Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 92. Senyuman Hana


__ADS_3

Setelah menelan Pil Surgawi tangan Hana kembali pulih seperti semula, Pil ini adalah pil tingkat Dewa yang hanya mampu diciptakan oleh siluman tingkat dewa saja dan pil itu pastinya didapatkan dengan harga yang tidak murah oleh Dewi Siluman Iblis.


Raut wajah Juli terlihat belum puas dan ia masih marah pada Ute-e serta pasukannya, tapi di saat yang sama iapun bersyukur karena Hana sekarang telah baik-baik saja.


Untuk beberapa saat, Hana kembali menelan beberapa kristal Hijau dan duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalamnya yang terkuras habis akibat reaksi Pil Surgawi saat penyembuhan.


“Hana! Apa kau baik-baik saja?”


Suara Juli terdengar lembut di telinganya, ia sebenarnya tidak mau mengusik Hana di saat pemulihan tenaga dalam, akan tetapi Juli harus segera bergerak dari tempat ini untuk mencari keberadaan pangeran kedua.


Hana perlahan membuka matanya, mulutnya senyum hingga sederet gigi putih bagaikan kristal indah terlihat di sela bibir mungil indahnya.


“Senior! Aku telah sehat sekarang, tapi dalam jiwaku masih merasakan trauma karena kesakitan yang tidak bisa dibayangkan, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, kejadian tadi seperti mimpi buruk bagiku”


Hana bangkit dari duduk mencoba senyum menyenangkan Juli, padahal Hana hampir tidak pernah senyum sepanjang hidupnya.


Melihat senyuman Hana membuat Juli menetas air matanya, ia mengenang kehidupan sebelumnya, Ratu Rihana raut wajahnya terlihat serius dan tegas, tapi adakalanya sikap ramah dan lemah lembut dan perhatian hanya bisa disaksikan oleh segelintir orang di kehidupan sebelumnya.


Di kehidupan Masa Lalu


Dalam peperangan dengan bangsa siluman selama sebulan tiada henti-hentinya Jutaan bangsa siluman terus berdatangan setiap harinya bagai gelombang besar, Juli si Dewa Pedang Tanpa Tanding terus bertempur digarda terdepan dengan kondisi tubuh penuh luka tebasan, tidak ada seorang ahlipun yang dapat menghentikan amukan si Dewa Pedang Tanpa Tanding ini.


“Demi Umat Manusia Selamatkan Dewa Pedang Tanpa Tanding!”


Terdengar teriakan pasukan A. Raka, seorang pasukan loyalitas Juli saat itu, maka ratusan pasukan menyerang menyerbu membabi buta mencoba menerobos maju untuk menyelamatkan seorang pahlawan besar umat manusia yang terjebak di barisan terdepan di antara jutaan siluman.

__ADS_1


Penyarangan penyelamatan itu bahkan bisa dibilang bunuh diri, A. Raka dan pasukannya hanya bisa mengamuk dan menangis melihat pahlawan besar umat manusia terus ditebas dan bermandikan darah seorang diri di barisan paling depan dalam kepungan jutaan siluman berpangkat keajaiban.


“Tidak! Seseorang tolong selamatkan Dewa Pedang Tanpa Tanding! Kita tidak bisa membiarkannya mati” teriak tangis A, raka terus menerjang maju mencoba menyelamatkannya namun bidikan anak panah gelap membuatnya harus menelan ludah pahit dengan linangan air mata.


“Sudah tidak ada lagi manusia yang bisa menyelamatkannya, gelombang besar siluman terus berdatangan, namun hanya satu orang yang mampu menerobos ke sana yaitu Ratu Rihana sendiri, dan itu tidak mungkin, keselamatan Ratu Umat Manusia adalah prioritas utama, umat manusia mampu bertahan sampai detik ini itu karenanya” Terdengar Suara kakek renta menerjang maju bersama A. Raka dengan tongkat sihirnya, yang dikenal dengan Yuri si Peramal tua.


“Kalau begitu maka aku akan mati bersama Dewa Tanpa Tanding hari ini” Dalam tangisan Air mata A, Raka terus mengamuk menerjang maju.


“Mundurlah Prajurit! Serahkan Dewa Tanpa Tanding kalian padaku”


Tiba-tiba terdengar suara tegas Ratu Rihana dari arah belakang mereka, diiringi munculnya sesosok wanita cantik jelita tiada tanding melompat tinggi menerjang menyerang pasukan siluman layaknya seekor naga.


Ratu Rihana bukannya tidak tahu resiko yang dia ambil untuk menerobos masuk ke dalam kepungan jutaan siluman berbagai tingkat budidaya, dan tidak sedikit pula siluman tingkat Dewa di sana, namun jiwanya terpanggil untuk melakukannya.


Tubuh Juli penuh luka dan anak panah menancap di sekujur tubuh, wajahnya senyum dan terus menerjang menyerang di antara ribuan tebasan pedang mengarah padanya,


Teriak Juli terus memutarkan pedang pusaka langit yang telah retak hampir patah, ia merasakan dirinya akan mati hari ini, karena ia sadar tidak ada seorangpun yang bisa berbuat seperti dirinya sejauh ini, dan andai pun ada, seperti Ratu Rihana namun itu sama saja dengan bunuh diri.


“Aku telah mencapai batas ku, dan akan mati sebagai pahlawan di sini”


Juli menancapkan pedangnya ke tanah karena tubuhnya sudah tidak mampu bergerak lagi, tubuh telah mencapai batas, ia telah bertempur siang dan malam selama sebulan penuh tanpa istirahat. Lagi pula, sudah tidak terhitung jumlah siluman yang dibantai dan itu sepadan dengan nyawanya.


Para siluman sangat murka dan bergerak cepat menyerang Juli di saat ia telah pasrah dengan hidupnya, disaat itulah Ratu Rihana, kembali turun tangan untuk menyelamatkannya.


Ratu Rihana, mendarat disamping Juli dan menyerang siluman yang mencoba menyarangnya, tangan kiri Ratu Rihana memeluk pingang Juli dan membawa terbang dari sana bersamanya. Tapi sebenarnya Ratu Rihana telah masuk ke dalam jebakan siluman dan ia harus membayar mahal untuk penyelamatannya.

__ADS_1


“*Kita dijebak!”


Ratu Rihana menoleh ke wajah Juli persis di depan wajahnya, senyum manis Hana terlihat kala itu, Juli ingin meyambut senyuman itu namun pandangannya mulai pudar dan tidak sadarkan diri dalam pelukan Ratu Rihana*.


Pandangan Rihana kembali serius melihat ke arah Dewa Siluman, “Aku mengetahui jebakan ini, namun aku juga tidak mau membiarkanmu mati di sini, dan aku lebih senang jika kita mati bersama sebagai pahlawan umat manusia” gumam pelan Ratu Rihana.


Sebenarnya, Juli dibiarkan hidup oleh Dewa Siluman tidak lain untuk memancing Ratu Rihana yang menjadi prioritas meraka, Dewi terkuat umat manusia tidak bisa dilawan, dan ia baru bisa dibunuh dengan mengetahui kelemahannya.


Pada kesempatan inilah Ratu Rihana di cengat oleh 10 Dewa tertinggi siluman dan pertempuran sengit antar Dewa kembali terjadi selama tiga hari tiga malam. Pertempuran itu meluluh lantakkan bumi beserta gunung gunung di atasnya.


Sisisi lain, Ratu Rihana selain menyerang dan bertahan dari 10 Dewa Tertinggi Siluman ia juga harus melindungi Juli yang kini tidak sadarkan diri di pelukannya, Ratu Rihana benar-benar dihadapkan dengan situasi yang sangat genting dengan pertaruhan nyawa.


Pertempuran dahsyat itu membuat Rihana banyak mendapatkan luka tebasan dan luka dalam serius. Untuk memulihkan diri Ratu Rihana membutuhkan waktu setahun lamanya dan luka dalam ini juga tidak sepenuhnya sembuh, sehingga menjadi cikal bakal Hana kembali kalah di pertarungan selanjutnya sampai ia menghembuskan napas terakhir.


Di tahun tahun berikutnya Juli menjadi terpukul dan merasa dirinya tidak berguna. Senyuman Ratu Rihana selalu tergiang-giang dalam ingatan, Juli sangat merasa kehilangan dan frustasi dalam waktu puluhan tahun lamanya.


Kini senyuman itu terlihat lagi olehnya, sebuah senyuman yang menjadi luka dan kebahagiaan yang dalam di lubuk hatinya, ‘Ah! Ratu ku, maafkan aku yang tidak becus melindungi mu saat ini hingga kau terluka, aku tidak sepandai dirimu saat menlindungi ku di kehidupan sebelumnya’ batin Juli menyeka air matanya.


Hana menyentuh pipi Juli sambil mengelus lembut dengan ibu jarinya, “Senior! Jangan bersedih, aku sehat sehat saja, lagi pula memang inilah resiko yang harus kita ambil, lihatlah! Lagi pula aku masih baik-baik saja dan tidak kekurangan satu apapun” ucapnya senyum.


Juli menundukkan kepalanya, “Ah! aku memang anak gila yang selalu menyusahkan mu, baiklah! Ayo kita pergi mencari Pangeran Ke-dua” ajak Juli dengan nada lembut.


“Hm” Hana hanya mengangguk pelan dia segera jalan beriringan dengan Juli, “Senior! Apa aku perlu mengeluarkan naga ku?”


“Tidak usah! Kita jalan saja”

__ADS_1


**


__ADS_2