaku Juli menempelkan telapak tangannya tepat di kepala pemimpin Wewe Gemut yang masih dalam posisi membungkuk di hadapannya.
__ADS_1
“Heh! Akan ku perlihatkan pada mu kutukan yang sebenarnya! Tebak lah! Apa yang akan kulakukan?”. senyum Juli misterius.
**